Kalandra Wiranata adalah seorang Petugas Pemadam Kebakaran yang bertugas di sebuah Kota kecil.
Kota tempat tinggalnya itu terletak cukup strategis karena tepat berada di tengah - tengah dari lima Kabupaten di Provinsi itu.
Karena tempatnya yang strategis, Timnya kerap kali di perbantukan di luar dari Kotanya.
Timnya, bukan hanya sekedar rekan kerja. Mereka sudah seperti keluarga kedua yang di miliki oleh Kalandra.
Karna sebuah kejadian, Kalandra pun di pertemukan dengan seorang wanita yang ternyata merupakan jodohnya.
Selain perjalanan karir dan cinta, ada sebuah rahasia yang akhirnya terungkap setelah selama ini selalu membuatnya penasaran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fernanda Syafira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26. Atap Runtuh
"Astaghfirullah, kenapa pada rebutan gini, sih?" Kata Naina saat Kalandra dan Gio berebut.
"Daddy gak mau berbagi." Kata Gio.
"Kan punya Daddy. Daddy aja batu melepas rindu kok." Jawab Kalandra.
"Tapi kan bisa berbagi. Daddy geser sedikit." Kata Gio.
"Geser sedikit, Bang." Naina ikut menimpali.
"Haah! Tau gitu, kamu Abang bawa ke Apartemen aja tadi." Gerutu Kalandra sambil sedikit bergeser.
Naina pun tertawa melihat Kalandra yang menggerutu. Baru kali ini ia melihat sisi kekanakan dari Kalandra.
"Lucu banget sih, Bang. Sama Keponakan sendiri, kok bertengkar." Kata Naina sambil mengusap kepala Kalandra.
Mereka pun mengobrol sejenak dengan posisi yang tak berubah. Sesekali mendengar celotehan Gio yang memecah tawa mereka.
"Daddy, laper." Kata Gio.
"Bibik gak masak?" Tanya Kalandra.
"Gio gak tau." Jawab Gio.
"Tapi mau makan mie buatan Daddy." Pinta Gio.
"Emang boleh makan mie sama Bunda?" Tanya Kalandra.
"Boleh. Kalo Daddy sama Ncus gak bilang ke Bunda." Jawab Gio yang kembali membuat Naina dan Kalandra terkekeh.
"Kalo gitu, biar Mommy aja yang bilang ke Bunda, ya." Kata Naina.
"Ah, Mommy. Jangan dong, nanti Gio di omelin Bunda." Kata Gio dengan bibir cemberut.
"Yaudah, Daddy masakin dulu." Kata Kalandra yang kemudian beranjak ke dapur dengan Naina dan Gio yang mengekorinya.
"Mau di bantu gak, Bang?" Tanya Naina.
"Gak usah, Sayang. Duduk aja di sana." Jawab Kalandra.
"Iya, Sayang. Duduk aja sama Gio." Imbuh Gio yang membuat Kalandra langsung menoleh ke arah Keponakannya itu.
"Kok Gio ikut - ikut panggil Sayang?" Kata Kalandra sambil mendelik.
"Daddy aja panggil Sayang, masak Gio gak boleh?" Cicit Gio yang membuat Naina tertawa.
"Loh, ya memang Sayangnya Daddy. Gio kalo mau panggil Sayang, cari aja Sayang sendiri." Kata Kalandra.
"Abang, gak usah ngada - ada, deh. Masih kecil kok suruh cari Sayang sendiri." Omel Naina.
"Gio gak boleh panggil Sayang, Ya. Panggilnya Mommy. Gak sopan kalau Gio panggilnya Sayang. Cuma Daddy yang boleh panggil Sayang." Kata Kalandra yang kembali mengigatkan Keponakannya.
"Iya, Daddy." Jawab Gio dengan patuh.
Naina menatap Kalandra yang sedang sibuk memasak. Tak menyangka jika pria tampan itu ternyata jago juga memasak.
Setelah tiga puluh menit, mie goreng pun akhirnya siap dan mereka menyantap makan siang itu bersama - sama.
Setelah makan siang, mereka kembali ke ruang keluarga.
"Daddy, Gio mau tidur." Kata Gio yang nampak mengantuk setelah makan siang.
"Mau pulang sama Ncus?" Tanya Kalandra yang di jawab gelengan oleh Gio.
"Mau tidur sama Daddy aja." Jawab Gio kemudian.
"Yaudah, sini." Kata Kalandra yang kemudian merebahkan diri di sofa bed bersama Gio.
"Emang sering kayak gini, Bang?" Tanya Naina saat melihat Gio yang tidur sambil memeluk Kalandra. Sementara Kalandra menepuk - nepuk pelan bokong Gio.
"Iya, kalo dia lagi rindu, biasanya minta tidur sama Abang kayak gini." Jawab Kalandra.
"Sebenernya Abang ini dekat sama Gio. Kenapa kok sering bertengkar?" Ledek Naina.
"Biar rame. Sepi kalau dia gak teriak - teriak. Lagi pula, seperti ada rasa senang tersendiri setelah berhasil bikin dia nangis atau teriak - teriak." Kekeh Kalandra sembari memandangi Gio yang sudah nyenyak.
"Abang gak takut terkena karma, kah? Barang kali nanti anak Abang bakal di jahili paman - pamannya, kayak Abang menjahili Gio." Kata Naina.
"Kalau gitu, Abang sembunyikan anak - anak waktu Pamannya datang." Jawab Kalandra yang membuat mereka berdua tertawa.
...****************...
Suara sirine mobil Pemadam Kebakaran dan sirine dari ambulans, memecah keheningan malam itu. Mobil - mobil itu, berusaha secepat mungkin untuk sampai di lokasi kejadian.
Sebuah rumah susun milik pemerintah yang sudah beroprasi lebih dari dua puluh tahun, terbakar hebat. Dugaan sementara hal itu terjadi karena adanya konsleting arus listrik di salah satu lantai dari enam lantai bangunan.
"Cepat... Cepat!" Seru Kalandra sembari ikut menarik selang besar untuk memadamkan si jago merah yang sedang mengamuk.
Asap hitam yang pekat, nampak membunmbung tinggi, seolah mengabarkan pada orang - orang jika ia 'api' berhasil membakar separuh bangunan.
Semburan air bertekanan tinggi langsung keluar dari nozel ketika kran di buka. Butuh dua orang untuk mengendalikan nozel yang menyemburkan air bertekanan tinggi itu, agar tetap stabil dan terarah.
"Ada tiga korban di lantai dua yang belum keluar. Mereka berada di satu rumah yang sama, Kapt." Kata salah satu anggota yang melaporkan pada Kalandra.
"Bantu kendalikan nozel. Biar aku yang masuk." Jawab Kalandra.
Api masih belum sampai membakar rumah yang di maksud. Kalandra segera memakai baju tahan panas dan perlengkapan lain seperti tabung oksigen untuk berjaga - jaga jika di dalam kesulitan oksigen akibat asap.
Tak sendiri, kali ini ia masuk bersama dua anggotanya yang lain, yang juga memakai perlatan pengaman sepertinya.
"Hati - hati, Kapt!" Seru Oji saat Kalandra masuk bersama dua anggotanya yang lain.
Mereka bertiga berjalan cepat menuju ke rumah yang di maksud, bertanding waktu dengan api yang perlahan mulai mendekat.
"Terkunci, Kapt." Kata salah satu anggota.
"Kita dobrak!" Jawab Kalandra tanpa berpikir lebih lama.
Mereka bertiga pun berusaha mendobrak pintu rumah. Tak perlu waktu lama, pintu itu pun terjatuh setelah di hantam beberapa kali tendangan.
Ketiganya langsung berpencar untuk menyisir ruangan di rumah itu. Mereka mencari korban yang katanya belum keluar. Satu balita, satu anak dan neneknya yang berada di dalam rumah itu.
Suara tangisan bayi terdengar di salah satu kamar. Kalandra segera membuka kamar dan melihat seorang bayi menangis di dalam box bayi dan seorang wanita paruh baya yang dalam kondisi tak sadar.
"Di sini!" Seru Kalandra.
"Basahi kain ini." Titahnya kemudian pada salah satu anggotanya.
Kalandra kemudian membungkus bayi itu dengan kain basah dan menyerahkannya pada salah satu anggotanya.
"Perlu aku bantu?" Tanya Kalandra saat salah satu anggotanya menggendong nenek yang tak sadar.
"Gak perlu, Kapt. Kapten cari saja korban satu lagi. Aku nanti kembali setelah mengevakuasi nenek ini." Kata anggota yang kemudian berlari turun sambil menggendong si nenek.
Sementara Kalandra, kembali mencari keberadaan satu lagi korban yang masih ada di dalam.
Hawa panas mulai terasa semakin kuat, Kalandra mempercepat kegiatannya mencari korban. Ia pun membuka satu persatu lemari yang ada di dalam rumah itu.
"Astaghfirullah." Lirih Kalandra saat melihat bocah berusia sekitar tujuh tahun berada di dalam lemari. Ia nampak sangat ketakutan hingga akhirnya menangis saat melihat Kalandra.
"Jangan menangis, ya. Om bantu keluar dari sini." Kata Kalandra.
"Om, tolong Adik dan Nenek." Pintanya.
"Sudah. Adik dan Nenekmu sudah di evakuasi." Jawab Kalandra yang kemudian memakaikan masker oksigen pada anak perempuan itu karena asap yang semakin tebal.
Kalandra segera menggendong anak perempuan itu dan membawanya keluar dari rumah yang mulai terbakar.
"Kapten, awaas!" Seru rekan - rekannya saat melihat Kalandra melintasi salah satu bagian bangunan yang terbakar hingga membuat plafon bangunan itu mulai runtuh.
Brraak!
Plafon dan beberapa kayu itu runtuh tepat di atas Kalandra yang sedang menggendong si anak.