Warning 21+ guys ... harap cek umur dulu sebelum baca.
***
Arya seorang Presdir di sebuah perusahaan terjebak pesona sekretaris pribadinya sendiri yang setiap hari sering berinteraksi dengannya.
Suatu hari mereka terpaksa tinggal satu kamar dan tidur satu ranjang. Bisakah Arya bertahan dengan godaan ranjang dari sekretaris mudanya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puryani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26. Rencana Keji
"Siapa laki-laki itu, Bos?" tanya Alin.
"Namanya Andre," jawab Arya. "Nanti salah satu dari kaki tanganmu berjaga di dekat pintu biar kalau laki-laki itu datang tidak ada pegawai lain yang curiga," titah Arya.
"Oh, tenang saja, Bos. Penjaga dekat pintu gerbang itu lagi naksir sama saya. Gampang banget buat direkrut. Pokoknya nanti Bos nggak akan kecewa sama kinerjaku," timpal Alin.
"Ok, kalau gitu."
"Operasinya dimulai jam berapa, Bos?"
Arya mulai menimang-nimang, "Pokoknya pas anak-anak udah pulang sekolah. Lalu posisi Nisa dan laki-laki bayaran itu sudah harus selesai adegan panas."
"Oke siap, Bos."
"Dan satu lagi," cegah Arya agar Alin tetap fokus pada pembicaraan mereka.
Alin pun menyimak dengan seksama.
"Kamu harus menghancurkan ponsel istriku dan juga kartu memori eksternalnya sampai nggak bisa dipulihkan lagi. Trus buang ponsel itu ke tempat yang jauh."
"Siap laksanakan, Bos."
Piip ....
Panggilan telepon itu pun berakhir.
"Bagaimana sayang?" tanya Anna yang kini sudah kembali lagi ke ruang kantor Arya karena tadi wanita itu saat menelpon Andre sengaja memilih untuk menjauh agar pembicaraannya dengan laki-laki bayarannya itu tidak didengar oleh Arya.
"Semuanya sudah oke, Sayang," jawab Arya. "Kalau kamu gimana? Andre temanmu beneran mau bantu kan?"
"Dia mau bantu, Mas. Mana ada sih yang bisa nolak bayaran sebesar itu hanya untuk satu misi saja," ucap Anna dengan senyum simpul.
"Kalau gitu kita sudah bisa santai kan?"
"Sudah dong," jawab Anna. "Paling nanti kita tanya perkembangan aja kepada mereka yang sedang bertugas menjalankan misi."
"Baiklah, kalau gitu ayo kita ke Toko Perhiasan yang ingin kamu beli tadi!" ajak Arya lagi.
"Ayo, Sayang," sahut Anna dengan senyuman yang sumringah.
Tidak sia-sia Anna menyerahkan keperawanannya untuk Arya jika pada akhirnya wanita itu mendapatkan hati dan juga menguasai dompet lelaki itu secara tidak langsung.
***
Di rumah mewah Arya yang menjadi tempat tinggal bagi dirinya dan keluarga kecilnya, Nisa sedang merenung untuk langkah selanjutnya.
"Apakah langkahku ini baik," gumamnya mulai ragu.
"Meski langkah yang dilakukan oleh pemeran wanita yang tersakiti di novel itu sangat elegan saat menghadapi suaminya yang berselingkuh, apakah jika diaplikasikan di dunia nyata akan seindah seperti di novel?" ragu Nisa.
"Bagaimana kalau situasi berbalik dan ternyata aku tidak sempat melawan balik?"
"Namanya hidup tidak ada yang tahu hal kedepannya seperti apa."
"Andaikan saja tadi aku langsung meledak-ledak marah, pasti kebusukannya Mas Arya dan Sekretarisnya bisa terbongkar dengan mudah, lagian buat apa mempertahankan laki-laki yang sudah berselingkuh?"
"Apakah aku bodoh?"
Batin Nisa yang masih saling bersiteru karena wanita itu kini mulai ragu dengan langkah yang diambilnya tadi.
Tapi penyesalan Nisa sudah terlambat karena rencana jahat yang sudah disusun oleh Arya dan selingkuhannya sudah mulai dijalankan.
Seorang asisten rumah tangga di rumah ini yang sudah diajak kerja sama oleh Alin mulai mendekati Nisa sembari membawa satu gelas air minum.
"Bu Nisa kok kelihatannya sedang banyak pikiran?" tanya ART itu.
"Ah, nggak kok," sangkal Nisa. "Oh iya, Gani masih belum bangun dari tidurnya?"
"Sudah, Bu. Sekarang Den Gani lagi diajak main di taman belakang."
Nisa mulai bangkit karena ingin menghampiri anak bungsunya itu.
"Bu," cegah ART itu menghentikan Nisa agar tidak beranjak pergi.