DADANG SANG PENAKLUK adalah cerita tentang Dadang Hermawan, jawara silat dari Lembang yang tewas secara misterius lalu terbangun di tubuh pewaris konglomerat Jakarta. Di tengah dunia bisnis, keluarga berbahaya, dan organisasi rahasia yang mengincar tubuhnya, ia harus bertahan sambil mengungkap kebenaran di balik “Proyek Wadah Sempurna” yang menghubungkan hidup dan kematiannya. Setiap kemenangan membawa luka baru, setiap jawaban membuka misteri yang lebih gelap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24: UANG REZA MULAI BICARA**
**
Reza belajar dari kekalahannya sendiri. Setelah dokumen palsu terbongkar dan harga dirinya hancur di depan keluarga, dia tidak lagi memilih jalan kasar yang gampang ketahuan. Kali ini dia bermain lebih sabar, lebih licik, lebih bersih.
Dari warisan neneknya, ibu Serlina, yang jumlahnya tidak kecil, Reza diam-diam mulai mentransfer dana ke tiga anggota dewan komisaris yang punya suara penting dalam setiap keputusan besar perusahaan. Tidak langsung, tidak dalam jumlah yang mencurigakan sekaligus, tapi bertahap, dibungkus dalam bentuk "konsultasi" dan "donasi proyek sosial" yang sulit dilacak sebagai suap murni.
Di depan David, sikapnya berubah seratus delapan puluh derajat. Tidak ada lagi nada sinis, tidak ada lagi ancaman terang-terangan.
"David," Reza berkata suatu sore di kantin kantor, suaranya lembut, penuh penyesalan yang terdengar tulus, "gue minta maaf soal kejadian kemarin. Gue sadar gue salah. Gue cuma pengen lo tau, gue udah berubah."
David menatapnya, masih menyimpan kewaspadaan, tapi sikap sopan dan permintaan maaf yang konsisten selama beberapa hari membuat sebagian kecil pertahanannya melunak.
"Yaudah, Kak. Gue terima," David menjawab, walau dalam hati masih ada rasa ganjil yang tidak bisa dia jelaskan.
***
Tapi ganjil itu mulai jadi kecurigaan nyata ketika dalam beberapa rapat berikutnya, David memperhatikan sesuatu yang aneh. Usulan-usulan yang dia ajukan, yang sebelumnya selalu didiskusikan dengan terbuka, sekarang mulai sering kalah suara, sementara usulan Reza, walau kadang terdengar kurang matang, justru mendapat dukungan yang terlalu cepat dan terlalu seragam dari tiga komisaris yang sama.
"Ini gak normal," David membatin sambil mengamati pola voting yang terjadi rapat demi rapat.
Malam itu juga, dia mengirim pesan ke Anto, "Tot, ada yang aneh di rapat komisaris. Tolong cek."
Anto langsung bergerak, mulai menyusuri jejak transaksi mencurigakan, dan kali ini dia berhasil menemukan sesuatu, transfer dari rekening pribadi Serlina ke tiga nama komisaris berbeda, jumlahnya bervariasi tapi pola waktunya berdekatan dengan setiap keputusan penting yang berubah arah.
Tapi begitu dia mencoba menggali lebih dalam untuk mengonfirmasi jumlah pasti dan tujuan transfer itu, jejaknya tiba-tiba memutus, seperti ada tangan tak kelihatan yang menutup pintu tepat sebelum dia masuk lebih jauh.
"Sialan," Anto menggerutu di depan laptopnya, "ini beda dari kemarin. Reza belajar. Dia main lebih bersih sekarang, dan ada yang bantu nutupin jejaknya, sistem yang motongin akses gue ini levelnya tinggi banget."
Dia segera mengirim pesan ke David, "Vid, ada transfer mencurigakan dari rekening Serlina ke tiga komisaris. Tapi jejaknya keburu ketutup, gue gak bisa dapet bukti lengkap. Lo harus mulai siaga, ini kelihatannya rencana besar buat ambil alih suara di dewan komisaris."
David membaca pesan itu dengan dahi berkerut, jantungnya mulai berdebar lebih kencang. Kalau benar Reza berhasil mengamankan tiga suara komisaris, itu berarti posisinya di perusahaan bisa terancam dari arah yang sama sekali tidak terduga, bukan lewat kekuatan fisik atau dokumen palsu yang mudah dipatahkan, tapi lewat permainan politik internal yang jauh lebih sulit dilawan.
"Makasih, Tot. Gue mulai siaga," David membalas singkat, lalu menyandarkan badan ke kursi, pikirannya berputar mencari cara menghadapi ancaman baru yang jauh lebih senyap dari sebelumnya.
***
Di dapur rumah Anto, malam itu suasana jauh lebih ringan dari ketegangan yang baru saja dirasakan David. Rambo berdiri di depan kompor kecil, menyeduh kopi sambil bersenandung asal, suaranya berat dan sumbang memenuhi ruangan.
"Naha kunaon nu geulis loba nu bangor, naha kunaon nu bangor loba nu geulis~"
Dia terus bersenandung sambil mengambil toples di rak dapur, dan karena terlalu fokus dengan nyanyiannya sendiri, dia tidak sadar mengambil toples yang salah, bukan gula, melainkan garam, lalu menuangnya cukup banyak ke dalam cangkir kopinya.
Anto, yang sedang duduk di meja makan sambil memeriksa ulang data di laptopnya, hanya melirik sekilas tanpa benar-benar memperhatikan.
Rambo mengaduk kopinya, masih bersenandung, lalu mengangkat cangkir itu ke mulutnya, menyesap dengan penuh percaya diri.
"PYEAAAHHHHB!"
Wajahnya langsung berubah seketika, matanya melebar penuh keterkejutan, dan sebelum dia bisa menahan diri,
"BUWWWAAAACCHHH!"
Dia menyemburkan kopi itu, dan sialnya, arah semburan itu tepat mengenai wajah Anto yang sedang duduk tidak jauh dari kompor.
"ANJIR!" Anto langsung berdiri, wajahnya basah penuh kopi, "RAMBO! NAJIS LO!"
"Maaf, Tot, gue gak sengaja," Rambo berkata sambil masih meringis karena rasa asin yang luar biasa di lidahnya.
"NAMA GUE ANTO! A-N-T-O! BUKAN TOT!" Anto berteriak, mengelap wajahnya dengan lap dapur yang ada di dekatnya, masih kesal bukan main.
Rambo, walau sudah meminta maaf, tetap memanggilnya Tot tanpa sadar, membuat Anto makin merajuk, duduk membelakangi Rambo dengan wajah ditekuk.
Melihat itu, Rambo mencoba mencairkan suasana dengan caranya sendiri, "Yaudah, biar gue ganti, gue ajarin lo silat. Biar lo bisa jaga diri, gak cuma jago di depan komputer doang."
Anto menoleh perlahan, matanya berbinar mendadak, "Beneran? Lo ajarin gue?"
"Iya, sampai lo jadi tangguh."
"Wah, makasih, Om Rambo ku!" Anto langsung berseri-seri, lupa sepenuhnya soal kopi yang baru saja menyembur ke wajahnya.
"Jangan lebay, kau, bocah," Rambo menjawab datar.
"Jangan panggil aku anak kecil, Paman," Anto membalas dengan nada protes.
"Yaudah, Tot."
"Terserah lo aja, Rembo."
"Rambo," Rambo membenarkan cepat, alisnya naik sebelah, "bukan Rembo."
Suasana dapur itu kembali dipenuhi gelak tawa kecil, jauh dari ketegangan politik yang sedang diam-diam dibangun Reza di lantai eksekutif, seolah rumah sederhana itu menjadi satu-satunya tempat di mana David dan orang-orang terdekatnya masih bisa menemukan kelegaan, walau sebentar, di tengah perang panjang yang belum menunjukkan tanda akan segera berakhir.
*(bersambung)*