Demi memenuhi wasiat terakhir sahabatnya, Kinanti menikah dengan Keenan, seorang duda yang memiliki tiga anak. Namun pernikahan itu tidak membawa kebahagiaan seperti yang dibayangkan. Yudha, Tiara, dan Daffa menolak kehadirannya dan melakukan berbagai cara agar Kinanti pergi dari rumah mereka.
Bagi ketiga anak itu, tidak ada yang bisa menggantikan sosok ibu mereka yang telah tiada. Setiap kebaikan Kinanti dibalas dengan penolakan dan sikap menyakitkan. Meski begitu, ia memilih bertahan, menghadapi semuanya dengan kesabaran dan kasih sayang.
Mampukah ketulusan seorang ibu tiri meluluhkan hati yang penuh luka? Sebuah kisah mengharukan tentang kehilangan, pengorbanan, dan cinta yang membuktikan bahwa tak selamanya ibu tiri itu kejam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon My_Sunshine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bukan kejutan manis
Keesokan paginya,
Keenan berangkat ke kantor setelah mengganjal perut dengan roti tawar dan selai. Rasa kesal terhadap Yudha dan Tiara masih mengendap di dadanya. Karena itulah, ia sengaja tidak membangunkan kedua anak itu. Ia ingin melihat sampai kapan mereka mampu bertahan tanpa kehadiran Kinanti.
Meski masih kecewa, Keenan tetap menyiapkan roti dan selai sebagai sarapan mereka. Uang saku pun ia letakkan di atas meja makan sebelum akhirnya meninggalkan rumah.
Alarm di ponsel Yudha berdering tepat pukul 06.30. Dengan mata yang masih berat, ia hanya meraih ponselnya, mematikan alarm, lalu kembali memejamkan mata.
Tak lama kemudian, suara teriakan Tiara menggema dari ruang makan.
“Mas Yudha! Bangun! Kita terlambat!”
Yudha sontak membuka mata. Ia langsung melempar selimut dan berlari keluar kamar. Begitu pandangannya jatuh pada jam dinding, wajahnya berubah panik.
“Kenapa kamu baru bangunin aku jam segini!” bentaknya kesal.
Tiara tak mau disalahkan.
“Kok malah nyalahin aku? Mas juga punya HP buat pasang alarm.”
Yudha menghembuskan napas kasar. Ia sadar tak ada gunanya berdebat.
“Sudahlah. Cepat siap-siap, habis itu kita sarapan.”
Karena waktu sudah mepet, keduanya hanya sempat mencuci muka tanpa mandi. Namun, masalah baru muncul saat mereka membuka lemari pakaian.
“Lho... seragamku mana?” Yudha mulai panik. “Kok nggak ada di lemari?”
Tiara ikut memeriksa lemarinya.
“Punyaku juga nggak ada.”
Mereka berdua bergegas menuju ruang setrika. Di sanalah seragam mereka menumpuk di dalam keranjang dalam keadaan kusut karena belum disetrika.
“Astaga…”
Refleks ia berteriak,
“Tante! Kenapa seragam kami belum disetrika?!”
Suasana mendadak hening. Yudha yang semula hendak ikut mengomel tiba-tiba terdiam. Beberapa detik kemudian ia mengusap wajahnya dengan kasar.
“Tiara... kamu gimana, sih? Perempuan itu sudah nggak tinggal di rumah ini lagi.”
Tiara sontak membeku.
“Oh iya... Aku lupa.”
Ia menatap seragamnya yang kusut dengan wajah cemas.
“Terus gimana? Nggak mungkin aku berangkat sekolah pakai seragam begini. Hari ini ‘kan, upacara bendera.”
“Ya sudah. Kamu setrika saja seragam kita berdua.”
“Enak saja! Setrika sendiri!” seru Tiara ketus.
Tanpa mempedulikan Yudha, ia mengambil ponselnya lalu membuka video tutorial menyetrika di You*ube. Sesekali ia mengernyit mengikuti langkah demi langkah yang ditampilkan di layar. Setelah beberapa kali mencoba, akhirnya seragamnya tampak cukup rapi. Sementara itu, Yudha memilih mengisi perut lebih dulu.
“Aku sudah selesai,” ujar Tiara sambil menarik kursi di meja makan. Ia mengambil selembar roti tawar, lalu mengolesinya dengan selai stroberi.
Yudha melirik ke arah adiknya.
“Kamu cuma nyetrika seragammu sendiri?”
“Ya iyalah,” jawab Tiara santai sebelum menggigit rotinya.
“Dasar egois!” desis Yudha.
Tiara mengangkat bahu.
“Tinggal nonton tutorial di YouTube, beres. Sudah sana, jangan kebanyakan drama.”
Mendengar itu, Yudha mendecak kesal. Setelah menghabiskan sarapannya, ia menuju ruang setrika. Ia membuka video tutorial yang sama seperti yang tadi ditonton Tiara.
Namun, praktik ternyata tidak semudah kelihatannya. Tangannya tampak kikuk menggerakkan setrika di atas kain. Karena panik waktu terus berjalan, tanpa sengaja ujung jarinya menyentuh permukaan setrika yang masih panas.
“Ah, sial!” umpatnya spontan sambil mengibaskan tangan dan meniupi jari yang terasa perih.
Tiara yang baru selesai sarapan berdiri di ambang pintu dengan tas ransel sudah bertengger di punggungnya. Senyum jahil langsung menghiasi wajahnya.
“Masa begitu saja nggak bisa? Payah!” ejeknya.
“Diam kamu!” bentak Yudha tanpa menoleh.
Meski sempat diwarnai adu mulut dan kepanikan, akhirnya kedua remaja itu berhasil bersiap. Dengan langkah tergesa, mereka keluar rumah lalu berjalan cepat menuju halte tempat mereka biasa menunggu angkutan umum.
Tiara tiba di depan ruang kelas tepat ketika bel masuk berbunyi nyaring. Nafasnya masih memburu setelah berlari dari gerbang sekolah.
Ia menjatuhkan tasnya ke atas kursi, lalu mengusap peluh di dahinya. Tenggorokannya terasa kering. Saat hendak meraih botol minum di dalam tas, ia baru teringat bahwa pagi tadi ia lupa mengisinya.
“Sa, bawa minum nggak?” tanyanya kepada Elsa, sahabat sebangkunya.
“Bawa. Nih.” Elsa menyodorkan botol minumnya. Tanpa pikir panjang, Tiara langsung menerimanya lalu meneguk air itu cukup banyak.
“Yah... kok disisain dikit banget?” protes Elsa sambil melirik isi botolnya yang hampir habis.
“Nanti aku ganti pakai air mineral, deh.”
“Beneran, ya?”
“Iya.”
Belum sempat percakapan mereka berlanjut, suara petugas upacara menggema dari pengeras suara di lapangan.
“Seluruh siswa diharapkan segera menuju lapangan untuk mengikuti upacara bendera.”
Murid-murid yang masih berada di dalam kelas pun serentak bangkit dari tempat duduk masing-masing dan bergegas menuju lapangan upacara.
“Ra... seragammu nggak disetrika, ya?” sindir Elsa begitu mereka kembali ke kelas seusai upacara.
Tiara menoleh sekilas.
“Disetrika, kok. Memangnya kenapa?”
Elsa mengangkat sebelah alis.
“Masih kusut begitu. Tadi waktu upacara banyak yang ngomongin kamu.”
Wajah Tiara langsung mengeras.
“Perempuan kampungan itu yang menyetrika seragamku!” ketusnya.
Meski Kinanti sudah tidak tinggal di rumah mereka, Tiara tetap melimpahkan kesalahan kepadanya.
Elsa mengangguk seolah membenarkan.
“Pantas saja. Berarti ibu tirimu itu memang kampungan. Masa menyetrika baju saja nggak becus?”
“Aku juga sudah bilang begitu dari dulu.”
Saat itu juga pintu kelas terbuka. Guru Bahasa Inggris mereka melangkah masuk sambil membawa beberapa buku di tangannya.
“Good morning, Students.”
“Good morning, Sir,” jawab seluruh siswa serempak.
Suasana kelas seketika berubah tenang. Sementara guru mulai membuka pelajaran, Tiara diam-diam menunduk memandangi seragamnya. Lipatan-lipatan kusut itu masih tampak jelas di beberapa bagian. Padahal, pagi tadi ia sendirilah yang menyetrikanya saat setrika belum cukup panas.
Namun, alih-alih mengakui kesalahannya sendiri, Tiara tetap memilih menyalahkan Kinanti, seolah perempuan itu masih menjadi penyebab setiap ketidak nyamanan yang ia rasakan.
****
Seperti biasanya, Tiara berangkat dan pulang sekolah menggunakan angkutan umum. Keenan memang belum mengizinkan putra dan putrinya memiliki sepeda motor. Menurutnya, usia mereka belum cukup dewasa untuk mengendarai kendaraan sendiri.
Sore itu, Tiara berjalan santai menuju rumah ketika tiba-tiba sebuah sepeda motor melambat di sampingnya. Pengendaranya membunyikan klakson sebelum menepi. Tiara menghentikan langkah dan menoleh.
“Kamu Tiara, kan?” tanya pria itu sambil melepas helmnya, lalu turun dari motor.
“Iya.” Tiara mengernyit. “Abang siapa?”
“Aku disuruh ayahmu buat jemput kamu.”
Tiara tampak bingung.
“Ayah? Nyuruh Abang jemput aku? Memangnya mau ke mana?”
“Ke restoran.”
Kening Tiara semakin berkerut.
“Nggak biasanya ayah nyuruh orang buat jemput aku....” gumamnya.
Sesaat kemudian, ia teringat pertengkaran mereka sehari sebelumnya. “Apa jangan-jangan ini cara ayah minta maaf karena kemarin sudah marahin aku sama Mas Yudha?”
Seolah sudah menebak isi pikiran Tiara, pria itu segera menambahkan,
“Oh ya, kakakmu, Yudha, juga sudah ada di sana.”
“Mas Yudha sudah di restoran?” Mata Tiara berbinar.
“Iya.”
Tiara tersenyum tipis.
“Kalau begitu aku ganti baju dulu, ya. Rumahku sudah dekat kok.”
Pria itu buru-buru menggeleng.
“Nggak usah. Pak Keenan bilang beliau sudah membelikanmu gaun. Katanya sekalian dipakai di restoran.”
Penjelasan itu membuat Tiara semakin yakin. Keraguan yang sempat muncul perlahan menghilang. Dalam benaknya, sang ayah pasti ingin memperbaiki hubungan mereka setelah pertengkaran kemarin.
“Ya sudah, kita berangkat sekarang.”
Tanpa sedikit pun menaruh curiga, Tiara naik ke jok belakang sepeda motor itu. Mesin kembali menderu, lalu kendaraan itu melaju meninggalkan jalan yang biasa dilalui Tiara menuju rumah.
Gadis itu sama sekali tidak menyadari bahwa kejutan yang menantinya di depan bukanlah makan bersama sang ayah, melainkan awal dari sebuah mimpi buruk yang akan mengubah hidupnya.
Mahesa hemmmm ada something ini