NovelToon NovelToon
SEBELUM SENJA PAMIT DI AKAR TUA

SEBELUM SENJA PAMIT DI AKAR TUA

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Healing
Popularitas:449
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

"Kalau kau memang ingin mati, setidaknya selesaikan dulu 7 permintaanku. Setelah itu, aku tidak akan melarangmu gantung diri di pohon ini."
Kehilangan karier, dikhianati sahabat, dan ditinggal tunangan, Gani pulang ke desa masa kecilnya hanya dengan satu tujuan: mati dengan tenang di bawah pohon beringin tua.
Namun, rencananya berantakan saat Kirana—gadis desa yang cerewet, keras kepala, namun memiliki senyum paling tulus—menemukannya di hutan dan memberinya satu kesepakatan gila. Gani terpaksa menyetujui "7 Permintaan" gadis itu sebelum ia diizinkan mati.
Mulai dari mencuri mangga Kepala Desa hingga menari di bawah hujan badai, setiap permintaan justru perlahan mengembalikan warna di hidup Gani yang kelabu.
Namun, saat cinta mulai menunda niat kematiannya, Gani menyadari satu kebenaran yang kejam: Kirana memiliki alasan yang jauh lebih tragis darinya untuk tidak bisa hidup lebih lama lagi.
Kini, mampukah tangan yang pernah hancur itu menyelamatkan satu-

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7: Nasi Liwet dan Rahasia di Balik Tawa

​Malam turun merengkuh Desa Karangbanyu dengan cara yang sangat berbeda dari Jakarta. Di ibu kota, malam hanyalah pergantian warna langit yang segera diusir oleh jutaan watt cahaya neon, lampu jalan tol, dan layar reklame raksasa. Malam di Jakarta tidak pernah benar-benar gelap, dan tidak pernah benar-benar sunyi.

​Namun di desa ini, malam memiliki otoritas mutlak. Begitu matahari tenggelam di balik perbukitan, kegelapan merayap perlahan menyelimuti atap-atap rumah, pepohonan, hingga jalanan setapak. Suara azan Isya dari kejauhan telah lama usai, digantikan oleh simfoni nokturnal berupa derik jangkrik, sahut-sahutan katak dari arah sawah, dan lolongan anjing liar di kejauhan.

​Gani melangkah memasuki rumah tuanya. Engsel pintu depan berderit panjang, memecah kesunyian yang mengendap di ruang tamu. Berkat acara bersih-bersihnya pagi tadi, udara di dalam rumah tidak lagi sebau makam tua, meski hawa pengap khas rumah yang lama tak dihuni masih tertinggal tipis di udara.

​Rumah itu gelap gulita. Tidak ada aliran listrik. Raka, mantan sahabat yang kini paling ia benci di seluruh dunia, telah menghentikan pembayaran tagihan listrik sejak perusahaannya mulai kolaps enam bulan lalu. Gani merogoh saku celananya, menekan tombol daya ponselnya. Layarnya menyala redup, menampilkan angka baterai berwarna merah: 4%.

​Ponsel itu adalah satu-satunya sumber cahayanya saat ini, sekaligus sisa-sisa terakhir dari peradaban modern yang mengikatnya. Gani menyalakan mode senter, membiarkan seberkas cahaya putih menyoroti lantai semen menuju area belakang rumah.

​Setibanya di dapur, Gani meletakkan ponselnya di atas meja kayu yang rapuh. Ia mengambil sebatang lilin sisa yang ia temukan di laci bufet tadi pagi, lalu menyalakannya dengan korek api. Pendar cahaya kekuningan seketika mengusir kegelapan di sekelilingnya, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menari di dinding kayu. Gani mematikan senter ponselnya. Benda pipih mahal itu kini mati total, layar kacanya berubah menjadi cermin hitam yang memantulkan wajah lelahnya.

​Gani menghela napas panjang. Ia berjalan menuju sumur tua di halaman belakang. Udara malam yang dingin langsung menyergap kulitnya yang lengket oleh keringat dan getah pohon mangga. Ia menimba air, suara katrol berkarat yang berderit nyaring menjadi satu-satunya teman bicaranya.

​Byur!

​Guyuran air sumur pertama yang mengenai pundaknya terasa seperti ribuan jarum es yang menusuk kulit. Gani terkesiap, napasnya tertahan sejenak. Namun, ia tidak berhenti. Guyuran kedua, ketiga, dan seterusnya perlahan mematikan saraf-sarafnya terhadap rasa dingin. Ia menggosok lengannya dengan sabun batangan murah yang ia beli di warung sebelum ke hutan kemarin. Aromanya sangat menyengat, aroma sabun cuci bercampur aroma melati sintetis, jauh berbeda dengan sabun cair impor beraroma sandalwood yang biasa ia gunakan di apartemennya.

​Sambil mengguyur tubuhnya dalam keremangan cahaya bintang, Gani menatap plester luka di pergelangan tangan kirinya. Plester itu basah, dan rasa perih samar kembali terasa saat terkena air. Ia menatap luka itu, lalu ingatan tentang kejadian sore tadi kembali berputar di kepalanya.

​Mencuri mangga. Berlari menghindari sapu lidi Pak Kades. Tertawa terbahak-bahak di tengah kebun singkong. Dan percakapan intim di tepi Kali Bening bersama Kirana.

​Semua itu terasa surealis. Kemarin, ia adalah pria yang bersiap meninggalkan dunia ini dengan seutas tali nilon. Hari ini, ia adalah pria yang perutnya berisi mangga curian dan sedang mandi di sumur tua di tengah malam. Entah bagaimana, Kirana telah membelokkan setir kehidupannya yang sedang melaju menuju jurang, menabrakkannya ke sebuah kebun singkong yang penuh komedi, dan memaksanya untuk terus melaju.

​Setelah selesai membersihkan diri dan berganti dengan kemeja flanel merah kotak-kotak yang sudah mulai berbulu, Gani kembali ke ruang tamu. Ia meletakkan lilin di atas meja tengah, lalu duduk di kursi rotan.

​Kesunyian kembali menyergapnya. Begitu euforia sore tadi menguap, realitas kembali menggedor pintu pikirannya. Di balik kegelapan desa ini, para penagih utang di Jakarta mungkin sedang melacak keberadaannya. Nama baiknya masih hancur. Ia masih tidak memiliki uang, karier, maupun masa depan. Dan luka pengkhianatan Sania, wanita yang rencananya akan ia nikahi bulan depan, kembali terasa berdenyut ngilu di dadanya.

​Tiba-tiba, sebuah ketukan keras dan bertubi-tubi di pintu depan membuat Gani tersentak dari lamunannya.

​Tok! Tok! Tok!

​"Assalamualaikum! Mas Gani! Ini Bibi!"

​Suara wanita paruh baya yang melengking itu menembus celah-celah papan kayu, diiringi suara gemerincing gelang keroncong yang saling beradu.

​Gani menegang. Insting pertahanannya seketika aktif. Di Jakarta, jika ada yang mengetuk pintu apartemennya pada malam hari, itu pasti debt collector atau wartawan pencari sensasi. Ia terdiam selama beberapa detik, bimbang apakah ia harus membuka pintu atau berpura-pura tidak ada di rumah.

​Namun, ketukan itu kembali terdengar, kali ini lebih tidak sabaran. "Mas Gani? Bibi tahu sampeyan di dalam. Lilinnya kelihatan dari luar lho, Mas! Ayo buka dulu, Bibi bawa titipan ini!"

​Gani menghela napas kasar, mengusap wajahnya. Tentu saja, di desa tidak ada konsep privasi yang dihormati seperti di kota. Tidak membukakan pintu untuk tetangga yang sudah memanggil namamu adalah sebuah dosa sosial yang fatal.

​Dengan langkah gontai, Gani berjalan menuju pintu dan memutar kuncinya. Begitu daun pintu terbuka, aroma masakan yang luar biasa gurih dan tajam langsung menampar indra penciumannya, seketika membuat lambungnya yang baru terisi mangga dan sedikit ayam goreng tadi pagi kembali bergejolak.

​Di ambang pintu, berdirilah Bibi Ratna. Wanita berusia awal lima puluhan itu mengenakan daster batik bermotif bunga besar, dengan kerudung instan yang dipakai asal-asalan. Tubuhnya agak gempal, dan wajahnya dipenuhi bedak dingin yang belum sepenuhnya kering. Di tangan kanannya, ia membawa sebuah lampu teplok (lampu minyak tanah) yang kacanya sudah menghitam oleh jelaga. Sementara di tangan kirinya, ia menyeimbangkan sebuah tampah bambu kecil yang ditutupi oleh daun pisang.

​"Waalaikumsalam, Bi," jawab Gani canggung, suaranya sedikit parau karena sudah lama tidak membalas sapaan dengan ramah.

​"Ya ampun, Mas Gani! Gelap-gelapan begini kayak burung hantu saja!" cerocos Bibi Ratna tanpa memberikan jeda bagi Gani untuk menjawab. Wanita itu langsung menerobos masuk begitu saja ke ruang tamu, membawa aroma minyak tanah dan rempah-rempah bersamanya. "Listriknya diputus, ya? Makanya, rumah itu jangan dibiarkan kosong bertahun-tahun. Pamali. Jadi sarang demit nanti."

​Bibi Ratna meletakkan lampu teplok di atas meja, tepat di sebelah lilin Gani. Cahaya di ruangan itu seketika menjadi lebih terang. Ia kemudian meletakkan tampah bambu itu dengan sangat hati-hati.

​Gani menutup pintu dan berdiri canggung di dekat kursi. Di kehidupan lamanya, interaksi dengan tetangga apartemennya hanya sebatas anggukan kecil di dalam lift. Ia tidak tahu bagaimana harus menghadapi invasi teritorial yang sangat khas pedesaan ini.

​"Duduk, Mas, duduk!" Bibi Ratna menepuk kursi rotan di seberangnya, bertingkah seolah ia adalah nyonya rumah dan Gani adalah tamunya. "Tadi sore Kirana mampir ke warung Bibi. Katanya rumah ini belum ada kompornya, listrik juga mati. Ya sudah, Bibi sekalian masakkan nasi liwet porsi besar. Wong Bibi juga janda sendirian di rumah, masak banyak kan ndak ada yang makan."

​Bibi Ratna menyingkap daun pisang yang menjadi penutup tampah tersebut. Kepulan uap tipis yang membawa aroma magis seketika menguar. Di atas tampah yang beralaskan daun pisang itu, terdapat gundukan nasi liwet yang ditaburi teri medan goreng, irisan cabai merah, dan daun kemangi. Di sekeliling nasi, tertata rapi ikan peda asin yang digoreng kering, lalapan timun, petai bakar, dan semangkuk kecil sambal terasi yang warnanya merah menggoda.

​Gani tanpa sadar menelan ludah. "Bi... ini... ini repot-repot sekali. Saya bisa cari makan sendiri di luar."

​Bibi Ratna memutar bola matanya, mencibir pelan. "Cari makan di mana jam segini? Warung Mpok Iyem di depan sudah tutup dari jam tujuh tadi. Sudah, jangan banyak gaya. Orang kota kalau pulang kampung itu harus makan masakan kampung, biar lupa sama stressnya."

​Wanita itu menyodorkan sebuah piring seng dan sendok kepada Gani. Tatapannya begitu mendesak, jenis tatapan keibuan yang tidak menerima penolakan.

​Gani akhirnya mengalah. Ia duduk di hadapan Bibi Ratna. Tangan besarnya yang biasa memegang garpu perak untuk membedah steak daging Wagyu, kini dengan kaku menyendok nasi liwet dan ikan peda. Ia menyuapkan makanan itu ke dalam mulutnya.

​Rasa gurih dari nasi yang dimasak dengan santan, berpadu dengan asinnya ikan peda dan pedasnya sambal terasi, meledak menjadi harmoni rasa yang luar biasa di lidahnya. Ini adalah rasa yang sangat familiar. Rasa yang langsung menarik paksa ingatannya kembali ke masa dua puluh tahun lalu, saat ibunya masih hidup dan memasakkan menu yang sama persis saat perayaan panen padi.

​"Enak, toh?" tanya Bibi Ratna dengan senyum puas melihat Gani mengunyah dalam diam.

​Gani hanya mengangguk pelan. "Enak sekali, Bi. Terima kasih."

​"Syukurlah kalau cocok di lidah orang kota. Bibi dengar-dengar dari berita di tivi, katanya perusahaan Mas Gani lagi ada masalah besar, ya?" Bibi Ratna mulai membuka sesi wawancara, nada suaranya berubah menjadi konfidensial, khas tukang gosip yang sedang menggali informasi dari sumber utama. "Katanya uangnya dibawa kabur teman sendiri? Beneran itu, Mas?"

​Gerakan mengunyah Gani melambat. Dinding pertahanannya kembali naik. Ia tidak suka kehidupan pribadinya—apalagi kegagalannya—dijadikan bahan konsumsi publik.

​"Ya... begitulah, Bi. Sedang ada sedikit masalah hukum," jawab Gani sebisa mungkin diplomatis, berharap wanita itu menangkap sinyal bahwa ia tidak ingin membahasnya lebih lanjut.

​Namun, Bibi Ratna adalah seorang veteran di medan pergosipan Karangbanyu. Sinyal diplomatis sama sekali tidak mempan padanya.

​"Gusti Allah... jahat banget itu orang. Padahal Mas Gani sudah sukses, bikin bangga almarhum Pak Haris, eh malah di-kadalin sama teman sendiri," Bibi Ratna menggeleng-gelengkan kepala dengan ekspresi penuh simpati yang sebenarnya tulus. "Ndak apa-apa, Mas. Harta itu cuma titipan. Hilang di kota, siapa tahu nanti Mas Gani nemu rezeki lagi di desa. Yang penting sampeyan sehat, pulang ke sini dengan selamat."

​Ucapan Bibi Ratna yang blak-blakan namun sarat akan penerimaan itu membuat Gani tertegun. Ia telah bersiap menghadapi cemoohan. Ia bersiap ditertawakan oleh warga desa karena pulang sebagai pria yang gagal dan bangkrut. Namun, alih-alih penghakiman, Bibi Ratna justru menawarkan sepiring nasi liwet dan sebuah pengampunan sosial yang tidak pernah Gani sangka akan ia dapatkan.

​Di desa, kegagalan finansial ternyata tidak lantas mencabut status kemanusiaan seseorang. Sesuatu yang sama sekali tidak berlaku di lingkaran pergaulan elit Jakarta.

​"Makanya," Bibi Ratna melanjutkan, mengambil sejumput teri goreng dan memakannya tanpa nasi. "Di desa itu santai saja. Kalau pusing, ya main ke sawah. Atau main sama si Kirana. Tadi sore saja, desa kita lumayan heboh lho, Mas."

​Gani baru saja menyuapkan petai bakar ke mulutnya ketika Bibi Ratna mengucapkan kalimat itu. "Heboh? Heboh kenapa, Bi?" tanyanya dengan nada hati-hati.

​Bibi Ratna tertawa hingga bahunya berguncang. "Itu lho, Pak Kades! Tadi sore dia ngamuk-ngamuk di pos ronda. Katanya mangga madu kesayangannya yang paling besar dicuri orang. Ayam jawaranya juga sampai stres karena dikagetin pakai batu. Pak Kades sampai sumpah serapah, katanya kalau ketemu pelakunya, mau dijemur di lapangan kelurahan seharian."

​Uhuk!

​Gani tersedak hebat. Sambal terasi yang pedas masuk ke saluran napasnya. Ia terbatuk-batuk dengan wajah memerah, matanya berair. Ia memukul-mukul dadanya sendiri.

​"Eh, pelan-pelan, Mas! Ini minum dulu!" Bibi Ratna panik, menyodorkan segelas air putih dari teko yang juga ia bawa.

​Gani menenggak air itu dengan cepat, menstabilkan pernapasannya, sementara detak jantungnya memacu kencang. Jika Pak Kades tahu bahwa pelakunya adalah anak almarhum Pak Haris—mantan arsitek kebanggaan desa—Gani lebih memilih kembali ke Jakarta dan menyerahkan diri ke polisi daripada menanggung malu seumur hidup.

​"Ada-ada saja memang kelakuan anak-anak kampung sekarang," Gani mencoba tertawa, tawanya terdengar sangat sumbang dan dipaksakan. "Nakal sekali."

​"Bukan anak-anak, Mas!" Bibi Ratna menyanggah dengan semangat. "Pak Kades bilang, dia sempat lihat bayangan pelakunya lari ke kebun singkong. Katanya badannya besar, pakai baju hitam, dan larinya cepat banget. Kalau anak-anak mana mungkin bisa lompat dari pohon setinggi itu. Makanya warga desa lagi curiga, jangan-jangan ada garong dari desa sebelah yang lagi survei lokasi."

​Keringat dingin sebesar biji jagung mulai menetes dari pelipis Gani. Garong dari desa sebelah. Reputasinya benar-benar sudah berada di ambang kehancuran total. Ia merutuki Kirana dan ide gilanya di dalam hati. Enam buah mangga itu benar-benar harus dibayar mahal dengan teror psikologis.

​"Mungkin... mungkin cuma monyet liar dari hutan, Bi," kilah Gani sembarangan, mencari alibi terburuk yang bisa dipikirkan oleh otaknya.

​Bibi Ratna hanya mengibaskan tangannya. "Alah, monyet mana ada yang pakai baju hitam. Tapi ya sudahlah, biarin saja Pak Kades uring-uringan. Hartanya sudah banyak, pelitnya minta ampun. Anggap saja itu sedekah paksa."

​Bibi Ratna terkekeh lagi, dan Gani hanya bisa ikut tersenyum meringis, merasa sedikit lega karena wanita ini tampaknya tidak terlalu menyukai Pak Kades.

​"Oh ya, tadi Bibi sebut soal Kirana," Gani dengan cepat mengalihkan topik pembicaraan sebelum penyelidikan mangga berlanjut. Rasa penasarannya sejak sore tadi di tepi sungai kembali muncul ke permukaan. "Dia... gadis yang ceria. Memangnya dia sudah lama tinggal di desa ini?"

​Senyum di wajah Bibi Ratna perlahan memudar. Guratan keibuan di wajahnya berubah menjadi ekspresi sendu yang mendalam. Cahaya dari lampu teplok membuat kerutan di ujung matanya terlihat lebih jelas.

​"Kirana itu... ya ampun, anak itu," Bibi Ratna mendesah pelan, merapikan daun pisang yang tersingkap. "Dia memang lahir di sini, Mas. Dulu sempat ikut orang tuanya merantau ke Surabaya waktu SD. Tapi balik lagi ke sini pas SMA untuk tinggal sama neneknya. Neneknya baru saja meninggal dua tahun lalu. Sekarang dia tinggal sendirian di rumah pot bunga itu."

​"Sendirian? Lalu orang tuanya di Surabaya?"

​Bibi Ratna menggeleng. "Sudah pisah. Bapaknya nikah lagi, ibunya kerja entah di mana, sudah jarang kirim kabar. Tapi bukan itu yang bikin Bibi kasihan sama bocah itu, Mas."

​Gani menghentikan makannya. Ia meletakkan sendoknya di atas piring, memberikan perhatian penuh pada wanita di hadapannya. "Lalu karena apa, Bi?"

​Bibi Ratna mencondongkan tubuhnya ke depan, merendahkan suaranya seolah ia sedang membagikan rahasia negara, meskipun tidak ada siapa-siapa di rumah itu selain mereka berdua.

​"Kirana itu sakit, Mas. Sakit parah," bisik Bibi Ratna, matanya berkaca-kaca. "Jantungnya lemah. Kalau istilah dokternya apa itu, Bibi kurang paham, gagal jantung atau apa. Katanya bawaan dari remaja. Sebulan sekali dia harus kontrol ke rumah sakit kabupaten pakai bus, sendirian."

​Dada Gani terasa seperti dihantam balok es. Napasnya tertahan. Dugaan yang selama ini mengusiknya—wajah pucat, bibir kebiruan, napas yang terengah-engah setelah berlari, dan obat-obatan di tas kecilnya—kini terjawab sudah. Dan jawabannya jauh lebih buruk dari yang ia bayangkan.

​"Sakit... parah?" Gani mengulangi kata-kata itu dengan lirih, berharap ia salah dengar.

​Bibi Ratna mengangguk lemah. "Pak Mantri di puskesmas desa pernah bilang ke Bibi. Katanya, kondisi jantung Kirana itu sudah di tahap yang susah disembuhkan pakai obat biasa. Harus operasi besar, mungkin butuh donor. Biayanya mahal sekali, milyaran. Anak yatim piatu yang cuma jualan kembang dan jaga taman bacaan, dapat uang dari mana coba? Pak Kades sudah pernah coba urus bantuan dari pemerintah, tapi antreannya panjang banget."

​Gani menunduk, menatap sisa nasi liwet di piringnya yang kini tampak kehilangan selera.

​“Banyak orang di dunia ini yang berjuang setengah mati setiap hari... hanya untuk mempertahankan nyala api mereka satu hari lebih lama.”

​Kata-kata Kirana di bawah pohon Akar Tua kembali bergema dengan kekuatan penuh. Kini, Gani mengerti arti dari sorot mata gadis itu saat mematikan api korek. Ia mengerti mengapa Kirana begitu marah saat melihat Gani menyia-nyiakan hidup yang sangat didambakan oleh gadis itu.

​Gani, seorang pria dengan fisik sempurna dan usia yang masih muda, memilih untuk membuang napasnya hanya karena kehilangan uang dan ego. Sementara Kirana, seorang gadis muda yang ditinggalkan keluarganya dan harus menghitung setiap detak jantungnya yang berharga, berjuang sendirian untuk tetap tersenyum dan menebar tawa di desa ini.

​Rasa malu yang teramat sangat menyergap batin Gani. Malu yang jauh lebih besar daripada rasa malunya saat bangkrut. Ia merasa dirinya begitu kecil, begitu egois, dan begitu cengeng.

​"Tapi ya itu, Mas," suara Bibi Ratna menarik Gani kembali dari jurang rasa bersalahnya. "Kirana itu keras kepala. Kalau ditanya sakit apa, bilangnya cuma masuk angin. Dia selalu ceria, ngurus anak-anak kecil belajar baca, nanam bunga di mana-mana. Dia ndak mau dikasihani. Seolah-olah dia mau bikin semua orang ingat sama senyumnya, bukan sama sakitnya."

​Bibi Ratna menyeka ujung matanya dengan ujung kerudungnya. Ia menatap Gani dengan sungguh-sungguh.

​"Makanya, kalau Kirana ngajak main atau ngerepotin Mas Gani, tolong diwajarkan ya, Mas. Temani saja. Anak itu kesepian. Dia butuh teman yang usianya sepantaran. Anak muda di desa ini kan kebanyakan sudah pada merantau ke pabrik."

​Gani terdiam cukup lama. Ia menatap nyala api kecil di sumbu lampu teplok yang bergoyang ditiup angin malam. Rahangnya mengeras, namun kali ini bukan karena amarah atau keputusasaan. Melainkan karena sebuah tekad yang diam-diam mulai mengakar di dalam hatinya.

​"Pasti, Bi," jawab Gani pelan, namun nadanya sangat mantap. "Saya akan menemaninya. Saya janji."

​Bibi Ratna tersenyum lega mendengar jawaban itu. Suasana melankolis itu tidak berlangsung lama. Bibi Ratna segera kembali ke karakter aslinya. Ia menepuk lututnya sendiri, lalu berdiri.

​"Nah! Makanannya dihabiskan ya, Mas. Piring sama tampahnya besok pagi saja taruh di teras Bibi," ucap wanita itu, kembali merapikan dasternya. "Bibi pamit dulu, sinetron Ikatan Mertua sudah mau mulai jam segini. Jangan begadang malam-malam, nanti diganggu demit!"

​Tanpa menunggu Gani mengantarnya, Bibi Ratna berjalan keluar dari pintu depan yang memang tidak ditutup rapat, menghilang ke dalam kegelapan malam dengan suara gemerincing gelang yang khas.

​Gani ditinggalkan sendirian. Ia duduk dalam keheningan ruang tamunya yang remang-remang. Makanan di depannya masih tersisa, namun perutnya terasa sangat penuh oleh kenyataan yang baru saja ia cerna.

​Ia mengusap wajahnya yang kasar. Semua dinding kebencian yang ia bangun terhadap dunia perlahan mulai runtuh. Raka boleh saja mengambil hartanya. Sania boleh saja membawa pergi egonya. Namun, takdir rupanya belum selesai dengannya. Takdir telah mengirimkannya kembali ke desa ini, bukan untuk mengakhiri ceritanya di bawah pohon beringin tua.

​Takdir mengirimkannya pulang agar ia bisa menyelamatkan—atau diselamatkan oleh—seorang gadis bergaun cerah yang sedang menghitung mundur waktu hidupnya sendiri.

​Malam itu, Gani menghabiskan sisa nasi liwetnya hingga butir terakhir. Ia membersihkan meja, mematikan lilin, dan membiarkan lampu teplok menyala menemani tidurnya di atas papan ranjang yang keras.

​Saat matanya terpejam, ia tidak lagi memikirkan utang-utang perusahaannya, dan ia tidak lagi berencana mencari tali pengganti. Satu-satunya hal yang mengisi kepalanya sebelum ia jatuh terlelap adalah pertanyaan tentang apa yang akan diminta Kirana pada permintaan keduanya besok pagi.

​Dan untuk pertama kalinya dalam sejarah hidupnya yang kaku, Gani tidak sabar untuk segera melihat matahari terbit.

1
Yeni Puspitasari
segar , konyol, keren 😍
Yeni Puspitasari
dari dua novel yg mengerikan Thor, cerita baru mu kali ini membuat ku tertawa lebar🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!