NovelToon NovelToon
The Architecture Of Us

The Architecture Of Us

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Romansa / Diam-Diam Cinta
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Skyline Scribe

Sael, seorang pengacara muda yang ambisius, akhirnya kembali ke tanah kelahirannya setelah tujuh tahun di luar negeri.
Ia dipertemukan kembali dengan Aeros—pria yang dulu ia kenal sebagai teman masa kecil, namun diam-diam menyimpan perasaan terhadap Sael.
Mereka mulai menyadari bahwa hubungan ini tidak lagi bisa disandarkan pada kata "kakak-adik".
Bagaimana mereka menghadapi cinta yang tumbuh di tengah ambisi dan debar yang tak lagi bisa disembunyikan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyline Scribe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25 : Komisi Sepotong Croissant Cokelat

Karena kafe milik Aeros biasanya mengalami lonjakan pengunjung di akhir pekan, cowok itu sudah bersiap sejak pagi-pagi buta.

Sekitar pukul tujuh pagi, Aeros berjalan keluar ke area teras rumahnya sambil mengancingkan pergelangan kemeja linennya. Namun, langkahnya langsung terhenti saat mendapati pagar rumah sebelah sudah terbuka lebar. Di sana, Kael sedang sibuk mencuci motor maticnya dengan selang air, bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana pendek.

Begitu mendengar suara langkah kaki Aeros, Kael langsung menoleh. Seringai jahilnya yang legendaris itu langsung terpasang dalam waktu kurang dari satu detik.

"Waduh, pagi-pagi udah rapi amat, Bos!" sapa Kael setengah berteriak, mematikan aliran selang airnya dan menyandarkan tubuh di jok motor. "Mau ke kafe atau... mau nungguin jatah 𝘣𝘦𝘯𝘵𝘰 𝘣𝘰𝘹 selanjutnya nih?"

Aeros tidak bisa menahan senyumnya. Ia melangkah mendekati pagar pembatas setinggi dada yang memisahkan halaman rumah mereka. "Mau ke kafe. Gimana? Sael sudah bangun?"

"Wah, nanyanya langsung ke inti ya, nggak pakai basa-basi," Kael terkekeh, menggeleng-gelengkan kepalanya dengan dramatis. "Sael masih di dalam, Kak. Lagi dandan kayaknya. Padahal cuma mau nemenin Mama ke pasar kaget di ujung kompleks, tapi catokan rambutnya udah bunyi dari subuh. Curiga aku, dia sengaja dandan lama siapa tahu pas keluar pagar bisa papasan lagi sama mobil SUV hitam punya seseorang."

Aeros berdehem pelan, merasa sindiran Kael agak mengenai sasaran karena jujur saja, ia sendiri sengaja memperlambat gerakannya saat memanaskan mesin mobil tadi, berharap bisa melihat sekilas siluet Sael.

"Kael, jangan mulai deh," potong sebuah suara ketus dari arah pintu depan rumah si kembar.

Sael muncul dengan penampilan kasual namun rapi—kaus putih polos yang dimasukkan ke dalam celana jin longgar, rambutnya yang bergelombang rapi tergerai indah, dan sebuah tas belanja kain tersampir di bahunya. Begitu melihat Aeros berdiri di dekat pagar bersama Kael, langkah Sael sempat tersendat, dan binar matanya langsung berubah gugup.

"Tuh, baru diomongin orangnya keluar!" seru Kael tanpa dosa, menunjuk Sael dengan ujung jempolnya. "Gimana, Kak Aeros? Cantik nggak kembaranku? Hasil catokan dua jam tuh, demi bisa lewat di depan rumah mu."

"KAEL! Mulut kamu bener-bener ya!" Sael berjalan cepat menghampiri kembarannya, berniat merebut selang air di dekat kaki Kael untuk menyemprot cowok itu.

Namun, sebelum perang saudara itu pecah, Aeros mendahului dengan sapaan lembut. "Pagi, Sael. Mau ke pasar?"

Sael otomatis menghentikan gerakannya. Ia memutar tubuh menghadap Aeros,. "P-pagi, Kak Aeros. Iya, mau nemenin Mama bentar. Kakak... sudah mau berangkat ke kafe?"

"Iya, ini baru mau jalan," jawab Aeros, matanya tidak bisa beralih dari wajah Sael pagi ini. Mengingat pembicaraan mereka di sofa semalam yang sempat terpotong oleh teriakan Kael, Aeros merasa harus memanfaatkan momen ini sebelum Kael berulah lagi.

Aeros merogoh saku kemejanya, mengeluarkan sebuah kartu kecil berwarna hitam dengan logo kafenya yang berlapis emas, lalu mengulurkannya.

"Ini apa, Kak?" tanya Sael bingung, menerima kartu tersebut.

"Itu kartu VIP 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳 untuk kafe utama dan semua cabang," Aeros tersenyum manis, melirik Kael sekilas sebelum kembali menatap Sael dengan intens. "Khusus buat kamu, kartunya berlaku seumur hidup. Potongan seratus persen untuk menu apa saja, kapan saja kamu mau datang. Dan... kalau kamu datangnya malam ini, aku yang akan jadi pelayan pribadi kamu di sana."

Sael mengerjapkan matanya, mematung di tempat dengan kartu hitam di genggamannya. Kalimat Aeros barusan terdengar seperti kombinasi antara promosi kafe dan... pernyataan cinta terselubung.

Di sebelah mereka, Kael yang menyaksikan adegan itu langsung menjatuhkan busa cucian motornya ke tanah. Ia membekap dadanya sendiri dengan ekspresi super dramatis, pura-pura sesak napas.

"𝘖𝘏 𝘔𝘠 𝘎𝘖𝘋! Seratus persen?! Seumur hidup?! Pelayan pribadi?!" pekik Kael heboh, langsung melompat pagar pembatas dan berdiri di samping Aeros dengan mata berbinar-binar matre. "Kak Aeros! Kakak ipar kesayanganku! Tolong buatkan satu kartu lagi buat aku! Aku rela deh jadi tumbal PDKT kalian berdua, asal aku dapet jatah kopi gratis seumur hidup!"

"Kael, kembali ke motor kamu!" seru Sael dengan wajah yang kini sudah berubah menjadi merah padam, buru-buru memasukkan kartu hitam itu ke dalam saku celananya.

Aeros hanya tertawa lepas melihat tingkah si kembar. Ia melambaikan tangan kecil ke arah Sael. "Aku berangkat dulu ya, Sael. Kael, duluan ya. Jangan lupa, tawaran malam ini masih berlaku."

Dengan senyum penuh kemenangan, Aeros berjalan menuju mobilnya, meninggalkan Sael yang masih sibuk mengendalikan debaran jantungnya yang menggila di pagi hari, dan Kael yang terus-terusan bernyanyi lagu pernikahan dengan suara cemprengnya di samping tempat cuci motor.

"Lagu pernikahan apa sih, Kael! Berisik banget, tahu!" omel Sael, diam-diam tersenyum.

Kael menghentikan nyanyian sumbangnya, lalu buru-buru memungut busa cucian motornya yang sempat terjatuh. Ia menatap Sael dengan mata menyipit, memperhatikan bagaimana kembarannya itu berkali-kali menoleh ke arah mobil sedan hitam Aeros yang perlahan melaju pergi meninggalkan kompleks.

"Duh, yang pandangannya nggak lepas sampai ke ujung aspal," sindir Kael sambil mencelupkan busanya ke dalam ember berisi air sabun. "Sael, sadar, Orang yang kamu taksir udah hilang di belokan, nggak usah ditatapin terus kayak nungguin hilal."

Sael refleks membalikkan badan, memunggungi jalanan. "Siapa juga yang nungguin! Aku cuma... Liatin jalanan aja kok."

"Alesan!" Kael tertawa renyah, lalu dengan sengaja mengibaskan busa sabun di tangannya ke arah Sael.

"Kael! Baju aku basah!" jerit Sael histeris, buru-buru melompat mundur untuk menghindari cipratan busa. Ia melotot tajam pada kembarannya yang sekarang malah memasang wajah tanpa dosa. "Awas ya, aku bilangin Mama biar uang jajan kamu dipotong!"

"Yah, mainnya ngaduan," Kael mencibir, tapi sedetik kemudian ekspresinya berubah menjadi lebih santai. Ia bersandar pada jok motor matic-nya yang setengah bersih, menatap Sael dengan pandangan yang sedikit melembut—sisi abang yang jarang ia perlihatkan akhirnya muncul. "Tapi serius, Sael. Kak Aeros keren juga ya gerakannya. Nggak nanggung-nanggung langsung ngasih kartu sakti seumur hidup."

Sael terdiam, jemarinya perlahan mengeluarkan kartu hitam itu dari saku celana. Ia memandangi logo berlapis emas di atasnya dengan senyum tipis yang tidak bisa disembunyikan. "Iya... aku juga nggak nyangka Kak Aeros bakal ngomong begitu."

Kael tersenyum melihat kembarannya yang tampak sangat bahagia. Ia berjalan mendekat, lalu dengan tangan yang sudah ia keringkan di celana pendeknya, ia merangkul pundak Sael dengan erat sampai kepala Sael sedikit tergencet di ketiaknya.

"Aduh, Kael! Bau!" protes Sael, berusaha meronta namun Kael malah makin mengeratkan rangkulannya.

"Nggak usah protes, ini wangi kerja keras saudaramu," ledek Kael, lalu menepuk-nepuk bahu Sael pelan. "Pokoknya, ntar malam kamu harus datang ke kafenya. Dandannya yang cantik, biar Kak Aeros makin betah jadi pelayan pribadi mu. Tapi inget..." Kael menggantung kalimatnya, memberikan kedipan mata matre andalannya. "Pulangnya bungkusin aku 𝘤𝘳𝘰𝘪𝘴𝘴𝘢𝘯𝘵 cokelat sama 𝘪𝘤𝘦𝘥 𝘢𝘮𝘦𝘳𝘪𝘤𝘢𝘯𝘰 ya? Gratis kan pake kartu sakti itu?"

Sael yang tadinya sempat terharu dengan perhatian Kael langsung mendengus sebal. Ia menyikut perut kembarannya itu sampai Kael mengaduh kesakitan dan melepaskan rangkulannya.

"Ujung-ujungnya tetep aja pamrih! Dasar matre!" rutuk Sael sambil membenarkan rambutnya yang sedikit berantakan akibat ulah Kael.

"Lho, itu namanya simbiosis mutualisme, Sael! Aku udah bantu bukain jalan, masa nggak dapet komisi?" sahut Kael sambil tertawa lepas, kembali melanjutkan aktivitas mencuci motornya dengan riang gembira.

"Sael! Ayo berangkat, keburu pasarnya makin ramai!" Suara Mama terdengar memanggil dari arah pintu depan, memecah perdebatan kecil si kembar.

"Iya, Ma! Ini Sael udah siap!" jawab Sael setengah berteriak. Sebelum melangkah pergi, ia menengok ke arah Kael dan menjulurkan lidahnya dengan jahil. "Nanti malam nggak akan aku bungkusin apa-apa! Biarin aja!"

"Pelit! Ntar aku laporin Kak Aeros kalau kamu aslinya suka ngorok pas tidur!" ancam Kael dari balik kepulan busa motornya.

Sael hanya tertawa, berjalan cepat menuju halaman depan untuk menghampiri Mama.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!