NovelToon NovelToon
ARTHUR

ARTHUR

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: By Magus

Arthur hanyalah bocah tujuh tahun yang ingin hidup tenang di Sektor Tujuh. Namun, dunia tidak mengizinkannya. Di balik tubuh mungil itu, bersemayam jiwa The Sovereign, entitas purba yang mampu menghapus konsep keberadaan hanya dengan satu sentilan.
Arthur tidak butuh ketenaran. Ia hanya ingin memastikan tidak ada yang mengganggu waktu santainya, meski itu berarti dia harus menghancurkan dewa dari bayangan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By Magus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lonceng Terakhir dan Jalur Hantu

Episode 25

Waktu seolah olah membeku di dalam ruang kelas dua SD Sektor Tujuh. Suara jarum jam dinding yang berdetak tik-tok-tik-tok terasa seperti dentuman palu di telinga Arthur. Bagi seorang Sovereign yang pernah melihat lahir dan matinya ribuan galaksi, menunggu selama tiga jam seharusnya bukanlah masalah besar. Namun, ketika kau terjebak di dalam tubuh bocah tujuh tahun yang harus duduk diam sambil mendengarkan penjelasan tentang cara menanam biji kacang hijau, waktu terasa jauh lebih menyiksa.

Udara di dalam kelas semakin pengap. Meskipun sistem pendingin udara sekolah sudah bekerja keras, energi yang dipancarkan oleh Heart of Gaia di dalam tas Arthur menciptakan distorsi termal yang aneh. Beberapa teman sekelas Arthur mulai mengeluh kegerahan, bahkan Bu Hera harus beberapa kali menyeka keringat di dahinya dengan sapu tangan.

"Arthur, kau tidak apa-apa?" Mia berbisik lagi, suaranya terdengar sangat khawatir. "Wajahmu tidak pucat, tapi matamu... matamu tampak sangat lelah. Seperti kakek-kakek yang belum tidur selama satu bulan."

Arthur hanya memberikan senyum tipis, sebuah ekspresi yang tampak terlalu bijak untuk wajah seumurnya.

"Aku hanya sedang memikirkan kacang hijau itu, Mia. Apakah mereka merasa kesepian di dalam tanah sebelum tumbuh?"

Mia mengerutkan kening, menatap Arthur seolah-olah temannya itu baru saja kehilangan akal sehatnya.

"Kau benar-benar aneh hari ini. Sangat, sangat aneh."

Arthur kembali menatap jam dinding. Tinggal satu jam lagi sebelum lonceng sekolah berbunyi. Di luar jendela, ia bisa melihat langit Sektor Tujuh yang tampak cerah secara artifisial. Itu adalah efek dari perisai gravitasi yang ia pasang secara pasif. Tanpa perisai itu, langit saat ini kemungkinan besar sudah berwarna merah darah akibat gesekan energi dari Jembatan Pasifik yang semakin tidak stabil.

Sementara itu, di sebuah hanggar rahasia di pinggiran Sektor Tujuh, Silas sedang melakukan persiapan terakhir. Di hadapannya berdiri sebuah jet siluman tanpa pilot yang disebut The Phantom 0. Pesawat ini tidak menggunakan mesin jet konvensional; ia ditenagai oleh mesin Silent Drive yang mampu melipat udara di sekelilingnya sehingga tidak akan terdeteksi oleh radar atau penglihatan manusia.

Silas memegang tabletnya dengan tangan yang terus gemetar. Di layar tablet, ia memantau kondisi Benih Inti di Pasifik. Angka-angka di sana sudah berwarna merah tua, menunjukkan bahwa titik kritis akan segera tercapai.

"Pastikan jalurnya bersih," perintah Silas kepada operator sistem di markas pusat. "Matikan semua satelit pengawas GDC di jalur Sektor Tujuh menuju Pasifik selama sepuluh detik tepat saat jet ini melintas. Gunakan alasan 'sinkronisasi rutin'."

"Tapi Tuan Silas," sahut operator itu melalui komunikator. "Melakukan itu akan membuat lubang pada pertahanan global. Jika Architects menyerang saat itu, kita akan buta."

"Architects sudah ada di sini, bodoh!" bentak Silas, emosinya meledak karena tekanan yang luar biasa. "Lakukan saja apa yang kukatakan jika kau masih ingin melihat hari esok!"

Silas menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri. Ia menatap satu kotak susu stroberi edisi terbatas yang sudah ia letakkan di kursi penumpang jet tersebut. Ia tahu, bagi dunia, apa yang ia lakukan adalah pengkhianatan. Namun, baginya, ini adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan umat manusia dari pembersihan total.

Di Samudra Pasifik, Valerius berdiri sendirian di ujung dek kapal induk The Absolute. Seluruh awak kapal telah ia perintahkan untuk turun ke dek bawah dengan alasan protokol keamanan radiasi. Ia ingin berada di posisi yang tepat saat Arthur tiba.

Piramida hitam di depannya kini sudah tidak lagi mengeluarkan uap. Sebaliknya, piramida itu mulai "bernyanyi". Sebuah suara dengungan frekuensi rendah yang membuat air laut di sekitarnya menari dalam pola-pola geometris yang rumit. Benih itu sedang melakukan sinkronisasi terakhir dengan inti bumi.

"Dua jam lagi," gumam Valerius sambil menatap jam tangannya yang dilapisi zirah emas. "Cepatlah datang, Arthur. Aku tidak tahu berapa lama lagi aku bisa berdiri tegak di depan monster ini."

Kembali ke sekolah, lonceng yang ditunggu-tunggu akhirnya berbunyi.

Teng... teng... teng...

Suara itu bagi Arthur adalah sinyal dimulainya perang yang sesungguhnya. Seluruh anak di kelas bersorak kegirangan, bergegas membereskan buku dan tas mereka. Mia mencoba menghampiri Arthur untuk mengajaknya pulang bersama, namun Arthur sudah lebih dulu bergerak menuju pintu.

"Maaf, Mia! Kak Clara menjemput ku lebih awal hari ini! Sampai jumpa besok!" teriak Arthur tanpa menoleh.

"Arthur! Tunggu!" Mia berteriak, namun sosok kecil Arthur sudah menghilang di tikungan koridor.

Arthur tidak menuju gerbang depan tempat para orang tua menjemput. Ia berlari menuju pagar belakang sekolah yang berbatasan dengan hutan kota yang sepi. Begitu ia sampai di balik pepohonan yang rimbun, ia berhenti. Ia memastikan tidak ada mata yang melihat, tidak ada drone yang mengawasi.

Ia mengeluarkan koin emas dari tasnya, menekannya dua kali.

"Silas, aku sudah keluar. Kirimkan 'Hantu' itu sekarang."

Hanya butuh tiga detik bagi The Phantom 0 untuk muncul dari balik awan. Pesawat itu turun secara vertikal tanpa mengeluarkan suara sedikit pun, mendarat di sebuah celah sempit di antara pepohonan. Pintunya terbuka secara otomatis, menyingkapkan kabin yang dipenuhi teknologi canggih.

Arthur melompat masuk ke dalam jet. Ia langsung melihat kotak susu stroberi yang diletakkan Silas di sana. Ia mengambilnya, merobek plastiknya, dan meminumnya dengan satu tarikan napas panjang.

"Pilihan yang bagus, Silas," gumam Arthur sambil duduk di kursi pilot yang otomatis menyesuaikan ukurannya dengan tubuh kecilnya. "Kau tahu persis apa yang dibutuhkan seorang Sovereign sebelum menghancurkan kiamat."

Jet itu lepas landas. Dalam hitungan detik, ia melesat menembus atmosfer, meninggalkan Sektor Tujuh yang masih berpesta pora merayakan kemenangan palsu kemarin. Bagi orang-orang di darat, langit tampak tenang dan damai. Namun, di atas sana, sebuah titik kecil sedang melesat menuju pusat kehancuran dunia.

Di dalam jet, Arthur menatap layar yang menampilkan kondisi Benih Inti. Ia bisa merasakan tarikan energi yang sangat kuat dari arah Pasifik. Architects tidak lagi mencoba berkomunikasi. Mereka sedang memfokuskan seluruh kehendak mereka untuk meledakkan benih itu.

"Kalian pikir ledakan ini akan menghapus jejakku?" bisik Arthur. Matanya kini bersinar dengan cahaya keemasan yang murni, memenuhi seluruh kabin jet dengan aura keagungan yang menyesakkan. "Kalian lupa bahwa aku adalah penguasa dari ruang yang ingin kalian hancurkan. Jika aku bilang dunia ini tetap ada, maka dunia ini tidak akan pergi ke mana pun."

Jet The Phantom 0 mencapai wilayah udara Pasifik hanya dalam waktu sepuluh menit. Di bawah sana, Valerius menengadah, melihat sebuah distorsi udara yang turun dengan cepat menuju kapalnya. Ia tahu, sang "Bocil Kematian (ARTHUR)" telah tiba.

Pertunjukan yang sebenarnya, yang tidak akan pernah disiarkan di televisi mana pun, akan segera dimulai.

1
Zem Pioneer
Izin nabung kak
M Agus Salim: siap💪
total 1 replies
Nur Hidayati
cerita keren tapi belum banyak yang tau
Evlogìmenes Psychès: dfZ0d zzssvFS67~
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!