Ketika cinta harus dipisahkan oleh perjodohan orangtua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda SB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tekad untuk bangkit
Lampu kamar bersinar redup remang-remang. Memberikan pencahayaan samar-samar yang menyorot keseluruhan penjuru ruangan.
Di atas ranjang, terlihat dua insan yang baru saja selesai memadu kasih berdua. Berbagi kenikmatan surga dunia dalam waktu yang lama. Lelah namun puas, itulah yang terlihat dari wajah keduanya. Deru napasnya memburu, bergerak naik turun seirama dengan tempo detak jantung yang berdegub kencang.
Mereka berbaring ranjang, berpelukan di dalam selimut yang menutupi tubuh tanpa busana.
"Aku capek!" ucap Leya dengan mata tertutup sambil mendengarkan irama detak jantung Angkasa yang menenangkan. Ia lelah, sangat lelah melayani hasrat kekasihnya yang luar biasa hari ini.
"Maafkan Mas sayang!" satu kecupan lembut mendarat sempurna di puncak kepalanya.
Leya tersenyum. Kepalanya mendongak, memaksakan kedua matanya untuk kembali terbuka dengan sempurna.
"Apa terjadi sesuatu disana?" akhirnya ia bertanya saat memiliki kesempatan untuk bicara.
Angkasa mengangguk. Ia mengeratkan pelukan dan kembali melabuhkan kecupan di kening kekasihnya.
"Memangnya apa yang terjadi?" tanya Leya penasaran.
Angkasa mulai bercerita. Menceritakan semua yang terjadi disana dengan detail, rinci, tanpa ada yang ditutup-tutupi seperti biasa.
Leya terkejut. Ternyata kehidupan kekasihnya juga tak lebih baik dari dirinya. Selama ini, ia mengira Angkasa hidup dalam lingkungan keluarga yang bahagia. Begitulah pandangan orang lain saat melihat keluarga Persimon.
Tapi ternyata tidak.
Angkasa sangat pintar menyembunyikannya dari siapapun. Hingga Leya sendiri tidak pernah tahu... dibalik sikapnya yang lembut dan penuh perhatian. Ada sosok yang selalu mengikuti semua keinginan orangtuanya tanpa bisa membantah.
Leya berkaca-kaca. Ia menangis. Merasa bersalah karena selama ini ia mengira jika dirinyalah manusia paling menderita di dunia.
"Kenapa menangis?" Angkasa menyeka bulir bening yang membasahi pipi kekasihnya.
"Maafkan aku?" Leya terisak.
Angkasa semakin memeluk erat, ia tahu hati Leya sangat lembut dan berperasaan.
"Aku minta maaf karena gak pernah tahu jika Mas selama ini juga menderita. Aku hanya tahu mengeluh, tapi aku tidak pernah bertanya apakah Mas bahagia selama ini?"
Angkasa tersenyum, kembali melabuhkan ciuman lembut di wajah Leya. "Kamu tidak perlu minta maaf sayang! Kehadiran kamu dalam hidup Mas sudah membuat Mas bahagia?"
"Benarkah?"
Angkasa mengangguk. Ia menyakinkan Leya jika dirinya memang bahagia saat bersama wanita itu... dan bukan suatu kebohongan semata.
Namun Angkasa mendadak sendu. "Tapi Mas udah gak sekaya dulu lagi sayang?"
Ia merasa bersalah. Tentu saja. Dengan semua kekayaan yang sudah ia kembalikan pada sang Ayah. Ia tidak bisa memanjakan Leya dengan ugal-ugalan seperti dulu. Tapi Ia bersumpah, jika ia pasti akan bangkit dan tidak akan pernah membuat kekasihnya menderita.
Kali ini Leya yang tersenyum. Karena cintanya untuk Angkasa tidak berdasarkan harta dan kekayaan yang pria itu miliki. "Mas tidak perlu merasa bersalah! bagaimanapun keadaannya, aku akan tetap setia mendampingi Mas!"
Ini bukan janji atau omong kosong belaka. Kata-kata itu murni dari dalam lubuk hatinya yang terdalam. Karena baginya... cinta dan kasih sayang jauh lebih penting dari semua harta dan kekayaan.
Angkasa terharu. Ia tahu, jika pilihannya untuk bersama Leya bukanlah keputusan yang salah. "Terima kasih sayang? Mas janji akan kembali bangkit dan menjadikan kamu wanita paling kaya di Indonesia!"
"Janji ya?" Leya seketika berubah senang.
"Janji! Mas gak akan mungkin membuat kamu dan calon anak kita menderita!" sahutnya.
Leya tersipu malu. Ini kali kedua Angkasa menyinggung tentang anak.
"Gak ada salahnya aku tes besok. Siapa tahu feeling Mas Angkasa benar!" batinnya.
Jantung Leya tiba-tiba berdegub kencang. Ia gugup, padahal itu baru niat di dalam hatinya. Bagaimana jika ia benar-benar tes besok? mungkin jantungnya bisa meledak.
Hooaam!
Leya menguap. Rasa bahagia, sedih, sekaligus lelah sudah membangkitkan sinyal istirahat yang harus segera ia turuti.
"Tidulah sayang!" ucap Angkasa, mengusap puncak kepala Leya dengan sayang berulang kali.
Leya mengangguk, memberikan kecupan singkat di pipinya. "Mas juga harus istirahat. Besok kita masih harus menghadapi kejamnya dunia!"
Setelah mengatakan hal itu kedua matanya benar-benar tertutup. Leya sudah larut dalam nyamannya tidur di pelukan sang kekasih.
"Selamat tidur sayang! apapun yang jadi, kamu hanya boleh bahagia saat bersama Mas!"
Tak lama Angkasa menyusul. Ikut menutup mata sambil menghirup aroma harumnya sampo yang bercampur oleh keringat hasil kerja keras mereka malam ini.
---
Keesokan harinya...
Leya baru membuka mata saat jam sudah menunjukkan pukul 7 pagi. Untuk sesaat ia terkejut, lupa karena kamar itu sangat asing untuknya. Tapi ketika ingatannya kembali terkumpul, hatinya terasa sedikit cubitan. Cubitan dari ingatan yang menyadarkan nya jika yang ia punya saat ini hanyalah kekasihnya.
"Dimana Mas Angkasa!" Leya turun dari ranjang. Meraih kemeja putih Angkasa untuk menutupi tubuhnya yang polos.
Ia keluar kamar. Mencium aroma harum masakan yang membuat perutnya keroncongan.
Leya menuju ke sumber aroma. Dan ia melihat Angkasa sedang fokus memasak sambil memakai apron yang menutupi tubuh kekarnya tanpa kaos.
Leya memeluk tubuhnya tiba-tiba. "Mas masak apa? harum sekali?"
Ia mengintip. Melihat Angkasa sedang memasak nasi goreng yang menggugah selera.
"Masak nasi goreng kesukaan calon istri Mas!" Angkasa tersenyum, senang rasanya jika saat bangun tidur... hal pertama yang ia lihat adalah wajah cantik Leya.
"Waaah! buruan dong masaknya Mas! Aku laper banget nih!" Leya sadar ia tak bisa memasak. Jadi, ia membantu mengambil peralatan makan dan menyusunnya di meja.
Angkasa gegas menyelesaikan masakannya. Lalu menghidangkan nya di meja dengan pelengkap lainnya.
"Ayo cepat sarapan! kamu harus berangkat kuliah!" Angkasa mengambil posisi dihadapannya.
Leya mulai mengisi mulutnya dengan satu sendok penuh nasi goreng. "Aku gak mau kuliah lagi Mas!" ucap Leya.
"Gak boleh! kamu harus terus kuliah sayang!" Angkasa tak setuju. Meskipun keadaan mereka sedang ada di bawah. Namun, ia tidak ingin kekasihnya merasakan kesusahan sampai harus berhenti kuliah.
"Tapi biaya kuliah aku mahal Mas! Aku gak mau membebani Mas dengan itu. Lebih baik aku kerja, ikut bantu cari uang!" sahutnya.
Leya tidak tahu ia harus kerja apa dan dimana. sedangkan ia juga tidak memiliki keahlian apapun. Tapi setidaknya ia akan berusaha.
"Pokoknya kamu tetap harus kuliah sayang! Apapun kegiatan kamu dulu dan sekarang, tidak ada yang boleh berubah! Soal uang jangan kamu pikirkan. Mas masih punya sedikit tabungan yang cukup untuk biaya hidup kita selama beberapa tahun kedepan!" Angkasa menggenggam tangan Leya yang berhenti makan.
"Tapi Mas...."
Angkasa menggeleng. Ia sudah bulat pada keputusannya. "Tidak ada tapi-tapian sayang. Intinya kamu hanya boleh bahagia saat bersama Mas!"
Itulah kalimat dan janji akan akan ia jadikan motivasi untuk kembali bangkit. Kekasihnya tidak boleh menderita. kekasihnya tidak boleh kekurangan. Dan kekasihnya hanya boleh bahagia dan bebas menikmati semua hasil kerja kerasnya.