NovelToon NovelToon
Terpaksa Menjadi Istri Kontrak

Terpaksa Menjadi Istri Kontrak

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Bad Boy
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: annin

"Saya tidak mau nikah kontrak, Pak. Saya mau pernikahan ini berjalan sebagaimana mestinya ...." Rea terdiam sejenak. Mengambil napas sebelum ia melanjutkan kalimatnya. Sebuah kalimat yang mungkin akan ia sesali seumur hidupnya.

Bagaimana tidak. Tidak ada yang ingin menikah untuk bercerai, tapi Rea melakukannya.

" ... tapi, kapanpun Pak Dewa ingin menceraikan saya. Saya akan siap."

_________________________________________________

Demi biaya keluarganya di kampung, Rea rela menerima tawaran untuk menjadi istri sementara seorang aktor terkenal—Dewangga Rahardian. Awalnya ia meyakinkan diri semua akan mudah, karena Dewangga menjanjikan bahwa ia tak akan pernah menyentuh Rea dan akan menceraikan Rea dalam waktu dekat. Pun kompensasi yang akan Rea terima nantinya bernilai cukup fantastis bagi Rea yang merupakan anak kampung.

Namun, seiring waktu apa yang Dewa janjikan tak pernah terjadi. Pria itu lebih suka menyiksa Rea dengan membelenggunya dalam ikatan pernikahan palsu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon annin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 22

Dewa dan Luky pergi ke kantor Star Agensi. Ada rapat darurat untuk membahas skandal yang terjadi pada Dewa. Vidio yang dirilis Sherly tiga hari yang lalu memicu kemarahan publik pada Dewa.

Pria yang selama ini dibentuk karakternya menjadi pribadi yang cool dan misterius, hancur dalam sekejap karena ulah Sherly.

Banyak brand yang akhirnya memutus kerjasama secara sepihak karena tekanan dari netizen yang sangat kuat.

Dari artis yang dipuja, Dewa langsung jatuh menjadi artis penuh hujatan. Semua mengekspresikan kemarahan dan kekecewaan mereka di sosial media. Bahkan tanpa segan meminta brand-brand yang memakai jasa Dewa agar men-cancel sang artis.

Mereka harus mencari solusi terbaik untuk karir Dewa, setelah beberapa brand memutuskan sepihak kerjasama mereka dengan Dewa.

Dewa dan Luky cukup kaget, karena yang hadir di ruang meeting tak hanya GM Star, tapi ada CEO juga yang turut hadir.

"Gila, Wa, kasus lo benar-benar nggak main-main. Lo liat aja, sampai Bu Clara aja turun gunung ikut meeting kali ini," bisik Luky saat melihat CEO Star ikut dalam meeting kali ini.

"Baru saja kita terima surat resmi dari PT. Mustika. Mereka mau mengakhiri kontrak endorsement Dewa. Efektif 7 hari sejak hari ini. Alasannya ‘pelanggaran klausul moral dan reputasi merek’. Ini buntut video yang beredar tiga hari lalu,” ujar Rudy—GM Star.

"Tapi, Pak, Dewa belum terbukti bersalah. Di sini, Dewa nggak tahu kalau dirinya direkam." Luky mencoba membela.

Rudy menatap Anggoro. "Bagaimana?"

"Saya sudah baca draft kontraknya. Pasal Pihak Pertama, dalam hal ini Brand Owner, berhak mengakhiri kerja sama secara sepihak apabila Talent melakukan tindakan yang merugikan nama baik mereka, baik yang sudah terbukti di pengadilan maupun yang menimbulkan persepsi negatif di publik. Secara hukum, mereka kuat. Kita nggak bisa paksa lanjut. Yang bisa kita lakukan sekarang cuma nego penalti.”

Clara menatap tajam Anggoro. "Berapa penalti yang tercantum?”

Anggoro membuka dokumen kontrak antara Star Agensi dan PT. Mustika. “Kalau pemutusan karena pelanggaran moral, Talent wajib mengembalikan 100% fee yang sudah dibayar, plus denda 50% dari total nilai kontrak. Totalnya sekitar 2 M."

Clara cuma bisa berdecap sembari geleng kepala.

Rudy yang tahu kekecewaan Clara, langsung bicara, "Tapi kita masih bisa ajukan mitigasi, kan? Seperti kata Luky, video itu diambil diam-diam oleh Sherly, bahkan wanita ular itu berusaha memeras Dewa dengan menggunakan vidio itu. Artinya, Dewa juga korban."

Semua yang ada di ruang meeting, menatap Rudy.

"Kalau kita bisa buktikan itu, denda bisa diturunin atau diubah jadi pengembalian fee aja,” sambung Rudy.

“Masalahnya, klien udah narik semua materi iklan hari ini. Mereka nggak mau nunggu proses hukum. Katanya, reputasi nggak bisa nunggu. Pertanyaannya, kalau kita lawan, apa risiko buat agensi?” tatapan Clara tajam, tertuju pada Dewa.

Artis yang menjadi kebanggaan agensi miliknya lima tahun terakhir, sangat mengecewakannya hari ini.

Rudy menanggapi. “Risiko gugatan wanprestasi dari brand. Tapi kalau kita nggak lawan, reputasi Dewa dan agensi dianggap nerima tuduhan itu. Jadi ini pilihannya, bayar dan tutup mulut, atau lawan dan siap media makin rame dua minggu ke depan.”

Anggoro tak tinggal diam. “Kalau saran saya, kita kirim pernyataan resmi dulu. Intinya, agensi menghormati keputusan klien. Dewa sedang menempuh jalur hukum atas pemerasan, dan kami percaya asas praduga tak bersalah.

Tujuannya biar narasi nggak dikuasai brand doang. Minimal kalau klien nuntut, kita punya bukti udah kooperatif.”

Clara nampak berpikir sejenak. “Setuju. Pak Anggoro, tolong siapin surat balasan yang sopan tapi tegas. Jangan akui kesalahan. Cuma nyatakan kami menerima keputusan pemutusan dan akan koordinasi soal penyelesaian finansial sesuai kontrak.”

Clara beralih pada Rudy. “Rud, draft pernyataan publiknya malam ini juga. Besok pagi harus keluar sebelum berita makin liar.”

Anggoro kembali bicara. "Satu lagi, buat Dewa jangan posting apa-apa di medsos sampai pernyataan resmi keluar. Satu kata salah, bisa jadi bukti baru buat brand.”

Dewa mengangguk. Ia paham akan apa yang harus dilakukan.

"Bagaimana dengan laporan polisi?" tanya Luky.

"Kita buat secepatnya," jawab Rudy menatap Anggoro.

Pengacara itu mengangguk paham. "Bisa kita laporkan, apa lagi Sherly merekam kegiatan intimnya dengan Dewa tanpa sepengetahuan Dewa."

Rudy menatap Clara. Seolah meminta pendapat.

"Ok, bikin laporan. Dan somasi Sherly agar menghapus unggahan vidio itu sekarang. Minta pihak Platform untuk men-take down semua unggahan tentang vidio itu," ujar Clara.

"Kamu dengar, kan?" tanya Rudy menatap Anggoro.

"Lo paham kan, Wa, apa yang harus lo lakuin. Ini jalan terakhir kita, setelah ini lo bikin ulah, kita nggak bisa nolong lagi," ujar Rudy, lebih seperti ancaman.

Dewa tahu ia salah. Mungkin juga karirnya bisa berakhir saat ini juga.

"Untuk membuat laporan biar nanti di urus oleh tim saya," ujar Anggoro.

"Ok, rapat selesai. Kerjakan tugas masing-masing." Clara menutup meeting dengan cepat agar semua segera bertindak sesuai tugas masing-masing.

Dewa dan Luky keluar paling terakhir dari ruang meeting.

"Gue anter lo pulang, Wa," tawar Luky.

"Nggak usah, gue sendiri aja," tolak Dewa.

Dewa tak langsung pulang. Ia memilih pergi menenangkan diri.

Jam sebelas Dewa baru pulang. Ia melihat Rea sudah tidur. Dewa pun menyibak selimut, turut masuk dan berbaring di samping Rea.

Gerakan Dewa membuka selimut membangunkan Rea.

"Mas Dewa?" Rea menatap kaget pada Dewa yang sudah berbaring di sampingnya.

"Mas Dewa mau tidur di sini?"

"Hmm."

"Ya udah aku tidur di sofa." Rea hendak bangun tapi Dewa menahan.

"Di sini aja, temani aku tidur," cegah Dewa.

"Tapi, Mas ...."

Rea belum selesai bicara, tapi Dewa sudah menarik tubuhnya mendekat pada Dewa. Pria itu bahkan memeluk Rea erat. Membuat Rea tak berkutik.

Rea bahkan tak mampu memejamkan mata. Meski pasrah Dewa memeluknya, tapi jujur, dalam hatinya saat ini terasa tak karuan. Jantungnya bahkan berdegup lebih kencang dari sebelumnya.

"Kenapa detak jantungmu cepat sekali? Apa kau takut?"

Suara Dewa membuat Rea mendongak.

"Kau takut aku memakanmu?"

Rea tak menjawab. Ia hanya menatap Dewa yang juga menatapnya. Meski begitu, Dewa tahu Rea memang takut. Ia bisa merasakan degup jantung Rea yang cepat, juga bisa melihat dari sorot mata Rea.

"Rea, ayo kita lakukan?"

Permintaan Dewa membuat mata Rea membola.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!