“Kita cerai.”
Sepuluh tahun pernikahan hancur oleh satu kalimat dingin dari Kaisyaf. Pria yang dulu menunggu Ayza selama empat tahun.
Pria yang pernah menjadi rumahnya itu kini berubah menjadi orang asing. Ia jarang pulang, menjauh dari keluarganya, bahkan meninggalkan jejak yang seolah membuktikan bahwa ia memiliki wanita lain.
Namun Ayza tidak pergi. Ia bahkan rela dimadu asalkan suaminya tidak meninggalkannya.
Fahri, adik angkat yang diam-diam mencintai Ayza sejak lama, tak tahan melihatnya terus disakiti. Sementara Reza, mantan suami yang pernah kehilangan Ayza, kembali dengan penyesalan yang belum selesai.
Hingga kebenaran tentang Kaisyaf akhirnya terungkap, dan menghancurkan hati Ayza lebih dari pengkhianatan apa pun.
Kini Ayza harus memilih: tetap setia pada cinta yang telah pergi, kembali pada masa lalu, atau menerima seseorang yang sejak lama menunggunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25. Saat Bertahan Justru Menghancurkan
Kaisyaf membuka mata. Menatap ke depan. Bukan ke Nara.
“Waktu.”
Jawaban itu… membuat sesuatu di dada Nara langsung mengencang.
“Dan?” tanyanya, lebih rendah sekarang.
“Cukup,” jawab Kaisyaf singkat.
Nara tertawa kecil. Namun tidak ada humor di sana.
“Cukup?” ulangnya. “Cukup buat apa? Buat kamu mati pelan-pelan sendirian di negara orang?”
Tidak ada jawaban. Dan itu justru memancing emosinya naik.
“Kamu pikir ini rencana yang masuk akal?” lanjutnya. “Pergi, ninggalin semuanya, pura-pura kuat, lalu selesai?”
Kaisyaf masih diam.
Nara menghela napas kasar. Mengusap wajahnya sebentar.
“Dulu…” suaranya berubah. Lebih dalam. Lebih personal. “Kalau bukan karena kamu, aku bahkan nggak bakal bisa lanjut kuliah.”
Kaisyaf tidak menoleh. Namun jemarinya sedikit mengencang di atas seprai.
“Aku tahu rasanya di titik bawah,” lanjut Nara. “Aku tahu rasanya hampir kehilangan segalanya.”
Ia menatap Kaisyaf lurus.
“Dan kamu yang narik aku keluar dari situ.” Ia menarik napas pelan. “Sekarang kamu pikir aku bakal diem aja lihat kamu nyerah?”
Kalimat itu tajam.
Akhirnya Kaisyaf menoleh. Tatapannya tenang. Terlalu tenang.
“Aku nggak nyerah.”
Nara langsung memotong, “Ini namanya nyerah!”
“Ini… nyelesaiin.”
Kalimat itu pelan. Namun justru itu yang membuat Nara terdiam sejenak. Bukan karena setuju. Tapi karena… dia tahu Kaisyaf serius.
Beberapa detik berlalu.
Nara menggeleng pelan.
“Selalu gitu,” gumamnya. “Kalau soal orang lain, kamu bisa nekat. Bisa bertahan.”
Tatapannya menajam.
“Tapi giliran diri sendiri… kamu pilih mundur.”
Kaisyaf tidak membalas. Ia hanya menatap ke depan lagi. Lalu—
“Fahri sudah mulai bisa,” ucapnya tiba-tiba.
Topik berubah. Dan itu… membuat Nara semakin jengkel.
“Aku lagi ngomongin kamu—”
“Dia cepat belajar,” lanjut Kaisyaf. Seolah tidak mendengar. “Tinggal dikasih waktu sedikit lagi.”
Nara menatapnya tidak percaya.
“Kamu serius?” suaranya naik. “Di kondisi begini… kamu masih mikirin kerjaan?”
“Bukan kerjaan.”
Kaisyaf akhirnya menoleh. Tatapannya dalam.
“Kelanjutan.”
Satu kata itu… cukup untuk membuat Nara diam lagi.
Namun kali ini bukan karena kalah. Tapi karena… ia tahu arah pikiran pria ini.
“Kalau dia sudah bisa handle semuanya…” lanjut Kaisyaf pelan, “aku bisa pergi tanpa ninggalin beban.”
Nara menutup mata sebentar. Lalu tertawa kecil. Pahit.
“Kamu ini…” gelengannya pelan. “Selalu jadi pahlawan, ya?”
Kaisyaf tidak menjawab. Dan itu… justru mengkonfirmasi semuanya.
Nara menatapnya lama. Lalu akhirnya menghela napas.
“Nyebelin,” gumamnya.
Namun suaranya melemah. Bukan karena menyerah. Tapi karena… ia tahu, orang di depannya ini, tidak akan berubah.
“Kalau kamu mati sebelum semuanya ‘siap’ gimana?” tanyanya akhirnya. Lebih pelan.
Kaisyaf terdiam sejenak. Lalu—
“Berarti… aku salah hitung.”
Jawaban itu ringan. Namun menghantam.
Nara langsung membuang muka. Jelas… kesal. Dan tidak bisa berbuat banyak.
“Gila,” gumamnya lirih.
Beberapa menit kemudian Nara keluar dari ruangan itu. Pintu tertutup di belakangnya.
Nara berjalan sendiri di lorong.
Sunyi.
Langkahnya berhenti di dekat jendela. Tangannya menyandar pelan ke dinding. Napasnya masih belum sepenuhnya stabil.
Dari dalam ruangan, suara alat monitor terdengar samar.
Stabil.
Namun justru itu… yang membuat dadanya semakin berat.
Ia menunduk. Tangannya terangkat. Menutup mulut. Menahan sesuatu yang sejak tadi ia tahan. Namun kali ini… tidak sepenuhnya berhasil.
Air mata itu jatuh. Diam-diam. Tanpa suara.
“…gila kamu, Kai…” gumamnya lirih.
Bukan marah. Lebih ke… tidak sanggup.
Ia menggeleng pelan. Bahunya sedikit bergetar.
“Aku yang cuma…” suaranya terputus sebentar, “…cuma sahabat aja… bisa sehancur ini lihat kamu.”
Ia menarik napas. Namun justru itu yang membuat suaranya semakin goyah.
“Apalagi dia…”
Kalimat itu tidak selesai. Namun jelas.
Matanya terpejam.
Dalam diam, ia mengingat cerita-cerita yang pernah ia dengar. Dari Ridho. Tentang rumah itu. Tentang kehidupan yang selama ini berjalan… tanpa cela yang berarti.
Sepuluh tahun. Bukan waktu yang sebentar.
Makan bersama. Tidur di sisi yang sama. Bangun di pagi yang sama. Dan membangun sesuatu… sampai lahir seorang anak dari semua itu.
Nara menelan sesuatu yang terasa pahit.
“…bahagia,” bisiknya pelan.
Sederhana. Tapi justru itu yang paling menyakitkan sekarang.
Ia mengusap wajahnya kasar. Namun air mata itu tetap ada.
“Pantes…”
Satu kata. Pelan.
“Pantes kamu pilih pergi.”
Tatapannya kosong ke depan. Kini ia mengerti.
Bukan karena Kaisyaf tidak cukup mencintai mereka. Justru karena… terlalu mencintai.
“Kalau dia tahu…” gumamnya pelan, “…dia bakal tetap di sana. Senyum. Kuat.” Napasnya tertahan. “…padahal pelan-pelan hancur.”
Air mata kembali jatuh. Kali ini lebih berat. Nara tertawa kecil. Pahit.
“Dan kamu nggak tahan lihat itu…” Ia menggeleng lagi. Lemah. “…iya. Aku juga nggak bakal tahan.”
Suasana kembali sunyi. Namun kali ini bukan kosong. Melainkan… penuh dengan sesuatu yang akhirnya ia pahami.
Nara menyandarkan kepalanya ke dinding. Mata terpejam.
“Nyebelin…” gumamnya lirih. “Tapi… aku ngerti sekarang.… bukan berarti aku setuju.”
***
Halaman sekolah mulai sepi.
Beberapa anak sudah dijemput. Suara tawa perlahan menghilang, berganti dengan langkah-langkah kecil yang pulang satu per satu.
Alvian berdiri di dekat gerbang. Tasnya tergantung di bahu. Matanya sesekali melihat ke arah jalan.
Menunggu.
“Alvian.”
Suara itu membuatnya menoleh.
Seorang pria berdiri beberapa langkah dari sana. Rapi. Senyum tipis.
Reza.
Alvian tidak langsung mendekat. Hanya menatap.
“…Om Reza,” ucapnya pelan. Ia mengenal wajah itu. Tapi tidak merasa dekat.
Reza tersenyum lebih lebar. Mendekat perlahan.
“Masih ingat Om?” tanyanya ringan.
Alvian mengangguk kecil.
“Iya.” Jawabannya singkat. Sopan. Tapi ada jarak.
Reza berjongkok sedikit, menyamakan tinggi.
“Mau ikut Om? Kita jalan sebentar. Nunggu Umi kamu.” Nada suaranya santai. Seolah biasa.
Alvian langsung menggeleng.
“Gak mau.” Jawaban cepat. Tanpa ragu.
Reza sedikit terdiam. Namun senyumnya tidak hilang.
“Kenapa?” tanyanya lembut.
Alvian tidak menjawab. Hanya memegang tali tasnya lebih erat.
“Umi bilang tunggu di sini.” Sederhana. Tapi tegas.
Reza mengangguk pelan. Seolah mengerti.
“Tapi kan Om kenal Umi kamu,” lanjutnya santai. “Nanti Om bilang kok.”
Alvian tetap diam. Beberapa detik. Lalu—
“Gak mau.”
Masih sama. Lebih pelan. Tapi tidak berubah.
Senyum Reza mulai menipis. Ia merogoh saku. Mengeluarkan sebuah kotak kecil.
“Ini buat kamu,” katanya. “Om lihat ini, langsung ingat kamu.”
Alvian melirik sekilas. Lalu menggeleng lagi.
“Gak usah.”
Reza mengernyit tipis. Sedikit tidak menyangka.
“Kenapa? Ini bagus, loh.”
Alvian menatapnya. Kali ini lebih lama.
“Umi bilang… gak boleh terima apa-apa dari orang.”
Kalimat itu jatuh… tepat.
Reza terdiam sesaat. Lalu tertawa kecil. Tipis. Tapi tidak hangat.
“Om ini bukan orang lain.”
Alvian tidak menjawab. Hanya mundur setengah langkah.
Jarak itu… kecil. Tapi jelas.
Dan itu cukup membuat sesuatu di dalam diri Reza berubah.
Namun sebelum ia sempat bicara lagi—
“Al.”
Suara itu datang dari belakang.
...🔸🔸🔸...
...“Tidak semua yang pergi itu meninggalkan. Ada yang menjauh… supaya yang lain tetap utuh.”...
...“Yang paling menyakitkan bukan kehilangan. Tapi saat tahu, seseorang memilih pergi… demi kamu.”...
...“Kadang yang terlihat kuat, justru sedang runtuh paling dalam, sendirian.”...
...“Cinta tidak selalu bertahan. Kadang… ia memilih mundur agar tidak menghancurkan.”...
...“Yang menjaga jarak, belum tentu berhenti mencintai.”...
..."Nana 17 Oktober"...
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
Ridho berharap kamu jujur sama Ayza tentang penyakit Kaisyaf,kasihan Ayza dan Al....
Nara jadi mengerti pilihan Kaisyaf.
Reza ini mencari kesempatan lagi. Sekarang yang didekati Alvian. Benar-benar muka tembok ini orang 😄. Urat malunya sudah putus.
Pinternya Alvian - menolak ajakan Reza.
Dikasih mainan saja bilang "Gak usah" - Alvian ingat larangan dari Umi-nya, gak boleh terima apa-apa dari orang.
Jelas orang lain. Sudah menjadi orang lain.
Alvian perasaannya peka - Om di depannya orang yang kurang baik - Alvian sampai mundur walaupun cuma setengah langkah. Itu tanda penolakan.