NovelToon NovelToon
Nikah Kontrak; Istri Cegil Si Direktur Dingin

Nikah Kontrak; Istri Cegil Si Direktur Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: Aksara Aksarasastra

Premis:
Demi menyelamatkan bisnis keluarganya yang hampir bangkrut, Alya Prameswari terpaksa menerima perjodohan dengan Adrian Wijaya, seorang Direktur muda yang dingin dan terkenal tidak menyukai wanita “cegil”. Namun pernikahan mereka hanyalah kontrak.
Alya yang sebenarnya cukup tenang justru berpura-pura menjadi istri paling menyebalkan agar Adrian segera menceraikannya.
Sayangnya rencananya gagal. Semakin Alya bersikap cegil, Adrian justru semakin sabar dan mulai melindunginya.
Ketika akting Alya berubah menjadi perasaan yang nyata, ia harus memilih: terus berpura-pura… atau mengakui bahwa ia tidak lagi ingin pernikahan kontrak itu berakhir.
Saksikan Terus Cerita ini, update setiap hari 💚

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Aksarasastra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Nightmare.

“Jangan pergi… Seraphina, tunggu!”

Suara Adrian pecah di tengah hujan yang mengguyur tanpa ampun. Nafasnya tersengal, dadanya naik turun seolah setiap tarikan udara adalah pertarungan. Kakinya bergerak, berlari menembus genangan air, namun entah bagaimana jarak di antara mereka tak pernah benar-benar memendek.

“Seraphina!”

Wanita itu berhenti.

Untuk sesaat, dunia seperti ikut menahan napas.

Hujan masih turun, membasahi rambut cokelat keemasan yang dulu selalu ia lindungi dengan payung. Coat panjangnya menempel di tubuhnya, memperjelas siluet yang terlalu familiar bagi Adrian.

"Seraphina, please!"

Wanita itu perlahan menoleh.

Namun saat mata mereka bertemu...,

Tidak ada kehangatan di sana.

Tidak ada senyum yang dulu selalu menyambutnya.

Hanya dingin.

Tidak ada sparkle atau bias cahaya lembut dari sorot netranya. Tidak tarikan tipis dari sudut bibir indahnya sama sekali. Namun tidak memudarkan pahatan indah dari setiap inchi sudut wajah indahnya.

“Kamu terlambat,” ucapnya datar.

Langkah Adrian terhenti.

Seolah satu kalimat itu cukup untuk menghentikan seluruh dunia di sekitarnya.

“Aku—” suaranya serak, tidak stabil seperti biasanya. “Aku datang sekarang, Seraphina.”

Seraphina menatapnya beberapa detik. Tatapan itu dalam, namun kosong, seperti melihat seseorang yang sudah lama asing.

Lalu ia menggeleng pelan, menggoyangkan rambut pirang halusnya yang menari lincah oleh terpaan angin, meskipun mulai sedikit lembab.

“Terlambat.”

Hujan semakin deras, suara air memukul jalanan seperti ribuan bisikan yang menenggelamkan segalanya.

Dan di saat itulah Adrian menyadari...,

Ia tidak sendiri.

Di belakang Seraphina, seorang pria berdiri.

Tinggi. Rapi. Terlalu dekat.

Tangan pria itu perlahan naik, bertumpu di bahu Seraphina dengan gerakan yang begitu natural… seolah itu adalah tempatnya.

Sesak.

Dada Adrian langsung mengencang. Rahangnya mengeras seolah ingin mengatakan sesuatu yang memang seharusnya terucap, namun...., tertahan.

“Dia siapa?” tanyanya, suara rendah namun penuh tekanan.

Seraphina tidak menjawab.

Ia hanya menatap Adrian, dan untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu.

Ada sesuatu yang benar-benar terputus.

“Kamu tidak pernah datang tepat waktu,” katanya pelan dan datar.

Setiap kata terasa seperti pisau yang ditancapkan perlahan.

Adrian melangkah lagi.

“At least aku datang.”

Namun anehnya, langkah itu sia-sia.

Jarak mereka tidak berubah.

Seolah dunia ini… menolak mempertemukan mereka.

“Kita tidak pernah benar-benar memiliki apa pun, Adrian.”

Kalimat itu jatuh begitu saja, tanpa emosi, tanpa beban.

Namun justru itu yang membuatnya terasa lebih menyakitkan daripada yang terucapkan.

Adrian terdiam.

Hujan mulai mengaburkan pandangannya, atau mungkin itu bukan hanya hujan.

Seraphina tersenyum tipis.

Senyum yang tidak pernah ia kenal.

“Kita hanya dua orang yang kebetulan berjalan berdampingan.”

Pria di belakangnya menariknya perlahan.

Dan Seraphina… tidak menolak.

Ia berbalik.

Pergi.

Tanpa ragu.

Tanpa menoleh.

“Seraphina—!”

Kali ini suara Adrian pecah.

Ia mencoba bergerak, berlari, mengejar...,

Namun tubuhnya seperti terkunci.

Kakinya tidak bisa melangkah.

Suaranya tercekik di tenggorokan.

Dunia di sekitarnya mulai retak, suara hujan berubah menjadi dengungan panjang yang menusuk telinga.

Dan ketika akhirnya ia berhasil memaksa tubuhnya bergerak...,

Segalanya menghilang.

Kosong.

Gelap.

Adrian terbangun dengan napas berat.

Dada naik turun tajam, seolah ia benar-benar baru saja berlari jauh. Keringat dingin membasahi pelipisnya, bahkan punggungnya terasa lembap menempel pada sprei.

Ruangan masih gelap.

Hanya ada cahaya redup dari lampu samping yang menyala samar, menciptakan bayangan panjang di dinding.

Beberapa detik ia hanya duduk diam dalam kesunyian.

Tangannya menggenggam seprai, sedikit bergetar.

Detak jantungnya masih keras.

Terlalu keras.

Ia mengangkat tangan, mengusap wajahnya perlahan, mencoba menenangkan napas yang belum stabil.

Namun bayangan itu…

Masih jelas.

Terlalu jelas.

Hujan. Tatapan dingin. Kalimat terakhir itu.

Terlambat.

Adrian mengembuskan napas panjang, lalu turun dari tempat tidur. Langkahnya pelan, namun pasti, menuju meja kecil di samping lemari.

Ia membuka laci.

Di dalamnya ada sebuah botol kecil.

Tangannya berhenti sejenak di atasnya.

Diam.

Dengan napas berat dan tersengal-sengal.

Seolah ada pertimbangan yang tidak terlihat.

Namun hanya beberapa detik.

Akhirnya ia mengambil botol itu, membukanya, lalu menuangkan satu tablet ke telapak tangannya.

Benda kecil itu terlihat biasa.

Namun maknanya tidak sederhana.

Adrian mengambil segelas air.

Matanya menatap pil itu beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya.

Seolah memastikan sesuatu.

Atau mungkin… menahan sesuatu.

Lalu tanpa berkata apa pun, ia menelannya.

Air dingin mengalir di tenggorokannya, membawa rasa pahit yang samar.

Ia menutup mata sejenak.

Menarik napas.

Menghembuskannya perlahan.

Ruangan kembali sunyi.

Namun kali ini sunyi itu tidak lagi menekan seperti sebelumnya.

Hanya kosong.

Adrian berjalan ke kursi di dekat jendela, lalu duduk. Tubuhnya bersandar, satu tangan bertumpu di pelipis.

Lampu-lampu kota masih menyala di luar, berkelip seperti bintang yang gagal muncul di langit malam.

Tatapannya kosong.

Mimpinya bukan hal baru.

Namun malam ini…

Terasa berbeda.

Lebih tajam.

Lebih… personal.

Mungkin karena ia bertemu Seraphina lagi hari ini.

Atau mungkin karena...,

Besok ia akan segera menikah.

Adrian mengembuskan napas pelan.

“Aneh.”

Suara itu hampir tidak terdengar.

Ia terbiasa mengontrol segalanya.

Jadwal.

Keputusan.

Risiko.

Namun kenangan…

Tidak bekerja seperti itu.

Kenangan datang tanpa izin.

Dan terkadang…

Terlalu hidup.

Ia memejamkan mata sejenak, mencoba menenangkan pikirannya.

Namun di tengah sisa bayangan hujan itu—

Tiba-tiba muncul sesuatu yang sama sekali tidak cocok.

“AAAAAA!”

Suara teriakan nyaring, penuh energi, hampir memekakkan telinga.

Adrian membuka mata.

Bayangan itu muncul begitu saja.

Seorang gadis melompat-lompat di kamar, wajahnya bersinar penuh kemenangan seolah baru memenangkan lotre.

Alya.

Dengan jepit rambut kupu-kupu warna baby pink yang mencolok.

Dengan ekspresi lebay yang tidak punya rasa malu.

Dengan suara yang terlalu keras untuk ukuran manusia normal.

“AKU DAPET MAKAN GRATISSSS!”

Adrian terdiam.

Beberapa detik.

Kontrasnya terlalu absurd.

Dari hujan dingin di London…

Ke teriakan histeris soal makanan yang sangat terlihat sekali kontrasnya.

Dan entah bagaimana—

Itu berhasil.

Sudut bibir Adrian terangkat sedikit.

Senyum tipis.

Sangat tipis sekali.

Namun cukup untuk mengubah sesuatu di wajahnya.

Untuk pertama kalinya malam itu…

Pikirannya tidak lagi dipenuhi hujan dan kata “terlambat”.

Melainkan suara tawa Alya yang riuh, tidak terkontrol, dan… Sangat hidup.

Adrian menghembuskan napas pelan.

Tatapannya masih ke luar jendela yang tirainya masih terbuka sebelah.

"Pak Direktur?"

Kata sapaan aneh Alya terngiang-ngiang di benak Adrian. Setidaknya mampu membuang kegelisahan akibat mimpi barusan yang sempat membuatnya terkena serangan panik dan sesak. Wajah ayu Alya, senyum aneh Alya ya g dibuat-buat, kostum nyeleneh Alya, bahkan masakan Alya yang terasa tidak enak pun tidak luput dari isi kepala Adrian.

"Pak Direktur sabar banget yaaa?"

Namun kali ini tidak sepenuhnya kosong.

Dan entah kenapa—

Itu cukup.

Cukup untuk membuat malam terasa sedikit… lebih ringan.

1
Aphing Zora
suka ceritanya bagus. lanjut Thor 👍
Aksara_Sastra: uwwu, maacii. Dukung terus yaaak, biar bisa update tiap hari dan crazy up. wopyuuu 💚
total 1 replies
April Mei
kerennnnnnnn
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
Aksara_Sastra: Dukung terus yaaa, 💚
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!