NovelToon NovelToon
GADIS PEMBAWA SIAL, DI CINTAI DUDA KAYA RAYA

GADIS PEMBAWA SIAL, DI CINTAI DUDA KAYA RAYA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Perjodohan
Popularitas:7.4k
Nilai: 5
Nama Author: Lisa idayu

Nayra Agata Kennedy, ia merupakan putri bungsu dari Lukas Kennedy, Nayra memliki saudari kembar bernama Nayla (Nayla lahir 45 menit lebih dulu), lahir dengan membawa duka. Ibunya meninggal dunia karena pendarahan hebat setelah berjuang melahirkannya, membuat Nayra dibenci ayah dan ketiga kakak laki-lakinya selama 21 tahun. Hanya Nayla yang selalu peduli padanya.

Takdir berubah saat Nayra bertemu seorang miliarder tampan. Dipersunting olehnya, hidup Nayra berubah drastis, dari yang dulu diabaikan, kini ia dimanjakan layaknya putri raja oleh suaminya yang penuh kasih sayang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa idayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kenapa dia mencintai mu??

"Sejauh yang saya selidiki memang Tuan Ken menyukai Nona Nayra, Tuan," ucap Roy dengan nada rendah, seolah takut kata-katanya akan memicu badai di ruangan yang hening itu.

Sean menegang. Bahunya yang tegap perlahan merosot, dan dia perlahan menarik nafas panjang, seolah udara di sekitarnya tiba-tiba menjadi berat dan sulit dihirup. Matanya yang tajam kini menatap kosong ke arah jendela besar yang menampilkan pemandangan kota yang gemerlap, namun tak satu pun cahaya yang mampu menembus kegelapan yang mulai menyelimuti pikirannya.

"Apa sebelumnya mereka ada hubungan?" tanya Sean, suaranya terdengar datar namun menyimpan getaran yang tak terlihat. Dia tidak menatap Roy, seolah takut jika dia menatap asistennya itu, semua kebenaran yang baru saja didengarnya akan menjadi lebih nyata dan menyakitkan.

"Tidak Tuan," jawab Roy tegas, namun penuh kehati-hatian. "Nona Nayra terus mengabaikan perasaan Tuan Ken. Nona Nayra hanya menganggap Tuan Ken sebagai seniornya di kampus, tidak lebih dari itu. Tidak ada ikatan khusus di antara mereka selain hubungan pertemanan dan rasa hormat sebagai junior dan senior."

Sean menghela nafas panjang lagi, kali ini dengan suara yang lebih berat. "Itu artinya cinta Ken tidak terbalas," gumamnya pelan, hampir tak terdengar. Tangannya terangkat untuk memijat pelipisnya yang mulai berdenyut nyeri, tanda bahwa beban di kepalanya semakin berat. Benar-benar situasi yang ironis. Cinta yang tidak terbalas.

"Benar, Tuan," tambah Roy pelan, seolah ingin melengkapi kepingan puzzle yang sudah menyakitkan itu. "Selama ini Tuan Ken juga selalu membantu Nona Nayra diam-diam. Entah itu dalam hal tugas kuliah, masalah pribadi, hingga hal-hal kecil yang membuat Nona Nayra tidak pernah mendapatkan kesulitan selama berada di kampus. Tuan Ken sangat menjaganya, meski Nona Nayra mungkin tidak pernah menyadari sepenuhnya."

Dada Sean terasa sesak. Informasi itu menambah lapisan rasa bersalah yang baru. Bayangan Nayra yang kini mengandung anaknya melintas di benaknya. Meskipun tidak ada rasa cinta di dalam dadanya untuk wanita itu. hubungan mereka hanyalah sebuah kesalahan rumah sakit yang di atur papa nya, tapi sebagai ayah biologis dari janin yang sedang tumbuh di dalam rahim Nayra, dia tahu dia tetap harus bertanggung jawab. Itu adalah kewajiban, sebuah harga yang harus dia bayar atas kelalaiannya.

Namun, di sisi lain, hatinya terasa dicengkeram rasa tidak tega. Bagaimana mungkin dia bisa merebut wanita yang dicintai oleh keponakannya sendiri? Sean selalu menyayangi Ken, anak dari kakaknya. Sejak kecil, Sean selalu mengalah demi kebahagiaan Ken. Dia selalu berusaha menjadi pilar yang kuat, sosok paman yang pengertian yang selalu mengutamakan kebahagiaan keponakannya di atas segalanya.

Tapi sekarang... sekarang semuanya berbeda. Sekarang ada kehidupan lain yang terlibat. Apa mungkin kali ini ia bersikap egois hanya karena seorang wanita? Apa dia berani mengabaikan perasaan tulus keponakannya demi sebuah tanggung jawab yang mungkin tidak diinginkannya? Pertanyaan-pertanyaan itu berputar liar di kepalanya, menciptakan badai konflik batin yang tak kunjung reda. Sean terdiam, terjebak di antara kewajiban sebagai seorang pria dan kasih sayang sebagai seorang paman, tidak tahu arah mana yang harus dia pilih tanpa menyakiti salah satu pihak.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Jam dinding di kamar Nagara baru saja menunjukkan pukul dua dini hari saat matanya terbuka paksa. Rasa kering yang menyengat di kerongkongannya membuat ia terbangun dari tidur yang sebenarnya belum cukup lelap. Dengan gerakan lambat dan masih diselimuti rasa kantuk, tangannya meraba-raba nakas di samping tempat tidur, mencari gelas yang biasanya ia siapkan sebelum tidur.

"Shit, aku lupa mengisi air minum," desisnya pelan, nada suaranya bercampur antara kesal pada dirinya sendiri dan rasa tidak nyaman di tenggorokan. Matanya menyipit melihat gelas dan botol minum di atas nakas itu benar-benar kosong melompong. Mau tidak mau, ia harus bangkit. Nagara menggeser selimut, kakinya menyentuh lantai dingin, dan ia berjalan perlahan menuju pintu kamar, berniat pergi ke dapur untuk mengisi botolnya.

Namun, langkahnya terhenti tepat saat ia melangkah keluar dari koridor kamar. Di ruang makan yang hanya diterangi lampu temaram dengan cahaya kekuningan, ia melihat sosok tinggi yang duduk tegak di kursi makan. Itu Nick, adiknya. Punggung Nick tampak kaku, dan dari jarak beberapa meter, Nagara bisa melihat bahu adiknya itu bergetar pelan, seolah sedang menahan sesuatu yang berat. Matanya tertuju pada layar ponsel di tangannya, dan suara isak tangis yang tertahan terdengar samar-samar memecah keheningan malam.

"Nick..." panggil Nagara pelan, namun suaranya cukup terdengar di ruangan yang hening itu.

Nick tersentak hebat, seolah baru saja tersadar dari mimpi buruk. Refleks, tangannya terangkat cepat mengusap pipinya yang basah, menyembunyikan jejak air mata secepat kilat sebelum ia menoleh ke arah sang kakak. Matanya yang sembab berusaha menyembunyikan kesedihan di balik senyum yang dipaksakan.

"Kakak? Kenapa belum tidur?" tanya Nick, suaranya sedikit parau namun ia berusaha membuatnya terdengar normal di bawah cahaya lampu yang remang-remang itu.

Nagara melangkah mendekat, langkah kakinya pelan namun penuh perhatian. Sebagai anak sulung, ia tahu betul rasanya kehilangan. Ia juga sering kali diam-diam menangis di tengah malam saat bayangan mendiang kedua orang tuanya datang menghampiri. Dan melihat kondisi Nick saat ini, hatinya langsung berasumsi bahwa adiknya mungkin merasakan hal yang sama, rindu yang menyakitkan pada sosok orang tua yang sudah tiada.

"Kau menangis? Kau kenapa? Apa kau rindu Mama dan Papa?" tanya Nagara lembut, matanya meneliti wajah adiknya dengan penuh kekhawatiran.

"Tidak, Kak. Aku hanya... tidak bisa tidur," jawab Nick, menarik nafas panjang seolah berusaha mengembalikan ketenangannya. Ia berusaha tersenyum lebih lebar, tapi senyum itu tidak sampai mencapai matanya.

Nagara yang sudah berdiri tepat di samping adiknya, tak sengaja melirik sekilas ke arah layar ponsel yang masih menyala di tangan Nick. Dahinya mengerut saat melihat layar itu menampilkan foto Nick yang sedang tertawa bahagia berdampingan dengan seorang gadis cantik.

"Kau sedang ada masalah dengan pacarmu?" tanya Nagara, lalu ia menarik kursi di sebelah Nick dan duduk di sana, memberikan jarak yang dekat namun tidak menekan.

Nick hanya menggeleng pelan, bibirnya sedikit melengkung ke atas, berusaha meyakinkan kakaknya bahwa ia baik-baik saja dan tidak ada masalah yang menimpanya. Namun, Nagara terlalu mengenal adiknya. Ia bisa melihat dengan jelas bahwa senyum itu palsu. topeng yang dipakai Nick untuk menutupi luka di hatinya.

"Kalau kau tidak mau cerita, tidak apa-apa," ucap Nagara lembut, tangannya terulur dan menepuk bahu Nick pelan sebagai tanda dukungan. "Tapi kalau nanti kamu butuh bantuan Kakak, jangan ragu, ya. Kakak selalu ada buat adik-adik Kakak. Kakak akan jadi teman cerita dan tempat kalian berkeluh kesah, apa pun masalahnya."

Baru saja kata-kata itu keluar dari mulut Nagara, suasana hening malam tiba-tiba pecah oleh teriakan keras dari luar rumah.

"Bi! Bi Surti!" pekik seseorang dengan suara serak dan penuh emosi, terdengar panik.

"Buka pintunya! Aku tidak bawa kunci rumah!" teriaknya lagi, kali ini lebih keras dan terdengar sangat tidak sabar, bahkan ada nada putus asa di sana.

Nagara dan Nick saling bertatapan sejenak, keduanya bisa mendeteksi kepanikan dalam suara itu. Mereka faham betul, suara itu milik Nathan, adik mereka. Namun, Nathan tidak pernah berteriak seperti ini. Tanpa perlu bicara lagi, keduanya segera berlari menuju pintu depan, jantung mereka berdegup kencang karena rasa khawatir yang tiba-tiba melanda.

"Nathan!" seru Nick begitu ia berhasil membuka pintu lebar-lebar.

Di ambang pintu, Nathan berdiri dengan tubuh yang sempoyongan, matanya merah dan bau alkohol yang menyengat langsung menusuk hidung mereka.

"Nathan! Kau mabuk?" tanya Nagara dengan nada tegas namun panik. Ia segera melempar botol air yang sejak tadi ia pegang begitu saja ke lantai, bunyi pecahan kaca terdengar namun tidak ada yang mempedulikannya. Nagara buru-buru melangkah maju dan menangkap tubuh Nathan yang hampir ambruk. Nick juga segera membantu, memegang lengan adiknya dengan erat, wajahnya penuh kekhawatiran.

"Lepas!" pekik Nathan tiba-tiba, dan dengan kekuatan yang entah dari mana datangnya, ia mendorong tubuh Nick dengan kasar hingga Nick mundur beberapa langkah.

"Puas! Kakak puas? Selama ini aku ternyata cuma jadi badut, Kak! Aku cuma selingkuhannya Arumi, Kak!" seru Nathan, suaranya melengking di tengah malam yang sunyi. Ia tertawa terbahak-bahak, tapi tawa itu terdengar sangat menyakitkan, penuh dengan kepahitan dan amarah. Badannya terus terombang-ambing, membuat Nagara kesusahan mengimbangi dan menahannya agar tidak jatuh.

Nick berdiri terpaku di dekat pintu, tatapannya nanar, seolah baru saja dipukul keras oleh kenyataan yang diucapkan Nathan.

Mendengar kegaduhan yang semakin keras, Nayra dan Nayla, adik kembar mereka segera berlari menghampiri dari arah kamar. Begitu juga dengan Bi Surti, Pak Tarjo, dan beberapa asisten rumah tangga lainnya yang terbangun dan keluar untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.

"Kakak tidak tahu, Kakak benar-benar tidak tahu kalau Arimbi selingkuh, dan kau selingkuhannya..." lirih Nick, suaranya bergetar hebat. Rasa bersalah langsung menyergap dadanya. Tanpa mereka sadari, ternyata kedua kakak beradik ini hanyalah korban permainan seorang gadis. Tapi sekarang, bukan hanya hati mereka yang hancur, tapi hubungan persaudaraan yang selama ini erat pun seolah mulai renggang, tergores oleh rasa sakit dan kesalahpahaman.

"Nick, bisa jelaskan apa sebenarnya yang terjadi di antara kalian?" tanya Nagara, suaranya berusaha tetap tenang meski dadanya dipenuhi tanda tanya dan kekhawatiran. Ia butuh kejelasan sebelum situasi semakin memburuk.

Nayra dan Nayla segera mendekati Nathan, membantu Nagara memegang tubuh adik mereka yang sudah tidak mampu berdiri tegak lagi karena pengaruh alkohol dan emosi yang meluap-luap.

"Aku sangat mencintai Arumi! Aku bahkan sudah menidurinya! Dia sudah tidak perawan! Aku yang ambil keperawanannya!" teriak Nathan, suaranya pecah. Ia tertawa lebar, namun air mata terus mengalir membasahi pipinya, membuat pemandangan itu semakin menyedihkan. "Tapi kenapa saat di depan kita, dia justru memilih Kakak dan pura-pura tidak kenal denganku! Padahal aku yang sudah mengambil keperawanannya, Kak!"

BUGH!

Sebuah pukulan keras melayang tepat mengenai pipi Nathan. Itu Nick. Dengan mata yang membelalak karena amarah yang tak lagi bisa ditahan, ia melayangkan tinjunya dengan sekuat tenaga. Hantaman itu begitu kuat hingga tubuh Nathan yang sudah tidak stabil tersungkur ke belakang. Dan karena Nathan sempat tersentak ke belakang, Nayra dan Nayla yang sedang memegang tubuh Nathan pun ikut terseret dan ikut tersungkur ke lantai dengan keras.

"Nay! Kau tidak apa-apa?" tanya Nagara khawatir, matanya membelalak melihat adiknya terjatuh. Ia segera berlari menghampiri Nayra, begitu juga dengan Nayla, Bi Surti, dan Pak Tarjo yang langsung berkumpul di sekitar mereka.

"Ndok? Apa sakit?" tanya Pak Tarjo dengan wajah penuh perhatian dan kekhawatiran, tangannya terulur ingin membantu namun ragu menyentuh.

Nayra berusaha bangun dengan bantuan Nayla, namun ia meringis kesakitan, tangannya spontan memegang pinggulnya yang terbentur lantai keras. "Tidak... aku tidak apa-apa kok," jawabnya pelan, meski raut wajahnya jelas menunjukkan rasa sakit yang luar biasa.

Melihat kondisi Nayra, wajah Nagara berubah pucat. Ingatannya langsung tertuju pada satu hal penting, kandungan Nayra.

"Pak Tarjo, bawa Nayra ke rumah sakit sekarang! Ela, Bi Surti, kalian temani Nayra!" perintah Nagara dengan nada tegas dan mendesak. Tanpa menunggu balasan, ia segera menggendong tubuh Nayra dengan hati-hati namun cepat, membawanya menuju mobil yang ada di garasi. Pak Tarjo, Bi Surti, dan Nayla segera mengikuti di belakangnya dengan langkah terburu-buru.

Sesampainya di mobil, Nagara dengan lembut meletakkan Nayra di kursi penumpang. "Kalian hati-hati ya," serunya pada mereka yang ada di dalam mobil.

"Kak, Kakak juga hati-hati ya," pesan Nayla dengan mata berkaca-kaca, menatap Nagara dengan penuh kekhawatiran. Nagara hanya mengangguk singkat, memberikan kode agar mereka segera berangkat.

Begitu mobil melaju meninggalkan halaman rumah, Nagara berbalik badan. Wajahnya yang tadi penuh kekhawatiran kini berubah menjadi dingin dan keras. Ia menatap tajam ke arah kedua adiknya yang masih berada di depan pintu, Nathan yang kini duduk di lantai dengan pipi bengkak dan tatapan penuh kebencian menatap Nick, dan Nick yang berdiri tegak dengan nafas yang masih naik turun akibat emosi yang belum reda. Tatapan Nick kosong, hampa. Ia yang biasanya adalah sosok yang paling menyayangi Nayra, yang paling protektif pada adik perempuannya itu, kini hanya berdiri dengan wajah datar tanpa ekspresi, seolah jiwanya baru saja pergi meninggalkan raganya.

"Kalau terjadi apa-apa sama Nayra dan bayinya, kalian enggak akan Kakak kasih ampun!" seru Nagara dengan suara yang berat dan mengintimidasi, menekankan setiap kata dengan penuh penekanan. Suaranya menggema di halaman rumah yang sepi, meninggalkan ketakutan dan ketegangan yang mendalam di antara mereka bertiga.

1
Ardy Ansyah
👍👍👍👍👍👍
Akak Lisa
👍👍👍👍
Monroe George
dunia Nayra msih baik" sja coz pnya saudara kembar yang peduli 👍
Monroe George
marathon aku kak, seru crita nya 💪
Monroe George
CEO ni nnti yang nikahi Nayra 🤭
Ardy Ansyah
teraniaya dulu bahagia kemudian 🤣. suka aku tuh kalau alur yang begini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!