"Sepuluh tahun lalu, ayahku menjualku. Dan malam ini, sang pembeli datang menjemputku."
Alana mengira hidupnya sempurna, sampai ia diseret ke Rusia oleh Alexei Dragunov seorang Tsar mafia yang dingin dan berbahaya. Alana bukan datang sebagai pengantin, melainkan sebagai aset yang telah dibayar lunas oleh Alexei untuk menutupi hutang ayahnya.
Di tengah badai salju Saint Petersburg, Alana terjebak di antara dua pria paling berkuasa, Ayah kandung yang menjadikannya barang dagangan, dan suami mafia yang menjadikannya tawanan obsesi.
Saat rahasia darahnya mulai terungkap, Alana menyadari, Di dunia Alexei, tidak ada jalan keluar. Ia harus memilih, hancur sebagai korban, atau bangkit menjadi Ratu di samping sang iblis.
"Kau adalah milikku, Alana. Hidup atau mati, kau tetap dalam genggamanku."
-Alexei Dragunov-
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EILI sasmaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25. PERMAINAN DI TEPI JURANG
Pelabuhan Helsinki di tengah malam adalah labirin peti kemas yang diselimuti kabut tebal dan aroma garam yang menusuk. Alana berdiri di atas balkon crane yang tidak lagi beroperasi, mengenakan jaket kulit hitam yang membalut tubuhnya dengan sempurna. Di telinganya, sebuah perangkat komunikasi kecil terus mengeluarkan suara statis sebelum suara berat Alexei memecah kesunyian.
"Posisi, Alana?"
"Sektor empat bersih, Alexei. Truk logistik Sergei baru saja memasuki area penimbangan. Mereka membawa lebih dari sekadar minyak mentah, aku bisa melihat suspensi truknya terlalu rendah," jawab Alana tenang. Matanya tetap terpaku pada teropong malam yang ia pegang.
"Bagus. Ingat, kita di sini bukan untuk menghancurkan barangnya. Kita di sini untuk membelokkan rutenya. Aku ingin Sergei kehilangan mukanya di depan dewan Bratva besok pagi karena gagal mengirimkan pasokan tepat waktu."
Alana menurunkan teropongnya. Selama beberapa minggu terakhir, ia telah melatih dirinya untuk berpikir seperti Alexei, cepat, efisien, dan tanpa ampun. Namun, jauh di lubuk hatinya, Alana tahu ia sedang melakukan permainan ganda. Ia membantu Alexei menghancurkan Sergei, musuh ibunya, namun di saat yang sama, ia sedang mencatat setiap celah dalam sistem keamanan Alexei yang ia gunakan malam ini.
"Aku turun sekarang," ucap Alana.
Ia menuruni tangga besi dengan cekatan. Di bawah, di balik bayangan peti kemas, Alexei sudah menunggu. Pria itu tampak seperti malaikat maut dalam balutan trench coat hitamnya. Saat Alana mendarat di tanah, Alexei segera menariknya ke belakang dinding baja, melindungi Alana dari sorot lampu patroli yang lewat.
Jarak mereka begitu dekat. Alana bisa merasakan napas Alexei yang hangat di keningnya, kontras dengan udara Finlandia yang membeku. Tangan Alexei berada di pinggang Alana, sebuah gerakan yang tampak seperti perlindungan, namun Alana tahu itu adalah cara Alexei untuk memastikan ia tidak melarikan diri.
"Kau bergerak terlalu cepat di tangga tadi," bisik Alexei tepat di telinga Alana. Suaranya rendah, mengandung teguran namun juga kekaguman yang tersirat. "Jangan biarkan adrenalin mengaburkan kewaspadaanmu."
"Aku tahu apa yang kulakukan, Alexei," balas Alana, mendongak untuk menatap mata biru pria itu. "Kau yang mengajariku, bukan?"
Alexei menatap bibir Alana sejenak, sebuah jeda yang terasa sangat lama di tengah misi berbahaya ini sebelum akhirnya ia melepaskan cengkeramannya. "Ayo. Tim Mikhail sudah bersiap di gerbang belakang."
Mereka bergerak seperti bayangan. Alana mengagumi cara Alexei memerintah tanpa suara, hanya dengan isyarat tangan yang dipahami oleh anak buahnya. Ini adalah sisi Alexei yang paling berbahaya, sang panglima perang. Alana menyadari bahwa ia mulai mengandalkan keberadaan Alexei di punggungnya. Ada rasa aman yang aneh saat mengetahui bahwa pria paling ditakuti di Baltik ini ada di sisinya. Itulah ketergantungan yang mulai merayap masuk ke dalam dirinya, sebuah parasit yang ia coba lawan setiap malam.
Saat mereka berhasil menyusup ke dalam ruang kendali pelabuhan, Alana segera duduk di depan komputer pusat. Jemarinya menari di atas papan ketik, meretas sistem manifes pelabuhan dengan kecepatan yang mengejutkan Alexei.
"Kau lebih cepat dari peretas terbaikku," gumam Alexei, berdiri di belakang kursi Alana, tangannya bertumpu pada sandaran kursi, mengurung Alana dalam ruang pribadinya.
"Aku punya motivasi yang lebih besar dari mereka," sahut Alana tanpa menoleh. Ia berhasil mengubah koordinat tujuan truk Sergei. Besok pagi, minyak itu tidak akan sampai ke gudang Sergei, melainkan ke dermaga pribadi milik keluarga Dragunov.
Tiba-tiba, suara alarm melengking di seluruh area pelabuhan. Lampu merah berputar, menyinari ruangan itu dengan warna darah.
"Kita ketahuan! Seseorang memicu sensor manual di pintu luar!" seru Mikhail melalui radio.
Alexei segera menarik Alana berdiri. "Pergi lewat ventilasi belakang, Alana! Mikhail akan menjemputmu di koordinat B!"
"Lalu kau bagaimana?" Alana menahan lengan Alexei. Ada kilat kecemasan di matanya yang tidak bisa ia sembunyikan, bukan karena ia mencintai Alexei, tapi karena jika Alexei tertangkap sekarang, rencananya untuk menghancurkan Wira akan ikut hancur.
Alexei menatap tangan Alana di lengannya, lalu kembali menatap mata gadis itu. Ia memberikan senyum tipis yang dingin namun tampak tulus untuk sesaat. "Aku yang menciptakan neraka ini, Alana. Aku tahu cara keluar darinya. Pergi!"
Alana ragu sejenak, namun ia segera berlari menuju saluran ventilasi. Ia merangkak dengan cepat, mendengar suara tembakan yang mulai pecah di bawah sana. Jantungnya berdegup kencang. Ia terus mengulang dalam hati. Ini hanya bisnis. Jika dia mati, aku bebas. Jika dia mati, aku bebas.
Namun, saat ia berhasil keluar dari gedung dan berlari menuju mobil pelarian, pikirannya terus kembali pada sosok Alexei yang berdiri sendirian menghadapi pasukan Sergei. Saat ia masuk ke dalam mobil yang dikemudikan Mikhail, Alana menatap ke arah gudang yang mulai mengepulkan asap.
Sepuluh menit kemudian, pintu mobil terbuka dengan kasar. Alexei masuk dengan napas memburu, jasnya robek di bagian lengan, dan ada goresan kecil yang mengalirkan darah di pipinya. Ia segera memerintahkan Mikhail untuk memacu mobil.
Di dalam mobil yang melaju kencang, kesunyian menyelimuti mereka. Alana menatap luka di pipi Alexei. Tanpa sadar, ia merogoh tasnya, mengambil sapu tangan, dan mulai menyeka darah itu.
Alexei tertegun. Ia tidak menolak. Ia membiarkan tangan Alana menyentuh wajahnya. Mata mereka bertemu dalam keremangan cahaya lampu jalan yang melintas cepat. Tidak ada manipulasi dalam momen itu, hanya dua orang yang baru saja lolos dari maut.
"Kenapa kau tidak langsung lari ke koordinat penjemputan?" tanya Alexei, suaranya terdengar lebih lembut dari biasanya.
"Aku... aku harus memastikan data yang kukirim sudah masuk ke servermu," alibi Alana, meskipun ia tahu suaranya sedikit bergetar.
Alexei meraih tangan Alana yang memegang sapu tangan, menghentikan gerakannya. Ia tidak melepaskan tangan itu, justru menggenggamnya erat di atas pangkuannya. "Kau berbohong, Alana. Kau menungguku."
Alana menarik napas panjang, mencoba mendapatkan kembali kendali atas emosinya. "Jangan terlalu percaya diri, Alexei. Kau masih punya hutang informasi padaku tentang Wira. Aku tidak bisa membiarkanmu mati sebelum kau melunasinya."
Alexei tertawa kecil, tawa yang terdengar lelah namun puas. Ia menyandarkan kepalanya di sandaran kursi, masih memegang tangan Alana. "Alasan yang bagus. Sangat profesional."
Malam itu, saat mereka tiba kembali di vila, Alana melihat Alexei masuk ke ruang kerjanya dengan langkah yang sedikit pincang. Alana berdiri di lorong, menatap pintu yang tertutup itu. Ia menyentuh jari manisnya yang dilingkari cincin safir. Ia menyadari satu hal yang menakutkan, malam ini, saat ia melihat Alexei dalam bahaya, ia tidak merasa senang. Ia merasa takut akan kehilangan satu-satunya orang yang memahaminya di dunia yang gila ini.
Ia kembali ke kamarnya, membuka laptop rahasianya, dan melihat pesan dari informannya yang masih menunggu koordinat gudang Alexei. Alana ragu. Jarinya melayang di atas tombol hapus.
Bukan malam ini, batinnya. Dia baru saja menyelamatkanku. Aku akan menghancurkannya besok, atau lusa, atau bulan depan. Tapi bukan malam ini.
Alana menutup laptopnya, tidak menyadari bahwa di ruang kerja sebelah, Alexei sedang menatap layar monitor CCTV yang memperlihatkan Alana sedang menutup laptopnya. Alexei tahu Alana menyembunyikan sesuatu, namun ia hanya diam. Ia menyentuh luka di pipinya yang tadi dibersihkan Alana, dan sebuah senyum samar muncul di wajahnya.
"Teruslah bermain, Alana," bisik Alexei pada layar itu. "Karena semakin kau berusaha menghancurkanku, semakin kau akan menyadari bahwa kita adalah satu."