Dijodohkan karena darah keraton yang mengalir dalam tubuh mereka, Raden Danendra Adipati dan Raden Ayu Kirana Ayodya menerima pernikahan tanpa protes. Satu tahun berlalu dalam ketenangan yang nyaris membosankan. Tidak ada pertengkaran, tidak ada pengkhianatan, bahkan tidak ada cinta. Mereka hidup layaknya dua orang asing yang kebetulan berbagi rumah dan nama belakang yang sama. Namun ketika keadaan memaksa mereka untuk saling mengenal lebih dekat, Kirana mulai menyadari bahwa di balik sikap dingin Danendra tersimpan perhatian yang tak pernah ia tunjukkan. Sementara Danendra perlahan memahami bahwa perempuan yang selama ini selalu berada di sisinya telah menjadi bagian paling penting dalam hidupnya. Di antara tradisi keluarga, tuntutan sebagai keturunan keraton, dan perasaan yang tumbuh terlambat, keduanya harus belajar bahwa cinta tidak selalu hadir sebelum pernikahan. Terkadang cinta justru datang setelah dua hati yang asing memilih untuk saling tinggal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SenandikaMaret, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERJALANAN SINGKAT
Senin pagi datang dengan ritme yang lebih sibuk dari biasanya. Kirana baru saja meletakkan tas kerjanya di atas meja kantor ketika Rani muncul membawa setumpuk berkas dan sebuah map biru.
"Kak, jadwal keberangkatan untuk acara budaya sudah keluar," ucap Rani sembari menyodorkan map tersebut.
Kirana menerima map itu sambil mengucapkan terima kasih. Ia membukanya sekilas, lalu mulai membaca rincian agenda yang tersusun rapi di dalamnya. Acara budaya tahunan yang akan diselenggarakan di Yogyakarta berlangsung selama dua hari. Yayasan tempatnya bekerja menjadi salah satu pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan program edukasi dan pelestarian arsip budaya daerah. Karena posisinya sebagai kepala divisi program, Kirana memang harus hadir langsung.
Ia terus membaca hingga matanya berhenti pada daftar tamu dan mitra kerja. Nama yang tertera di sana membuatnya berkedip pelan.
Danendra Adipati.
Kirana membaca sekali lagi untuk memastikan dirinya tidak salah lihat. "Adipati Group juga ikut, Ran?"
Rani mengangguk cepat. "Iya, Kak. Mereka menjadi sponsor utama tahun ini."
"Oh."
"Katanya Pak Danendra juga datang langsung ke lokasi acara."
Kirana hanya mengangguk pelan. Entah kenapa, informasi itu terasa sedikit asing di telinganya. Bukan karena keberadaan Danendra, melainkan karena selama ini kehidupan profesional mereka berjalan di jalur masing-masing. Jarang sekali ada agenda yang membuat mereka harus berada di tempat yang sama selama berhari-hari.
"Berangkat besok pagi?" tanya Kirana.
"Jam tujuh, Kak."
"Oke."
Rani memperhatikannya beberapa detik, dahinya berkerut. "Kak?"
"Hm?"
"Kenapa reaksinya datar banget?"
Kirana tertawa kecil, menutup map birunya. "Memangnya aku harus bagaimana?"
"Minimal kaget sedikit lah, Kak."
"Aku memang sedikit kaget."
"Sedikit sekali," gerutu Rani pasrah.
Kirana hanya menggeleng sambil kembali membuka jadwal kerja. Rani mendengus pelan sebelum berbalik pergi. Kadang ia benar-benar tidak mengerti bagaimana cara kerja isi kepala sahabatnya itu.
Malam harinya, Kirana baru selesai menyiapkan pakaian untuk perjalanan ketika pintu kamar terbuka. Danendra masuk setelah menyelesaikan beberapa panggilan kerja di ruang tengah.
"Kamu sudah siap?" tanya Danendra.
Kirana yang sedang melipat blazer di tepi ranjang menoleh. "Untuk besok?"
Danendra mengangguk.
"Sudah, Mas."
Pria itu melangkah menuju lemari pakaian. "Aku baru dapat jadwal final dari tim sekretaris tadi sore."
"Kamu juga baru tahu kalau kita satu acara?" tanya Kirana.
"Ya."
Kirana mengangguk pelan. Berarti bukan hanya dirinya yang baru mengetahui mereka akan menghadiri acara yang sama di Yogyakarta.
"Berangkat bersama?" tanyanya lagi.
"Sepertinya begitu."
"Naik mobil ke bandara?"
"Iya."
Percakapan itu berakhir sampai di sana. Namun kali ini, sunyi yang tersisa tidak lagi terasa mencekam seperti beberapa bulan lalu. Dulu, keheningan seperti ini sering membuat Kirana tidak nyaman dan buru-buru mencari alasan untuk pergi. Sekarang, rasanya lebih seperti sebuah kebiasaan yang meneduhkan.
Keesokan paginya, mereka berangkat saat matahari belum terlalu tinggi. Mobil melaju membelah jalanan Jakarta yang mulai padat oleh kendaraan komuter. Di kursi belakang, Kirana sedang membaca ulang materi presentasinya, sementara Danendra sibuk membalas surel dari tablet kerjanya.
Hampir tiga puluh menit perjalanan berlalu tanpa ada untaian percakapan. Sampai akhirnya, ponsel di genggaman Kirana bergetar pelan. Ia membuka pesan dari Rani.
Rani: Jangan lupa bawain bakpia ya, Kak!
Kirana tertawa kecil menatap layar gawai. Danendra yang duduk di sebelahnya mengalihkan pandangan. "Ada yang lucu?"
"Rani," sahut Kirana, menoleh sekilas.
"Hm?"
"Pesan pertama yang dia kirim pagi ini bukan soal persiapan acara atau koordinasi yayasan."
"Lalu?"
"Titip bakpia."
Untuk pertama kalinya pagi itu, sudut bibir Danendra bergerak tipis membentuk senyuman samar. "Itu memang gaya Rani."
"Iya," kekeh Kirana. "Masuk akal."
Kirana ikut tertawa pelan. Entah kenapa, komentar datar dari suaminya itu justru terasa menghibur.
Penerbangan mereka berlangsung tidak sampai satu jam. Begitu tiba di Yogyakarta, rombongan langsung diarahkan menuju hotel tempat para tamu VIP menginap. Karena seluruh kamar suite hotel sudah penuh akibat acara nasional yang berlangsung bersamaan, panitia menempatkan beberapa tamu di kamar terpisah yang bersebelahan, termasuk mereka berdua.
Sepanjang perjalanan dari bandara menggunakan mobil jemputan, Kirana lebih banyak memperhatikan pemandangan di luar jendela. Ia selalu menyukai kota ini. Ritme kehidupannya tidak terlalu cepat, tidak juga terlalu ramai. Seolah Yogyakarta memiliki caranya sendiri untuk membuat orang-orang di dalamnya merasa tenang.
"Kamu sering ke sini?" tanya Danendra tiba-tiba, memecah kesunyian kabin belakang.
Kirana menoleh, menatap wajah suaminya. "Beberapa kali, Mas."
"Untuk urusan kerja?"
"Sebagian besar iya."
"Lalu yang sisanya?"
"Liburan waktu zaman kuliah dulu," jawab Kirana jujur.
Danendra mengangguk-angguk paham. "Kamu sendiri?" tanya Kirana balik.
"Sering."
"Karena urusan bisnis Adipati Group?"
"Awalnya begitu."
"Awalnya?" Kirana mengernyit tertarik.
Danendra menolehkan kepalanya sebentar, menatap mata Kirana. "Lama-lama karena kulinernya."
Kirana tertawa spontan, tidak menyangka sisi praktis suaminya bisa bergeser karena urusan perut. "Aku kira jawabannya karena menyukai budayanya, Mas."
"Itu urutan kedua," sahut Danendra lempeng.
Tawa Kirana semakin lepas mendapat pengakuan jujur tersebut. Untuk pertama kalinya selama perjalanan jauh, percakapan mereka mengalir begitu saja tanpa harus dipikirkan matang-matang terlebih dahulu. Sederhana, ringan, tetapi terasa sangat menyenangkan.
Hari pertama berlangsung cukup padat. Acara pembukaan dimulai sejak siang hari. Berbagai sesi diskusi panel, pameran arsip budaya, hingga presentasi program dari berbagai daerah berlangsung hampir tanpa jembatan jeda yang panjang. Kirana beberapa kali berpapasan dengan Danendra di koridor aula utama, namun pertemuan mereka hanya sebatas sapaan singkat dan anggukan kepala profesional. Masing-masing sibuk dengan tanggung jawab besar di divisi mereka.
Baru menjelang malam hari, seluruh agenda resmi dinyatakan selesai. Kirana melangkah keluar dari aula pameran sambil memijat pelan tengkuknya yang terasa agak kaku. Ia benar-benar lelah. Seharian berdiri dan berbicara di depan banyak orang membuat energinya terkuras habis.
Saat sedang meraba tasnya untuk mencari ponsel, sebuah suara yang familiar terdengar dari arah samping pilar. "Selesai?"
Kirana menoleh cepat. Danendra sudah berdiri beberapa langkah darinya, jas kerjanya sudah dilepas dan disampirkan di lengan. "Baru saja, Mas."
"Sudah makan malam?"
Kirana menggeleng pelan. "Belum sempat."
"Sama."
Mereka sama-sama terdiam sesaat di tengah koridor yang mulai sepi. Lalu Danendra kembali membuka suara. "Restoran di lantai bawah hotel masih buka."
Kirana berkedip. "Oh."
"Mau makan dulu?"
Ajakan itu terdengar sangat biasa dan sederhana. Namun tetap saja, Kirana memerlukan waktu beberapa detik untuk memproses perubahan sikap suaminya di ruang publik ini. "Ya... boleh, Mas."
Restoran hotel tidak terlalu ramai malam itu. Sebagian besar tamu undangan masih menghadiri pertemuan informal di ruang konferensi atas. Mereka memilih meja sudut dekat jendela besar. Di luar kaca, lampu-lampu kota Yogyakarta mulai menyala temaram di tengah udara malam yang hangat.
Seorang pelayan datang membawakan buku menu. Kirana membacanya beberapa saat dengan dahi berkerut halus. "Aku bingung memilih menunya."
Danendra melirik sekilas dari seberang meja. "Kamu selalu membutuhkan waktu lama kalau sedang memilih makanan?"
Kirana tertawa kecil, menutup menunya kaku. "Memang begitu, Mas."
"Kenapa?"
"Takut salah pesan rasa."
"Itu hanya urusan makan malam, Kirana."
"Justru karena hanya makan malam," bela Kirana, tidak mau kalah.
Danendra menggelengkan kepalanya pelan, seulas senyum tipis yang samar terbit di bibirnya. "Aneh."
"Kamu sendiri selalu begitu?" tanya Kirana penasaran.
"Tidak."
"Lalu?"
"Aku selalu memesan menu pertama yang menarik perhatian mata," jawab Danendra praktis.
Kirana langsung tertawa renyah. "Itu rasanya jauh lebih berisiko salah rasa, Mas."
"Selama ini tidak pernah menjadi masalah bagiku," sahut Danendra lempeng.
"Aku tidak percaya," goda Kirana, matanya berbinar cerah.
Untuk beberapa saat, percakapan ringan seperti itu terus mengalir di antara mereka berdua seiring dengan makanan yang disajikan. Mereka berbicara tentang kuliner daerah, pengalaman perjalanan kerja, hingga kota-kota yang pernah mereka kunjungi sebelumnya. Hal-hal kecil yang selama satu tahun pernikahan mereka nyaris tidak pernah dibahas di rumah besar mereka, kini meluncur begitu saja.
Kirana tidak tahu sejak kapan percakapan mereka mulai terasa semudah ini. Danendra memang tidak banyak bicara. Kadang jawabannya pendek, kadang terlalu lugas. Namun setidaknya sekarang Kirana tidak lagi merasa harus berhati-hati setiap kali membuka percakapan dengannya.
Malam semakin larut ketika mereka akhirnya memutuskan untuk kembali ke kamar. Lift yang mereka naiki menuju lantai atas hanya berisi mereka berdua. Tidak ada suara lain yang terdengar selain dengung halus mesin lift dan musik instrumental pelan dari pengeras suara sudut atas.
Beberapa bulan lalu, situasi sunyi di dalam ruang sempit seperti ini pasti akan terasa teramat canggung bagi Kirana. Ia akan sibuk memikirkan topik apa yang harus dikatakan, atau justru memilih diam memandangi lantai sambil berharap lift segera tiba di lantai tujuan. Namun malam ini terasa sepenuhnya berbeda. Keheningan di antara mereka terasa begitu ringan, tidak menekan, dan tidak lagi membuat hatinya gelisah.
Saat lampu angka lantai kamar mereka menyala, pintu lift perlahan terbuka. Kirana melangkah keluar lebih dulu ke koridor, lalu langkahnya sempat terhenti sejenak. Ia membalikkan tubuh menghadap Danendra. "Mas."
Danendra menolehkan kepalanya. "Hm?"
"Terima kasih, ya."
"Untuk apa?"
"Sudah menungguku di aula tadi," ucap Kirana tulus.
Danendra tampak diam berpikir sebentar sebelum menyahut dengan nada datarnya yang khas. "Acara dari pihak yayasan memang selesai lebih lama dari estimasi jadwal."
"Tetap saja itu membuatmu berdiri menunggu lama."
"Tidak masalah," jawab Danendra pendek.
Jawaban singkat itu sudah lebih dari cukup untuk membuat seulas senyum manis terbit di bibir Kirana. Mereka kembali berjalan beriringan menyusuri lorong hotel yang tenang menuju kamar masing-masing yang letaknya bersebelahan.
Saat sampai di depan pintu kamar masing-masing, Kirana mengangguk pelan. "Selamat malam, Mas."
"Selamat malam."
Danendra sudah memegang kartu akses kamarnya, namun ia mendadak menghentikan gerakan tangan. Ia menoleh kembali ke arah Kirana. "Besok jam berapa mulai acaranya?"
Kirana berkedip, agak terkejut mendapat pertanyaan susulan. "Jam delapan."
"Sarapan dulu," ucap Danendra datar.
"Hm?"
"Kalau tidak sarapan, nanti pusing," tambah Danendra pendek.
Setelah kalimat itu meluncur lempeng, Danendra langsung menempelkan kartu aksesnya hingga pintu kamarnya terbuka, lalu melangkah masuk ke dalam ruangan tanpa menunggu respons lanjutan.
Kirana terpaku diam selama beberapa detik di lorong sepi tersebut, memandangi daun pintu kamar Danendra yang sudah tertutup rapat. Tangannya yang memegang kartu akses tanpa sadar meremas pinggirannya, sementara seulas senyum kecil yang teramat hangat mengembang sempurna di bibirnya.
Ia melangkah masuk ke dalam kamarnya sendiri. Sebelum benar-benar menutup pintunya, Kirana sempat melirik sekilas ke arah kamar sebelah melalui celah sempit. Entah kenapa, perjalanan singkat hari pertama di kota ini terasa jauh lebih menyenangkan daripada apa yang ia bayangkan sebelumnya.
Sementara itu, di sisi lain lorong, Danendra berdiri beberapa detik lebih lama di balik daun pintunya yang sudah tertutup. Pria itu menatap lurus ke arah dinding kamar sembari memikirkan hal yang kurang lebih sama.
Dulu, menghabiskan waktu berdua dengan Kirana selalu terasa seperti menjalankan kewajiban yang harus dilakukan. Kini tidak lagi. Masih ada rasa canggung yang tersisa di antara mereka, dan masih ada jarak tak kasatmata yang belum sepenuhnya terkikis hilang. Namun untuk pertama kalinya sejak mereka menikah, jarak itu terbukti sudah tidak lagi terasa terlalu jauh.
Tidak ada percakapan penting atau pengakuan dramatis yang terjadi malam itu. Namun entah kenapa, saat memejamkan mata di kamar hotelnya masing-masing, baik Kirana maupun Danendra sama-sama merasa hari itu berakhir dengan cara yang menyenangkan.