NovelToon NovelToon
Susuk Suanggi

Susuk Suanggi

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Balas Dendam / Iblis
Popularitas:23.3k
Nilai: 5
Nama Author: Me Tha

​Setelah diperkosa secara massal oleh 10 warga desa dan diusir secara hina oleh suaminya sendiri akibat fitnah rekaman video, Ratri menempuh jalan kegelapan. Ia memasang susuk emas "Suanggi" dari seorang dukun di hutan Weling , di organ vitalnya.

Kini, ia kembali bukan untuk cinta, tapi untuk membalas pada kejantanan mereka dan nyawa siapa pun yang pernah menyakitinya.

Namun, kehadiran seorang Ustadz muda bernama Fatih membawa pilihan sulit , terus memupuk dendam yang memakan jiwanya, atau melepaskan iblis itu demi sebuah ampunan yang tak terduga dan hidup dengan nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Tha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Raga yang Terpangkas

Cahaya matahari pagi yang menerobos masuk melalui celah gorden putih rumah sakit terasa begitu menyakitkan bagi mata Eko. Perlahan, kesadarannya mulai pulih dari kegelapan bius yang dalam. Hal pertama yang ia rasakan adalah rasa haus yang amat sangat, tenggorokannya terasa seperti padang pasir yang kering. Namun, sensasi berikutnya jauh lebih aneh: ia merasa kakinya sangat gatal dan nyeri secara bersamaan, namun di saat yang sama, ia merasa tubuhnya sangat ringan, seolah-olah ia sedang melayang di atas tempat tidur.

Eko mengerang kecil. Suara mesin pemantau jantung di sampingnya berbunyi tit... tit... tit... dengan nada yang stabil, namun bagi Eko, suara itu terdengar seperti detak jam dinding di rumah tua yang angker.

"Minum... air..." bisik Eko parau.

Darsono, kakaknya yang sejak semalam tertidur di kursi kayu di samping ranjang, segera terjaga. Wajahnya yang kuyu menunjukkan bahwa ia tidak tidur sedetik pun dengan tenang. Dengan tangan gemetar, ia membantu memberikan air melalui sedotan ke mulut adiknya.

"Eko... kamu sudah sadar, Dik?" tanya Darsono dengan nada suara yang penuh dengan kesedihan yang ditekan.

Eko menelan air itu dengan susah payah. Matanya mulai menyapu sekeliling ruangan yang serba putih. Ia mencari satu sosok yang ia harapkan ada di sana untuk menampung segala keluh kesahnya. "Di mana Rumi? Kenapa dia tidak ada di sini?"

Darsono terdiam. Ia menundukkan kepalanya, tidak berani menatap langsung mata adiknya yang masih merah dan sayu.

"Darsono! Aku tanya, di mana istriku?! Kenapa cuma kamu yang ada di sini?" suara Eko meninggi, meskipun masih terdengar lemah.

Darsono menghela napas panjang, sebuah beban berat seolah menindih pundaknya. "Rumi... dia ada di bangsal sebelah, Eko. Tapi... dia sudah bicara pada suster dan pada kami semua. Dia bilang dia sudah lepas tangan. Dia tidak mau lagi melihatmu, apalagi mengurusmu. Dia bilang... hatinya sudah mati sejak kamu menamparnya dan mengutuk anakmu sendiri."

Mendengar itu, bukannya rasa sesal yang muncul, Eko justru meledak dalam amarah. "Dasar wanita tidak tahu diuntung! Sundal! Aku merantau setengah mati untuk dia, dan sekarang saat aku begini dia malah pergi? Dia pikir dia siapa?! Pasti dia cuma cari alasan karena dia memang benar-benar berselingkuh dengan setan sampai melahirkan anak buruk rupa itu!"

Eko terus memaki, mengeluarkan kata-kata kotor yang menghina istrinya. Ia tidak menyadari bahwa di balik amarahnya yang meluap, ada sesuatu yang jauh lebih mengerikan yang sedang menunggu untuk ia sadari.

Saat ia mencoba bergerak untuk duduk karena emosinya, Eko merasakan ada yang tidak beres dengan keseimbangan tubuhnya. Ia mencoba menumpukan badannya pada tangan kiri, namun ia justru terjatuh kembali ke bantal karena merasa tangannya tidak menyentuh kasur. Ia mencoba menggerakkan jari-jari kakinya untuk mencari tumpuan, namun ia tidak merasakan apa-apa selain kekosongan yang dingin.

"Mas Dar... kenapa badanku terasa aneh?" tanya Eko, suaranya tiba-tiba bergetar hebat.

Ia perlahan menarik selimut putih yang menutupi tubuhnya dengan tangan kanannya yang masih utuh. Gerakannya sangat lambat, seolah-olah jiwanya sudah tahu apa yang akan ia lihat namun otaknya masih mencoba menolak kenyataan.

Begitu selimut itu tersingkap, Eko membelalakkan mata. Ia melihat bagian bawah tubuhnya hanya berakhir di pangkal paha. Kedua kakinya—kaki yang ia gunakan untuk melangkah menuju gubuk Ratri, kaki yang ia gunakan untuk menendang pintu rumahnya—kini telah hilang. Hanya ada perban putih tebal yang melingkar di sana, sedikit memerah karena rembesan cairan.

Lalu ia menoleh ke sisi kirinya. Lengannya juga telah hilang, dipangkas hingga pangkal bahu.

"AAAAAAAAAAAAAAKKKKKKK!!!!"

Jeritan Eko memecah kesunyian lorong rumah sakit. Itu bukan jeritan manusia biasa; itu adalah lengkingan penuh keputusasaan dan kegilaan. Ia memukul-mukul kasur dengan tangan kanannya yang tersisa.

"MANA KAKIKU?! MANA TANGANKU?! SIAPA YANG MELAKUKAN INI?!" teriak Eko histeris. Air matanya mengalir deras, namun wajahnya tetap terlihat beringas.

"Dokter! Panggil Dokter keparat itu! Berani-beraninya mereka memotong badanku! Aku bukan sampah! Aku manusia!" Eko terus meronta, mencoba bangkit dari tempat tidur namun ia hanya bisa terguling-guling karena kehilangan keseimbangan.

Suster yang berjaga di luar segera berlarian masuk. Mereka mencoba menahan tubuh Eko agar selang infusnya tidak tercabut, namun Eko yang sedang dalam kondisi kalap memiliki kekuatan yang luar biasa. Ia bahkan mencoba menggigit tangan suster yang mencoba memeganginya.

"Tenang, Pak Eko! Ini demi keselamatan nyawa Anda!" teriak suster.

"KESELAMATAN APA?! LEBIH BAIK AKU MATI DARIPADA JADI CACAT BEGINI! KALIAN SEMUA KEPARAT!"

Kekacauan itu berlangsung selama beberapa menit hingga akhirnya dokter datang dan dengan sigap menyuntikkan obat penenang berdosis tinggi ke selang infus Eko. Perlahan, teriakan Eko memudar menjadi igauan yang tak jelas, hingga akhirnya ia kembali jatuh ke dalam kegelapan, meninggalkan sisa-sisa amarah yang masih terasa di udara.

Darsono berdiri di pojok ruangan dengan tubuh gemetar. Ia tidak tahan melihat adiknya menjadi seperti itu. Sebagai kakak tertua, ia merasa memiliki tanggung jawab, namun ia juga merasa ada sesuatu yang sangat tidak wajar dalam semua kejadian ini.

Ingatannya melayang pada cerita warga tentang Ratri. Meskipun mereka bersaudara—karena Darsono dan Eko adalah sepupu dari Bayu, mantan suami Ratri—hubungan mereka telah lama renggang sejak Bayu menghilang dan Ratri diusir dari desa. Namun, Darsono ingat bagaimana Ratri diperlakukan dulu. Ia memang tidak ikut serta dalam kejadian malam itu, namun ia tahu apa yang dilakukan Eko dan teman-temannya.

"Ini bukan kecelakaan biasa," gumam Darsono sambil menatap Eko yang sudah tenang dalam tidurnya. "Darah hitam, anak cacat, lalu kecelakaan ini... ini pasti ulah Ratri."

Ada rasa takut yang besar, namun juga rasa tanggung jawab untuk menyelamatkan sisa keluarga besarnya. Darsono berpikir, jika Ratri memang dalang di balik semua ini, maka hanya dengan meminta maaflah kutukan ini bisa berhenti. Ia merasa harus mendatangi rumah Ratri, bukan untuk melawan, melainkan untuk bersujud dan memohon agar Ratri menghentikan semua penderitaan ini.

"Bagaimanapun, kita masih keluarga. Ratri dulu adalah adik iparku," batin Darsono mencoba mencari pembenaran.

Ia tidak tahu bahwa Ratri yang sekarang bukanlah Ratri yang ia kenal dulu. Ratri yang sekarang adalah wadah bagi dendam yang tidak mengenal kata maaf, terutama bagi siapa pun yang memiliki hubungan darah dengan orang-orang yang telah menghancurkannya.

Darsono mengambil kunci motornya. Ia memutuskan untuk berangkat ke Sukomaju saat itu juga, sebelum Eko terbangun kembali. Ia merasa harus mencari kepastian, apakah benar Ratri yang melakukannya, dan apakah masih ada jalan bagi Eko untuk tetap hidup meskipun tanpa kaki dan tangan.

Perjalanan menuju Sukomaju terasa sangat panjang bagi Darsono. Sepanjang jalan, ia melihat bendera kuning berkibar di depan rumah beberapa warga. Hatinya semakin menciut. Seolah-olah maut sedang membuntuti setiap langkah orang-orang yang berhubungan dengan kejadian dua tahun lalu.

Sesampainya di depan rumah mewah Ratri, Darsono terpaku. Rumah itu tampak sangat tenang, namun memancarkan aura yang sangat menekan. Ia melihat satpam yang berjaga di depan, yang menatapnya dengan pandangan dingin.

"Saya Darsono, saudaranya Bayu. Saya ingin bertemu dengan Nyonya Ratri," ucap Darsono dengan suara pelan.

Satpam itu terdiam sejenak, seolah sedang mendengarkan bisikan di telinganya, sebelum akhirnya membuka gerbang sedikit. "Masuklah. Nyonya sudah menunggumu di taman belakang."

Darsono melangkah masuk dengan kaki yang terasa berat. Ia berjalan menyusuri selasar rumah yang mewah, melewati ruangan-ruangan yang beraroma melati sangat kuat. Di taman belakang, ia melihat Ratri sedang duduk di kursi rotan, membelakanginya, sambil menyesap secangkir teh.

"Akhirnya kamu datang juga, Mas Darsono," ucap Ratri tanpa menoleh. Suaranya terdengar sangat lembut, namun membuat Darsono merinding hingga ke tulang sumsum. "Aku sudah tahu apa yang terjadi pada adikmu. Sangat menyedihkan, bukan? Menjadi seonggok daging yang tidak bisa berjalan dan tidak bisa menggenggam."

Darsono langsung jatuh berlutut di atas rumput taman. "Ratri... tolong... aku ke sini bukan untuk berdebat. Aku tahu kamu sakit hati, aku tahu Eko bersalah. Tapi tolong, hentikan semua ini. Dia sudah cacat seumur hidup. Ampunilah dia..."

Ratri perlahan memutar kursinya. Wajahnya tampak sangat cantik di bawah sinar matahari pagi, namun di matanya ada kekosongan yang sangat dalam. Ia tersenyum tipis, sebuah senyuman yang membuat Darsono merasa seolah-olah sedang menatap maut secara langsung.

"Ampun?" tanya Ratri dengan nada heran yang dibuat-buat. "Kenapa kamu minta ampun padaku? Bukankah itu kecelakaan maut? Bukankah itu takdir Tuhan? Aku hanya duduk di sini sambil menikmati tehku, Mas Dar."

Ratri bangkit dan berjalan mendekati Darsono yang masih bersujud. Ia membungkuk sedikit, membisikkan sesuatu tepat di telinga Darsono.

"Sampaikan pada Eko, kehilangan kaki dan tangan hanyalah awal. Dia masih punya mata untuk melihat bagaimana aku menghancurkan segalanya, dan dia masih punya telinga untuk mendengar tangisan anak 'anjingnya' itu setiap malam. Itu adalah hadiah dariku untuk sepupu kesayangan Bayu."

Darsono hanya bisa gemetar, ia menyadari bahwa kedatangannya ke sini bukan untuk membawa kedamaian, melainkan justru untuk mengonfirmasi bahwa neraka baru saja dimulai bagi keluarganya. Ratri tidak akan pernah berhenti sampai semua hutang darah itu lunas, termasuk darah yang mengalir di nadi mereka yang mengaku sebagai "keluarga".

1
Zainuri Zaira
rt gila bukanx mrngayomi masyarakat tp mlh buat orng sensara
Sita Ning Nong
ceritanya mudah di pahami, runtut, menarik...
Halwah 4g: terimakasih kka
total 1 replies
Lis Lis
huuu uuuuu uuuu perasaan Q ko pendek bngt yaaaa😭😭😭😭
Sulas Lis
lajuuuuutttt kaaaaa
Mersy Loni
lanjut thor
FiaNasa
bukannya jadi panutan yg baik malah bobrok RT nya
Lis Lis
masih nyebut di detik detik terakhir
FiaNasa
habiskan sja orang² yg sudah memperkosamu Ratri
FiaNasa
hiiiiiiii....sampai separah itu si Karno akibat perbuatannya dulu
Lis Lis
yaaaaa blm Up 😭😭😭😭
Lis Lis
sukurlah .....
kirain istrinya yg di bacok
Siti H✍️⃞⃟𝑹𝑨
ceritanya udah bagus, Thor. tapi alangkah lebih baiknya, kalau cerita ini di cari tau asal usul Suanggi itu darimana, lalu dibuat lokasinya ditempat asal Suanggi, dari wilayah Timur Indonesia, sesuai adat budayanya pasti lebih ngena.

dan jangan lupa, perdalam literasi, hantu Suanggi itu apa, dan untuk apa.
Siti H✍️⃞⃟𝑹𝑨: iya. satu lagi. Suanggi itu hanya ada di seputaran Sulawesi. asalnya asli dari Pulau Suanggi. gak ada di Pulau manapun.

dia bukan susuk, tapi ilmu hitam yang diturunkan melalui warisan keluarga.

suanggi gak pernah muncul memangsa korbannya dalam wujud manusia, tetapi sudah berubah bentuk menjadi makhluk yang diinginkannya saat memakan mangsanya.

ibarat Kuyang, adanya cuma di Kalimantan, begitu juga Suanggi, adanya ahanya di Wilayah Timur Indonesia, di Pulau Suanggi, Pulau Sulawesi, Pulau Papua, dan sekitarnya.

jadi kalau di buat versi Jawa gak ngena dianya.
total 2 replies
Mersy Loni
lanjut thor
Bp. Juenk
mampir di karya saya Thor "Siapa Aku"
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Hmm ..... sepertinya Pakk RT salah satu pelaku yang menganiaya Ratri 🤔

kalau benar demikian, siap siap aja Pakk RT jadi korban Ratri seperti Pakk Karno
Skay Skayzz
ngeri bngtt
Rembulan menangis
blm juga up ya best uda nunggu dri kmarin
Bp. Juenk
Hutan weling itu dimana ka
Halwah 4g: ada d ujung hutan ,Bwah bukit, di lembah 🤭
total 1 replies
Bp. Juenk
Ampun
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!