NovelToon NovelToon
THE ARCHIVIST

THE ARCHIVIST

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Spiritual / Time Travel
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: NP (Naika Permata)

Dimas dan Sarah kini dikenal sebagai pasangan akademisi selebriti. Sarah dengan buku best seller-nya, dan Dimas sebagai profesor muda yang brilian. Namun, itu hanya kedok. Di balik layar, mereka bekerja sebagai Konsultan Khusus untuk Badan Perlindungan Cagar Budaya & Aset Negara (BPCBAN). Tugas mereka: Melacak, mengamankan, dan menyegel artefak-artefak supranatural berbahaya yang diperjualbelikan di pasar gelap Internasional (Black Market). Musuh mereka bukan lagi dukun santet, melainkan Sindikat Kolektor Internasional yang didanai oleh miliarder asing yang ingin menguasai kekuatan mistis Nusantara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NP (Naika Permata), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Titik Didih & Rajah Titanium

Lokasi: Fasilitas Riset Bawah Tanah BPCBAN, Jakarta.

Waktu: 72 Jam Sebelum Ekspedisi Laut Banda.

Flashback

Suara dengungan mesin pemotong laser (laser engraver) memenuhi laboratorium kedap suara yang terang benderang itu. Ruangan ini tidak lagi berbau dupa atau kemenyan, melainkan beraroma ozon, pelumas mesin, dan kopi hitam yang sudah dingin.

Di tengah ruangan, sebuah kapsul kapal selam laut dalam berbentuk bola titanium—yang kelak akan diberi nama Baruna-01—sedang dirakit oleh lengan-lengan robotik.

Sarah berdiri di atas scaffolding (perancah) disamping lambung kapal selam itu. Ia mengenakan kacamata pelindung las dan coverall (baju bengkel) anti-statis. Tangannya memegang sebuah alat ukir laser portabel bertenaga tinggi.

Alih-alih mengukir nomor seri pabrik, Sarah sedang mengukir Rajah Tolak Bala Majapahit—yang desainnya ia salin langsung dari perkamen kuno milik Dimas—ke seluruh permukaan lambung luar titanium setebal 15 sentimeter tersebut.

“Garis lengkung di aksara Nga ini harus presisi sampai skala milimeter,” gumam Sarah pada dirinya sendiri, menyeka keringat di dahinya dengan punggung tangan. “Kalau meleset sedikit, resonansi spiritualnya waktu kena air garam bakal korslet.”

Di sudut laboratorium, Dimas sedang duduk di atas matras fisioterapi.

Enam bulan telah berlalu sejak insiden di atap Menara Manggala, namun bayarannya masih tertinggal di tubuhnya. Lengan kanan Dimas yang dulu digunakan untuk menembus mesin Lemuria kini dipenuhi jaringan parut (keloid) tebal yang bentuknya menyerupai ranting pohon atau kilatan petir—sebuah fenomena medis yang disebut Lichtenberg figure, namun dengan warna kehitaman yang tidak wajar.

Dimas sedang meremas sebuah bola karet terapi. Satu… dua… tiga… Wajahnya mengernyit menahan ngilu yang menusuk hingga ke sumsum tulang setiap kali ototnya berkontraksi.

Pintu laboratorium terbuka berdesis. Arya Baskara masuk membawa sebuah koper perak dan dua map tebal berlogo ‘SANGAT RAHASIA’.

“Gue perhatiin, makin lama markas kita makin mirip bengkel modifikasi Iron Man versi dukun,” sapa Arya santai, meletakkan map itu di atas meja logam.

Arya menatap lengan Dimas. “Masih ngilu, Dim?”

Dimas melepaskan bola karetnya, memutar bahunya pelan. “Cuma kayak terasa ditusuk paku payung karatan tiap kali gua napas, Mas. Tapi secara fungsional, udah bisa buat pegang keris lagi.”

“Bagus. Karena di Palung Weber, lo bakal butuh lebih dari sekedar keris,” Arya membuka koper perak yang ia bawa.

Di dalamnya, terdapat dua buah sarung tangan mekanis (exoglove) berwarna hitam matte, terbuat dari paduan tungsten dan serat karbon.

Sarah mematikan lasernya, menurunkan kacamata pelindungnya, lalu turun dari perancah untuk bergabung dengan mereka. Matanya langsung berbinar melihat sarung tangan itu.

“Ini Prototipe Pressure-Resistant Gauntlet yang aku minta ke divisi R&D?” Tanya Sarah antusias.

“Iya. Tahan tekanan sampai 800 atmosfer,” jelas Arya. “Tapi bagian pentingnya bukan besinya, Sar. Liat bagian telapak tangannya.”

Dimas dan Sarah mengamati bagian telapak tangan sarung itu. Di sana, tertanam sebuah batu kristal hijau (Giok kualitas tertinggi) yang dipotong pipih, dikelilingi oleh sirkuit tembaga mikroskopsis.

“Air laut… apalagi laut dalam… adalah isolator energi spiritual paling mematikan,” terang Arya, nada suaranya berubah serius seperti seorang komandan perang. “Air garam menetralisir klenik. Di kedalaman tujuh ribu meter, lo nggak bisa ngebakar kemenyan. Lo nggak bisa ngerapal mantra pakai suara karena suhunya beku dan udaranya dikompresi. Tenaga dalam lo bakal mampet ditekan miliaran ton air laut.”

Arya menatap Dimas tajam.

“Makanya, keris lo nggak bakal banyak berguna di luar kapal selam. Sebagai gantinya, divisi riset ngebangun Gauntlet ini. Giok ini udah diisi daya spiritual murni di Gunung Kawi selama tiga bulan berturut-turut. Kalau lo harus bertarung fisik di dasar laut, lo pakai sarung tangan ini. Sekali tonjok, energi di dalam giok ini bakal meledak keluar lewat sirkuit tembaga, nge-bypass air garam di sekitarnya.”

Dimas mengambil sarung tangan kanan itu. Ia memasukkannya ke tangannya yang penuh luka parut. Terdengar bunyi klik saat mekanisme hidrolik sarung tangan itu mengunci pergelangan tangannya. Bebannya lumayan berat, tetapi terasa sangat solid.

Dimas mengepalkan tangannya. Sebuah pendaran cahaya hijau redup menyala dari sela-sela buku jari logam tersebut.

“Jadi, aku secara harfiah bakal mukul hantu purba pakai kepalan besi berlapis doa?” Dimas tersenyum miring. “Aku suka gaya Divisi R&D sekarang.”

“Jangan senang dulu, Profesor,” Sarah mengambil map dari meja dan membukanya. Itu adalah profil geologi dan anomali sonar dari Palung Weber. “Mas Arya benar. Lingkungannya adalah musuh utama kita.”

Sarah menunjuk sebuah grafik kedalaman.

“Di darat, kita punya udara buat lari. Di dalam air, mobilitas kita turun 90%. Kalau lambung Baruna-01 retak sekecil helai rambut saja di kedalaman 7.000 meter… tekanan air bakal masuk dan menghancurkan tubuh kita jadi cairan merah dalam waktu kurang dari 0,1 detik. Kita nggak akan sempat merasakan sakit, apalagi merapal mantra.”

Dimas menatap istrinya. Ia bisa melihat kantung mata hitam di wajah Sarah. Selama enam bulan ini, Sarah nyaris tidak tidur nyenyak. Ia menghabiskan setiap detiknya untuk memastikan kapal selam Baruna-01 dan pakaian selam mekanis mereka sempurna tanpa cacat. Ketakutan Sarah bukanlah monster purba, melainkan kegagalan teknis yang bisa merenggut nyawa Dimas di tempat di mana ia tidak bisa menyelamatkannya.

Dimas melangkah maju, meletakkan tangan kirinya yang bebas dari besi ke bahu Sarah.

“Sar,” panggil Dimas lembut, meredakan ketegangan mekanis di ruangan itu. “Kamu udah ngerancang kapal ini dengan presisi tingkat dewa. Kamu yang ngukir setiap inci rajah tolak bala di lambungnya. Kalau ada tempat paling aman dari murka Sang Penenun, itu adalah di dalam kapsul yang kamu bikin.”

Sarah menatap Dimas, lalu menghela napas panjang, membiarkan rasa cemasnya sedikit mencair. Ia menyandarkan kepalanya sejenak ke dada suaminya.

“Aku cuma ngga mau kita mati konyol jadi makanan ikan anglerfish sebelum sempat ketemu musuh utamanya, Dim,” gumam Sarah pelan.

Arya berdehem keras, merusak momen romantis tersebut.

“Oke, drama rumah tangganya disimpan buat nanti,” potong Arya sambil melihat jam tangannya. “Truk kontainer dari pelabuhan udah nunggu di atas buat ngangkut Baruna-01 ke kapal RV Nusantara. Kalian berdua punya waktu 48 jam buat istirahat total, packing barang pribadi, dan pamitan sama matahari. Karena di bawah sana… cuma ada kegelapan abadi.”

Arya berjalan menuju pintu keluar, namun berhenti sejenak dan menoleh tanpa membalikkan badan.

“Gua dan Kirana bakal standby di pusat Komando Jakarta biar mantau telemetri kalian. Jangan mati di bawah sana, Nerd. Gue malas harus nyelam sejauh itu cuma buat ngambil jasad kalian.”

Pintu berdesis menutup.

Dimas dan Sarah kembali berduaan di laboratorium yang kini terasa jauh lebih dingin. Mereka menatap kapal selam titanium berbentuk bola itu. Mesin itu bukan sekedar kendaraan; ia adalah pelindung mereka, paru-paru mereka, dan mungkin… peti mati mereka.

“Ayo kita selesaikan ukiran rajah terakhir ini, Sar,” kata Dimas, mengambil alat lukis laser dari meja. “Lalu kita pulang dan tidur siang.”

Tiga hari kemudian, mereka berdiri di geladak RV Nusantara di bawah terik matahari Laut Banda, bersiap diturunkan ke dalam Palung Weber.

1
Felycia R. Fernandez
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
NP
Agak berat petualangan Dimas dan Sarah nih, kak. Maklum sama sama ilmuwan..
Felycia R. Fernandez
Petualangan baru dimulai...
NP
Iya betul yg dulu di rempah sang waktu,
Felycia R. Fernandez
Arya ini yang jadi raja dulu kan?
Felycia R. Fernandez
😅😅😅😅😅
Felycia R. Fernandez
lah,Sarah malah kenak
Felycia R. Fernandez
🤣
NP
Suami istri yang suka berpetualang menghadapi hal hal mistis
Felycia R. Fernandez
😆😆😆😆😆
Felycia R. Fernandez
ya ampun,luar biasa suami istri ini
Felycia R. Fernandez
kok ngeri ya 😳
Felycia R. Fernandez
wow 😳
Akbar Aulia
kurang.....kurang......kurang.....kurang banyak thor upnya
Felycia R. Fernandez
pernah denger,tapi blom tau gimana kota nya kk...😆😆😆
NP
Makasih ya Kak, Nusantara Üniverse menanti selanjutnya 🤣
Akbar Aulia
,iya kak ,ceritanya seru
Akbar Aulia
nanti kalo sampai kabari aku ya, semoga tidak ada halangan
Akbar Aulia
terimakasih thor sudah membuat cerita yg bagus sekali, semangat terus👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!