NovelToon NovelToon
The Heiress'S Scents

The Heiress'S Scents

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Identitas Tersembunyi / Cintapertama
Popularitas:7.7k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Di balik kemegahan High School Los Angeles, Issabelle Reichenbach menyembunyikan identitasnya sebagai pewaris tunggal klan mafia legendaris.

Demi bertahan hidup, ia menyamar sebagai murid beasiswa miskin yang patuh, sembari menahan penderitaan tinggal bersama ibu kandungnya yang lemah dan ayah tiri yang kasar.

Namun, penyamaran sempurna Issabelle terancam hancur saat ia berhadapan dengan Navarro Von-Riccardo, penguasa sekolah sekaligus pewaris tunggal terkuat di Pantai Barat.

Navarro menyimpan rahasia kelam klan Von-Riccardo: sebuah genetika yang membuatnya kehilangan indra penciuman sejak lahir.

Secara mengejutkan, aroma tubuh dingin menyerupai mawar es milik Issabelle menjadi satu-satunya wewangian yang bisa dicium oleh Navarro setelah 16 tahun hidupnya.

Terpikat oleh takdir yang tak terelakkan, Navarro mulai terobsesi untuk menguak topeng misterius gadis beasiswa tersebut, memicu perang insting yang mematikan di antara dua predator puncak.


Happy reading 🌷

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#23

[🚧 AREA DEWASA ONLY 🚧]

Jarum jam dinding di ruang tamu penthouse telah menunjukkan tepat pukul 02.00 pagi. Musik techno-remix yang tadinya berdentum keras kini telah mati, menyisakan kesunyian yang dingin dan hampa.

Teman-teman Navarro—Skylar, Grey, George, dan yang lainnya—telah pulang ke unit mereka masing-masing beberapa menit yang lalu, meninggalkan kekacauan berupa beberapa botol whiskey dan vodka mahal yang isinya telah terkuras habis.

Navarro berdiri sendirian di dekat meja kaca, menenggak sisa sisa cairan amber dari botol terakhir langsung dari bibir botolnya.

Rasa hangat alkohol membakar tenggorokannya, namun tidak mampu membakar habis bayangan wajah Issabelle yang terus berputar di kepalanya.

Sambil mengusap bibirnya, Navarro memutar tubuh tegapnya, berniat melangkah menuju kamar tidur pribadinya untuk mengistirahatkan tubuhnya yang mulai kelelahan.

TING-TONG!

Bunyi bel apartemen yang nyaring mendadak memecah keheningan malam, menggema di seluruh penjuru ruangan luas tersebut.

Navarro menghentikan langkahnya seketika. Keningnya mengernyit dalam.

"Siapa yang bertamu di jam dua pagi seperti ini?" batinnya, rasa kantuknya menguap digantikan oleh insting waspada yang langsung menegang.

Ia melangkah dengan langkah lebar namun tanpa suara menuju pintu utama.

Navarro tidak langsung membuka pintu besi tebal berkunci digital tersebut.

Ia mendekatkan wajahnya pada layar interkom monitor yang terhubung dengan kamera pengawas di koridor luar.

Namun, alih-alih melihat wajah utuh sang tamu, layar monitor itu justru menampilkan sebuah pemandangan yang aneh.

Kamera interkom hanya menangkap sebuah jari tengah yang diacungkan dengan angkuh tepat di depan lensa.

Wajah sang pemilik tangan sengaja disembunyikan di bawah bayangan tudung jaket atau sudut buta kamera.

Tidak ada wajah di sana.

Namun, bentuk tangan wanita yang ramping dengan jemari lentik namun kokoh itu adalah sebuah jawaban yang instan bagi memori visual Navarro.

Melihat jari tengah tersebut, darah Navarro mendadak mendidih oleh rasa jengkel.

Otaknya langsung menyusun sebuah kesimpulan sepihak.

Wah, brengsek si George, umpat Navarro dalam hati.

Ia mengira itu adalah salah satu wanita simpanan atau pacar George yang salah alamat atau sengaja diberikan alamat penthouse-nya oleh bajingan itu setelah mereka berpesta tadi.

"Aku akan memarahinya habis-habisan dan mengatakan kalau George sudah tidak ada di sini," desisnya kesal.

Navarro memutar kunci mekanis, lalu menarik pintu apartemennya terbuka dengan sentakan kasar, siap untuk menyemburkan makian pada wanita mana pun yang berani mengganggu waktu istirahatnya.

Namun, sial bagi Navarro.

Tepat setelah celah pintu itu terbuka sempurna, sebuah pergerakan secepat kilat melesat masuk memotong udara malam.

Navarro tidak sempat membangun posisi bertahan ketika sebuah kepalan tangan kecil namun sekeras batu menghantam rahang kiri bawahnya dengan presisi militer yang mematikan.

BUKK! BUKK!

Dua bogeman mentah berturut-turut mendarat telak di rahang kirinya, menciptakan bunyi benturan tulang yang solid.

Kekuatan pukulan itu begitu masif hingga membuat tubuh tegap Navarro terhuyung mundur dua langkah ke dalam ruang tamu, kepalanya berputar sekilas oleh rasa terkejut yang luar biasa.

Navarro menggeram, menekan rahangnya yang berdenyut nyeri dengan telapak tangan, lalu mendongak dengan mata berkilat marah.

Namun, amarahnya membeku seketika saat melihat siluet yang kini berdiri di ambang pintu dengan napas memburu dan ransel taktis hitam yang tersandang di bahunya.

Itu Issabelle.

Gadis mawar es itu berdiri tegak, mengepalkan tinjunya yang baru saja digunakan untuk menghajar sang Tuan Muda Riccardo.

Matanya yang abu-abu menatap Navarro dengan kombinasi rasa muak dan keangkuhan yang dingin.

Kedatangannya ke sini untuk berpamitan ternyata sengaja diawali dengan sebuah serangan fisik sebagai pembalasan atas seluruh perlakuan lancang Navarro sebelumnya.

"Pukulan itu sangat cocok untukmu, karena kamu telah bertindak kasar padaku dia hari ini," ucap Issabelle, suaranya terdengar sangat datar, kaku, dan sedingin es Frankfurt.

Ia mengibaskan tangannya yang sedikit memerah akibat hantaman tadi.

"Kau telah lancang menciumku di dispenser dan di mobil tadi, Navarro. Dan itu... adalah pukulan perpisahan kita."

Navarro menatap lekat-lekat ke dalam sepasang manik mata abu-abu Issabelle.

Rasa sakit di rahangnya mendadak tidak lagi penting dibandingkan dengan satu kata yang baru saja diucapkan gadis itu.

"Perpisahan?" beo Navarro, suaranya merendah, berat oleh rasa tidak percaya. Ia melangkah maju satu tapak, mengabaikan jarak taktis yang coba dipertahankan Issabelle.

"Kau akan kemana, Mine?"

Issabelle menyunggingkan senyuman sinis yang penuh kemenangan, mengangkat dagunya dengan angkuh.

"Aku akan kembali ke Jerman malam ini juga, Riccardo. Evakuasiku sudah aktif. Aku sudah tidak perlu lagi mengikuti kegilaanmu soal kontrak ciuman setiap hari atau ancaman murahanmu tentang rahasia identitasku."

Navarro mengernyitkan alisnya, matanya menyipit penuh selidik.

"Kembali? Bagaimana bisa? Bukankah beberapa menit lalu di mobil kau menangis karena mendengarkan kabar bahwa Daddy-mu sedang kritis di Frankfurt?"

Issabelle mendengus remeh, melipat kedua tangannya di depan dada.

"Itu adalah kode rahasia, Bajingan. Sinyal 'Daddy kritis' dan 'perlindungan Riccardo' yang dikatakan Martha tadi hanyalah taktik sirkuit untuk mengepung sisa pemberontak. Kepercayaan ayahku baru saja menghubungiku kembali dan menyuruhku untuk pulang. Situasi di Frankfurt sudah sepenuhnya aman dalam kendali klan Dark Dubois. Dan Daddy-ku sendiri yang memintaku untuk kembali malam ini."

Mendengar penjelasan yang terdengar begitu rapi dan instan itu, dahi Navarro semakin berkerut dalam.

Kenapa ganjal sekali? batin Navarro, instingnya mendeteksi ada sesuatu yang tidak sinkron dari narasi pelarian kilat ini.

Bagaimana mungkin sebuah klan yang Dirumorkan hancur bisa pulih total hanya dalam hitungan jam?

Namun, melihat koper dan ransel yang dibawa Issabelle, Navarro tahu bahwa rencana kepergian gadis ini adalah sebuah kenyataan yang tidak bisa ia cegat dengan kekuatan hukum di Los angeles.

Gadis ini benar-benar akan pergi dari jangkauan pandangannya malam ini juga.

Rasa takut kehilangan yang asing mendadak mencengkeram dada Navarro, mengalahkan ego klan Von-riccardo dalam dirinya.

Ia melangkah maju hingga jarak di antara mereka terkikis habis, menatap Issabelle dengan tatapan mata yang dipenuhi oleh kegilaan posesif yang kini bercampur dengan keputusasaan yang nyata.

"Kalau begitu, jangan lupakan aku, Mine," ucap Navarro, suaranya bergetar rendah, sarat akan penekanan yang mengikat.

"Aku tidak peduli seberapa jauh kau berlari ke Eropa, aku pastikan aku akan menyusulmu ke Jerman tepat saat usiaku sudah menginjak delapan belas tahun. Kau tidak boleh melupakan namaku, Issabelle."

Issabelle menatap wajah tampan di depannya dengan tatapan menantang, mencoba membangun benteng pertahanan terakhirnya.

"Aku akan melupakanmu dalam hitungan detik setelah aku meninggalkan kota ini, Brengsek!" jawab Issabelle tajam.

Namun, Navarro tidak memberikan celah bagi penolakan itu.

Detik berikutnya, ia mendekatkan dirinya, mengikis sisa udara di antara tubuh mereka.

Tangan kekarnya bergerak naik, menyusup ke belakang leher Issabelle, menarik tengkuk gadis itu dengan gerakan yang sangat pelan dan lembut—sebuah gestur yang tidak lagi memaksa, melainkan seakan meminta sebuah persetujuan mutlak untuk sebuah ciuman terakhir.

Issabelle tertegun.

Menatap mata gelap Navarro yang kini tampak sayu dan penuh luka, benteng pertahanan es di dalam dirinya perlahan luluh.

Entah karena lelah berbohong atau karena sisa rasa hangat yang ditinggalkan pria ini di mobil tadi, Issabelle perlahan mengangguk kecil.

Dan ciuman itu terjadi.

Bukan sebuah lumatan kasar penuh dominasi seperti sebelumnya, melainkan sebuah tautan bibir yang begitu dalam, intens, dan sarat akan keputusasaan dari dua manusia yang tahu bahwa mereka akan berpisah untuk waktu yang sangat lama.

Navarro meraup bibir lembut Issabelle dengan ritme yang lambat namun menuntut, menghisap sisa napas gadis itu seolah-olah tidak ada lagi hari esok bagi mereka.

Issabelle bisa merasakan detak jantung Navarro yang berpacu liar di balik dada bidangnya, memicu rasa sakit yang aneh di dalam dadanya sendiri.

Bibirku pasti akan membengkak setelah ini, batin Issabelle di sela-sela lumatan, namun ia tidak lagi peduli.

Navarro menarik kepalanya beberapa mili, napasnya yang memburu pendek menerpa bibir basah Issabelle.

"Apa boleh... jatah ciuman untukku selama dua tahun ke depan kuminta semuanya sekarang, Mine?" bisik Navarro dengan suara serak yang sangat seksi.

Issabelle menatap mata gelap itu, dan entah mengapa, ketidakwarasan pria Riccardo ini mendadak menular sepenuhnya ke dalam sistem sarafnya.

Jiwa yang biasanya rasional kini lumpuh total oleh magnet kegilaan Navarro.

Issabelle mengangguk. "Ambil semuanya, Bajingan," bisiknya pasrah.

Detik itu juga, Issabelle membalas ciuman Navarro dengan intensitas yang tak kalah menggebu-gebu.

Ia mengalunkan kedua tangan rampingnya pada leher kokoh Navarro, menarik pria itu semakin dalam ke dalam pusaran gairahnya.

Di sela-sela lumatan yang semakin panas dan basah itu, Navarro tanpa sadar menitikkan setetes air mata murni yang jatuh melewati pipinya.

Wangi mawar es ini, ciuman candu ini, ia tahu ia tidak akan bisa mendapatkannya lagi dari wanita mana pun di belahan bumi ini setelah malam ini berlalu.

Mendapatkan balasan yang begitu pasrah dan menggebu-gebu dari sang mawar es, kendali diri Navarro runtuh seutuhnya.

Tanpa melepaskan tautan bibir mereka, tangan kekar Navarro bergerak turun ke bawah pinggul Issabelle, lalu mengangkat tubuh ramping gadis itu ke atas seperti posisi koala.

Issabelle memekik tertahan di dalam ciuman mereka, refleks melingkarkan kedua kaki jenjangnya pada pinggang kokoh Navarro.

Sambil terus melumat bibir Issabelle dengan posesif, Navarro melangkah mundur ke dalam apartemen, menendang pintu besi utama hingga tertutup dengan bunyi BLAM! yang keras, mengabaikan ransel taktis dan koper milik Issabelle yang kini tergeletak malang di koridor luar.

Ciuman itu tidak lagi berhenti di bibir.

Navarro membawa tubuh Issabelle dalam gendongannya melintasi ruang tengah menuju kamar tidur utama yang remang-remang.

Begitu mereka melewati ambang pintu kamar, Navarro menurunkan tubuh Issabelle secara perlahan namun tetap menguncinya di antara dinding dan tubuh bidangnya.

Pria itu mengalihkan fokus lumatannya turun ke bawah rahang, lalu dengan berani meninggalkan beberapa bekas kemerahan yang kontras di atas kulit leher Issabelle yang putih pucat.

Navarro menghirup wangi tubuh Issabelle sebanyak-banyaknya, seolah ingin merekam aroma candu itu ke dalam paru-parunya agar tidak hilang selama dua tahun ke depan.

"Ah... Nav-navarro..." lenguhan pertama lolos dari bibir Issabelle saat gigi tajam Navarro menggigit kecil kulit selangkangan lehernya, menciptakan sensasi sengatan listrik yang membakar sistem sarafnya.

Mereka berdua tidak ada yang berniat melepaskan diri.

Keduanya telah terlanjur terbuai oleh kata perpisahan yang tragis dan janji pertemuan kembali di usia delapan belas tahun yang terasa begitu jauh.

Di dalam kegelapan kamar yang hanya disoroti oleh sisa lampu kota dari balik jendela kaca, gairah murni dan rasa takut kehilangan bermutasi menjadi badai yang meruntuhkan sisa-sisa logika.

Issabelle bahkan tidak sadar kapan dan bagaimana pakaiannya telah terlepas dari tubuhnya.

Ketika punggungnya menyentuh permukaan ranjang mewah King Size milik Navarro yang luar biasa empuk, ia baru menyadari bahwa dirinya telah berada dalam kondisi telanjang bulat, tidak menyisakan selembar benang pun di atas tubuhnya.

Gila... ini benar-benar gila, jerit batin Issabelle yang sempat berputar sesaat.

Niat awalnya datang ke sini adalah untuk memberikan pukulan telak sebagai tanda perpisahan fisik, namun kenapa sekarang semuanya justru berakhir menjadi sebuah penyerahan telak dari seluruh jiwa dan tubuhnya?

Ia telah benar-benar kehilangan akal sehatnya di bawah kendali seorang Von-riccardo.

Navarro merangkak naik ke atas ranjang, memposisikan tubuh besarnya di antara kedua paha jenjang Issabelle yang terbuka pasrah.

Semua benar-benar terbuai oleh ilusi bahwa tidak ada hari esok untuk mereka.

Desahan pendek dan lenguhan halus Issabelle kembali keluar memenuhi keheningan kamar saat jemari hangat Navarro mulai menjelajahi lekuk tubuhnya dengan sentuhan-sentuhan yang membakar.

Mendengar suara-suara itu, Navarro merasa dirinya benar-benar ingin gila saat itu juga.

Untuk pertama kalinya sepanjang hidupnya yang dingin, ia mendengar secara langsung desahan dan lenguhan murni dari seorang wanita nyata yang berada di bawah kungkungannya—bukan dari tontonan film dewasa 18+ yang biasa ia tonton bersama Skylar, George dan Grey di markas karena rasa penasaran remaja yang tinggi.

Mendengar suara erangan Issabelle yang memanggil namanya tepat di samping telinganya, ditambah dengan remasan kuat jemari ramping Issabelle pada rambut hitamnya yang kini telah acak-acakan, membuat Navarro tidak lagi bisa menahan gelombang berahi yang meledak dari dalam dirinya.

Navarro bergerak mundur sekilas, lalu dengan gerakan cepat ia membuka kemeja dan seluruh pakaiannya sendiri hingga tidak menyisakan apa pun, menampilkan tubuh atletisnya yang dipenuhi otot padat yang berurat.

Di bawah remang cahaya, leher Navarro juga telah dipenuhi oleh tanda kemerahan tak kalah merah dengan leher milik Issabelle akibat cakaran dan gigitan balas dendam gadis itu sebelumnya.

"Ahh... sudah... kumohon hentikan itu, Navarro..." rintih Issabelle, tubuhnya melengkung tipis saat sentuhan Navarro di bawah sana semakin menuntut dan intim, membuatnya berada di ambang batas kesadaran.

"Tidak, Mine... kau milikku malam ini. Seluruhnya adalah milikku," jawab Navarro dengan suara bariton yang sangat serak, mengunci kedua tangan Issabelle di atas kepala dengan satu genggaman tangannya.

Beberapa menit berlalu dalam penyatuan pemanasan yang intens hingga tubuh Issabelle tampak lemas, berkeringat, dan tidak lagi memiliki daya untuk melawan.

PNavarro mengatur napasnya yang memburu kasar, menatap wajah cantik Issabelle yang kini tampak merona merah dengan mata sayu yang setengah terbuka.

Navarro memposisikan dirinya dengan tepat di atas inti tubuh Issabelle.

"Mine... Boleh kita mulai?" bisik Navarro, memberikan sebuah pertanyaan formalitas di antara napasnya yang panas.

DEG.

Pertanyaan itu seketika memicu sisa-sisa kesadaran taktis di dalam otak Issabelle.

Ia mendongak, menatap ke bawah dan menyadari posisi Navarro yang sudah bersiap sepenuhnya dengan bagian diri pria itu yang menegang lurus tepat di depan miliknya.

Ukuran dan ketegangan itu seketika memicu rasa takut yang nyata di dalam diri Issabelle yang masih perawan.

"Oh, tidak... Kau gila?!" pekik Issabelle, matanya membelalak lebar dengan tubuh yang mendadak menegang kaku.

"Kau ingin membunuhku, Navarro?! Sialan, itu terlalu... tidak!"

Navarro terdiam sejenak, menahan pergerakan tubuhnya yang sudah berada di ujung tanduk.

Ia menatap Issabelle dengan tatapan memohon yang sangat dalam.

"Tidak... aku tidak akan membunuhmu, Mine. Aku akan melakukannya dengan sangat pelan... kumohon jangan bergerak," bisik Navarro, suaranya bergetar menahan pelepasan yang menyiksa.

"Tidak, tidak! Aku tidak akan melakukannya bersamamu, Sialan!" gertak Issabelle, kepanikannya memuncak saat menyadari realitas fisik di depan matanya.

"Aku tidak menyangka ini akan... senyata ini! Aku akan pergi, demi apa pun ini gila!"

Issabelle berusaha menggeser tubuhnya mundur, mencoba meraih ujung selimut sutra abu-abu di sampingnya untuk menutupi tubuh telanjangnya dari pandangan Navarro.

Namun, sebelum ia sempat melarikan diri, Navarro menahan kedua pinggulnya dengan cengkeraman yang kokoh namun lembut.

Pria itu menundukkan kepalanya, menempelkan dahinya pada dahi Issabelle yang berkeringat, lalu berkata dengan nada suara yang sangat lirih, penuh ketulusan yang meruntuhkan.

"Aku akan pelan... sungguh. Percayalah padaku, Issabelle..." bisik Navarro, matanya menatap tepat ke dalam manik mata abu-abu gadis itu, menyalurkan rasa aman yang mutlak.

Issabelle terdiam kaku.

Di bawah tatapan mata yang begitu rapuh namun protektif itu, seluruh argumen penolakannya mendadak menguap.

Kenapa... kenapa bisa-bisanya aku melakukan hal sejauh ini pada pria Riccardo ini? batinnya pasrah, menyadari bahwa hatinya telah kalah total sebelum helikopter penjemputannya tiba.

Sebelum Issabelle sempat memberikan jawaban verbal, ia bisa merasakan bagaimana Navarro mulai berusaha.

Pria itu memberikan sentuhan-sentuhan penenang di bawah sana, memijat lembut pinggulnya agar otot-ototnya kembali rileks, menggiringnya kembali ke dalam gelombang gairah yang sempat terputus.

Hingga tepat pada satu titik yang pas, Navarro mendorong tubuhnya maju dengan satu tekanan yang mantap dan tegas.

JLEB.

Navarro berhasil melakukannya. Penyatuan itu terjadi secara utuh.

"AHH!" Issabelle memekik keras, matanya terpejam rapat saat rasa sakit yang tajam dan panas seketika, menandai kepemilikan mutlak seorang Riccardo atas dirinya.

Air mata murni kembali menetes di sudut matanya, bukan karena sedih, melainkan karena intensitas rasa sakit dan kenikmatan yang bercampur aduk menjadi satu.

Issabelle mencengkeram bahu berotot Navarro dengan kuku-kukunya yang tajam, menancapkannya hingga meninggalkan bekas goresan baru.

Dengan napas yang terengah-engah di atas dada pria itu, ia berbisik dengan nada mengancam yang parau namun sarat akan penyerahan mutlak:

"Ah... Sialan... aku benar-benar akan membunuhmu setelah ini, Brengsek..."

1
Game Semut
semoga happy ending issabele dan navvaro serta putri nya Cassandra
Ros 🌷🦋: author suka yang happy ending kak🤭😅
total 1 replies
Game Semut
ini cerita gmna ending nya nih thor kasian bngt kisah percintaan asmara antara issabele dan Navarro...semoga bs bersatu.
Ros 🌷🦋: author buat ending nya happy 🥰🤭
total 1 replies
Mia Camelia
aduh isabel kok keras kepala banget sih mpe membenci navaro😔😔😔
gak adil nih klo navaro dan isabel trz salah paham mulu😔
ayolah thor bikin mereka baikan lagi😂😂😂
Ros 🌷🦋: masih lanjut ya kak reader🥰😅
total 3 replies
Game Semut
kaciaaan bngt navvaro
Ros 🌷🦋: huhuhu🥲
total 1 replies
Mia Camelia
semoga isabel cepet muncul lgi thor, kasian navaro jadi patung es bgtu🤣
Ros 🌷🦋: dicairin sama kak reader 🤭🤣🤣
total 1 replies
Mia Camelia
yah kasiah issa ternyata di jebak doang suruh pulang ke jerman😂😂😂😂😂
Ros 🌷🦋: huhuhu😅🤭
total 1 replies
BONBON
aku tunggu kak, 22nya setara dan gk jomplang. bukan kisah Cinderella, mafia x gadis yg dijual oleh keluarganya blabla. 🤣🤣🤭
Ros 🌷🦋: hihi ma'aciww kak atas dukungannya 🫶🥰
total 1 replies
Angela Ghunu
karya kakak bagus skli, semoga semakin maju dan karya " kk makin bnyk🥰🥰
Ros 🌷🦋: Ma'aciww banyak kak🫶🥰
total 1 replies
Mita Paramita
navaro mati rasa sama perempuan 🤨 nunggu Isabella kembali.
Ros 🌷🦋: iyaaa kek nya 😅🤭
total 1 replies
Shusy Bharel
lanjut tho😍😍
Ros 🌷🦋: siap kak🥰
total 1 replies
Mita Paramita
see you again navaro 😘😘😘
Ros 🌷🦋: see you kak reader 🥰
total 1 replies
Mita Paramita
Isabella pecah perawan nya sama navaro 🤣🤣🤣
Ros 🌷🦋: aku malah ngakak loh kak reader 🤭🤣
total 1 replies
Mia Camelia
akhir nya 🥰🥰🥰
Ros 🌷🦋: wkwkw🤭
total 1 replies
Mia Camelia
yah masa baru bucin udah perpisahan aja thor🤣😂😂😂
Ros 🌷🦋: Berpisah dulu biar tau artinya rindu 🤭🤣🤣
total 1 replies
Mia Camelia
yaaah ketauan deh 🤣🤣🤣
Ros 🌷🦋: kwkwk😅
total 1 replies
Mita Paramita
sekarang Isabella punya tempat bersandar walaupun sih navaro plu mines 🤣🤣🤣
Ros 🌷🦋: kesayangan reader 🤣
total 1 replies
Mita Paramita
lanjut Thor 💪💪💪
Ros 🌷🦋: siap kak🫶
total 1 replies
Mita Paramita
navaro diem diem nyelidikin asal usul Isabella 🤣🤣🤣 saking penasarannya
Ros 🌷🦋: kwkwk🤣
total 1 replies
Debu Nakal
lagi.. lagi... lagi... lagi...
Ros 🌷🦋: padahal sudah didraf sampai bab 20 kak😅
total 1 replies
Mia Camelia
wah gak sangka kalo claire pacar nya skylar?? thor ceritaiin dong mereka juga🤔😄
Ros 🌷🦋: author selipin dikit2 nanti mereka 😅
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!