Gagal naik ke Alam Dewa karena masih terikat karma fana, jiwa sang Kultivator Tertinggi terpaksa kembali ke tubuh aslinya di dunia modern sebagai Dika.
Berbekal Mata Takdir untuk membereskan hutang budi dan dendam masa lalu, Dika berniat menyelesaikan misinya dengan cepat dan diam-diam.
Namun, sebuah kesalahan takdir membuat isi hati dan keluh kesah batinnya bisa didengar jelas oleh wanita-wanita di sekitarnya!
Sanggupkah Dika menjaga wibawanya sebagai calon dewa, saat semua strategi dan gengsinya bocor lewat suara hati sendiri?
#UrbanFantasy #RomanceKomedi #KultivasiModern
#IsiHatiTerdengar #PuraPuraLemah #MantanDewa
#ZeroToHero #BenciJadiCinta
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samsu234, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Audit Langit dan Retribusi Korporasi
Asap tebal berwarna kelabu monyet membubung dari sisa-sisa Tabir Isolasi Jiwa yang baru saja meledak akibat hantaman dokumen sengketa tanah panti asuhan. Bau kertas terbakar bercampur aroma belerang dan minyak misik murahan memenuhi ruang kerja Tuan Besar Wijaya yang luasnya hampir menyamai lapangan futsal.
Lina terbatuk-batuk, mengibaskan tangan di depan wajahnya yang belepotan debu hitam. Setelan blazer kerjanya yang rapi kini kusut masai, dengan robekan kecil di bagian siku akibat hempasan gelombang kejut tadi. Di sampingnya, map dokumen Hendra yang tersisa kini tampak meranggas di bagian tepi, namun segel lilin hitamnya justru mencair dan merembes ke sela-sela jari tangan Lina, meninggalkan rasa hangat yang menjalar seperti sengatan kafein dosis tinggi.
"Dika... lo masih hidup, kan?" bisik Lina dengan suara parau. Tenggorokannya terasa kering, seperti habis menelan satu sendok semen instan.
Di depannya, siluet Dika perlahan tegak. Asap yang menyelimuti tubuhnya mendadak terdorong mundur oleh gelombang udara transparan yang keluar dari pori-pori kulitnya. Sepatu pantofel KW miliknya yang semula menganga di bagian sol, entah bagaimana, kini kembali merekat rapat—efek samping dari rekonstruksi molekul instan saat energi spiritualnya menyentuh angka seratus persen.
Dika tidak lagi memegangi pinggangnya. Rasa panas dari koyo cabai di punggung bawahnya telah menyublim menjadi energi murni yang mengalir deras melalui jalur meridian tulang belakang, menerobos sumbatan saraf dengan sensasi seperti air es yang diguyurkan ke atas aspal panas.
Matanya yang semula sayu menahan encok kini memancarkan pendar emas pekat yang begitu jernih, memantulkan bayangan ruangan yang porak-poranda.
"Lina," suara Dika terdengar berbeda. Tidak ada lagi nada cemas, tidak ada lagi jeritan batin dua oktaf yang cempreng. Suara itu berat, beresonansi dengan struktur beton bangunan, membuat air di dalam dispenser di pojok ruangan bergetar membentuk riak-riak simetris.
"Amankan sisa berkas itu. Audit yang sebenarnya baru saja dimulai."
Tuan Besar Wijaya mundur tiga langkah hingga pinggulnya membentur tepian meja jati raksasanya. Kotak kayu hitam berukir naga tanpa mata di pelukannya mendadak terasa seberat sebongkah timah. Ukiran naga pada kotak itu mulai retak, mengeluarkan cairan kental berwarna merah kehitaman yang menetes mengotori lantai marmer Italia setebal tiga sentimeter.
"T-tidak mungkin... Formasi Penyelaras Jiwa ini dirancang oleh tujuh dukun terkutuk dari lereng Gunung Lawu! Bagaimana bisa hancur oleh selembar kertas pajak?!" raung Wijaya. Wajah klimisnya kini berantakan; beberapa helai rambutnya yang biasanya tersisir rapi ke belakang kini menjuntai di dahi, basah oleh keringat dingin yang mengucur deras.
"Wijaya, kau terlalu lama duduk di kursi empuk hingga lupa cara membaca tanda-tanda alam," Dika melangkah maju. Setiap ketukan sepatunya di atas lantai tidak lagi memicu suara deg-deg-deg
buatan yang konyol, melainkan dentuman ultrasonik yang membuat debu-debu di udara melayang statis, menciptakan koridor hampa udara di antara mereka berdua.
"Darah seratus korban yang kau sebutkan tadi... apakah kau benar-benar mengira mereka adalah angka-angka statistik di laporan keuanganmu?" Dika mengangkat tangan kanannya. Kali ini, tidak ada simbol lingkaran berputar yang macet. Lima jemarinya dikelilingi oleh jalinan benang takdir berwarna putih keperakan yang berputar secepat bilah kipas helikopter.
"Setiap nyawa yang kau tumbalkan memiliki garis utang yang belum lunas. Dan hari ini, aku datang sebagai kuratornya."
"Diam kau! Aku adalah pemilik gedung ini! Aku pemilik nasib ribuan karyawan di bawah kendaliku! Kau hanyalah arwah gentayangan yang meminjam tubuh pemuda gagal!" Wijaya berteriak histeris, mencoba mengusir rasa ngeri yang mulai mencengkeram dadanya.
Dengan sisa-sisa keberaniannya, Wijaya menghantamkan kotak kayu hitam itu ke atas meja jati.
“Brak!”
Kotak itu pecah menjadi dua. Asap hitam legam yang keluar dari dalamnya tidak lagi membentuk wajah keriput penasihat mistisnya, melainkan mewujud menjadi puluhan tangan-tangan kurus berdarah yang keluar dari lantai marmer, merangkak cepat menuju kaki Dika. Itu adalah manifestasi dari jiwa-jiwa yang terikat kontrak pesugihan korporasi milik Wijaya—para pekerja yang mati mendadak karena kelelahan, atau para pesaing bisnis yang dikirimkan santet hingga gila.
Lina yang melihat hal itu langsung menjerit kecil, refleks mundur ke dalam kabin lift barang yang untungnya masih terbuka. "Dika! Di bawah kaki lo!"
Dika bahkan tidak melirik ke bawah. Ketika tangan-tangan hitam berbau busuk itu berjarak beberapa senti dari ujung celana kainnya yang dibeli di pasar kaget, Dika hanya menghentakkan tumit kanannya sekilas.
“Wusss!”
Gelombang cahaya keemasan berbentuk lingkaran riak air menyebar dari titik hentakan kaki Dika. Begitu cahaya itu menyentuh tangan-tangan hitam tersebut, jeritan kesakitan yang memekakkan telinga bergema di dimensi astral. Namun, alih-alih hancur terbakar, tangan-tangan kurus itu perlahan berubah warna menjadi putih bersih. Belenggu rantai gaib yang mengikat pergelangan tangan mereka rontok satu per satu, berubah menjadi serpihan cahaya yang menguap ke udara.
"Kalian sudah bekerja terlalu lembur," ucap Dika pelan, nadanya melembut sesaat.
"Pulanglah. Absensi kalian di dunia ini sudah selesai."
Puluhan jiwa itu membungkuk hormat ke arah Dika sebelum akhirnya menghilang sepenuhnya, meninggalkan ruang kerja yang kini terasa lebih dingin dan kosong.
Wijaya menyaksikan seluruh sisa kekuatannya dibersihkan dalam sekali sentak. Seluruh tubuhnya bergetar hebat. Kulit wajahnya yang semula kencang berkat suntikan botoks dan ritual awet muda mendadak mengendur, keriput-keriput dalam bermunculan di sekitar mata dan mulutnya dalam hitungan detik. Energi kultivasi hitam yang selama ini menopang kesehatan fisiknya telah diputus total dari akarnya.
"Sekarang, mari kita bicarakan soal sengketa tanah panti asuhan Hendra," Dika kembali melangkah, mengikis jarak hingga kini ia berdiri tepat di depan meja jati yang memisahkan mereka.
Dika mengulurkan tangannya ke belakang tanpa menoleh. "Lina, dokumennya."
Lina, yang masih syok melihat pembersihan gaib barusan, buru-buru maju dengan langkah gemetar. Ia menyerahkan selembar kertas yang tadi ia gunakan untuk menyumpal tabir pelindung. Kertas itu anehnya kini tidak lagi panas, melainkan terasa dingin seperti es batu.
Dika menerima kertas itu, lalu meletakkannya di atas meja kerja Wijaya. Di atas kertas putih yang awalnya berisi rincian aset legal itu, tulisan tinta hitamnya mendadak bergerak sendiri, menyusun ulang baris demi baris kata menjadi sebuah kontrak baru yang ditulis dalam aksara kuno berkedip emas.
"Ini adalah audit kausalitas," kata Dika, menatap langsung ke dalam manik mata Wijaya yang sudah kehilangan cahayanya.
"Seluruh harta yang kau kumpulkan dari hasil memeras darah panti asuhan dan memanipulasi takdir orang lain akan dialihkan kembali kepada yang berhak. Perusahaanmu akan mengalami kebangkrutan sistemik dalam waktu dua puluh empat jam dari sekarang. Tidak ada pengacara duniawi yang bisa menyelamatkanmu, karena hakimnya bukan manusia."
"Kau... kau tidak bisa melakukan ini padaku!" Wijaya mencengkeram tepi meja, napasnya tersengal-sengal seperti ikan yang kehabisan air. "Aku punya koneksi di pemerintahan! Aku punya—"
"Kau tidak punya apa-apa lagi, Wijaya," potong Dika dingin.
Dika menjentikkan jarinya tepat di depan kening Wijaya. Tidak ada ledakan, tidak ada darah yang muncrat. Namun, dari dalam dahi Wijaya, sebuah pendar cahaya ungu tua—inti dari seluruh kekuatan mistis dan keberuntungan bisnisnya selama dua puluh tahun—tertarik keluar, melayang di udara sebelum akhirnya tersedot masuk ke dalam lembaran dokumen Hendra yang dipegang Dika.
Wijaya ambruk ke atas kursi kerjanya yang mewah. Matanya melotot kosong menatap langit-langit ruangan. Ia masih hidup, namun jiwanya kini tak lebih dari wadah kosong tanpa ambisi, persis seperti kondisi Dika saat pertama kali terbangun di kamar kos sempitnya beberapa hari lalu. Karma telah berputar penuh, mengembalikan posisi mereka ke titik awal.
Dika membalikkan badannya, melangkah kembali menuju lift barang tempat Lina menunggu dengan mulut masih sedikit menganga. Pendar emas di tubuh Dika perlahan meredup, kembali masuk ke dalam pori-porinya, meninggalkan sosok pemuda biasa dengan mantel wol hitam yang agak kedodoran.
"Ayo pergi, Lin. Urusan kita di lantai ini sudah selesai," kata Dika, suaranya kembali normal—sedikit serak dan terdengar lelah.
Lina berkedip beberapa kali, mencoba mengembalikan kesadarannya ke dunia nyata.
"Itu... cuma begitu aja? Nggak ada adu jotos pakai pukulan naga atau semacamnya?"
Dika menghela napas panjang, lalu mendadak memegangi pinggang belakangnya lagi sambil meringis.
"Aduh, aduh... Lin, pegangin gue sebentar. Sial, efek koyo cabainya habis. Ini punggung gue rasanya kayak habis digiles rombongan odong-odong!"
Lina refleks menangkap lengan Dika sebelum mantan Penguasa Takdir itu merosot ke lantai lift. "Ya ampun, Dika! Barusan lo keren banget kayak dewa perang, sekarang kembali lagi jadi jompo!"
"Energi dewa seratus persen itu cuma bertahan lima menit kalau pakai bensin fana, Lin!" keluh Dika, wajahnya kembali merona panik yang familier. "Buruan pencet tombol turun! Sebelum satpam bawah naik karena denger suara ledakan tadi!"
Lina buru-buru menekan tombol lantai dasar. Pintu besi lift barang yang tebal itu perlahan menutup, menyembunyikan pemandangan ruang kerja Lantai 40 yang kini berantakan dan sunyi, menyisakan seorang mantan miliarder yang duduk linglung di kursinya.
Saat lift mulai bergerak turun dengan guncangan yang jauh lebih halus daripada saat mereka naik, Lina menatap dokumen di tangannya yang kini telah bersih dari pendar gaib apa pun.
"Tapi Dik... dengan hancurnya kekuatan Wijaya, berarti kutukan di tubuh Hendra juga hilang, kan?"
Dika bersandar pada dinding lift, memejamkan matanya sambil menikmati rasa dingin dari besi penopang.
"Ya. Hendra akan bangun dari komanya besok pagi. Dan bagian terbaiknya? Dia akan mendapati seluruh aset panti asuhannya kembali utuh, ditambah dengan kompensasi bunga spiritual dari seluruh kekayaan Wijaya yang runtuh."
Lina tersenyum kecil, merasakan kelegaan yang luar biasa menyeruak di dadanya. Perjuangan lembur paling ekstrem dalam sejarah kariernya sebagai sekretaris akhirnya membuahkan hasil.
Namun, senyuman Lina tidak bertahan lama. Dari dalam saku celana Dika, terdengar bunyi getar ponsel yang nyaring. Dika dengan susah payah merogoh sakunya, mengeluarkan ponsel layar retaknya, lalu melihat layarnya yang berkedip-kedip.
"Siapa?" tanya Lina curiga.
Dika menelan ludah, wajahnya mendadak pucat, bahkan lebih pucat daripada saat menghadapi rantai gaib Wijaya tadi. Ia membalikkan layar ponselnya ke arah Lina.
Di sana, sebuah notifikasi dari aplikasi pesan singkat menampilkan nama kontak: Ibu Kos Kamar 12.
“Dika, ini sudah tanggal 15. Kalau uang kosan belum ditransfer lewat jam 12 malam ini, barang-barang kamu saya keluarin ke gang depan. Nggak ada alasan lagi!”
Dika menatap Lina dengan pandangan kosong penuh keputusasaan kosmik. "Lin... saldo rekening fana gue saat ini cuma sisa dua puluh tiga ribu rupiah. Menurut lo, kalau gue bayar pakai benang takdir emas lima belas persen, Ibu kos bakal nerima nggak?"
Lina hanya bisa menepuk jidatnya sendiri dengan keras, menyadari bahwa meski Dika adalah mantan penguasa langit yang baru saja meruntuhkan dinasti korporasi hitam, di hadapan ibu kos pemilik bumi, tingkatannya masih berada di kasta paling bawah.