Elfesya terjebak perjodohan paksa dengan Ravion Arshaka, CEO angkuh yang terus menghinanya. Luka semakin dalam saat Elfesya tahu ayah Ravionlah yang menghancurkan bisnis ayahnya. Ia melarikan diri ke pesisir, hidup nestapa sebagai buruh ikan demi harga diri.
Sadar akan dosanya, Ravion melepaskan kemewahan demi menyusul Elfesya ke gubuk reyot. Di tengah bau laut dan kemiskinan, ego sang CEO runtuh demi meraih kembali hati sang sekretaris. Ini adalah kisah tentang pengkhianatan korporasi, penebusan dosa yang perih, dan cinta yang akhirnya berlabuh di dermaga ketulusan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Getaran di cangkir porselen
Elfesya berdiri di depan mesin kopi otomatis di pantry eksekutif. Aroma biji kopi yang terpanggang memenuhi ruangan, sebuah rutinitas yang seharusnya terasa sangat biasa baginya. Ia menata cangkir porselen putih itu di atas nampan kecil, memastikan sendok perak di sampingnya terletak lurus. Ia ingin membuktikan kepada dirinya sendiri bahwa ia masihlah sekretaris yang kompeten, bukan wanita lemah yang hanya bisa menumpang hidup.
"Hanya kopi hitam tanpa gula, seperti biasa," gumamnya meyakinkan diri.
Saat ia hendak melangkah keluar, dua orang staf dari departemen hubungan masyarakat masuk ke pantry tanpa menyadari keberadaannya yang tertutup pilar dispenser. Mereka sedang asyik berbisik dengan nada penuh semangat.
"Kamu lihat tadi? Pak Ravion protektif sekali. Aku dengar dia sampai memecat seluruh tim keamanan apartemen karena insiden kemarin," ucap staf pertama.
"Ya ampun, tentu saja. Siapa yang tidak gila kalau istrinya hampir mati ditabrak?" sahut staf kedua dengan nada dramatis. "Padahal mereka baru saja mau memulai hidup baru setelah dari desa itu, kan? Kasihan sekali Bu Elfesya, wajahnya masih pucat begitu."
Deg.
Kata itu menghantam telinga Elfesya seperti petir di siang bolong. Istri.
Gelas di atas nampan yang dipegangnya bergetar hebat. Kata itu memicu sesuatu di dalam kepalanya—sebuah pintu gerendel yang dipaksa terbuka. Tiba-tiba, penglihatannya kabur. Suara riuh staf di depannya mendadak terdengar seperti suara yang berada di bawah air, menjauh dan bergema.
“Tarik napas, Pak... Ini hanya mendung karena mau hujan...”
“Istriku... dia benar-benar pergi...”
Potongan-potongan suara itu melintas di benaknya dengan kecepatan yang menyakitkan. Elfesya mencengkeram pinggiran meja marmer, mencoba menahan tubuhnya. Kepalanya terasa seolah dihujam ribuan jarum. Rasa pusing yang luar biasa datang menyerang, membuat keseimbangannya hilang dalam sekejap.
Prang!
Nampan itu jatuh. Cangkir porselen mahal itu hancur berkeping-keping di lantai, memuncratkan kopi panas ke mana-mana. Tubuh Elfesya luruh, ia terjatuh lemas di tengah pecahan keramik.
"Ibu! Bu Elfesya!" kedua staf tadi berteriak histeris, menyadari kehadiran wanita yang baru saja mereka bicarakan.
Mendengar keributan dari arah pantry, Ravion yang sedang berada di ruangannya langsung berlari keluar. Jantungnya hampir copot saat melihat Elfesya terduduk di lantai dengan wajah sepucat kapas dan mata yang terpejam rapat.
"Elfesya!" Ravion menerjang masuk, mengabaikan panasnya tumpahan kopi di lantai yang mengenai lutut celananya saat ia berlutut. Ia segera merengkuh bahu Elfesya, menyanggah kepala istrinya dengan lengannya yang kokoh.
"Pergi! Kalian berdua, pergi dari sini sekarang juga!" bentak Ravion pada kedua staf itu dengan suara yang menggelegar penuh amarah.
Elfesya membuka mata sedikit, menatap wajah Ravion yang hanya berjarak beberapa sentimeter darinya. Wajah itu... wajah yang terlihat sangat ketakutan. Ia melihat keringat dingin di dahi Ravion dan binar air di sudut matanya yang merah.
"Pak... mereka... mereka bilang saya istri Bapak..." bisik Elfesya dengan napas yang terputus-putus. "Apa... apa itu benar?"
Ravion membeku. Rahangnya mengeras. Ia ingin berbohong, ia ingin menyangkal demi kesehatan mental Elfesya, namun melihat sorot mata istrinya yang penuh tuntutan dan rasa sakit, kebohongannya seolah tersangkut di tenggorokan.
"Jangan dipikirkan dulu, El. Kamu pusing karena belum makan," ucap Ravion berusaha mengalihkan perhatian, suaranya bergetar hebat saat ia mencoba menggendong tubuh Elfesya.
"Jangan panggil saya El!" suara Elfesya pecah. Ia mencengkeram kemeja Ravion dengan sisa tenaganya. "Setiap kali Bapak memanggil saya seperti itu, kepala saya sakit! Tolong jujur... Siapa saya sebenarnya di hidup Bapak? Kenapa semua orang di sini menatap saya seolah-olah saya adalah pusat semesta Bapak?"
Ravion tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya mengeratkan dekapannya, membawa Elfesya kembali ke ruang kerjanya yang kedap suara, menjauh dari mata-mata penuh rasa ingin tahu di luar sana. Di balik pintu yang tertutup itu, Ravion akhirnya luluh. Ia mendudukkan Elfesya di sofa, lalu ia sendiri berlutut di lantai, memegang kedua tangan istrinya.
"Ya," bisik Ravion, suaranya hancur. "Kamu adalah istriku. Kamu adalah wanita yang aku cari hingga ke ujung pesisir. Kamu adalah nyawaku, Elfesya. Dan aku pengecut karena tidak berani mengatakannya tadi karena aku takut kehilanganmu lagi jika ingatanmu kembali membawa rasa benci padaku."
Elfesya tertegun. Di tengah pening yang masih mendera, sebuah bayangan jernih tiba-tiba melintas: Ravion yang sedang meminum air dari gelas plastik kusam di sebuah gubuk kecil. Dan pria itu tersenyum padanya.
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...