"Saat Setya membuang Arumi demi wanita muda yang lebih cantik, ia lupa bahwa rezekinya tertitip pada doa sang istri sah. Kini, setelah jatuh miskin dan dipecat, Setya terpaksa kembali bersimpuh hanya untuk mengemis pekerjaan di gudang milik Arumi—wanita yang kini menjadi bosnya sendiri."
Selamat membaca...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aliansi Dua Wanita Terluka
Bau pengap, keringat, dan antiseptik murah selalu menjadi aroma yang menyambut siapa saja yang melangkahi koridor Lapas Wanita Kelas IIA.
Namun sore itu, petugas lapas tampak sibuk membersihkan ruang kunjungan khusus yang biasanya hanya digunakan untuk pengacara papan atas atau pejabat tinggi. Karpet merah tipis digelar, dan sebuah kipas angin baru dinyalakan di sudut ruangan.
Semua itu karena kedatangan Valerie.
Dengan setelan blazer formal warna gading yang memancarkan kemewahan, Valerie duduk tenang di kursi kayu. Ia meletakkan saputangan sutra beraroma lavender di depan hidungnya, menolak untuk menghirup udara penjara yang menurutnya kotor. Di sampingnya, seorang pengacara senior yang disewanya dengan tarif puluhan juta per jam tampak sibuk memeriksa berkas-berkas hukum.
Pintu besi berderit terbuka. Dua orang petugas wanita menuntun sesosok tahanan yang berjalan dengan kepala tertunduk dan langkah terseret.
Valerie menurunkan sedikit kacamata hitamnya. Ia hampir tidak mengenali wanita di depannya sebagai Raya, sosok wanita yang di dalam berkas penyelidikannya disebut-sebut sebagai pelakor yang pernah merebut Setya dengan modal kecantikan tubuhnya. Raya yang sekarang tampak mengenaskan. Rambutnya yang dulu sering diwarnai di salon kini lepek dan dipotong asal-asalan. Pipinya cekung, kulitnya kusam penuh bekas garukan karena alergi air penjara, dan baju tahanan oranyenya tampak kedodoran.
Begitu petugas meninggalkan mereka, Raya duduk di kursi seberang Valerie dengan tubuh gemetar. Matanya yang sembab menatap Valerie dengan pandangan takut sekaligus bingung.
"Si-siapa... Anda?" suara Raya serak, tenggorokannya kering karena seharian tidak diberi minum yang layak oleh teman-teman selnya. "Apa Anda pengacara baru yang dikirim Mas Setya?"
Valerie tertawa kecil, suara tawanya terdengar sangat renyah tapi dingin di ruangan sepi itu. Ia melepas kacamata hitamnya, memperlihatkan sepasang mata indahnya yang menatap Raya dengan pandangan menilai seolah sedang melihat barang rongsokan.
"Setya?" cibir Valerie, melipat tangan di dada. "Raya, suamimu yang kuli sikat toilet itu bahkan tidak punya uang untuk membeli sebungkus nasi padang yang layak untuk dirinya sendiri. Bagaimana mungkin dia bisa mengirim pengacara kelas atas sepertiku untukmu?"
Mendengar kata 'kuli sikat toilet', mata Raya membelalak. "Apa maksud Anda? Mas Setya bilang dia masih berusaha mencari uang di gudang Arumi! Dia berjanji akan mengeluarkan aku!"
"Dia membohongimu karena dia terlalu pecundang untuk mengakui kenyataan bahwa dia sudah menjadi babu di bawah kaki mantan istrinya,"
Valerie memajukan tubuhnya, menatap Raya tepat di manik mata. "Suamimu itu digaji dengan sangat menghinakan oleh Arumi. Semua hartanya habis, sertifikat rumah ibunya disita Arumi, dan dia sekarang hanya bisa menyapu dedaunan kering sambil menonton Arumi bermesraan dengan kekasih barunya yang kaya raya."
Raya mencengkeram tepi meja kayu hingga kuku-kukunya yang kotor memutih. Rasa cemburu, dendam, dan kenyataan bahwa suaminya ternyata tidak berguna membuat dadanya bergemuruh hebat. "Arumi... perempuan daster bau bawang itu... dia benar-benar menghancurkan hidupku!"
"Bukan hanya hidupmu, Raya. Dia juga mencoba merebut apa yang seharusnya menjadi milikku," suara Valerie berubah menjadi sedingin es saat mengingat Dhanu. "Perempuan janda itu sekarang merasa di atas angin karena mendapatkan pria terhormat. Tapi aku tidak akan membiarkan janda anak tiga itu tertawa di atas kemenangan palsunya."
Raya mulai menangkap arah pembicaraan wanita anggun di depannya. "Jadi... Anda juga membenci Arumi?"
"Aku tidak membencinya, karena dia terlalu rendah untuk kubenci," balas Valerie angkuh.
"Aku hanya ingin menyingkirkannya dari jalanku. Dan aku tahu, kamu adalah orang yang paling punya motif untuk melakukan hal yang sama. Kamu punya nyali yang besar sampai berani membakar gudangnya, tidak seperti suamimu yang bermental budak itu."
Valerie memberikan kode kepada pengacaranya. Pria paruh baya itu langsung menyodorkan selembar dokumen resmi di depan Raya.
"Ini adalah surat jaminan penangguhan penahanan dan berkas peninjauan kembali kasusmu," ujar Valerie tenang.
"Keluargaku punya pengaruh besar di bidang hukum. Hari ini juga, pengacaraku akan mengurus semuanya. Kamu akan keluar dari neraka ini dalam waktu tiga hari ke depan sebagai tahanan luar. Bebas menghirup udara segar."
Mata Raya berkaca-kaca, dadanya naik turun karena syok. "An-Anda... Anda mau membebaskan aku?"
"Tentu saja. Tapi di dunia ini tidak ada yang gratis, Raya," Valerie mengambil sebuah kunci kartu apartemen mewah dari dalam tasnya dan meletakkannya di atas meja, tepat di samping berkas hukum tersebut. "Aku sudah menyiapkan sebuah apartemen mewah di pusat kota untukmu. Aku juga sudah mentransfer uang ratusan juta ke rekening baru atas namamu untuk biaya perawatan tubuh, salon, dan pakaian bermerek agar kamu kembali menjadi Raya yang cantik dan mematikan."
Raya menatap kunci kartu dan tumpukan berkas itu seolah sedang melihat mukjizat. "Lalu... apa yang harus aku lakukan sebagai gantinya?"
Valerie tersenyum licik, sebuah senyuman yang penuh dengan rencana busuk. "Aku mau kamu kembali ke kehidupan Setya. Tetaplah menjadi istri sahnya yang cantik. Hasut dia, buat dia semakin membenci Arumi, dan gunakan posisimu untuk memata-matai setiap gerak-gerik Arumi di gudang itu melalui suamimu. Aku yang akan mendanai semua pergerakanmu di balik layar. Kita akan hancurkan reputasi bisnis bumbu instan Arumi, dan kita buat Dhanu melihat bahwa Arumi hanyalah wanita pembawa sial yang penuh dengan skandal."
Raya menelan ludah. Rasa trauma mendekam di sel nomor 4 yang dingin dan penuh siksaan dari Mbak Lastri seketika lenyap, digantikan oleh kobaran api dendam yang membara. Ditambah lagi, bayangan bahwa dirinya akan kembali kaya dan modis membuat keserakahannya bangkit.
"Aku mau," ujar Raya tanpa ragu sedikit pun. Ia menyambar kunci kartu apartemen dan pulpen yang disodorkan pengacara untuk menandatangani berkas tersebut. "Aku akan buat Arumi merangkak memohon ampun di depanku. Aku akan rebut kembali semua yang dia ambil dari suamiku!"
Valerie berdiri, merapikan blazernya yang tidak lecek sedikit pun. Ia memakai kembali kacamata hitamnya, menatap Raya yang kini tersenyum gila dengan pandangan puas.
"Bagus. Rawat dirimu baik-baik setelah keluar nanti. Aku tidak suka bekerja sama dengan wanita yang berpenampilan seperti gembel," ucap Valerie kejam sebelum melangkah pergi. "Tunggu instruksiku selanjutnya."
Pintu besi tertutup kembali, meninggalkan Raya yang tertawa pelan sambil mendekap kunci apartemen mewah itu ke dadanya. Malam itu, di dalam sel nomor 4 yang gelap, Raya sengaja menatap Mbak Lastri dengan pandangan menantang.
"Mulai besok, kamu tidak akan bisa menyentuhku lagi, Lastri," bisik Raya dalam hati dengan seringai penuh kemenangan. "Dan untukmu, Arumi... bersiaplah. Ratu yang sesungguhnya akan segera kembali."
kamu anak durhaka🤭