Di tahun 2030, hujan darah mengubah dunia menjadi neraka penuh monster.
Yara mati tragis… namun terbangun kembali lima bulan sebelum kiamat di tubuh seorang wanita gemuk bernama Elara Quizel, istri presedir yang tak dicintai.
Dengan bantuan Sistem NOX, ia diberi kesempatan kedua untuk mengubah takdirnya.
Dari wanita yang diremehkan, Elara perlahan bangkit menjadi sosok yang dingin dan tak tersentuh.
Kali ini, ia tak hanya ingin bertahan hidup tetapi menguasai dunia yang akan hancur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blumoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23 : ◉‿◉
Udara siang yang panas di atas aspal jalanan itu seolah membeku saat Elara melangkah keluar dari mobil lapis bajunya. Sepatu taktisnya mendarat dengan bunyi *klik* yang mantap, menciptakan kontras yang tajam dengan kesunyian mencekam di sekeliling mereka. Di depannya, sepuluh pria berotot dengan wajah bengis tampak menyeringai, mengira mereka baru saja mendapatkan mangsa besar.
Pria berotot yang memimpin kelompok itu, yang dipanggil sebagai pemimpin oleh anak kecil bernama Juju, melangkah maju sambil memanggul kapak raksasa di bahunya. "Lihatlah, seekor boneka cantik keluar dari sarangnya. Hei Nona, serahkan kunci kendaraan ini dan semua logistik yang kalian bawa, maka aku akan mempertimbangkan untuk menjadikanmu pelayan pribadiku daripada memberi makan para zombie."
Elara tidak membalas dengan kata-kata. Ia hanya menoleh sedikit ke arah Leonard yang berdiri di sisi lain mobil, lalu memberikan kode kecil dengan jarinya.
"Sepuluh orang," gumam Elara pelan, matanya menyisir setiap lawan. "Leo, biarkan prajurit baru mengurus enam orang di belakang. Empat orang di depan ini... biarkan aku yang menyelesaikannya. Aku butuh poin pengalaman untuk naik level."
"Tentu, Sayang. Aku akan menjagamu dari belakang," jawab Leonard dengan nada santai, namun auranya sudah mulai menekan, membuat pria-pria di depan mereka merasa sesak napas secara tiba-tiba.
"SERANGGG!!" teriak pemimpin perampas itu.
Dua orang pria dengan parang panjang melesat ke arah Elara. Mereka bergerak dengan koordinasi yang lumayan untuk ukuran preman jalanan. Namun, bagi Elara yang memiliki indra yang sudah diperkuat oleh sistem, gerakan mereka tampak selambat siput.
[AKTIVASI KEMAMPUAN: SHADOW AGILITY (COPY)]
Wusss!
Dalam sekejap, Elara menghilang dari posisi berdirinya. Salah satu perampas menebaskan parangnya ke udara kosong, wajahnya berubah bingung.
"Mencari siapa?" suara dingin Elara terdengar tepat di belakang telinga pria itu.
Sebelum pria itu sempat berbalik, Elara mengayunkan belati peraknya dengan gerakan memutar yang indah.
SLASSSHH!
Ujung belati itu merobek urat tendon di kedua kaki pria tersebut dengan presisi milimeter. Pria itu jatuh berlutut dengan teriakan histeris sebelum Elara mendaratkan tendangan memutar ke arah pelipisnya, membuatnya pingsan seketika.
"Satu," gumam Elara.
Melihat temannya tumbang dalam hitungan detik, tiga perampas lainnya termasuk si pemimpin mulai merasa panik. "Jangan takut! Dia hanya menggunakan trik! Kepung dia!"
Ketiganya menyerang secara bersamaan. Si pemimpin mengayunkan kapak raksasanya secara horizontal, berniat membelah pinggang Elara, sementara dua lainnya mencoba menusuk dari sisi kiri dan kanan.
Elara menekuk tubuhnya ke belakang hingga membentuk sudut yang mustahil, membiarkan mata kapak yang berat itu lewat hanya beberapa milimeter di atas perutnya. Di saat yang sama, ia menggunakan kedua tangannya untuk menumpu di aspal dan menendang dagu perampas di sisi kanannya.
BRAKK!
Bunyi rahang yang patah terdengar jelas. Pria itu terlempar ke belakang, menghantam kap mobil mereka sendiri.
Elara kembali berdiri tegak dengan gerakan akrobatik yang anggun. Ia menatap si pemimpin yang kini tampak gemetar. "Hanya segini kemampuan 'penguasa jalanan'?"
"KAU... JALANG SIALAN!" Si pemimpin meraung, otot-otot lengannya membengkak. Ia mengangkat kapaknya tinggi-tinggi dan menghantamkannya ke tanah dengan sekuat tenaga.
BOOM!
Aspal di bawah kaki Elara retak, namun Elara sudah melompat tinggi ke udara. Di tengah udara, ia menarik busur lipatnya yang disampirkan di punggung dengan gerakan secepat kilat.
Syuuuttt! Syuuuuttt!
Dua anak panah energi melesat, bukan ke arah pemimpin, melainkan ke arah dua anak buahnya yang mencoba menyerang Arkan dari belakang. Anak panah itu menancap tepat di bahu mereka, meledak kecil dan melumpuhkan lengan mereka seketika.
"Fokus padaku, Jenderal Gadungan," ejek Elara sambil mendarat dengan ringan.
Si pemimpin perampas itu benar-benar murka. Ia membuang kapaknya dan mengeluarkan sebuah suntikan berisi cairan berwarna merah pekat dari sakunya. "Kau yang memaksaku menggunakan ini!"
Ia menyuntikkan cairan itu ke lehernya. Dalam hitungan detik, matanya memerah dan pembuluh darah di sekujur tubuhnya menonjol keluar. Ini adalah serum mutasi ilegal yang sering ditemukan di pasar gelap setelah kiamat.
"GGRRRRRRAAAAAA!" Suaranya berubah menjadi raungan monster. Tubuhnya membesar hingga dua kali lipat, merobek pakaiannya sendiri.
┌────────────────┐
│ ANALISIS SISTEM:
│TARGET: BERSERKER MUTANT (STEROID-INDUCED)
│TINGKAT ANCAMAN: LEVEL B+
│KELEMAHAN: TITIK SARAF DI BELAKANG LEHER
└────────────────┘
"Sayang, perlu bantuan?" tanya Leonard, tangannya sudah memegang hulu pedang, siap untuk menebas monster itu jika Elara dalam bahaya.
"Tidak, Leo. Tetap di sana. Aku ingin mencoba batas kemampuanku yang sekarang," jawab Elara. Matanya berkilat dengan cahaya biru yang tajam.
Si pemimpin yang sudah berubah menjadi monster itu menerjang dengan kecepatan yang luar biasa. Tinju besarnya menghantam jalanan, menciptakan lubang besar. Elara terus menghindar, bergerak seperti bayangan di antara celah-celah serangan monster itu.
Bugh! Brak!
Setiap kali monster itu memukul, Elara membalas dengan sayatan kecil di titik-titik vital. Ia tidak langsung membunuhnya, melainkan memotong jalur aliran darah dan saraf secara perlahan. Ini adalah teknik penyiksaan yang dipelajarinya dari sistem untuk menguras poin pengalaman secara maksimal.
"Sekarang, saatnya penyelesaian," gumam Elara.
Ia berlari menaiki tembok beton di sampingnya, melakukan *wall-run* sebelum melompat ke arah punggung monster itu. Monster itu mencoba menangkapnya, namun Elara menggunakan pundak monster itu sebagai pijakan untuk melompat lebih tinggi.
Di titik tertinggi lompatannya, Elara memutar tubuhnya di udara. Belati di tangan kanannya berpendar cahaya biru pekat tanda bahwa ia menggunakan seluruh sisa energi sistemnya untuk satu serangan ini.
"FINISHING BLOW: STRIKE OF THE FALLEN!"
CRASHHHH!
Elara mendarat di belakang monster itu dalam posisi berlutut satu kaki. Detik berikutnya, monster besar itu mematung. Sebuah garis merah tipis muncul melingkar di lehernya.
Sreeeeetttt...
Darah hitam menyembur keluar, dan kepala besar monster itu terjatuh ke aspal, diikuti oleh tubuh raksasanya yang ambruk, menimbulkan getaran kecil di jalanan.
Gadis kecil bernama Juju yang melihat itu langsung pucat pasi. Ia mencoba lari, namun Herra sudah berdiri di depannya dengan senapan yang terarah ke keningnya. "Dunia ini tidak punya tempat untuk umpan sepertimu, Nak," ujar Herra dingin.
Elara berdiri, menyeka percikan darah di pipinya dengan ujung jari. Tiba-tiba, sebuah suara merdu terdengar di dalam kepalanya.
┌─────────────────┐
│ NOTIFIKASI SISTEM:
│ TARGET ELIMINASI: BERHASIL.
│ POIN PENGALAMAN DIPEROLEH: 5000 EXP. │TING! SELAMAT TUAN RUMAH NAIK KE LEVEL 11!
│MEMBUKA FITUR BARU:
│MAP REAL-TIME EVOLUTION (DETEKSI RADIUS 5KM)
│MEMBUKA KEMAMPUAN KHUSUS BARU:
│ GRAVITY PRESS (MENCIPTAKAN TEKANAN GRAVITASI)
└─────────────────┘
Elara merasakan gelombang kekuatan baru mengalir di pembuluh darahnya. Rasa lelahnya hilang seketika, digantikan oleh energi yang meluap-luap. Ia menatap telapak tangannya, merasakan berat udara di sekitarnya yang kini bisa ia kendalikan.
"Level 11... terasa sangat berbeda," gumamnya puas.
Ia menoleh ke arah Leonard yang sedang bertepuk tangan pelan. "Pertarungan yang luar biasa, Istriku. Kamu semakin menakutkan setiap harinya."
Elara tersenyum manis, senyum yang sama yang ia berikan saat sarapan, seolah-olah ia baru saja menyelesaikan tugas dapur, bukan memenggal kepala monster. "Itu berkat dukunganmu, Leo."
Ia kemudian menatap sisa perampas yang kini bersujud di tanah, gemetar ketakutan melihat pemimpin mereka tewas begitu mengenaskan. Para prajurit baru yang dipimpin Arkan sudah melumpuhkan mereka semua tanpa kehilangan satu nyawa pun.
"Apa yang harus kita lakukan dengan sisa sampah ini, Nona?" tanya Arkan sambil menunjuk ke arah enam perampas yang tersisa.
Elara menatap mereka dengan tatapan dingin yang tak berperasaan. "Dunia ini butuh pupuk, bukan? Pak Jaka pasti akan senang mendapatkan tambahan nutrisi untuk kebun barunya nanti. Ikat mereka, masukkan ke truk belakang. Kita akan membawa mereka sebagai 'hadiah' untuk tanaman kita."
Mendengar itu, para perampas itu menangis dan memohon ampun, namun tak ada satu pun anggota tim Elara yang merasa kasihan. Di dunia yang hancur ini, belas kasihan adalah kelemahan, dan Elara Quizel tidak memiliki tempat untuk itu.
"Naik ke kendaraan masing-masing!" perintah Elara tegas. "Tujuan kita masih Sektor 7. Kita sudah membuang terlalu banyak waktu untuk serangga-serangga ini."
Konvoi kendaraan itu pun kembali melaju, meninggalkan jalanan berlumuran darah hitam dan mayat tanpa kepala. Perjalanan menuju Sektor 7 berlanjut, namun kali ini dengan pemimpin yang jauh lebih kuat dan tim yang semakin bersemangat.
[STATUS TUAN RUMAH: LEVEL 11 - ACTIVE]
[KEMAMPUAN BARU GRAVITY PRESS: SIAP DIGUNAKAN]
[TUJUAN BERIKUTNYA: SEKTOR 7 - ESTIMASI 1 JAM LAGI]
Bersambung.......🧟♀️🧟♀️🧟♀️
nabung chapter dulu untuk yang next 🥰🙏🏻
menarik thorr, lanjutkan 😈🔥