Dunia ini kejam, tak ada kebahagiaan yang kekal, ujian selalu datang, maka jangan jadi orang yang lemah.
Di tengah hutan terpencil terdapat tempat pelatihan pembunuh bayaran, suatu organisasi dunia gelap yang dibentuk oleh bos mafia besar asia yaitu Bos Jamal.
disanalah tempat tinggal seorang pemuda bernama Bayu yang telah ditinggalkan orang tuanya sejak masih berumur sepuluh tahun. kini 12 belas tahun telah berlalu namun bayangan tragedi kematian kedua orang tuanya masih terngiang dikepalanya.
Ditempat pelatihan pembunuh bayaran ini lah ia dilatih oleh sang paman menjadi mesin pembunuh yang jenius untuk membalaskan dendam kematian kedua orang tuanya.
kehidupannya mulai berubah saat ia mengenal seorang gadis yang bernama Anita, sosok dosen cantik yang dapat menyentuh hatinya.
ideologinya sedikit demi sedikit mulai berbeda, tentang asmara, balas dendam, maupun apa yang telah diwariskan, semua memiliki batu sandungan yang harus diterjang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pena pedang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayangan yang mulai bergerak.
Di dalam restoran besar.
Para pebisnis, pengusaha dan para tokoh masyarakat berdatangan menuju satu titik yang sama,
Restoran elit.
Restoran yang terkenal mahal dan berkumpulnya para pebisnis saat mengadakan Rapat pertemuan.
Malam ini acara besar tentang pembahasan partai yang mengusung pencalonan bapak Herman dilaksanakan.
Mobil-mobil mewah terparkir berjejer dengan rapi.
" ini para kendaraan orang-orang kaya", ujar petugas parkir disana yang malam ini memakai seragam lengkap tak seperti biasa.
"kalau tahu kita harus membantu para polisi menjaga keamanan" balas temannya memotong.
"kapan ya... Aku memiliki mobil kayak itu", sambungnya lagi.
"jangan menghayal terlalu tinggi, sudah untung malam ini kita dipilih menjaga parkir, gajinya yang dua kali lipat ditambah uang tips, hari ini keluarga kita makan enak".
"hahaha... Udah-udah, ayo kita kembali tugas" jawab petugas parkir itu.
Didalam restoran besar, barisan pelayan memakai jaz abu-abu berdiri rapi.
Pertemuan anggota partai, membahas soal pemilu, tentang strategi maupun pendanaan.
Para kumpulan pengusaha besar berkumpul di meja bundar.
"Kita harus pastikan memenangkan pemilu kali ini", pak Herman berdiri dari tempat duduknya mengangkat gelas bersulang untuk menyemangati para rekan pendukungnya.
Mereka menyambut penuh antusias dan semangat. "Semoga sukses", ujar mereka secara bersamaan.
April juga berdiri disana, terlihat begitu cantik malam itu, sebagai model ikut andel dalam kampanye kedepannya.
Selesai rapat satu-persatu keluar dari restoran megah itu.
April berjalan melewati koridor, dan tak sengaja matanya tertuju pada sosok pemuda yang sedang berdiri santai sambil menghisap sebatang rokok ditangannya.
Bayu.
"Hai, kamu ada disini juga" sapa April menghentikan langkahnya.
"Ya... Kebetulan, sebagai pendukung pencalonan pak Herman, aku diajak kawan lama", Bayu menjawab sangat santai.
"Oh..." April gak begitu terkejut, sebab selain pertemuan orang penting, restoran yang dibooking juga mengadakan pertemuan bagi para pendukung di kelas bawah, dua ruangan yang berbeda.
"Jadi, kamu juga mendukung bapak Herman? ", Bayu bertanya sambil mengangkat kedua alisnya.
"Mendukung?," April menggelengkan kepalanya, "terlalu naif jika membicarakan soal dukungan, aku disini hanya untuk bekerja, aku ini model yang dibayar hanya melakukan hal untuk uang hanya sebatas itu".
Bayu menunjuk dengan jarinya, "ternyata kamu pintar juga ya...!!!"
"Hmmm... Makasih ganteng", jawab April menggoda seperti biasa, keduanya berjalan bersama keluar melewati parkiran.
Secara tak disengaja atau kebetulan.
Dari jauh Anita berdiri terpaku saat tatapannya melihat April dan Bayu berjalan bersama dengan canda tawa tampak sangat akrab.
"Jadi ini yang membuatmu menjauh dariku... Tapi kenapa harus dia, kenapa harus sahabatku?" Kalimat itu keluar dari mulut Anita begitu saja.
Mungkin bagi seseorang yang melihat, itu hal yang biasa, namun sangat berbeda saat yang melihat adalah Anita, bukan tentang penghianatan atau soal persahabatan, sebab mereka memang masih tak ada hubungan yang terikat, namun hatinya terasa nyata sakit, ia sadar.... Perasaan suka itu kini semakin tak mampu ia kendalikan.
Anita pergi tanpa menghampiri maupun menyapa, hanya berbalik pergi begitu saja, hanya itu yang mampu ia lakukan walau dengan hati sesak dan rasa yang bercampur aduk tak karuan.
.......
April dan Bayu tak menyadari bahwa ada sala satu wanita yang telah melihat mereka berjalan berdua.
"Hahaha... Aku tahu mungkin awalnya dia tertarik padamu, tapi saat mengetahui kamu terjatuh, harapan dia mati, jadi dia marah tanpa sebab dan merasa kecewa".
"Jangan ngomong sembarangan.... Vivi gak mungkin tertarik padaku", Bayu sedikit tersenyum dan cepat mengelak.
"Siapa yang tahu, toh kamu memang tampan", goda April melihat dari atas kebawah memperhatikan postur tubuh Bayu.
"Eh... Jangan mesum ya". Sambung Bayu.
"Plak"... April memukul lengan Bayu, "kamu ngomong apa sih, gak malu".
"Eiiitch.... Siapa suruh melihat seperti itu", balas Bayu.
"Hahaha.... Kamu ini, orangnya asyik juga ya".
"Tergantung" lanjut Bayu, ia memasukkan kedua tangannya ke kantong celananya.
"Apa?"
"Mati.." Bayu dengan cepat menimpali.
"Mati, maksudnya?" Mata April bergerak kebingungan.
"Kalau digantung ya mati", jelas Bayu tersenyum lebar.
"Ah kamu ini, gak pernah serius", balas April kembali memukul, namun kali ini Bayu dengan cepat mengelak.
Malam itu terasa hangat dipermukaan, namun dari lubuk yang paling dalam, hanya ada satu nama yang telah tercetak di sana, Anita, nama itu selalu mengganggu dalam setiap aktifitasnya.
Nama wanita yang mampu membuat hati kecilnya bergerak, memiliki rasa takut dan hawatir yang tak pernah terjadi di dalam kisah hidupnya semula, walau yang di jalani selama itu penuh bahaya.
.......
Di sisi lain, didalam ruangan tertutup, lelaki dewasa duduk memegang segelas anggur duduk terdiam di kursi, tatapan matanya mengintai pada layar Cctv,
Pada layar itu ia melihat sosok lelaki yang pernah datang mengancamnya, dan saat ia periksa identitasnya kemarin, ia tak menemukan jejak riwayat hidupnya, hanya kehidupan yang terlalu dibuat-buat, bagi orang seperti dia yang berkecimpung di dunia gelap, ia tahu bahwa riwayat hidup Bayu sedang dipalsukan.
"Pemuda ini sangat menarik," gumam Herman pelan.
Sosok pemuda masuk kedalam ruangan itu.
"Bapak memanggil saya".
"Periksa gadis model ini, intai dari belakang jangan sampai ketahuan", Herman menyodorkan foto pada April pada sosok pemuda misterius itu.
Setelah mengambil gambar foto, pemuda itu pamit pergi begitu saja.
Pak Herman masih duduk disana, kali ini ia menyalakan cerutu ditangan, "aku tak sebodoh seperti Gonzales, lihat saja siapa yang menjadi singa, siapa yang menjadi domba."
........
Di gedung kosong, sosok pemuda bergerak, menggenggam ponsel ditangan, "intai wanita itu, kalau bisa culik diam-diam".
Para anak buah naga bergerak bersama-sama dari tempat yang berbeda.
Komando tugas turun, pekerjaan telah dikonfirmasi.
.........
Dari tempat jauh, gedung tinggi ditengah hutan, bos Jamal memegang ponselnya.
Tempat markas pelatihan pembunuh bayaran.
"Tangkap Herman, bawah kesini diam-diam sebelum bocah itu menangkapnya."
"Baik", jawab pemimpin pembunuh bayaran.
........
Tanpa disadari oleh publik yang terlihat dari permukaan bahwa semua baik-baik saja, namun pada kenyataannya semua mulai bergerak, seperti air danau yang tenang dipermukaan namun di dalamnya sedang bergejolak.
Memangsa satu sama lain.
Malam itu Bayu duduk di kursi teras, namun telinganya bergerak, ia mendengar pelatuk terkunci.
Dari arah gedung tinggi 90% ketinggian.
Gambar kepala Bayu tercetak dari teropong senjata penembak jitu.
"Sial, mereka mulai bergerak", tatapan Bayu yang semula santai kini dengan cepat menoleh kearah penembak jitu.
Matanya menyipit tajam.
Penembak jitu mengambil ancang-ancang membaca pergeseran arah angin, menghitung dengan cermat.
Bayu tiba-tiba mengangkat tangannya dan mengacungkan jari tengah kearah penembak jitu.
Dari dalam gambar teropong yang terkunci, pupil mata penembak jitu itu melebar, "sial dia menyadari, sepertinya tugas kali ini tak seperti biasa," gerutunya mulai menekan pelatuk.
"Buff...!!", Pelatuk ditekan, suara tembakan dengan peredam meletus.
"Mati.....!!!!" Pikir penembak jitu menggeram sambil menggertakkan gigi.
Bersambung.