"Menikahimu adalah ibadah terpanjang yang pernah aku ikrarkan. Namun, mengapa kini aku merasa sedang menyembah kehampaan di rumah yang tak lagi bertuan?"
Sepuluh tahun lamanya, Hana percaya bahwa kesetiaan adalah fondasi tunggal yang akan menjaga atap rumah tangganya tetap kokoh. Ia telah memberikan segalanya—masa mudanya, impian-impiannya, hingga seluruh napasnya hanya untuk melayani Aris, suaminya. Bagi Hana, rumah mereka adalah "Surga" kecil yang ia bangun dengan tetesan keringat dan doa-doa di setiap sujud malamnya.
Namun, perlahan "Surga" itu mulai terasa dingin. Aris, pria yang dulu selalu pulang dengan senyum hangat, kini berubah menjadi sosok asing yang membawa aroma parfum yang tak pernah Hana kenali. Tatapan matanya yang dulu penuh cinta, kini kosong dan seolah menembus tubuh Hana seakan ia adalah bayangan yang tak kasat mata.
Petaka itu dimulai saat sebuah nama dari masa lalu Aris kembali muncul. Aris tidak hanya lupa jalan pulang ke pelukan Hana, ia mulai "melupakan" sel
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23: Akar di Atas Bukit
Pagi pertama di "Pondok Harapan" tidak diawali dengan suara klakson yang memekakkan telinga atau deru mesin kota yang menyesakkan. Sebaliknya, Hana terbangun oleh simfoni alam yang jujur: gesekan daun pinus yang ditiup angin pegunungan dan kicau burung pipit yang bersahutan di dahan pohon cemara. Cahaya matahari masuk melalui celah gorden linen tipis, membentuk garis-garis emas di atas lantai kayu yang masih menyisakan aroma vernis segar.
Hana mengerjapkan matanya, merasakan kehangatan di sampingnya. Raka masih terlelap, napasnya teratur dan tenang. Wajah suaminya itu tampak begitu damai, jauh dari gurat kelelahan yang biasanya terlihat saat ia bekerja di bengkel kayu. Hana tersenyum tipis, jemarinya menyentuh permukaan cincin emas di jari manisnya. Ini nyata, bisiknya dalam hati. Aku benar-benar pulang.
Hana bangkit perlahan, berusaha tidak mengusik tidur Raka. Ia melangkah menuju balkon kecil yang baru saja selesai dibangun Raka sebagai hadiah pernikahan. Begitu pintu geser terbuka, udara dingin yang murni langsung menyerbu paru-parunya, membuatnya merasa hidup seutuhnya. Di depannya, lembah hijau terbentang luas, diselimuti kabut putih yang perlahan terangkat oleh sang surya.
Di sudut balkon, Raka telah menyiapkan sebuah meja kayu kecil dan kursi yang nyaman—ruang kerja yang ia janjikan. Di atas meja itu, terdapat sebuah buku catatan baru dengan sampul kulit berwarna cokelat tua. Hana membukanya. Di halaman pertama, Raka menuliskan sebuah kutipan pendek: "Untuk Hana, agar setiap kata yang kau tulis di sini menjadi benih kebahagiaan bagi banyak orang."
Air mata haru menggenang di sudut mata Hana. Ia mengambil pena, duduk menghadap lembah, dan mulai menuliskan kalimat pertamanya di rumah baru ini. Bukan tentang rasa sakit, bukan tentang Aris, melainkan tentang akar. Tentang bagaimana sebuah pohon harus menancapkan akarnya dalam-dalam di tanah yang jujur agar bisa tumbuh menjulang tinggi tanpa takut tumbang oleh badai.
Satu jam kemudian, aroma kopi mulai merambat ke balkon. Raka muncul dengan dua cangkir kayu besar di tangannya. "Selamat pagi, Nyonya Raka," godanya sambil memberikan satu cangkir pada Hana.
Hana tertawa kecil, menerima kopi itu. "Selamat pagi, Tuan Pemahat."
"Bagaimana tidurnya? Tidak terganggu suara jangkrik, kan?" Raka duduk di lantai kayu di samping kursi Hana, menyandarkan kepalanya di lutut istrinya.
"Justru itu musik tidur terbaik yang pernah kudengar, Ka. Aku merasa... sangat tenang. Seolah-olah seluruh beban sepuluh tahun terakhir menguap begitu saja bersama kabut itu," jawab Hana sambil mengusap rambut Raka.
Namun, ketenangan itu sedikit terusik saat ponsel Hana yang tergeletak di meja bergetar. Sebuah notifikasi dari grup WhatsApp koordinasi koperasi. Bu Endang mengirimkan foto beberapa pria berpakaian rapi yang berdiri di depan "Ruang Temu" cabang kedua di Jakarta Utara.
"Mbak Hana, maaf mengganggu bulan madunya. Ada utusan dari Kementerian Koperasi dan UKM. Mereka ingin meninjau sistem pembagian saham kita secara langsung. Katanya, pemerintah ingin menjadikan model kita sebagai standar nasional untuk pemberdayaan ekonomi perempuan di daerah pesisir. Mereka menunggu jawaban Mbak kapan bisa bertemu."
Hana menghela napas, menatap layar ponselnya. Ada rasa bangga, namun juga ada sedikit keraguan. Ia baru saja ingin menikmati ketenangan ini.
Raka, yang seolah bisa membaca pikiran Hana, menggenggam tangan istrinya. "Jangan merasa bersalah jika kamu ingin menunda mereka, Na. Ini waktu kita."
Hana menatap mata Raka yang teduh. "Ka, aku tahu kita baru saja sampai di sini. Tapi lihat foto-foto itu. Lihat wajah Bu Endang dan teman-teman lainnya. Mereka tampak sangat bangga. Jika aku menunda ini, aku merasa seperti memadamkan api yang baru saja mereka nyalakan bersama-sama."
Raka tersenyum bangga. "Itulah alasan kenapa aku mencintaimu. Kamu tidak pernah bisa meninggalkan mereka yang sudah menaruh harapan padamu. Pergilah jika kamu merasa itu benar. Aku akan menemanimu kembali ke Jakarta sore ini. Pondok ini tidak akan lari ke mana-mana. Ia akan selalu menunggu kita di sini."
Sore harinya, mereka sudah berada di dalam mobil, menembus kemacetan Jakarta yang mulai menyapa. Perjalanan dari bukit ke kota terasa seperti perjalanan dari mimpi ke realitas. Namun kali ini, Hana tidak takut pada realitas. Ia membawa "pondok" itu di dalam hatinya.
Begitu sampai di cabang kedua, Hana disambut dengan pelukan hangat dari para anggota koperasi. Pertemuan dengan utusan kementerian berlangsung hingga malam. Hana menjelaskan dengan gamblang bagaimana "Ruang Temu" bekerja: bukan sebagai atasan dan bawahan, melainkan sebagai ekosistem di mana setiap wanita memiliki suara dan bagian dari keuntungan.
"Ibu Hana, konsep Anda sangat progresif karena menyentuh aspek psikologis korban trauma sekaligus memberikan solusi ekonomi yang konkret," ujar salah satu pejabat kementerian. "Kami ingin mendukung ekspansi Anda ke lima kota besar lainnya tahun depan. Kami akan menyediakan dana hibah untuk pembangunan infrastrukturnya, asalkan sistem koperasinya tetap murni seperti ini."
Hana tertegun. Lima kota besar? Itu berarti ratusan, bahkan ribuan wanita lainnya bisa terselamatkan. Ia menoleh ke arah Raka yang berdiri di pojok ruangan, sedang mengobrol dengan staf konstruksi. Raka memberikan anggukan kecil yang penuh dukungan.
"Saya terima tantangan ini," ucap Hana tegas. "Tapi dengan satu syarat: tim kurasi dan pelatihan tetap dipegang oleh lulusan terbaik dari koperasi kami. Saya ingin mereka yang pernah jatuh yang mengajari mereka yang sedang terjatuh."
Malam itu, setelah pertemuan selesai, Hana dan Raka duduk di bar kafe yang sudah sepi. Sari menyajikan mereka dua gelas cokelat hangat.
"Lima kota besar, Na. Kamu akan sangat sibuk," ujar Raka lembut.
"Aku tahu, Ka. Tapi aku merasa ini adalah misi hidupku sekarang. Dulu Aris menghancurkan satu wanita—aku. Sekarang, lewat kehancuran itu, aku akan membantu ribuan wanita untuk bangun kembali. Itu adalah balas dendam yang paling indah, bukan?"
Raka tertawa pelan. "Balas dendam dengan cinta. Hanya kamu yang bisa terpikirkan hal itu."
Namun, di tengah kebahagiaan itu, sebuah kabar lain datang dari Maya. Melalui pesan singkat, Maya mengabarkan bahwa Mama Sarah kembali dilarikan ke rumah sakit. Kali ini kondisinya kritis. Aris, yang masih di penjara, kabarnya mengamuk karena tidak diizinkan keluar untuk menjenguk ibunya.
Hana terdiam sejenak. Ia melihat ke arah cincinnya. "Ka... apakah aku harus menjenguknya lagi?"
Raka menatap Hana dengan serius. "Tanyakan pada hatimu, Na. Apakah kamu menjenguknya karena rasa bersalah yang dipaksakan, atau karena kemanusiaan? Jika karena rasa bersalah, jangan pergi. Tapi jika karena kamu ingin memberikan kedamaian terakhir bagi seorang wanita tua yang malang, pergilah. Aku akan mengantarmu."
Hana merenung. Ia teringat bagaimana Mama Sarah dulu selalu menghinanya, membanding-bandingkannya dengan wanita lain, dan mendukung perselingkuhan Aris. Namun, ia juga teringat wanita tua yang rapuh di ranjang rumah sakit Kelas III itu.
"Aku akan pergi besok pagi, sebelum kita kembali ke bukit," putus Hana. "Aku ingin memastikan bahwa saat dia pergi nanti, tidak ada lagi beban kebencian di antara kami. Aku ingin benar-benar bersih, Ka."
Malam itu, Hana tidak bisa tidur dengan nyenyak di apartemennya. Ia teringat akan akarnya. Akar yang ia tanam di atas bukit itu kini harus cukup kuat untuk menopang beban di kota ini. Ia menyadari bahwa kesuksesan koperasinya dan kedamaian pribadinya adalah dua hal yang saling berkaitan. Ia tidak bisa benar-benar terbang tinggi jika masih ada benang-benang masa lalu yang tersangkut di kakinya.
Ia berjalan ke arah jendela, melihat gedung-gedung tinggi Jakarta. Di kejauhan, ia membayangkan Aris di dalam selnya, meratapi kehancurannya. Hana tidak lagi merasa benci. Ia hanya merasa kasihan. Kasihan karena Aris tidak pernah belajar bahwa kebahagiaan tidak bisa dibangun di atas penderitaan orang lain.