Kelanjutan Dari Novel Pangeran Sampah Yang Menyembunyikan Kemampuannya.
Di dunia yang terpecah oleh kebencian antar ras, perdamaian hanyalah mimpi yang dianggap mustahil.
Ferisu—mantan pangeran yang diremehkan—kini bangkit sebagai Raja Kerajaan Asterism. Sebuah kerajaan baru yang berani menentang hukum dunia dengan satu gagasan gila: kesetaraan bagi semua ras.
Manusia, elf, beastmen, dwarf, dan ras lainnya hidup di bawah satu panji yang sama.
Namun dunia tidak tinggal diam. Ancaman datang dari segala arah. Pengkhianatan mengintai dari dalam. Dan perang besar yang pernah menghancurkan peradaban perlahan kembali menunjukkan tanda-tandanya.
Mampukah Ferisu mempertahankan mimpinya?
Ataukah Asterism akan menjadi percikan yang membakar dunia dalam perang yang lebih dahsyat?
Sebuah kisah tentang ambisi, persatuan, dan perjuangan melawan takdir dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Katsumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 22 : Tarian Angin Sang Elf
Api menjulang tinggi di langit malam.
Gudang distribusi makanan di distrik timur berubah menjadi lautan api. Asap hitam membumbung, menelan cahaya lampu kota.
Orang-orang berlarian di jalan.
Beberapa warga membawa ember air.
Sebagian lain hanya berdiri dengan wajah panik.
"Air! Cepat ambil air!"
"Tolong selamatkan persediaan gandum!"
Namun api sudah terlalu besar.
Kayu-kayu tua gudang itu terbakar dengan suara retakan keras.
Di tengah kepanikan itu—.
Seorang pria mengenakan mantel hitam berdiri.
Licia memandangnya tanpa ekspresi.
"Siapa kau."
Pria itu menundukkan kepala sedikit.
"Bisa dibilang… orang yang datang untuk memastikan api ini menyebar."
Kerumunan mulai mundur. Mereka bisa merasakan sesuatu yang tidak biasa. Aura pria itu jelas bukan orang biasa.
Licia mengangkat pedangnya sedikit. Angin tipis mulai berputar di sekelilingnya. Sihir elemen angin.
Pria itu tertawa kecil. Ia mengangkat tangannya. Lingkaran sihir merah muncul di udara.
"Ayo kita lihat."
Api kecil mulai berkumpul di telapak tangannya.
"Seberapa kuat dirimu."
Licia tidak menjawab.
Namun tanah di bawah kakinya mulai bergetar pelan. Sihir elemen bumi. Debu halus terangkat dari jalan batu. Angin malam mulai berputar. Rambut emas Licia berkibar pelan.
Matanya berubah serius.
"Jika kau yang menyalakan api ini…" Ia mengangkat pedangnya. Ujungnya menunjuk langsung ke dada pria itu.
"Maka kau akan kuhentikan di sini."
Pria itu tersenyum lebar. Api di tangannya membesar.
"Kalau bisa."
BOOM.
Ledakan sihir meletus di tengah jalan. Api dan angin bertabrakan keras.
Gelombang kejut menyapu kerumunan warga hingga mereka mundur beberapa langkah.
Pertarungan dimulai.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...----------------...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di istana Asterism—Noa berdiri di balkon ruang kerjanya.
Matanya menatap ke arah langit timur. Asap hitam terlihat jelas dari kejauhan. Jantungnya berdegup lebih cepat.
"Sudah dimulai…"
Ia menggertakkan giginya. Jika Licia tidak berada di sana—kerusuhan pasti sudah pecah.
Namun sesuatu dalam dirinya masih terasa tidak tenang. Karena ia tahu—jika Duke Albrecht bermain sejauh ini… maka api malam ini—bukanlah langkah terakhirnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...----------------...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kembali ke distrik timur.
Api masih menyala di gudang belakang.
Langit malam memerah oleh kobaran api yang memantul di awan. Asap hitam membumbung tinggi, membawa bau kayu terbakar ke seluruh distrik timur.
Di tengah jalan batu yang retak karena panas—dua sosok berdiri saling berhadapan.
Angin malam berputar pelan di sekitar Licia. Rambut emas panjangnya berkibar lembut seperti benang cahaya di bawah langit gelap. Di tangannya, pedang elf ramping memantulkan cahaya api.
Di hadapannya—pria berjubah hitam itu tersenyum tipis. Api merah menyala di telapak tangannya. Lingkaran sihir muncul di udara.
Rune-rune merah berputar cepat seperti roda.
"Jadi kau elf yang menjadi salah satu tunangan raja itu?" katanya santai.
Licia tidak menjawab. Ia hanya mengangkat pedangnya sedikit. Angin di sekitarnya mulai berubah. Debu halus terangkat dari jalan batu. Kerikil kecil bergeser perlahan. Aura sihirnya mulai menyebar.
Pria itu mengangkat alis. "Oh?"
Ia mengayunkan tangannya. Lingkaran sihir di udara langsung menyala terang.
"Kalau begitu—"
Api besar meledak dari tangannya.
"COBA HENTIKAN INI!"
BOOOOM!
Gelombang api melesat seperti naga yang mengamuk. Udara di jalan langsung berubah panas. Kerumunan warga yang masih berada di kejauhan menjerit dan mundur.
Namun—Licia tidak bergerak.
Matanya tetap tenang. Saat api hampir menelannya—kakinya bergerak satu langkah.
SHING!
Pedangnya menebas udara.
Angin yang terkumpul di sekelilingnya meledak keluar.
WHOOSH!
Tebasan angin raksasa membelah api itu menjadi dua. Api yang terpotong terhempas ke kiri dan kanan jalan. Ledakan panas menghantam dinding bangunan.
Pria berjubah itu menyeringai. "Bagus."
Ia mengangkat kedua tangannya. Rune merah bermunculan di udara. Sepuluh lingkaran sihir menyala sekaligus.
"Bagaimana dengan ini?"
FWOOM!
Sepuluh tombak api terbentuk di udara. Masing-masing berputar dengan panas yang memelintir udara. Lalu semuanya ditembakkan sekaligus.
Langit malam dipenuhi cahaya merah. Namun tubuh Licia sudah bergerak lebih dulu. Langkahnya ringan. Seolah kakinya hampir tidak menyentuh tanah.
Tombak api pertama menghantam tanah.
BOOM!
Jalan batu meledak. Namun Licia sudah melompat. Pedangnya menari.
SHING! SHING! SHING!
Tiga tombak api dipotong di udara. Ledakan api berhamburan seperti kembang api di belakangnya.
Ia mendarat ringan. Namun dua tombak api terakhir datang dari dua sisi.
Tanpa menoleh—Licia memutar pedangnya. Tanah di bawah kakinya tiba-tiba terangkat.
CRACK!
Dinding batu setinggi dua meter muncul dari tanah.
BOOM!
Dua tombak api menghantam dinding itu dan meledak. Debu dan pecahan batu berhamburan.
Pria berjubah hitam tertawa kecil.
"Menarik."
Ia mulai berjalan maju perlahan.
"Elf dengan dua elemen sekaligus."
Matanya menyipit.
"Tapi apakah itu cukup?"
Lingkaran sihir baru muncul di udara. Rune-nya jauh lebih kompleks. Energi sihir di sekitarnya melonjak tajam. Udara bergetar.
Licia merasakan perubahan itu.
Ini bukan sihir biasa.
Ia menghela napas perlahan.
Lalu—menutup matanya.
Angin malam tiba-tiba menjadi sunyi. Seolah dunia berhenti sejenak. Ketika Licia membuka matanya kembali—ia mengangkat pedangnya ke langit.
Angin langsung berkumpul di sekitarnya. Rambut emasnya terangkat oleh pusaran udara.
Licia berbicara pelan.
"Roh angin yang menari di langit bebas…"
Cahaya hijau lembut mulai muncul di udara.
Daun-daun yang terbawa angin berputar di sekelilingnya.
"Aku memanggilmu atas kontrak jiwa kita."
Angin tiba-tiba berputar semakin cepat. Debu dan serpihan batu terangkat dari tanah. Udara berubah dingin dan ringan.
"Datanglah…"
Suaranya lembut.
Namun jelas.
"Sylph."
WHOOSH!!
Ledakan angin raksasa meletus di belakang Licia. Pusaran angin membumbung tinggi ke langit seperti tornado kecil. Dari dalam pusaran itu—sebuah sosok perlahan muncul.
Tubuhnya kecil. Seperti gadis mungil bercahaya. Rambutnya panjang berwarna hijau pucat. Tubuhnya terbuat dari cahaya angin yang berkilau. Sayap transparan bergetar lembut di punggungnya.
Ia melayang perlahan di udara. Matanya terbuka. Bersinar lembut.
"Sungguh lama… Putri Licia."
Suaranya ringan seperti bisikan angin.
Pria berjubah hitam itu membelalakkan mata.
"Roh tingkat tinggi…?"
Sylph memiringkan kepalanya. Ia melihat pria itu seperti melihat serangga.
"Putri."
Ia berkata lembut.
"Apakah ini musuhmu?"
Licia mengangguk pelan.
"Ya."
Sylph tersenyum kecil. Angin langsung berputar lebih kuat. Seluruh jalan dipenuhi pusaran udara. Rambut dan jubah pria itu berkibar liar.
Ia menyeringai. Namun keringat mulai muncul di dahinya. "Jadi ini kartu asmu?"
Sylph mengangkat tangannya. Angin langsung berkumpul di telapak kecilnya. Namun sebelum ia menyerang—Licia sudah bergerak.
Tubuhnya melesat seperti bayangan.
WHOOSH!
Tanah retak di tempat ia berdiri tadi.
Dalam satu detik—ia sudah berada di depan pria itu. Pedangnya berkilat.
SHING!!
Pria itu nyaris tidak sempat bereaksi. Ia melompat mundur. Namun—Sylph sudah mengangkat tangannya.
"Air Cutter."
FWOOSH!!
Puluhan bilah angin transparan melesat dari udara. Pria itu memunculkan dinding api.
BOOM!
Api dan angin bertabrakan. Ledakan udara menyapu jalan. Debu dan api berputar seperti badai kecil.
Namun di tengah kekacauan itu—Licia muncul dari sisi kanan. Pedangnya sudah berada beberapa sentimeter dari leher pria itu.
Gerakannya elegan. Cepat. Mematikan.
Pria itu membeku. Matanya melebar. Jika ia bergerak sedikit saja—kepalanya akan terpisah dari tubuhnya.
Angin malam kembali tenang. Sylph melayang pelan di udara. Mata Licia tetap dingin.
"Siapa yang mengirimmu."
Suaranya rendah.
Pria itu tersenyum tipis.
Namun sebelum ia menjawab—tiba-tiba—sebuah panah hitam melesat dari atap bangunan.
FSSSH!!
Panah itu menembus dada pria berjubah hitam itu.
Darah muncrat.
Licia langsung melompat mundur.
Pria itu terhuyung. Ia menatap ke arah atap dengan mata terkejut.
"Sial…"
Tubuhnya jatuh ke tanah.
Diam.
Mati.
Angin malam berhembus pelan.
Sylph memandang ke arah atap bangunan.
Matanya menyipit.
"Putri…" bisiknya.
"Ada orang lain."
Di atas atap—sebuah bayangan berdiri.
Angin meniup jubah hitamnya.
Ia memandang ke arah Licia dari kejauhan.
Lalu tersenyum tipis.
"Roh Sylph…"
Suaranya pelan.
"Ternyata Asterism punya elf yang menarik."
Licia menggenggam pedangnya lebih erat.
Matanya menatap tajam ke arah bayangan itu.
Namun—dalam sekejap—bayangan itu sudah menghilang.
Hanya angin malam yang tersisa.
Sylph memandang langit.
Ekspresinya berubah sedikit serius.
"Putri…" bisiknya.
"Aku punya firasat buruk."
Api gudang masih menyala di belakang mereka. Namun sesuatu terasa jauh lebih berbahaya dari sekadar kebakaran. Dan jauh di wilayah timur—di dalam kastil keluarga Albrecht—seorang pria tua sedang tersenyum sambil melihat laporan.
"Menarik."
Ia meletakkan kertas itu di meja.
"Jadi Elf itu memanggil roh angin tingkat tinggi—Sylph."
Matanya menyipit pelan.
"Kalau begitu… waktunya memanggil bidak berikutnya."