NovelToon NovelToon
Misi Rahasia Dengan Kode Merah

Misi Rahasia Dengan Kode Merah

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan / TKP / Dokter / Permainan Kematian / Psikopat
Popularitas:969
Nilai: 5
Nama Author: `AzizahNur`

Seorang detektif ternama ditugaskan menyelidiki serangkaian kematian aneh yang tampak seperti kecelakaan, kelalaian kerja, bahkan bunuh diri. Namun, di balik kasus-kasus ringan itu, perlahan terbentuk pola yang mengarah pada sesuatu yang tak terduga.

Di tengah penyelidikan, ia bertemu seorang mahasiswi kedokteran yang aneh dan tak biasa. Gadis itu kerap muncul di saat-saat krusial—memberi analisis, menolong di lapangan, dan membantu mengungkap detail yang luput dari penyelidikan resmi. Hubungan mereka tumbuh akrab, meski bayang-bayang masa lalu gadis itu masih menyisakan luka.

Seiring waktu, kasus-kasus berkembang menjadi pembunuhan berantai yang semakin brutal. Kota yang sempat kembali tenang diguncang teror baru, kali ini tanpa upaya menyamarkan kejahatan. Luka-luka serupa tertinggal di setiap korban, seolah sang pelaku ingin dikenali.

Tak ada yang mengira.

apakah ia sedang memburu seorang pembunuh… atau justru telah berjalan di sampingnya sejak awal?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon `AzizahNur`, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 23 : Rencana kambing hitam

Denting sendok beradu di bibir cangkir memecah keheningan, suaranya tipis namun tajam di ruangan yang hanya diterangi lampu oranye temaram. Di atas meja berserakan botol-botol mahal, etiketnya menunjukkan harga yang tak perlu disebut, setengah penuh, tertinggal oleh gelas-gelas kristal yang memantulkan cahaya redup seperti mata yang mengamati.

Bau minuman keras menggulung di udara, bercampur dengan aroma parfum hangat dan asap rokok tipis yang menempel di furnitur kulit.

“Kerja bagus. Pantas kita rayakan.” Ucapan itu keluar dengan nada santai namun penuh kebanggaan, dibalas dengan bunyi gelas bertemu gelas saat dua pria mengangkat minuman mereka. Sentuhan suasana merayakan, namun di balik tawa halus itu tersimpan kepuasan yang dingin, sejenis kepuasan yang tak mempedulikan nyawa.

“Aku yakin polisi akan kebingungan dengan meningkatnya jumlah korban tahun ini,” ujar salah satu pria sambil menyunggingkan senyum lebar. Matanya menyala senang ketika melihat rekan di depannya, seperti pemburu yang menatap hasil tangkapannya.

“Bukankah begitu, manajer Henry?”

Manager Henry mengangguk pelan, meneguk habis isi gelasnya hingga tak bersisa. Wajahnya memerah, pembuluh nadinya sedikit menonjol, tanda orang yang mabuk tapi masih mencoba menjaga wibawa. “Betul, tuan,” jawabnya. “Beruntung chip itu meledak sebelum si tua sempat membocorkan semuanya.”

Kata-kata itu melahirkan tawa singkat dari pria utama. Namun seketika senyum itu memudar, digantikan kilasan amarah saat ia membayangkan bagaimana seharusnya jika kejadian itu terjadi dalam cengkeramannya sendiri. Ia memandang tangan kanannya, seolah bayangan kekerasan yang diidamkannya bisa terasa nyata. “Kalau saja dia mati di tanganku…” gumamnya, suaranya menurun menjadi dingin. “Akan ku hancurkan sampai tulang belulangnya tak tersisa.”

Lelucon kembali berkumandang, terdengar kering dan sinis, ketika seorang wanita cantik meluncur duduk di samping mereka. Rambutnya terurai rapi, bibirnya merah mengkilap; jari-jari lentiknya mengalun di pipi pria itu, lalu merayap rendah ke dada, sentuhan yang dipentaskan sebagai permainan, namun penuh arti. Ia memandang dua pria itu dengan campuran kelembutan dan kelicikan seksual.

“Bagaimana dengan kematian Dr. Mily dan dua lainnya?” Henry menyelipkan pertanyaan, nadanya berubah menjadi serius, menyedot suasana menjadi tegang. Pembicaraan ringan mengendur; topik itu bergema lebih berat dari denting gelas.

Pria di hadapannya menutup mata sejenak, meletakkan gelas kosong dengan gerakan lambat ke atas meja. Ia bersandar, tangan merengkuh punggung sofa, menggenggam bahu wanita di sisinya seolah memeluk kenyamanan. “Akan kucari cara untuk menghapus berita itu,” jawabnya pelan, suaranya seperti janji yang tak disukai namun perlu ditepati.

Wanita itu mengangkat gelas, menuangkan sedikit minumannya, lalu menyerahkannya kembali kepada pria tersebut dengan senyum menggoda, sebuah ritual yang biasa terjadi di club malam. “Untuk sekarang,” Lelaki itu berbisik pelan, “Kita pokus tarik pasien sebanyak mungkin ke konseling psikologis. Dengan begitu alur akan mengalir sesuai rencana, dan berita itu akan hilang dengan sendirinya.”

Kembali senyap, kecuali napas berat manager Henry yang terdengar di antara tawa yang tertahan. Wajahnya makin memerah, matanya sedikit berkaca, sebuah tanda kerentanan yang dimanfaatkan lawan bicaranya. Sang wanita di sebelahnya terus menggoda, kata-katanya manis.

“Dan… pastikan gadis itu tetap menjadi sasaran, tuan Reed,” tambahnya, nada itu dingin namun penuh keyakinan. Dengan gerakan tiba-tiba, gelas di meja dijatuhkan hingga pecah, serpihan berhamburan seperti pengingat akan kekerasan yang siap mereka lepaskan.

Tawa ringan mengikutinya, lalu manager Henry menoleh dengan senyum kebinatangan. “Sesuai perintah anda, tuan. Gadis itu akan terus menjadi buruan Tuan Reed.”

1
Vie
lumayan seru juga sebenarnya... penuh dengan rahasia.... 👍👍👍👍
sahabat pena
hey nona sekali lagi tabrakan sama si kuttub Alexander dpt piring pecah loh🤣🤣🤣🤣
sahabat pena
tiba-tiba horor euy pintu ketutup sendiri🤣🤣🤣🤣
sahabat pena
apakah mereka berjodoh? tabrakan untuk ke-dua kali nya 🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!