Dimas Anggara laki-laki yang berusia sekitar 33 tahun, nama dan wajahnya akan selalu membuat hati seorang Ratih terhenyak betapa tidak karena sudah lebih dari sepuluh tahun ini orang yang selalu mengisi hari-hari nya itu tiba-tiba pergi begitu saja meninggalkan dirinya tanpa ada salam dan kata perpisahan untuknya.
Dan kini di tengah Ratih sudah mulai bangun dari kerapuhan hatinya tiba-tiba saja dia bertemu kembali dengan Dimas Anggara.
yuk baca kisahnya di sini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isshabell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.22 hari menghilangnya Dimas
Ratih terduduk di kursi dekat jendela kamarnya, pandangannya jauh ke luar jendela menatap langit yang membawanya kembali mengingat saat di mana Dimas pergi dari hidupnya waktu itu.
Hari itu adalah hari yang sangat mencekam
buat Ratih, di mana waktu itu ada beberapa preman yang silih berganti datang ke rumahnya menagih hutang ke Pak Surya ayah Ratih.
Bu Dewi ibu Ratih menangis histeris dan Pak Surya terkena serangan stroke mendadak mendengar perusahaan nya mengalami pailit dan banyak utang di mana-mana sementara para preman itu datang silih berganti menuntut pembayaran hutang Pak Surya yang sangat banyak.
Dunia Ratih serasa runtuh, dia bingung melihat ibunya menangis terus dan ayahnya yang tiba-tiba terkena stroke. Di tengah tekanan yang hebat itu satu-satunya nama yang bisa memberikannya kekuatan saat ini adalah Dimas.
Ratih mengusap air mata di pipinya yang mulai tumpah, dia bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah nakas yang ada di sudut ruang tamu itu, dia mengambil handphonenya. Ratih menghubungi Dimas tapi beberapa kali dia menelpon tidak satupun yang di terima oleh Dimas.
Ratih mulai panik dan tegang, tapi dia masih berusaha untuk bersikap setenang mungkin di hadapan kedua orang tuanya yang masih shock mendengar perusahaan mereka yang pailit.
"Bu...ibu tenang dulu ya. Aku akan mencoba mencari bantuan ke Dimas siapa tahu dia bisa memberikan bantuan ke kita," Ratih mendekap tubuh ibunya yang masih menangis itu.
"Kamu yakin? Bagaimana dengan ayahmu?" Bu Dewi menatap Ratih sedih.
"Iya aku yakin Bu, untuk sementara ayah di rawat di rumah dulu ya," Ratih mencoba menenangkan ibunya dan ayahnya yang sangat shock mendengar berita tentang perusahaan mereka.
Bu Dewi mengangguk lemah, dia menatap nanar pada suaminya yang terbaring di kursi sofa panjang ruang tamu itu.
Ratih mencoba menahan rasa pening di kepalanya dia tidak mau ayah ibunya tahu kalau sebenarnya pikirannya juga ikut kacau mendengar semua ini.
Di dalam kamarnya sana Ratih mencoba menghubungi Dimas lagi sambil menangis, namun tiba-tiba saja nomer Dimas tidak aktif.
Kemudian Ratih mengirimkan WhatsApp pada Dimas. " Dimas... kamu di mana? Aku butuh kamu sekarang. Di rumahku lagi kacau Dim," tapi pesan itu centang satu dan Ratih semakin panik.
Karena tidak segera mendapatkan jawaban dari Dimas, akhirnya Ratih berniat pergi ke rumah Dimas meski hari sudah malam dan cuaca terlihat mendung.
Ratih berjalan ke arah kamar ibu dan ayahnya, terlihat Bu Dewi sedang memijit kaki Pak Surya. Ratih berdiri di ambang pintu kamar itu, hatinya tidak tega melihat kesedihan yang di alami orang tuanya saat ini.
Perlahan Ratih berjalan mendekat ke arah ibunya yang duduk di bibir tempat tidur.
"Bu," dengan halus Ratih memanggil ibunya yang masih memijit kaki ayahnya.
Bu Dewi mendongakkan kepalanya perlahan menatap Ratih yang sudah berdiri di sampingnya.
Ratih melihat mata ibunya yang masih sembab, hati Ratih serasa teriris sembilu melihat hal itu. Dia tahu ibunya terus menangis sejak kejadian tadi siang di rumahnya itu.
Ratih duduk di kursi yang ada di samping tempat tidur, dia menghadap pada ibunya. Ratih memegang tangan yang agak keriput itu sambil mengusapnya perlahan.
"Bu, aku akan keluar sebentar untuk mencari bantuan. Ibu temani ayah di rumah ya," Ratih menggenggam tangan wanita itu yang masih terdiam menatap dirinya tanpa berkata apapun.
"Kamu hati-hati ya, jangan lama-lama ibu takut orang-orang tadi datang lagi ke rumah mencari ayahmu," suara itu terdengar parau dan tercekat.
Ratih mengusap punggung tangan ibunya sambil berkata padanya," Ratih akan segera kembali Bu," ucapnya mencoba menenangkan ibunya yang sedang khawatir itu.
Kemudian Ratih pun pergi meninggalkan ibu dan ayahnya, Ratih naik ke dalam taxi yang sudah di pesannya lewat online.
Saat taxi itu sudah tiba, Ratih pun segera masuk dan duduk di bangku tengah. Lalu supir taxi itu pun segera menjalankan taxi nya ke arah jalan besar menuju ke alamat rumah Dimas di jalan perjuangan.
Dan setelah beberapa menit melalui jalanan yang sangat ramai itu akhirnya Ratih pun tiba juga di depan rumah Dimas.
"Terimakasih pak," Ratih keluar setelah menyodorkan selembar uang lima puluh ribuan pada supir taxi online tersebut.
Ratih melangkah masuk ke teras rumah Dimas, tidak seperti biasanya rumah itu terlihat sepi sekali.
Ratih mencoba mengetuk pintu rumah itu berkali-kali tapi tidak ada jawaban sama sekali.
Tiba-tiba ada seorang perempuan paruh baya datang menghampiri Ratih yang masih berdiri di depan pintu rumah Dimas dengan wajah cemas.
"Nak...mencari siapa?" tanya perempuan itu pada Ratih dengan halus.
"Saya mencari Dimas Bu," ucap Ratih.
Tadi pagi-pagi sekali ibu lihat Dimas bersama ibu dan ayahnya dan juga adiknya pergi meninggalkan rumah ini.
"Pergi kemana mereka Bu?" tanya Ratih cemas.
"Dengar-dengar katanya mereka pindah dari sini," ucap ibu itu membuat jantung Ratih serasa berhenti berdegup.
"Pindah!" pekik Ratih.
"Iya mereka pindah tapi tidak tahu kemana, gak ada yang tahu dan mereka pun tidak berpamitan pada tetangga di sini."
Ratih luruh di depan pintu rumah keluarga Dimas dulu tinggal, merasa benar-benar ditinggalkan dan dikhianati oleh pria yang paling ia percayai di saat dia berada di titik terendah hidupnya.
"Dimas...kamu pergi kemana...? Kenapa tidak memberi tahu aku dan ada apa sebenarnya Dim...?" getir saat ini yang sedang Ratih rasakan, dunianya serasa hancur, bayangan orang-orang penagih hutang itu melintas di hadapannya.
Ratih melangkah lemas meninggalkan rumah Dimas, air matanya jatuh tak terbendung lagi. Dia menangis membawa kesedihan hatinya dan di bawah gerimis yang tiba-tiba saja turun Ratih terus berjalan tanpa arah, dia tidak tahu harus pergi kemana untuk mencari Dimas.
Tiba-tiba Ratih menghentikan langkahnya, dia terduduk lemas sambil menangis di pinggir jalan di bawah gerimis yang semakin deras.
Dari arah belakang terlihat sorot lampu dari sebuah mobil mewah yang melintas di jalan itu, tiba-tiba mobil itu berhenti tepat di samping Ratih yang masih terduduk lemas itu.
Pintu mobil mewah itu terbuka. Regan turun dari mobil itu sambil membawa payung hitam di tangannya.
Dia berjalan mendekat ke arah Ratih dan meletakkan payung itu di atas kepala Ratih yang basah oleh gerimis.
Regan memanfaatkan momen itu untuk mencuci otak Ratih. "Lihat, Rat? Pria yang kamu bangga-banggakan itu pergi lari dari tanggung jawab saat tahu keluargamu bangkrut. Dia pengecut. Cuma aku yang ada di sini buat kamu."
Regan kemudian menyodorkan surat kesepakatan suntikan dana untuk perusahaan ayahnya, dengan syarat Ratih harus menerima pinangannya. Karena sudah tidak punya pilihan dan merasa ditinggalkan oleh Dimas, Ratih akhirnya menandatangani "kontrak neraka" tersebut.