NovelToon NovelToon
Calon Duda Itu, Calon Suamiku

Calon Duda Itu, Calon Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Romansa
Popularitas:51.8k
Nilai: 5
Nama Author: Ichageul

"Papa tidak setuju!"

Terdengar suara tinggi Dion setelah mendengar keinginan anaknya, yang ingin menikah dengan pria yang berjarak 13 tahun dari sang putri.

"Aku ngga mau nikah, kalau bukan sama Om Alvin!" Sisil bersikeras.

"Tidak bisa!" tegas Dion. "Kamu itu masih muda, cantik, pintar. Jangan rendahkan diri kamu dengan menjadi PELAKOR!!"

***

Ingat, jangan nabung bab!

Follow IG : ichageul9563

Facebook : Khairunnisa (Ichageul)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichageul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keputusan

Pagutan lembut Alvin terus berlanjut, memaksa Sisil membalas pagutan pria itu walau gerakan bibirnya masih terasa kaku.

Tak ada Anyelir, tak ada suami orang, yang ada di kepalanya sekarang, bagaimana membalas ciuman Alvin?

Untuk beberapa saat keduanya masih melanjutkan adegan pertautan bibir, sampai akhirnya sayup-sayup terdengar suara adzan dari masjid yang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah.

Hei … bangun!

Mata Sisil seketika terbuka ketika mendengar suara di kepalanya. Wajah Alvin yang tadi ada tepat di depannya seketika menghilang. Berganti dengan langit-langit kamar yang tidak bisa dilihatnya dengan jelas karena kamarnya masih gelap.

Sialan! Ternyata cuma mimpi! Rutuk Sisil.

Ciuman hangat tadi nyatanya hanya mimpi belaka. Namun begitu, Sisil masih bisa merasakan hangatnya bibir Alvin. Tangannya meraba bibirnya yang basah oleh salivanya sendiri. Jantungnya masih berdegup kencang, seolah kejadian tadi nyata adanya.

Pelan-pelan gadis itu bangun dari tidurnya. Untuk sesaat dia duduk di ranjang, berusaha mengumpulkan nyawanya yang masih berceceran. Bahkan ingatannya masih terpaku pada mimpinya sebelum bangun.

“Haisshhh ….”

Gadis itu mengacak-acak rambutnya sendiri. Entah bagaimana Alvin bisa masuk ke dalam mimpinya, bahkan mencium bibirnya. Apakah ini keinginan dari lubuk terdalamnya? Nyatanya pembicaraan terakhirnya dengan pria itu memang selalu berseliweran di kepalanya sampai menjelang tidur.

Sambil menguap, Sisil beranjak dari ranjang. Dia mengambil handuk lalu masuk ke kamar mandi. Guyuran air dingin diharap bisa mengembalikan kesadarannya dan membuat tubuhnya lebih segar.

Dua puluh menit kemudian, gadis itu selesai dengan mandinya. Kaos longgar yang dikenakannya dibiarkan menjuntai sampai sebatas paha. Sementara untuk bagian bawahnya mengenakan jeans selutut.

Sisil memoles wajahnya dengan tone up, lalu bibirnya dipoles lipstick warna bibir. Tak lupa parfum disemprotkan ke tubuhnya. Terakhir, gadis itu menata rambutnya. Dia mengikat rambut dengan gaya kuncir kuda. Memperlihatkan tengkuknya yang putih mulus.

Dengan langkah riang, gadis itu menuju dapur. Selama Bi Dian belum kembali, maka tugas wanita itu diambil alih olehnya. Bukan hanya memasak, tapi semua pekerjaan rumah dikerjakan olehnya.

Lalu apa yang dilakukan Anyelir?

Tidak ada!

Dengan alasan bekerja, wanita itu sama sekali tidak mau membereskan rumah. Bahkan hanya untuk sekedar membereskan tempat tidur. Sehari-hari, Alvin yang membereskan ranjang mereka.

Sambil menunggu nasi matang, Sisil menyapu dan mengepel seluruh rumah. Setelahnya dia mulai berkutat di dapur, menyiapkan sarapan. Untuk makan pagi kali ini, dia hanya akan membuat menu sederhana, memanfaatkan bahan yang tersisa di kulkas.

Setelah semua bahan yang dibutuhkan tertata di atas meja, gadis itu segera mengolahnya. Tangannya bergerak lincah memotong dan mengaduk makanan di wajan.

Karena masakan yang dibuatnya simple dan mudah, dalam waktu empat puluh lima menit, tiga menu sudah tersaji di atas meja. Sosis saos asam pedas, orak-arik telur dengan buncis serta tahu yang dilapisi adonan tepung sudah tersedia di atas meja.

Anyelir keluar dari kamarnya. Tubuhnya sudah terbalut setelah kerja, blazer yang dipadu rok pensil dengan warna senada. Dia cukup terkejut meilhat keadaan rumah yang sudah bersih, rapih dan kinclong.

“Eh Nyonya Alvin sudah bangun dan siap kerja,” sambut Sisil. Percayalah nada suara gadis itu penuh dengan sindiran.

“Apa Bi Dian sudah pulang?” tanya Anye mengabaikan sambutan nyinyir Sisil.

“Belum. Kenapa? Tante heran kalau rumah sudah bersih dan kinclong?” Sisil malah balik bertanya dengan nada yang tidak enak didengar Anyelir. “Aku yang sudah membersihkan rumah, dan memasak sarapan buat kita semua. Anggap saja, ini persembahan istri muda,” lanjut Sisil cuek.

Namun ocehannya seketika tak berlanjut ketika dia melihat Alvin keluar dari kamar lain. Rupanya pria itu tidak tidur di kamarnya semalam.

Ada perasaan senang menyusup di hati Sisil. Akan lebih baik kalau mereka pisah kamar selamanya. Eh ….

“Ayo sarapan dulu, Mas,” Anyelir memeluk lengan Alvin. Namun dengan cepat Alvin melepaskan pelukan sang istri di lengannya. Dia berjalan menuju ruang makan.

“Ini semua kamu yang masak?” tanya Alvin sambil melihat pada Sisil.

“Ehm … iya, Om,” jawab Sisil pelan tanpa berani melihat pada pria itu. Seketika Sisil merasa gugup. Begitu melihat Alvin, yang terbayang adegan di dalam mimpinya.

Alvin menarik sebuah kursi di depan Sisil, sementara Anyelir memilih duduk di sampingnya.

Ketiganya langsung menikmati makanan dengan tenang. Tidak ada percakapan sama sekali di antara mereka. Hanya terdengar denting sendok saja yang beradu dengan piring.

Tak sampai dua puluh menit, semua sudah menyelesaikan sarapannya.

Anyelir bergegas berangkat ke kantor sebelum terjebak kemacetan, sementara Alvin masih bersiap.

“Kamu masih butuh data apalagi?” tanya Alvin seraya melipat lengan kemejanya.

“Udah komplit kok,” Sisil berjalan mendekati Alvin lalu bantu menggulung lengan kemeja. “Aku tinggal nyusun UP (Usulan Penelitian) aja. Hari ini aku mau di rumah aja, nyusun UP.”

“Hari ini Om sibuk. Ada beberapa orang yang harus Om temui. Kamu ngga usah masak, fokus aja ke UP kamu. Kalau mau makan beli aja atau pesan online.”

“Iya, Om.”

“Dan Om masih nunggu jawaban kamu, Sil.”

Gerakan tangan Sisil seketika terhenti. Gadis itu terlihat gelisah. Jawaban yang diinginkan Alvin tentu tidak bisa dia berikan sekarang. Gadis itu masih cukup waras untuk tidak menjadi orang ketiga di rumah tangga pria itu.

“Om tahu … pasti status Om yang buat kamu ragu. Tapi … Om juga sudah memutuskan untuk mengejar kebahagiaan Om sendiri. Om akan bereskan masalah Om. Kalau masalah sudah selesai, Om harap kamu sudah punya jawaban untuk diberikan.”

Sebuah usapan pelan diberikan Alvin di kepala Sisil. Saat pria itu hendak pergi, terdengar suara pelan Sisil yang membuatnya menahan langkah.

“Apa perasaan Om padaku, serius?”

“Tentu saja,” jawab Alvin sambil membalikkan badan pada gadis itu.

“Apa Om sudah tidak punya perasaan lagi sama Tante Anye? Rasanya terlalu cepat Om berpaling hati.”

“Apa bisa disebut berpaling, kalau sedari awal perasaan itu tidak pernah ada?”

Jawaban sekaligus pertanyaan Alvin sukses membuat Sisil melihat padanya.

“Maksud Om ….”

“Alasanku menikah dengan Anye karena Nenek. Begitu juga alasanku tetap bertahan dengannya sampai hari ini, semua karena janjiku pada Nenek. Tapi … aku ngga sanggup menepati janjiku pada Nenek. Aku ingin mengejar kebahagiaanku sendiri.”

Alvin mulai mengubah panggilannya dari Om menjadi Alvin. Pria itu serius ingin mengubah status di antara mereka. Setelah urusannya dengan Anyelir selesai, dia akan mendatangi Dion untuk melamar gadis pujaan hatinya.

“Kamu maukan menungguku?” dua bola mata Alvin menatap Sisil dengan dalam. Sorot matanya penuh dengan harapan dan kehangatan.

Tanpa sadar kepala Sisil mengangguk, dan sukses menarik senyum di bibir Alvin. Walau hanya anggukan pelan, namun sudah cukup untuk membuatnya membulatkan tekad untuk menjalankan keputusan yang sudah diambilnya semalam.

Dengan wajah sumringah dan perasaan bahagia, Alvin keluar. Dia segera masuk ke dalam mobilnya yang sudah dipanaskan tadi. Tak berapa lama, kendaraan roda empat itu segera melaju pergi.

Sisil tersadar dari lamunannya ketika mendengar deru mobil Alvin. Gadis itu segera berlari menuju kamarnya. Dengan cepat dia mengambil ponsel lalu mencari nomor sang Mama. Dengan cepat gadis itu menghubungi Mama sambungnya.

“Halo.”

“Mama ….”

***

Suasana Blue Mart sudah cukup ramai didatangi pengunjung, ketika Alvin memasuki lobi gedung retail tersebut. Kantor manajemen Blue Mart cabang Jakarta memang masih gedung dengan lokasi perbelanjaan.

Selain tempat belanja, gedung Blue Mart ini juga sudah terdapat fasilitas lain seperti gym, pujasera, bioskop, arena bermain, salon kecantikan, sampai klinik dokter kulit. Semuanya terbagi ke dalam lima lantai. Sementara kantor manajemen berada di lantai enam dan tujuh.

Pria itu sengaja untuk menemui temannya yang menjadi manajer HRD di Blue Mart. Tujuannya sudah pasti untuk mencari tahu apa saja yang dilakukan Anyelir.

Kehadiran Sisil membuat matanya terbuka. Dia sudah bertekad untuk mengejar kebahagiaannya sendiri. Tadi Alvin baru saja bertemu dengan temannya yang seorang pengacara.

Perceraian tanpa alasan kuat, bisa menjadi persidangan yang alot. Bahkan tidak mungkin hakim akan membatalkan gugatan cerai.

Karenanya dia ingin mencari tahu tentang istrinya. Kecurigaannya pada sang istri yang sering melakukan lembur bisa jadi menjadi peluang untuknya.

“Alvin,” sambut Davin, temannya yang juga manajer HRD.

Kedua pria itu bersalaman hangat. Davin mempersilakan Alvin untuk duduk. Tanpa basa-basi, Alvin langsung mengutarakan maksud kedatangannya.

“Oh … jadi kamu suaminya Anye,” ujar Davin cukup terkejut. Pasalnya selama bekerja di sini, Anyelir tidak pernah mengekspos siapa suaminya. “Anye ngga pernah spill suaminya soalnya, hahaha ….”

Alvin hanya tersenyum tipis. Otaknya mulai berpikir negatif.

Apa yang membuat Anyelir menyembunyikan dirinya sebagai suaminya?

“Anye sering banget tugas luar kota ya. Setahun ini, sudah tiga kali dia keluar kota.”

“Ya. Blue Mart memang baru buka dua cabang lagi. Kami mengirimkan orang dari divisi keuangan untuk memberikan pelatihan pada karyawan baru di sana. Terakhir, kamu mengirim mereka untuk mengatasi masalah di Medan. Perintah dari kantor pusat juga sih.”

“Biasanya kalau keluar kota, dia pergi sendiri atau bersama tim?”

“Bareng tim, biasanya berisi dua atu tiga orang.”

Davin memperlihatkan dokumen penugasan Anyelir. Sebenanrnya hal ini bersifat rahasia. Tapi berhubung Alvin merupakan kerabat pemilik Blue Mart, jadi tidak ada masalah. Apalagi Randi sudah menghubunginya.

Jika Alvin datang dan bertanya soal kepegawaian di sana, memintanya untuk memberikan informasi yang diberikan.

Alvin langsung memeriksa berkas yang diberikan Davin. Dia memeriksa nama-nama pegawai divisi keuangan yang ditugaskan keluar kota bersama istrinya.

Dari daftar tersebut, terlihat satu nama yang sama selalu pergi bersama istrinya tugas keluar kota.

***

Hayo loh

1
Lila
karepmu lah Nye..atur2 aja gmna baiknya menurut kamu..
yg penting nti di Ending om Alvin ttp sma sisil🤭
sakura hanae @ mimie liyana❤️
Untunglah Sisil sdh laporan ama Kirana. Jd sebenarnya usaha tuh sia-sia aja 🤭
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
aq masih positif mak 🤣🤣
@$~~~tINy-pOnY~~~$@: positif thinking loh mak😎😎
total 2 replies
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
jgn2 mau taruh kamera nih si rian. aq msh positif thinking loh amamu. jangan mengecewakan ya
Kusii Yaati
tuh kan bener Rian berkhianat.... dasar penghianat, walau pun kamu mencintai Sisil tapi cinta kan nggak bisa di paksa...males ah😤
Hasnawati Hasna
ternyata memang benar bahwa tidak ada pertemanan antara laki-laki dan perempuan, ujung ujungnya ada hati c i n t a 😄😄😄
Hasnawati Hasna
aduhhh Rian mah TTM teman tapi musuh, dalam selimut pula 🤣🤣🤣
Humaira
ternyata rian seorang pengkhianat, musang berbulu domba 😤😤
𝓡⃟⎼ᴠɪᴘᵇᵃˢᵉ fjR ¢ᖱ'D⃤ ̐🍻
dikira Rian anak kemarin sore yang lugu gitu.pasti Rian punya cara sendiri menghadapi Anye yang suka berkelit dan manipulatif
𝓡⃟⎼ᴠɪᴘᵇᵃˢᵉ fjR ¢ᖱ'D⃤ ̐🍻
kalau Anye bisa menekan dan mengancam Rian, Rian juga pasti punya cara yang lebih cerdik menghadapi Anye.
Safitri Agus
Rian apa sih mau mu😏
Rahma Habibi
berharap rian narokamera atau cctv di apart nya sandi dan masih berharap rian baik tapi semuanyadi tentukan oleh author...
Eka Burjo
Rian, kukira kamu cerdas, ternyata 🙄
Eka Burjo
ku kira Rian cerdas
ana17
pembaca kecewa
◌ᷟ⑅⃝ͩ●🤎⃟dí́ժαհᄂ⃟ᙚ🥑⃟𝐐⃟❦♬⃝❤️
huumm Rian kamu jahara /Hammer//Hammer//Hammer//Hammer/
◌ᷟ⑅⃝ͩ●🤎⃟dí́ժαհᄂ⃟ᙚ🥑⃟𝐐⃟❦♬⃝❤️
kata kuncinya CIN-TA.... Rian melakukan keculasan karena dia ada hati sama Sisil...makanya dia bekerja sama dgn Anye untuk bisa mendapatkan Sisil dan memisahkan dgn Alvin
kamu mah gk gentleman Yan.....
dgn cara curang apakah kamu akan mendapatkan Sisil ?
cinta gk bisa di paksakan Man /Smug/
kamu akan merasakan akibatnya suatu saat nanti ....tunggu aja waktu yg tepat Yan ....pasti kamu akan menyesal melakukan culas pada Sisil /Curse/
yumna
ryan kirain km berada d pihal.ssil....mau naro alat pelacak dan rekaman d apartmb sandi eh ga taunya mau hapus vdionya
tehNci
Rian, tanpa video yang kamu kirim ke Sisil pun, Alvin bakalan bisa memiliki bukti perselingkuhan Anye dan Sandi. Kelakuanmu ini sudah melanggar privasi Sisil. Bukannya Sisil jadi kekasihmu, mungkin malah persahabatan kalian bakalan rusak.
Ayuk Witanto
Rian bener2....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!