Hari ini adalah hari ulang tahun Arla yang ke-18, dimana ia sudah dianggap dewasa dan 'matang'. Sehingga sudah saatnya ia dipanen dan dijual oleh rumah lelang ini.
Sebagai seorang gadis yang dijual oleh keluarganya sendiri, ia dirawat oleh rumah lelang ini untuk dijual kepada para laki-laki hidung belang dengan harga yang lebih mahal. Meski begitu, keluarganya sering datang dan mengatakan bahwa mereka menyesal menjualnya dan berjanji untuk membelinya kembali agar dapat pulang ke rumah dan berkumpul dengan keluarganya lagi.
Akan tetapi saat malam ulang tahunnya datang, tak ada satupun keluarga yang datang untuk menebusnya. Sehingga ia terpaksa dijual kepada laki-laki yang tidak ia kenal.
Bagaimana nasib Arla setelah dibeli oleh laki-laki itu, dan apakah ia akan berakhir menyedihkan seperti para budak nafsu yang telah mati karena kekerasan, seperti yang dialami oleh banyak gadis yang keluar dari tempat ini...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Q Lembayun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kampus
Fakultas kedokteran, fakultas ekonomi, fakultas teknik…
Hampir semua fakultas mereka jelajahi.
Arla tak henti-hentinya mengagumi kehidupan kampus yang tampak begitu menyenangkan. Beberapa orang terlihat sedang pusing karena tugas dan skripsi, beberapa sibuk dengan organisasi, sementara yang lain bahkan tampak tidak terlalu peduli—hanya datang ke kelas lalu pulang begitu saja. Pemandangan itu membuat Arla merasa bahwa kehidupan kampus ternyata cukup menarik.
“Apakah berpakaian di kampus tidak perlu menggunakan seragam?”
“Semuanya mengenakan pakaian bebas, tapi tetap rapi. Namun ada juga yang memakai pakaian khusus untuk praktik, atau pakaian organisasi maupun angkatan, serta almamater universitas.”
Mereka berdua telah melihat dengan cukup baik fasilitas yang disediakan di masing-masing fakultas. Semuanya tampak sangat memadai, mengingat universitas ini merupakan salah satu universitas ternama dengan akreditasi yang sangat baik. Jelas tempat ini menjadi incaran banyak siswa sebagai tujuan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya.
“Pasti sangat sulit untuk bisa diterima di kampus ini.”
Sebagai universitas favorit, tentu saja tempat ini sulit untuk dimasuki. Namun sebagai alumni, Abimana tentu memiliki tips dan trik agar Arla bisa masuk dengan cara yang tetap adil.
“Cukup sulit, tapi aku rasa kamu bisa melakukannya. Kamu pintar dan memiliki wawasan yang luas, jadi kamu bisa mulai belajar untuk tes, dan aku akan mendatangkan guru khusus untukmu. Kalau persiapannya matang, tiga bulan cukup untuk mempersiapkan diri masuk angkatan baru tahun berikutnya.”
“Kalau begitu aku akan berusaha.”
Melihat tekad Arla untuk belajar lebih lanjut membuat Abimana merasa bangga. Gadis seusia Arla memang jauh lebih cocok berada di lingkungan kampus dan belajar dengan lebih giat.
“Kamu sudah melihat hampir semua fakultas yang ada di sini, jadi nanti ketika kita sudah sampai di rumah, kamu bisa memilih jurusan apa yang ingin kamu ambil. Semuanya bagus, tapi kamu harus menyadari di mana tempat yang paling cocok dengan bakat yang kamu miliki. Tidak ada jurusan yang paling superior di sini, semuanya unggul jika kamu memiliki kemampuan yang sesuai dengan jurusanmu.”
Arla mengangguk pelan, mulai memikirkan jurusan apa yang cocok untuk dirinya. Namun dibandingkan bakat, sebenarnya ada hal lain yang lebih ia pertimbangkan. Ia ingin memilih jurusan yang membuatnya lebih dekat dengan Abimana.
“Kalau begitu aku akan memikirkannya nanti dan akan memberitahumu setelah aku memutuskan.”
Keduanya akhirnya sepakat. Setelah lelah berjalan-jalan, kini saatnya mereka beristirahat dan bersantai. Abimana membawa Arla menuju taman dengan sebuah danau kecil. Danau itu adalah tempat yang biasa ia kunjungi bersama sahabatnya, Reza. Tempatnya sangat tenang dan cocok untuk berdiskusi atau mengerjakan kelompok. Namun tidak sedikit juga orang datang hanya untuk melepas penat atau sekadar bermesraan dengan kekasih mereka.
Sesampainya di sana, Abimana memilihkan tempat duduk di bawah pohon rindang dengan rumput yang bersih serta angin yang sejuk. Tempat itu sangat cocok untuk sekadar berbaring atau menikmati makanan.
“Duduklah.”
“Kamu terlihat sangat familiar dengan tempat ini, apakah selama kuliah kamu selalu bermain di sini?”
“Ya, terkadang belajar di alam terbuka jauh lebih menyenangkan. Di perpustakaan kamu tidak bisa berdiskusi dengan suara keras, di kantin terlalu ramai. Di tempat lain mahasiswa cenderung bergosip dengan suara keras juga, jadi mencari tempat yang lebih terbuka tapi tenang, di sinilah tempatnya.”
Arla mengangguk, membayangkan Abimana yang lebih muda menghabiskan waktu di tempat ini untuk belajar. Namun bayangan itu perlahan memudar ketika ia membayangkan bahwa Diana juga pasti ada di mana pun Abimana berada.
“Apakah wanita itu juga ikut?”
“Iya, seperti yang kamu tahu dia adalah pacarku, jadi tentu saja dia akan ikut ke mana pun aku pergi.”
Mendengar itu, Arla tersenyum sinis, sedikit kesal.
“Ya tentu saja dia ikut, dia kan pacar Reza juga.”
Kenyataan pahit itu membuat Abimana kembali tersadar. Ia selalu memiliki ilusi bahwa Diana selalu mengikutinya karena tak ingin berpisah dengannya. Tapi mungkin ia salah—Diana selalu ikut karena ingin dekat dengan Reza, bukan dirinya.
“Yah, namanya juga selingkuhan…” ucap Abimana pasrah.
Melihat wajah sedih Abimana, Arla sedikit menyesal. Ia seharusnya tidak menyebut wanita itu lagi. Namun rasa cemburunya terhadap Diana terlalu besar, hingga kadang ia sulit mengendalikan diri. Arla pun segera duduk dan menata makanan yang mereka bawa di dalam kotak makan. Makanan itu terlihat begitu menggugah selera, seolah membuat mereka sejenak melupakan Diana yang sempat menjadi pembicaraan.
“Tempat makan yang sangat bagus, semua makanannya masih terasa hangat.”
“Ya, pasti rasanya masih enak dan segar.”
Keduanya makan dengan gembira sambil memandang danau kecil di depan mereka. Makanan yang awalnya sudah enak terasa menjadi lebih nikmat dari biasanya—entah karena pemandangan yang indah, atau karena mereka menikmatinya bersama seseorang yang membuat mereka nyaman.
Abimana merasa seperti bernostalgia pada kehidupan kampus yang sudah lama ia tinggalkan. Pada awal masa kuliah, ia begitu berontak dan enggan menjadi dokter. Ia merasa tersesat dan seolah dipaksa mengambil jurusan yang dipilih keluarganya. Namun di masa itu pula, ia merasa sangat beruntung karena memiliki Reza.
Reza adalah sosok yang pekerja keras dan pintar. Cita-citanya menjadi dokter sudah tumbuh sejak kecil. Namun kedokteran bukan bidang yang mudah dimasuki siapa pun. Meski terlihat profesional, praktik nepotisme masih cukup kuat di lingkungan itu.
Abimana, yang sebenarnya tidak terlalu menyukai kedokteran, justru diperlakukan dengan lebih baik karena berasal dari keluarga dokter. Sementara Reza dan Diana sering mendapat perlakuan kurang menyenangkan karena bisa dianggap sebagai pendatang baru. Meski begitu, Reza dan Abimana bekerja sama dengan baik sehingga perlakuan buruk terhadap Reza dan Diana tidak sampai berlebihan.
Kehidupan perkuliahan menjadi jauh lebih berwarna karena kehadiran Reza dalam hidup Abimana. Laki-laki itu sangat baik, perhatian, dan cerdas, sehingga menyenangkan untuk diajak berbicara.
Abimana menatap istrinya dan berharap, jika nanti Arla mulai kuliah, dia bisa menemukan sahabat seperti Reza—seseorang yang akan menemani hari-harinya selama empat tahun masa perkuliahan. Ia juga berharap Arla tidak akan bertemu seseorang seperti Diana, yang mempermainkan perasaan dengan cara yang begitu bodoh dan tidak masuk akal.