Zavier terpaksa harus mencari seorang wanita untuk di jadikan istri secepatnya, karena di paksa oleh sang kakek yang sedang sakit parah. Sebagai seorang pewaris tunggal dirinya di tuntut oleh sang kakek untuk memiliki istri di usianya yang ke 27 tahun, hal ini membuat Zavier hampir gila.
Sementara itu di sisi lain, Sofia yang baru saja kehilangan sang papa, kini menjadi yatim piatu hidup menderita di tangan mama dan adik tirinya. Namun sebuah teragedi tak terduga terjadi, mama tiri Sofia tiba-tiba menjual Sofia kepada seorang laki-laki tua demi uang. Namun pada akhirnya hal ini malah membuat jalan bagi Sofia bertemu dengan Zavier.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
"hahaha, kalian ini benar-benar lucu, dan Zavier, seharusnya kau mengatakan nya sejak lama kalau kau sudah punya kekasih, jadi aku tidak perlu khawatir dengan masa depan mu, kalian tidak boleh menyembunyikan hubungan kalian dari ku," kata kakek dengan senyum tulus.
"Maaf kan kami kakek, tapi yang terpaling penting sekarang, aku sudah menikah, dan kakek sudah senang kan?" tanya Zavier.
"Ya, tapi ada satu hal yang membuat ku tidak senang," ujar sang kekek yang membuat Zavier dan Sofia penasaran.
"Apa itu?" tanya Zavier.
"Kenapa kalian menikah tampa membuat resepsi? Zavier kita punya segalanya, punya banyak uang dan kolega bisnis, bagaimana jika mereka mencibir, jika tau kau menikah tanpa resepsi, kau adalah pewaris Atharyan grup, apakah ini tidak akan mempengaruhi mu sama sekali?" tanya sang kakek dengan bijaksana.
Zavier terdiam, ia tau kalau ucapan sang kakek adalah sebuah kebenaran, namun dia bingung bagaimana harus menyikapi persoalan ini.
"Kakek tidak mau tau, sebaiknya kalian mengadakan pesta di mansion, terserah kalian mau mengundang siapa saja, Sofia juga pasti punya teman dan keluarga kan?" tanya sang Kakek sambil menatap Sofia.
"Kakek," Sofia mendekati sang Kakek dan memegang tangan nya.
"Kakek, sebelumnya aku minta maaf, aku ini adalah gadis yatim piatu, aku tidak punya kelaurga dan aku juga tidak punya teman, ini alasan kenapa aku tidak ingin menikah dengan pesta besar-besaran," ujar Sofia dengan wajah sedihnya.
Seketika sang kakek terdiam, ia tidak tau kalau nasip Sofia si gadis polos ini begitu malang, seketika sang kakek merasa bersalah.
"Astaga nak, maaf kan aku, aku benar-benar tidak mengetahui nya, namun dengan alasan ini, bukan berarti kau tidak berhak mendapatkan sebuah pesta kan?" ujar sang kakek kekeh.
"Lalu apa yang Kakek inginkan?" Tanya Zavier.
"Buat lah sebuah pesta besar-besaran di mansion, anggap saja itu permintaan ku untuk menyambut kedatangan cucu menantu ku yang manis ini, dan tersesah kalian mau mengundang siapa saja," kata sang kakek yang ternyata tetap ingin mengadakan pesta.
"Baik lah kakek, aku akan memenuhi permintaan kakek sekali lagi, aku akan melakukan nya," kata Zavier sambil tersenyum tipis.
"Terima kasih, oh ya, Zavier sebaiknya bawa lah istri mu ke kamar untuk beristirahat, dia terlihat sangat lelah," kata kakek Wiliam yang terlihat sangat perhatian.
"Baik kek," jawab Zavier.
Singkat cerita Sofia pun berpamitan dengan sang kakek untuk beristirahat, ia mengikuti Zavier yang berjalan masuk ke dalam lift.
"Kau setuju untuk pesta ini?" tanya Zavier yang seketika kembali berubah jadi sangat dingin dengan tatapan yang menusuk.
Sofia menatap Zavier yang saat ini berdiri di samping nya sekilas, aura dingin kembali menyelimuti laki-laki tampan tersebut.
Dari sini Sofia benar-benar mengerti tujuan Zavier untuk menikahi dirinya, ternyata semuanya adalah permintaan sang kakek yang sudah tua dan sakit-sakitan, dan hal yang membuat Sofia lebih heran adalah, kepribadian ganda yang di miliki Zavier, dia bisa terlihat hangat dan juga baik di hadapan sang kakek.
Dia juga bisa banyak bicara di hadapan sang kakek, namun kelakuan nya bisa tiba-tiba berubah seratus drajat ketika keluar dari kamar sang Kakek.
Wajah nya yang penuh senyum tipis setipis tisu sekejap saja berubah menjadi dingin dan menakutkan meskipun sangat tampan.
"Apa kau tuli?" ujar Zavier karena Sofia tak kunjung menjawab pertanyaan nya.
"Aku tidak punya hak untuk menolak permintaan kakek," jawab Sofia lagi.
"Kau bisa menolak nya, karena aku bisa melihat kalau pertama kali melihat mu, Kakek sudah menyukai mu," ujar Zavier lagi.
Kini mereka tiba di lantai atas tepat di lantai di mana kamar Zavier berada.
"Aku tidak berani," jawab Sofia lagi.
"Baik lah kalau begitu, aku akan meminta Glen mengurus pesta itu, siapa yang ingin kau undang?" tanya Zavier sambil berjalan menuju kamar nya.
"Aku tidak punya siapa-siapa, kecuali Luvi, itupun sekarang dia berada di mansion papa," kata Sofia seketika merasa sangat merindukan Luvi ketika menyebut nama nya.
"Luvi? Siapa dia?" tanya Zavier penasaran.
"Pelayan pribadi ku, sekaligus sahabat, dan juga orang yang selalu berusaha melindungi ku, dari Tara dan Rusita," kata Sofia.
Zavier menghentikan langkahnya tepat di depan sebuah kamar yang pintu nya saja cukup tinggi dan besar.
"Baik lah, tiga hari lagi kita akan mengadakan pesta itu, aku akan meminta Glen untuk mencari dan membawa pelayan ku itu ke sini," kata Zavier yang kemudian membuka pintu kamar tersebut.
Seketika mata Sofia berbinar-binar, dia tidak menyangka kalau Zavier akan mengatakan hal tersebut, dia bergegas mengejar Zavier dan masuk ke dalam kamar tersebut.
"Ini benar? Kau tidak bercanda kan?" tanya Sofia.
"Menjauh dari ku, aku tidak pernah bercanda dengan ucapkan ku, jadi jangan mencoba-coba untuk ragu," kata Zavier sambil mengerutkan keningnya.
"Ma-maaf," ujar Sofia yang tidak bisa mengendalikan diri karena terlalu senang.
"Kita akan tidur dalam kamar yang sama, kau tidur di sana dan ranjang ku, milik ku," ujar Zavier setelah menujuk sofa besar panjang yang ada di dalam kamar tersebut untuk Sofia.
Sofia menatap Sofa besar dan panjang itu, dia merasa itu sama sekali tidak masalah daripada harus satu ranjang dengan Zavier ini lebih baik.
"Aku setuju," jawab Sofia senang.
"Kenapa manusia ini terlihat baik-baik saja saat aku meminta nya tidur di sofa? Dia malah sangat bahagia," kata Zavier kebingungan dengan sikap welcome Sofia.
"Oh ya, aku ada satu permintaan," ujar Sofia tiba-tiba.
"Apa?" tanya Zavier sambil melepaskan jam yang sehari-hari melingkar di pergelangan tangan nya.
"Jangan sampai mengundang Tara dan Rusita, apalagi tuan Ex," kata Sofia sambil memainkan jari-jemarinya.
Ini lah Sofia dia selalu memainkan jari-jemarinya, ketika sedang merasa gelisah dan takut dia akan selalu memainkan jari bahkan kadang sampai terluka dan berdarah akibat kuku nya sendiri yang dia pencet-pencet.
Zavier memperhatikan Sofia yang masih terlihat sangat takut setelah menyebutkan nama-nama mereka.
"Hm," kata Zavier singkat.
Sofia menatap Zavier dengan tatapan kesal karena Zavier hanya menjawab singkat pertanyaan dari nya.
Tok ... Tok ... Tok ...
Tiba-tiba terdengar di luar pintu kamar suara ketukan.
"Buka," Kata Zavier kepada Sofia.
Sofia pun dengan patuh menghampiri pintu dan kemudian membuka nya.
Sementara itu Zavier berlalu masuk ke dalam kamar mandi, tanpa mempedulikan siapa yang datang.
"Nona muda, maaf kalau saya menganggu, tadi tuan Wiliam meminta saya untuk menemui nona," kata kepala pelayan di mansion yang bernama Rua.
"Iya, tidak masalah, ada yang bisa aku bantu?" tanya Sofia dengan lembut dan rendah hati.
Seketika bibik Rua teridam mendengar jawaban Sofia, dia menatap Sofia dengan tatapan tak percaya, betapa sopan nya seorang istri dari pewaris Atharyan, tak seperti bayangan para pelayan lainnya yang mengira-ngira kalau Sofia pasti akan sangat galak seperti nyonya pada umumnya.
Bersambung ....