NovelToon NovelToon
KOK HOROR??? Series.

KOK HOROR??? Series.

Status: sedang berlangsung
Genre:Hantu / Horor / Misteri
Popularitas:82
Nilai: 5
Nama Author: Nacha Adhi

Sejak malam itu, hidup Raka berubah drastis. Setelah tak sengaja melewati rumah tua terbengkalai di ujung gang dan merasakan gangguan gaib, ia terus dihantui penglihatan aneh, suara bisikan, dan kejadian tak wajar. Perlahan ia mengungkap rahasia kelam rumah itu—tempat menyimpan kutukan dan korban hilang puluhan tahun silam—sambil berjuang melepaskan diri dari jeratan makhluk yang sudah menandainya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nacha Adhi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 1: RUMAH DI UJUNG GANG SEPI BAB 3 – Jejak yang Tak Bisa Dihapus

Raka terbangun dengan keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya. Jendela masih tertutup tirai rapat, tapi cahaya matahari pagi sudah mulai merembes masuk, menciptakan garis-garis terang yang membelah kegelapan kamar. Suara ayam berkokok dan keributan warga di luar terdengar samar, menandakan hari baru telah dimulai. Namun bagi Raka, rasa aman itu tak kunjung datang.

Ia langsung melompat turun dari tempat tidur dan berjalan tergesa ke arah jendela. Dengan tangan gemetar, ia menarik tirai ke samping. Kacanya bersih, tak ada jejak telapak tangan, tak ada bekas gesekan apa pun—seolah semalam tidak pernah terjadi apa-apa.

“Mimpi… itu pasti hanya mimpi buruk karena lelah,” gumamnya, meski hatinya masih ragu. Ia masih bisa merasakan sensasi dingin yang menusuk tulang dan mendengar bisikan itu seolah baru saja terucap.

Setelah mandi dan memakai pakaian baru, Raka berusaha berpikir jernih. Ia memeriksa kembali seluruh pakaian yang dipakainya semalam, yang sudah ia gantungkan di sudut ruangan. Matanya terbelalak saat melihat sesuatu yang membuat bulu kuduknya kembali berdiri. Di bahu jaket yang semalam terasa ada debu kelabu itu, kini tercetak jelas sebuah bekas telapak tangan berwarna kelabu pucat—tepat di tempat yang ia rasakan tadi malam.

Ia segera mengambil lap basah dan menggosoknya sekuat tenaga. Ia menggosok hingga telapak tangannya terasa panas, namun bekas itu tak sedikit pun memudar. Justru semakin digosok, warna kelabunya makin pekat dan terlihat seolah menembus serat kain jaket itu.

“Tidak mungkin… ini cuma kotoran biasa, harusnya bisa hilang!” teriaknya frustasi, lalu ia membuang jaket itu ke sudut terjauh kamar seolah itu benda beracun.

Karena perasaan gelisah yang tak tertahankan, Raka memutuskan untuk menemui Pak Surya, tetangga paling tua di lingkungan itu yang sudah tinggal di sana lebih dari 40 tahun. Orang itu dikenal hafal segala sejarah dan cerita lama tentang daerah ini.

Sesampainya di rumah Pak Surya, ia disambut oleh istri lelaki tua itu dan dipersilakan menunggu di teras. Tak lama kemudian, Pak Surya keluar dengan tongkat kayunya, duduk di kursi rotan sambil menatap wajah Raka yang tampak pucat pasi.

“Kenapa wajahmu pucat sekali, Nak? Seperti baru melihat hantu,” tanya Pak Surya pelan, matanya yang sudah agak rabun tetap menatap tajam ke arahnya.

Raka menarik napas panjang, lalu menceritakan semuanya secara rinci—mulai dari mengambil jalan pintas lewat Gang Melati, melihat rumah tua itu, sepasang mata putih, debu kelabu, hingga kejadian-kejadian aneh yang dialaminya semalam. Semakin panjang cerita itu, raut wajah Pak Surya berubah dari tenang menjadi serius, lalu perlahan berubah menjadi ketakutan yang dalam.

Begitu Raka selesai bercerita, lelaki tua itu terdiam lama, memandang ke arah Gang Melati yang terlihat samar dari kejauhan, seolah mengenang masa lalu yang kelam.

“Sudah kubilang pada siapa pun yang baru datang di sini… jangan pernah melintasi gang itu saat hari sudah gelap. Apalagi mendekati rumah tua itu,” kata Pak Surya dengan suara parau, seolah berat untuk mengucapkannya.

“Jadi… cerita tentang rumah itu benar, Pak? Apa sebenarnya yang terjadi di sana?” tanya Raka dengan nada memohon penjelasan.

Pak Surya mengusap wajahnya yang keriput, lalu mulai bercerita dengan nada rendah dan hati-hati.

“Dulu, sekitar 32 tahun yang lalu, rumah itu ditempati oleh keluarga Handoko. Ia pengusaha sukses, tapi hatinya serakah dan kejam. Konon, ia membangun kekayaannya dengan cara menipu, bahkan sampai merebut tanah milik orang lain hingga ada yang mati karena tertekan. Istri dan kedua anaknya sebenarnya orang baik, tapi mereka tak punya kuasa menghentikan perbuatan suami dan ayah mereka.”

Pak Surya berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan suara makin pelan.

“Suatu malam, terdengar suara pertengkaran hebat dari dalam rumah itu. Berteriakan, memecahkan barang, hingga akhirnya sunyi senyap begitu saja. Esok harinya, pintu rumah terkunci rapat, tak ada satu pun dari keluarga itu yang terlihat keluar. Saat pintu akhirnya dibuka paksa oleh warga dan polisi… tak ditemukan satu pun jasad atau tanda-tanda perampokan. Semua perabotan masih rapi, makanan masih tersisa di meja makan, tapi penghuninya lenyap begitu saja.”

“Lalu apa hubungannya dengan debu dan jejak tangan itu, Pak?” potong Raka tak sabar.

“Konon, mereka tidak pergi begitu saja. Jiwa mereka terperangkap di dalam rumah itu, terikat oleh amarah dan penyesalan yang mendalam. Debu kelabu yang kau rasakan itu bukan debu tanah, Nak. Itu sisa energi mereka. Jika sudah menempel, artinya mereka sudah menandaimu. Dan bekas tangan yang tak bisa kau hapus itu adalah tanda bahwa mereka menganggapmu sudah menjadi bagian dari mereka—atau lebih tepatnya, sudah menjadi milik mereka untuk dibawa pulang ke tempat itu.”

Mendengar penjelasan itu, jantung Raka terasa seperti diremas kuat-kuat. Kakinya terasa lemas hingga ia nyaris jatuh dari kursi.

“Lalu… bagaimana cara mengembalikannya? Bagaimana cara aku lepas dari mereka?” tanyanya dengan suara gemetar.

Pak Surya menggeleng perlahan, matanya terlihat sedih.

“Selama ini tak ada yang berhasil. Mereka yang pernah ditandai, entah bagaimana akhirnya kembali mendekati rumah itu secara tidak sadar, biasanya di tengah malam, dan setelah itu mereka pun menghilang selamanya, sama seperti keluarga Handoko dulu. Ada satu hal yang perlu kau ingat: jika mereka sudah mengikutimu, tempat mana pun tak akan terasa aman lagi selama kau masih membawa tanda itu.”

Saat itu juga, ponsel di saku Raka bergetar keras. Ia mengeluarkannya dengan tangan gemetar, lalu terkejut melihat layarnya. Tak ada nomor pengirimnya, tapi pesan yang masuk membuat darahnya terasa membeku:

“Kami sudah merindukanmu. Jangan membuat kami menunggu terlalu lama malam ini.”

Dan saat ia mengangkat kepala kembali, dari sudut matanya, ia melihat samar sebuah bayangan tinggi berdiri di balik pohon besar tak jauh dari rumah Pak Surya—menatapnya diam-diam, menunggu saat yang tepat untuk mendekat.

📌 jangan lupa follow,like,dan komen setiap novel di akun ini ya.. 🥰

1
anggita
mulai horor👻
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!