Elisa pikir hari ini adalah hari paling bahagia dalam hidupnya, karena laki-laki yang dia idamkan akan menikahinya. setelah mereka melakukan ta'aruf sebelumnya. Tapi bak disambar petir adiknya datang dan mengatakan jika calon suaminya mengatakan pernikahannya dibatalkan dulu. Tanpa alasan yang pasti.
Elisa merasa malu dan dikhianati, sampai seorang dokter datang dan mengatakan siap menikah dengannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3
Yuda, yang di usianya sekarang masih sangat aktif, sudah berangkat untuk mengurus pabrik. Arka bukannya tidak mau membantu bisnis ayahnya, ia hanya ingin fokus pada profesi dokter yang baru saja ia raih. Kadang, Kenan yang lebih sering ikut membantu ayahnya sekalian belajar sepulang sekolah.
Adik-adiknya yang lain pun sudah berangkat ke sekolah sejak pagi tadi. Arka melihat ke sekeliling; Tiara masih di dalam kamar, sementara ibunya sedang duduk santai di sofa sambil menonton TV.
Arka melangkah mendekat dan ikut duduk di samping Kirana.
"Kapan kamu masuk kerja, Bang?" tanya Kirana.
"Seminggu lagi, Bu. Kenapa?"
"Nggak apa-apa, Ibu cuma mau nanya aja. Kalau pindahnya?" sambung Kirana lagi, merujuk pada rumah baru Arka.
"Emmm, sebulan lagi mungkin," jawab Arka singkat.
Arka bergeser duduk lebih dekat ke arah ibunya. Dengan nada suara yang diusahakan sealami mungkin, ia bertanya.
"Bu, pernikahannya Lilis itu kapan?"
"Kata tantemu dua minggu lagi," jawab Kirana.
Arka tersentak. "Kok cepat banget, Bu?" batinnya berteriak, Aduh, gimana ini?
Kirana menoleh, menatap putra sulungnya dengan heran. "Makin cepat makin baik. Kamu juga, umurmu sudah mau tiga puluh belum nikah juga. Kamu suka perempuan kan, Bang?"
"Suka lah, Bu," jawab Arka cepat.
"Terus kenapa?" kejar Kirana.
"Ditinggal nikah..." ucap Arka sangat pelan, nyaris seperti bisikan pilu pada dirinya sendiri.
Kirana mengernyitkan dahi. "Hah, apa? Ibu nggak dengar."
Arka langsung tersadar dan segera meralat ucapannya sebelum ibunya curiga.
"Belum ketemu, Bu," pungkasnya sambil membuang muka, berusaha menyembunyikan gurat kecewa yang masih membekas jelas di matanya.
Arka melangkah perlahan menuju lantai atas. Pikirannya masih kacau, dan rasa penasaran tentang Lilis benar-benar membuatnya nekat. Ia berhenti tepat di depan kamar adiknya dan mengetuk pintu kayu itu dengan ragu.
"Dek, kamu di dalam?"
"Iya, Bang. Masuk aja," sahut Tiara dari dalam.
Arka membuka pintu dan melihat Tiara sedang duduk bersandar di tempat tidur sambil memainkan ponselnya.
"Kenapa?" tanya Tiara.
"Pinjam HP mu bentar," ucap Arka berusaha terdengar santai.
Tiara mengernyitkan dahi. "Buat apa?"
"HP Abang nggak tahu letak di mana. Bentar aja," dalih Arka.
"Aku aja yang nelponnya, Bang," tawar Tiara yang curiga melihat gerak-gerik kakaknya yang tidak biasa.
"Nggak usah, bentar aja kok. Sini," pinta Arka sedikit memaksa. Tiara akhirnya memberikan ponselnya meski dengan tatapan bingung.
Arka segera memunggungi Tiara agar adiknya tidak melihat apa yang ia ketik. Ia pura-pura menekan nomor teleponnya sendiri, padahal jempolnya dengan cepat mencari kontak Lilis. Begitu ketemu, ia langsung menyalin nomor itu ke ruang pesannya sendiri, lalu cepat-cepat menghapus jejak pesan.
"Nih," ucap Arka sambil mengembalikan ponsel itu ke tangan Tiara dengan gerakan yang seolah-olah baru saja selesai menelepon.
"Udah, Bang?"
"Iya, lupa ternyata ada di bawah bantal tadi," sahut Arka berbohong demi menutupi rasa gugupnya.
Arka langsung keluar dari kamar Tiara dengan jantung yang berdegup kencang. Kini, ia sudah memegang nomor itu satu-satunya harapan kecil yang tersisa di tengah kabar pernikahan yang tinggal dua minggu lagi. Arka kembali ke kamarnya, menatap layar ponselnya sendiri, bimbang apakah harus mengirim pesan.
Di dalam kamarnya yang sunyi, Arka menatap layar ponsel dengan jempol yang bergetar. Ia menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya.
Dengan perlahan, ia mengetikkan sebuah pesan singkat.
"Assalamualaikum, Elisa."
Begitu tombol kirim ditekan dan tanda centang muncul, Arka langsung meletakkan ponselnya di atas meja dengan posisi layar menghadap ke bawah. Ia tidak sanggup menunggu balasan saat itu juga. Jantungnya berdegup sangat kencang.
Sedangkan di sisi lain Lilis sedang duduk lesehan, dengan telaten memasukkan kartu-kartu itu ke dalam plastiknya satu per satu.
Di tengah kegiatannya, ponsel yang tergeletak di sampingnya bergetar. Sebuah notifikasi pesan singkat muncul di layar.
"Assalamualaikum, Elisa."
Lilis menghentikan gerakannya sejenak. Ia mengernyitkan dahi di balik cadarnya. Jarang sekali ada orang yang memanggilnya dengan nama Elisa belakangan ini, kecuali teman-teman lama atau orang yang mengenalnya sebelum ia masuk pesantren.
Ia mengambil ponselnya, menatap layar itu selama beberapa detik. Tidak ada nama yang tersimpan untuk nomor tersebut. Hanya deretan angka asing yang tidak ia kenali.
"Siapa ya?" gumamnya pelan.
Lilis tak ambil pikir. Ia merasa mungkin itu hanya salah sambung. Tanpa membalas, ia hanya melihatnya saja, lalu meletakkan kembali ponselnya dengan posisi layar menghadap ke bawah.
Satu jam berlalu, lalu dua jam, hingga tak terasa sudah sekian jam Arka bolak-balik mengecek ponselnya.
Arka duduk di tepi ranjang, memegang ponselnya dengan kedua tangan. Ia menatap nanar gelembung pesan darinya yang masih menyisakan tanda centang dua, namun tak kunjung berubah menjadi biru atau mendapat balasan.
"Ayo balas dong..." gumamnya frustrasi.
Ia mengusap wajahnya dengan kasar. Pikirannya mulai berkelana ke mana-mana. Apa dia sudah ganti nomor? Apa dia nggak ingat aku lagi? Atau apa dia tahu ini aku dan sengaja nggak mau balas karena sudah punya calon suami?