Semua orang iri saat tahu Solenne bertunangan dengan Zevran Ardevar—bujangan nomor satu paling diinginkan seantero kerajaan, seorang bangsawan aristokrat yang dingin, kaya, dan terlalu tampan untuk diabaikan.
Mereka mengira Solenne hanyalah gadis beruntung yang memanfaatkan hubungan masa kecil.
Padahal, mereka bahkan tidak saling mengenal.
Pertunangan ini hanyalah wasiat terakhir sang ibu dan sebuah hutang budi yang belum lunas.
Di tengah hujatan publik, karier Solenne sebagai aktris justru berada di titik terendah.
Diremehkan, disabotase, dan hampir tenggelam, ia bertekad membuktikan bahwa dirinya pantas berdiri di atas panggung.
Namun semakin ia berjuang, semakin Zevran yang awalnya dingin mulai mengejarnya dengan serius.
Di dunia hiburan yang dipenuhi sihir dan teknologi masa depan, mampukah Solenne menjadi bintang terbesar abad ini… dan menaklukkan hati pria yang seharusnya hanya menjadi tunangan kontraknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ulfah_muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pilihan berat
Sayangnya, hidup tidak pernah benar-benar berpihak.
Setelah kakek dan nenek dari pihak ayah meninggal karena usia, rumah yang dulu terasa hangat mendadak menjadi terlalu sunyi.
Kini hanya tersisa dirinya dan ibunya.
Ibunya menjadi seorang single mother yang kuat.
Karier tari yang sempat melaju pesat akhirnya menjadi satu-satunya sandaran hidup mereka.
Namun semuanya berubah dalam satu malam.
Sebuah tabrak lari.
Kakinya patah.
Mimpi di atas panggung runtuh seketika.
Bukan hanya itu.
Sejak kecelakaan itu, penyakit lama yang selama ini hanya sesekali muncul mulai kambuh dengan jauh lebih sering.
Jantungnya.
Sejak muda, ibunya memang memiliki gangguan pada jantung yang membuat tubuhnya mudah lelah jika terlalu memforsir diri.
Dulu masih bisa dikendalikan dengan obat dan istirahat.
Tetapi setelah kecelakaan, rasa sakit itu datang semakin sering.
Sesak napas.
Nyeri yang menjalar di dada.
Kadang sampai membuat ibunya harus terbaring seharian.
Bahkan setelah menjalani operasi beberapa tahun lalu, rasa sakit itu tidak pernah benar-benar hilang.
Hanya memudar.
Dan selalu kembali saat tubuhnya terlalu lelah atau pikirannya terlalu tertekan.
Depresi setelah kehilangan kariernya membuat semuanya semakin memburuk.
Di situlah Mireya mulai belajar satu hal.
Ia harus menjadi kuat.
Untuk dirinya.
Dan untuk ibunya.
...****************...
Mireya terdiam cukup lama.
Jemarinya tanpa sadar menggenggam ujung serbet di pangkuannya.
Bayangan tentang ibunya, rumah kecil mereka, biaya rumah sakit, terapi, dan obat-obatan yang terus menumpuk membuat dadanya terasa berat.
Teknologi medis di zaman sekarang memang sudah jauh lebih maju.
Sumbatan bisa ditambal.
Terapi regeneratif tersedia.
Alat bantu pemantau jantung bahkan bisa tertanam langsung di tubuh.
Namun semua itu…
mahal.
Sangat mahal.
Hidup di kota kecil sekalipun tidak pernah benar-benar murah.
Di dunia yang semakin modern, seolah semua orang hanya hidup untuk terus bekerja.
Bekerja.
Membayar.
Bertahan.
Tatapannya perlahan turun.
“Jangan terlalu sedih.”
Suara dingin itu memotong lamunannya.
Mireya mengangkat kepala.
Zevran.
Pria itu duduk tegak di seberang meja, wajahnya masih setenang biasa.
Namun sorot matanya kali ini tidak setajam sebelumnya.
“Karena ibumu masih hidup.”
Kalimat itu sederhana.
Namun entah kenapa membuat Mireya terdiam.
Zevran melanjutkan dengan suara rendah.
“Itu yang paling penting.”
Ruangan mendadak terasa lebih hening.
Untuk sesaat, Mireya bisa melihat sesuatu yang jarang muncul di wajah pria itu.
Kehilangan.
“Aku tidak memiliki orang tua lagi.”
Suaranya tetap datar, namun justru itu membuat kata-katanya terasa lebih berat.
“Hanya bibiku. Adik ayahku.”
Mata Mireya sedikit melembut.
Ah.
Jadi… dia juga sendiri. Tidak ku sangka pria yang tampak kuat ini juga kehilangan sosok ayahnya.
Zevran menyandarkan punggungnya, lalu berbicara lagi.
“Ini semua bukan sekadar wasiat.”
Tatapannya lurus ke Mireya.
“Ini adalah rasa terima kasih ibuku.”
Rob yang berdiri di samping melanjutkan penjelasannya.
“Saat ibu Tuan mengetahui bahwa anak ibu Anda adalah seorang perempuan…”
Ia tersenyum tipis.
“beliau pernah berkata, bagaimana jika suatu hari menjodohkan kalian?”
Mireya membelalak.
“Hah?”
Rob menahan senyum.
“Ibu Anda menganggap itu hanya candaan ringan di antara dua sahabat.”
“Namun nyonya muda tidak.”
Tatapan Mireya perlahan beralih ke Zevran.
Rob melanjutkan.
“Beliau orang yang sangat serius dalam memegang janji.”
“Bahkan beliau tidak langsung memaksakan pertunangan resmi karena takut ibu Anda mengira itu hanya lelucon sesaat.”
Mireya perlahan mulai memahami.
Jadi semua ini…
benar-benar keinginan ibu Zevran.
Bukan paksaan semata.
“Beliau bahkan mengizinkan ibu Anda kembali ke kota asalnya.”
“Tidak lagi tinggal di rumah besar keluarga Ardevar.”
Rob menatap Mireya dengan lebih lembut.
“Namun nyonya muda tetap terus memperhatikan keadaan kalian.”
Tatapan Mireya sedikit bergetar.
Zevran kembali membuka suara.
“Terutama setelah mendengar kabar kecelakaan ibumu.”
Nada suaranya lebih rendah dari biasanya.
“Ibuku tidak pernah bisa tenang setelah itu.”
Mireya terdiam.
Dua wanita.
Dua sahabat lama.
Terpisah jarak.
Terpisah penyakit.
Namun sama-sama bertahan melalui pengobatan.
Rob menghela napas pelan.
“Sejak mengandung adik Tuan muda, kondisi nyonya memang terus melemah.”
“Tubuhnya tidak pernah benar-benar pulih.”
Mireya menelan ludah.
Lalu… ia teringat satu hal.
“…jadi kenapa kamu baru mencari ku sekarang?”
Mireya mengira wasiat itu baru di tunaikan saat ini. Mungkin ibu nya telah meninggal lama lebih dari perkiraan dan untuk ketenangan batin dia melakukan ini.
Tatapan Zevran sedikit turun.
Hening beberapa detik.
Lalu ia menjawab.
“Aku datang seminggu setelah pemakaman ibuku.”
Ruangan mendadak terasa jauh lebih sunyi.
Jantung Mireya sedikit berdebar.
Seminggu. Tidak di sangka pasti sangat menyakitkan...
Jadi pria ini…
bahkan datang dalam keadaan baru kehilangan ibunya.
Zevran mengangkat pandangan.
“Ini permintaan terakhir beliau.”
“Dan aku tidak berniat mengabaikannya.”
...****************...
Zevran menyandarkan tubuhnya ke kursi.
Tatapannya lurus ke arah Mireya.
“Mungkin kau terkejut.”
Nada suaranya tetap dingin.
“Tapi aku menginginkan pernikahan ini.”
Mireya membeku.
Kalimat berikutnya membuat jantungnya sedikit berdebar.
“Karena ini adalah permintaan terakhir ibuku.”
Hening.
Hanya suara lembut pendingin ruangan yang terdengar.
Dengan satu lirikan singkat dari Zevran, Rob segera maju selangkah.
Dokumen tadi kembali diletakkan di hadapan Mireya.
Kali ini terbuka.
Halaman demi halaman berisi poin-poin kontrak.
Rob membantunya menjelaskan dengan suara tenang.
“Ini adalah perjanjian perkawinan kontraktual, nona.”
“Seluruh biaya pengobatan ibu Anda akan ditanggung penuh oleh Tuan muda.”
Mata Mireya langsung membulat.
“Termasuk operasi lanjutan, terapi, obat rutin, perawatan rawat inap, dan teknologi penambal sumbatan.”
Tangannya gemetar saat membalik halaman berikutnya.
Angkanya terlalu besar.
Bahkan biaya operasi ibunya yang selama ini terasa mustahil…
bisa langsung lunas hanya dengan satu tanda tangan.
“Selain itu, Anda akan menerima tunjangan bulanan pribadi.”
“Tempat tinggal.”
“Biaya kebutuhan hidup.”
“Dukungan karier.”
Mireya menatap lembar demi lembar itu.
Terlalu mudah.
Terlalu untung.
Seolah dirinya hanya perlu berdiri di samping Zevran…
dan uang mengalir tanpa henti.
Perasaannya justru jadi aneh.
kenapa semudah ini?
apa aku cuma… dipajang?
Tatapan Zevran turun padanya.
“Pikirkanlah.”
Suaranya rendah.
“Jika ada yang ingin kau tanyakan, tanyakan pada Rob.”
Ia berdiri.
“Aku harus pergi. Ada urusan lain.”
Tanpa menunggu jawaban, Zevran berjalan keluar ruangan.
Beberapa menit kemudian, dari jendela kaca, Mireya bisa melihat sebuah kendaraan udara mewah berhenti di platform privat restoran.
Siluet Zevran masuk ke dalamnya.
Lalu kendaraan itu melesat naik ke langit malam.
Meninggalkan Mireya bersama Rob.
Rob menarik napas pelan lalu duduk sedikit lebih santai.
“Sebenarnya…”
ia menatap Mireya dengan lembut.
“Nyonya muda sudah lama ingin membantu ibu Anda. Dengan cara yang lebih langsung.”
Mireya mengangkat kepala.
Rob menatapku dengan lebih lembut sebelum kembali berbicara.
“Selama ini sebenarnya keluarga Anda masih menerima tunjangan tetap.”
Aku mengernyit.
“Tunjangan?”
Rob mengangguk.
“Benar, nona.”
“Tunjangan itu diberikan atas permintaan mendiang nyonya.”
Ia menyesuaikan kacamatanya.
“Dulu, saat ayah Anda mulai bekerja untuk keluarga Ardevar, telah ada perjanjian resmi.”
“Jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan selama masa kerja—seperti kecelakaan atau kematian—maka keluarga yang ditinggalkan akan tetap menerima bantuan hidup dan santunan.”
Jantungku sedikit menegang.
Ayah.
Sudah lama aku tidak mendengar seseorang menyebutnya sejelas ini.
Rob melanjutkan dengan suara tenang.
“Karena itulah, setelah ayah Anda meninggal, tunjangan untuk keluarga Anda tetap berjalan.”
“Terlebih lagi, mendiang nyonya secara pribadi meminta agar jumlahnya ditingkatkan.”
Tatapannya sedikit melembut.
“Beliau merasa sangat berutang budi kepada ibu Anda.”
“Karena itulah bantuan ini terus diberikan hingga sekarang.”
Aku terdiam.
Jadi selama ini…
uang yang membantu biaya hidup kami…
uang yang sering ibu bilang sebagai santunan lama…
semuanya berasal dari keluarga Ardevar?
Rob mengangguk seolah memahami keterkejutan ku.
“Dengan kata lain, selama ini Anda dan ibunda Anda memang bertahan dengan tunjangan hidup tersebut.”
“Itu berasal dari permintaan beliau.”
Mireya terdiam.
Ah.
Jadi selama ini…
bantuan itu bukan kebetulan.
Rob melanjutkan.
“Namun ibu Anda mulai menutup diri.”
“Mungkin karena malu, stres, atau merasa rendah diri setelah kecelakaan.”
Mireya menunduk.
Ia tahu.
Ibunya memang sering merasa tidak ingin merepotkan siapa pun.
“Ibu Tuan muda sebenarnya berharap ibu Anda bisa dirawat seperti keluarga sendiri.”
Rob tersenyum tipis.
“Tetapi aturan sekarang sangat ketat.”
Ia menunjuk salah satu pasal di dokumen.
“Bantuan medis jangka panjang, akses keputusan operasi, dan tanggung jawab legal lebih mudah dilakukan jika ada hubungan keluarga yang sah.”
Di dunia nyata, banyak hak terkait pasangan dan keluarga memang perlu status hukum resmi atau perjanjian tertulis.
Tatapan Mireya jatuh ke tanda tangan kosong di bawah halaman terakhir.
Jadi…
mau tidak mau…
mereka harus menikah.
Agar semua bantuan itu sah.
Agar ibunya bisa benar-benar diselamatkan.
...****************...
Dokumen transparan itu kembali didorong perlahan ke hadapanku.
Ujung jemariku menyentuh pinggirannya, dingin.
Dingin seperti ruangan privat yang terlalu mewah ini.
Rob berdiri di sampingku, lalu menunjuk salah satu bagian kontrak.
“Kontrak ini berlaku selama tiga tahun, Nona Mireya.”
“Tiga tahun?” ulang ku pelan.
“Tiga tahun atau sampai kondisi kesehatan ibunda Anda dinyatakan stabil sepenuhnya setelah operasi dan terapi lanjutan.”
Mataku langsung jatuh ke angka-angka di bawahnya.
Biaya operasi.
Biaya rawat inap.
Biaya alat penambal sumbatan.
Biaya obat.
Biaya terapi pemulihan.
Semua tertulis jelas.
Ditanggung penuh oleh pihak A.
Tanganku gemetar.
Jumlah itu terlalu besar.
Bahkan kalau aku bekerja tanpa tidur selama bertahun-tahun, belum tentu bisa mengumpulkannya.
Rob melanjutkan dengan tenang.
“Setelah masa pemulihan selesai dan kondisi ibunda Anda sehat, kedua pihak dapat mengakhiri pernikahan secara sah.”
Aku membeku di kata itu.
Pernikahan.
Jadi… benar-benar menikah?
Bukan tunangan?
Seolah membaca pikiranku, Rob menjelaskan lagi.
“Secara hukum, Anda dan Tuan muda akan didaftarkan sebagai pasangan sah.”
“Namun untuk publik, akan diumumkan sebagai pertunangan.”
Aku terdiam.
Ini benar-benar dunia orang kaya.
Di luar tunangan.
Di dalam sudah suami istri.
Rob membalik halaman berikutnya.
“Selama masa kontrak, kedua pihak dilarang menjalin hubungan dengan orang lain.”
Aku membaca kalimat itu dua kali.
Tidak boleh selingkuh.
Lucu juga.
Ini cuma kontrak, tapi aturannya lebih ketat daripada hubungan biasa.
“Tidak ada kewajiban hubungan suami istri.”
Pipiku langsung memanas.
Rob tetap memasang ekspresi profesional.
“Hubungan ini bersifat legal demi perlindungan dan bantuan medis. Tuan sangat mencintai mendiang nyonya jadi dia pasti juga akan berfikir seperti ini hanya demi keselamatan temannya”
“Segala hal pribadi tetap berdasarkan persetujuan.”
Aku menghela napas pelan.
Setidaknya… tidak seburuk yang kupikir.
Namun halaman berikutnya membuatku kembali terdiam.
“Pihak B wajib mengikuti arahan pihak A dalam urusan keamanan, kegiatan publik, dan lingkungan sosial.”
Aku mengernyit.
“Kenapa harus sebanyak ini?”
Rob menyesuaikan kacamatanya.
“Tuan muda memiliki cukup banyak musuh.”
Aku langsung menegang.
“Bahkan almarhum ayah beliau meninggal akibat konflik pihak lawan.”
Jantungku sedikit tercekat.
Dunia ini memang semenyeramkan itu?
“Karena itu, kami tidak ingin Anda dimanfaatkan.”
“Terutama untuk menyerang Tuan muda.”
Aku menunduk lagi.
Lalu sampai pada satu bagian yang membuatku berhenti.
“Selama masa kontrak, pihak B tidak diwajibkan bekerja.”
Alisku langsung naik.
“Hah?”
Rob menatapku dengan sopan.
“Segala kebutuhan Anda telah dijamin.”
“Termasuk tunjangan pribadi.”
“Jika Anda tetap ingin bekerja, pihak kami akan memilihkan sektor yang aman. Industri hiburan tidak terlalu aman banyak hal berbahaya.”
Aku terdiam.
Tatapanku turun pada angka tunjangan akhir kontrak.
Jumlah uang yang bahkan tidak pernah berani kubayangkan.
“Setelah kontrak berakhir, dana kompensasi ini akan diberikan kepada Anda.”
Aku langsung mengangkat kepala.
“Kenapa?”
Untuk pertama kalinya, nada suaraku terdengar sedikit keras.
“Aku nggak mau dibayar seperti barang sewaan.”
Rob membeku sesaat.
Lalu justru menatapku lebih serius.
“Maksud Tuan muda bukan seperti itu.”
“Ini untuk menjamin masa depan Anda setelah kontrak selesai.”
Aku menggigit bibir.
Tetap saja.
Rasanya aneh.
Seolah semua hidupku sudah ditentukan hanya dengan selembar tanda tangan.
Di luar jendela, kendaraan udara milik Zevran sudah lama menghilang di langit malam.
Meninggalkanku dengan pilihan yang terlalu berat.
Menyelamatkan ibu… atau mempertahankan harga diriku.
Dan ini semua terasa salah...
Seperti di buat buat... Tapi mimpi ku... Aku tidak bisa melepaskan mimpi ku di karir ini...