NovelToon NovelToon
Tasbih Cinta Ustadzah Buta

Tasbih Cinta Ustadzah Buta

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Crazy Rich/Konglomerat / Penyelamat
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: ingflora

Collins Grow—anak seorang milyarder, begitu senang bisa kabur dari pengawasan ketat bodyguard sang ayah. Tanpa sengaja, ia mengejar seorang wanita cantik nan buta bernama Aida Dewi karena menjatuhkan sebuah tasbih di stasiun kereta api. Cinta pada pandangan pertama, dan didukung sebuah keluarga Betawi hangat yang mengangkatnya, Collins mati-matian mengejar cinta Aida. Sayang, ketika semua berjalan mulus, sebuah kenyataan pahit menghancurkan segalanya. Lewat tasbih itu mereka berpisah.

Dapatkah tasbih itu mempersatukan cinta mereka kembali? Ataukah Collins harus menyerah pada penjara dingin sang ayah dengan ibu tiri yang masih mengintainya? Dapatkah Collins membuktikan kejahatan ibu tirinya yang terus dilindungi sang ayah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ingflora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3. Pertolongan

Stasiun tujuan sangat padat. Orang ramai keluar dari pintu kereta. Entah sejak kapan gerbong kereta api itu jadi sesak oleh penumpang, Collins bahkan baru menyadarinya.

Karena mengikuti arus, Collins terdorong keluar ikut keramaian hingga tak sengaja menyenggol seorang wanita berkerudung hijau.

"Ah!"

"Eh, maaf." Collins bisa melihat dari samping wajah wanita itu yang sangat menarik hati. "Cantik." Tanpa sadar ia berucap. Wanita itu memegang sebuah tongkat. Saat sang wanita membuka tasnya, ia menjatuhkan sesuatu. Collins reflek membungkuk mencarinya. Ia menemukan sebuah tasbih. Baru saja ia akan mengembalikannya, sang wanita sudah menghilang dari pandangan. Seketika Collins panik dan mencari. Ternyata wanita itu sudah berada di luar stasiun kereta dan menaiki sebuah bajaj.

'Ah, siallan, kalah cepat!' Collins menghempas lengannya ke samping dengan kesal. Ia terpaksa mengantongi benda itu. Namun saat ia meraba saku celananya ia merasakan ada yang aneh. Kenapa kantong celananya kosong? Ia kembali memeriksanya hingga menarik dasar kantong itu keluar. Benar tak ada apa pun! 'Astaga, apa aku kecopetan? Ah, siall. Benar-benar siall!'

Collins terpaksa melangkah keluar tanpa tujuan. Tanpa disadari, ia mengikuti ke arah mana bajaj itu pergi.

Senja berganti malam. Perut Collins mulai keroncongan. Ia berhenti di sebuah pos ronda sambil mengusap perutnya yang lapar. Lapar sekali. Bagaimana ini? Semua uangnya hilang, padahal sisa uangnya tak seberapa.

"Heh! Ngapain lu di markas gue!" Seorang anak muda dengan rambut dicat putih dan pakaian hitam-hitam datang mendekat. Ia bersama anak muda lainnya berpakaian sama datang berkumpul. Kaos lengan pendek, celana jeans hitam dan tato di sana sini.

Collins terkejut. "Eh, maaf. A-aku hanya numpang istirahat. Eh ... ya udah. Aku pergi." Ia tak ingin mencari masalah. Yang penting saat ini ia ingin mencari makanan karena lapar.

Belum sempat bergerak, tangan pemuda itu sudah mengungkungnya di dudukan kursi. Mata Collins membola. Ia bergerak mundur dengan mata terbelalak. Pemuda itu menarik kerah baju Collins dengan kasar dan menatap dingin ke arahnya. "Siapa yang suruh elo pergi, hah!? Kenapa lo gak gabung aja sama kita-kita? Iya gak teman-teman?" Dengan satu alis terangkat, pemuda itu menoleh pada teman-temannya sambil tertawa menyeringai.

"Yoi, man!"

"Yo!"

"Aku juga bawa minuman untuk merayakannya." Pemuda itu mengangkat sebotol minuman yang sangat Collins kenal. Senyumnya mulai mengintimidasi.

Collins menggeleng-gelengkan kepala panik ketika melihat minuman itu. Topinya bahkan terjatuh, hingga rambut gondrongnya tergerai. "Aku tidak minum itu, aku tidak minum itu!" Wajahnya tampak stres, tapi sia-sia saja penolakannya karena dua orang lainnya datang dan memegangi kedua tangan Collins agar bisa dicekoki minum beralkohol itu. "Tunggu, lepaskan aku!"

Pemuda itu tersenyum melihat rambut Collins yang tergerai melewati bahu. "Kamu itu sama dengan kami 'kan? Hah? Kenapa harus pura-pura?" Ia menepuk-nepuk pipi Collins dengan punggung tangannya.

"Lu ngapain di situ, pada!" Tiba-tiba sebuah bentakan keras membuat semua yang ada di sana menoleh ke arah sumber suara.

Seorang pria paruh baya yang punya sedikit rambut putih di sekitar dahi, kini berdiri di depan mereka dengan bertelak pinggang. Tanpa takut, ia menatap satu-satu pemuda yang berada di hadapan.

"Eh ... Babe ...," sahut pemuda berambut putih itu sedikit syok. Wajahnya tampak pucat. "Eh ... dia ...."

"Mau ape lu di sini? Bikin onar!?" Pria itu berbicara pelan, tapi dengan sorot mata begitu menantang.

Seketika para pemuda itu melepas Collins dan mundur teratur.

"Eh, enggak, Be. Cuma main-main." Tubuh mereka gemetar dengan wajah panik.

"Cuma becanda, Be."

"Ya udah ... pergi lu pada!" Kalimat terakhir babe sedikit ditekan hingga para pemuda itu lari kocar-kacir menjauhi tempat itu. Tinggal sang pria dan Collins yang ada di sana. Pria paruh baya itu mendatangi Collins.

Collins bernapas lega. "Terima kasih, Pak." Ia berusaha menyelaraskan jantungnya. Pria ini telah membantunya terhindar dari anak-anak geng tadi. Collins merapikan bajunya.

Babe memperhatikan Collins. "Lu mau ketemu siape?"

"Eh?"

"Lu bukan orang sini, pan? Lu cari siape?" Babe bertanya karena melihat wajah Collins yang tampak beda. Wajah orang Jepang, terlihat ramah tapi berrambut gondrong. Terlihat tidak familiar pula.

"Eh, gak ada. Cuma ... numpang lewat," sahut Collins kikuk. "Eh, permisi." Tiba-tiba terdengar bunyi perut Collins yang kelaparan. Ia harus menyembunyikan rasa malunya dengan sudut bibir yang terangkat paksa.

Mendengar suara dari perut Collins membuat pria itu menegakkan punggungnya. "Oh, kalau lu mau cari makan, lu bisa keluar lagi ke jalan raya. Di sana banyak pedagang makanan dah!" Pria itu menunjuk arah.

Eh, iya ...." Collins hanya mengangguk sopan sambil berusaha tersenyum. Ia tak tahu bagaimana cara menerangkan pada orang ini kondisinya, karena ia enggan beranjak dari duduknya.

"Kenape lagi dah?" Pria itu penasaran karena Collins tak kunjung pergi. Ia masih terus meneliti wajah Collins. Collins memakai kemeja dan celana bahan yang murah, tapi ia punya sepatu mahal. Kenapa ia punya sepatu mahal? Kembali Babe menatap Collins dengan curiga. Collins selain tampan, ia punya wajah terawat.

"Oh ... aku ingin istirahat sebentar." Collins berusaha tersenyum. Cukup melelahkan baginya berjalan hampir sejam, kemudian diserang preman di tempat itu. Sekarang, ia harus ke mana? Ia pun sudah kehabisan uang untuk membeli makanan, lalu ia harus bagaimana?

"Lu sebenernye mau ketemu siape, sih?" Kembali babe bertanya. Ia tak yakin dengan jawaban Collins tadi.

"Mmh?" Collins terlihat bingung. Bola matanya bergerak tak beraturan. Perutnya pun mulai tak bisa diajak kompromi. Lalu ia harus membuat alasan apalagi agar pria itu tak mengganggunya dan pergi?

Tiba-tiba pria itu meraih lengannya. Collins terkejut. Genggaman pria itu cukup kuat hingga Collins kesulitan melepaskan diri. "Mau ke mane lu?"

"Eh?"

"Kamu ngincer rumah orang, yak?" Mata pria paruh baya itu mulai was-was. Bola matanya mulai membesar.

"Eh, bukan ...." Collins menggoyang-goyangkan kedua tangan.

"Mau maling?" Interogasi masih berjalan.

"Enggak, Pak ... ya udah, Saya pergi." Collins beranjak berdiri tapi pria itu masih menggenggam lengannya dengan erat. "Eh, Pak ...."

Babe memperhatikan wajah Collins yang berusaha jujur. Ia masih sangsi. "Ayo jujur!" bentaknya.

"Sumpah, Pak! Aku bukan maling! Aku hanya lapar." suara Collins mengecil seketika.

"Kalo laper, 'kan tinggal beli!?" Dahi pria itu berkerut curiga.

"Iya ...." Collins menyahut dengan suara rendah. Ia mulai kebingungan. Gengsi menyatakan ia tak punya uang.

"Lu, gak punya duit?"

Collins tak menjawab. Wajahnya memelas. Ia menarik lengannya tapi genggaman pria itu sungguh kuat. Belakangan babe bisa merasakan tangan Collins yang gemetar. "Lu kabur dari rumah ye?" Dugaan berikutnya.

Kembali Collins diam karena takut. Ia hanya berusaha menarik lengannya hingga lelah. "Pak, tolong ...." Suaranya lemah karena capek dan juga lapar.

"Lu mau makan? Ayo ke rumah!" Babe menarik tangannya.

"Gak usah, Pak." Selain bingung, Collins tak tahu apa keinginan pria itu. Ia berusaha menghindar.

"Kalo lu bener, ikut babe!" bentak pria itu.

Mendengar ultimatum sang pria, Collins terpaksa ikut. Ia hanya ingin membuktikan ia tak bohong.

"Siape name lu?" tanya Babe lagi.

Bersambung ....

1
elief
lanjut thor, makin seru ceritanya
Mustofa Aris
lanjutannya mana?
Baby_Miracles: iya, otw ya
total 1 replies
RaDja
terima kasih
Wiwi Sukaesih
up LG Thor
elief
Bagus thor ceritanya, tetap semangat berkarya nya💪💪💪
Baby_Miracles: makasih
total 1 replies
elief
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!