Syela tak ingat apapun yang terjadi malam itu, berawal dari pesta di sebuah klub membuatnya harus kehilangan kegadisannya.
Apa yang harus dilakukannya pun ia tak tahu...
Apakah harus????.....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S.A.Hanifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ep.3
Tapi kenyataan tak sesuai harapan, masa masa tenang yang dijalani Syela kini semakin runyam saja.
Gadis itu menatap tak terbaca pada sebuah benda ditangannya, entah apa perasaannya saat ini yang jelas kecewa itu pasti.
Tespack bergaris 2 itu membuat tatapan Syela yang awalnya tak terbaca berubah berurai air mata. Ia tak tau harus berbuat apa, bahkan janin siapa yang dikandungnya pun ia tak tahu.
"Bagaimana ini??" isaknya tertahan.
Masih, masih disembunyikan sebisanya. Syela tak memberitahukan juga kehamilannya pada kedua orang tuanya. Apalagi perusahan sang Papa juga sedang dalam sedikit masalah, dia tak ingin menambah beban untuk Handoko.
Malamnya Syela duduk termenung di kamarnya, beberapa saat lega ternyata bukan untuk tenang selamanya. Nyatanya masalah besar sedang bertumbuh didalam tubuhnya.
Tanpa sadar gadis itu memukul perutnya pelan, yang awalnya pelan semakin lama semakin kuat. Gadis itupun berkata "Kenapa, kenapa kamu ada didalam sini???".
"Keluar, keluar kumohon keluar, aku tidak menginginkanmu... Dari siapa kamu aja aku nggak tau, keluaaaar" tambahnya memukul perutnya berulang kali hingga lelah sendiri dan tertidur dalam heningnya malam.
Syela menangis kembali, hancur, hancur sudah dirinya saat ini tak bersisa. Masa depan, jangankan masa depan masa ini saja tak berani ia bayangkan apalagi jika orang tuanya tau.
Keesokan harinya.
Syela menatap benda benda diatas mejanya. Beberapa bungkus jamu dan obat obatan siap minum ada dihadapannya saat ini. Tanpa ragu gadis itu menenggaknya satu persatu. Di tunggu punya tunggu tak ada reaksi apapun, Syela mulai was was.
"Kenapa nggak ada efeknya, ayo dong keluar" ujarnya kembali memukul perutnya.
Sampai keesokan paginya lagi saat sarapan bersama kedua orang tuanya, Syela merasa keram diperutnya semakin lama semakin intens hingga wajahnya memucat.
"Kamu kenapa Sel, sakitlah?" tanya sang Papa khawatir.
"Ng.... nggak pa" jawab Syela berbohong. "Syela mau kekamar dulu" tambahnya beranjak ingin berdiri tapi pandangannya kabur dan seketika gelap.
Sejam Kemudian.
"Selamat putri anda sedang hamil" ujar seorang Dokter wanita dengan senyum sumringahnya.
Tapi tidak dengan kedua orang tua Syela. Kabar yang diucapkan dengan senyum itu malah terdengar seperti petir yang menyambar disiang terik. Kedua syok sampai tak bisa berkata kata.
"Di... dimana ini?" Syela yang ternyata baru sadar bertanya dengan suara seraknya.
"Anda dirumah sakit Nona" jawab sang Dokter.
Wajah Syela yang tadinya nampak bingung kini berubah panik apalagi saat melihat tatapan tak terbaca kedua orang tuanya yang dia yakini pasti mereka sudah tau kenyataannya.
"Baik, coba kita lakukan USG dulu ya" ucap Dokter yang memang akan segera memeriksa perut Syela dengan alat USG didekatnya. Syela tau bisa menolak, apalagi orang tuanya saat Dokter itu melanjutkan pekerjaannya.
"Lihat, ini janinnya" ujarnya memperhatikan layar komputer yang menunjukkan sebuah kehidupan baru disana.
Syela awalnya hanya memejamkan mata tak berniat melihat layar itu.
"Walau detak jantungnya sedikit lemah, tapi bayinya sehat tidak ada masalah berarti" tambah sang Dokter.
Dan saat Dokter menjelaskan janin itu sudah memiliki tubuh sempurna barulah Syela melihat kearah layar komputer, dipandanginya kehidupan tak diinginkan dalam perutnya itu lama sampai bulir air terjatuh dari pelupuk matanya.
Bagaimana bisa padahal sudah berbagai macam percobaan untuk menggugurkan bayi itu dia lakukan. Tapi kenapa anak itu masih bertahan dalam tubuhnya. Kenapa?.
"Loh dedeknya sehat kok, kenapa ibunya menangis? " tanya sang Dokter tertawa kecil tapi tak membuat pak Handoko dan Bu Susi melakukan hal yang sama. Keduanya masih terdiam seperti sebelumnya.
"Ohh dedeknya pasti kuat kaya Ayahnya ya" tambah Dokter cantik itu lagi"
Syela sudah tak mendengar apapun ucapan Dokter itu lagi, dia hanya fokus menatap layar komputer tersebut. "Siapa Ayahmu?" tanyanya dalam hati.
****
Plak!!!!.
Rasa perih tak tertahan menjalar pasti dipipi Syela, akibat tamparan dari sang Papa. Baru saja memasuki ruang keluarga pria itu langsung memberikan pelajaran pada sang putri yang dulu disayanginya itu. Iya dulu, karena mungkin setelah ini perasaan itu sudah hilang bersama dengan kesalahan besar sang putri.
Sangking marahnya tamparan itu sampai membuat Syela terjatuh kepantai.
"Mau ditaro dimana muka Papa Syela!!!" bentak Handoko yang tak membuat Syela terkejut karena sudah menduga reaksi Papanya akan seperti itu.
Sedangkan sang Mama hanya duduk disofa dengan kepala tertunduk.
"Kenapa kau jadi seperti ini hah??!!!" tambahnya lagi. Wajah pria itu sudah merah padam karena amarahnya meluap tak terkendali.
Handoko mengusap wajahnya prustasi. "Argghhhh, dasar anak tak tau diuntung!!!".
Pasti bakal muncul kok, cuman belum waktunya
sesuai sama judul sih aku buat ceritanya, kalau cepet ketemunya bakal pendek ceritanya