NovelToon NovelToon
Perjalanan Menjadi Seorang Legenda

Perjalanan Menjadi Seorang Legenda

Status: sedang berlangsung
Genre:Keluarga / Karir / Persahabatan / Slice of Life
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: MR. IRA

Ivan hanyalah seorang remaja dari desa kecil yang jauh dari hiruk-pikuk stadion besar dan sorotan kamera. Namun, impiannya menjulang tinggi—ia ingin bermain di Eropa dan dikenal sebagai legenda sepak bola dunia.

Sayangnya, jalan itu tidak mulus. Ibunya, satu-satunya keluarga yang ia miliki, menentang keras keinginannya. Bagi sang ibu, sepak bola hanyalah mimpi kosong yang tak bisa menjamin masa depan.

Namun Ivan tak menyerah.

Diam-diam ia berlatih siang dan malam, di lapangan berdebu, di bawah hujan deras, bahkan saat dunia terlelap. Hanya rumput, bola, dan keyakinan yang menemaninya.

Sampai akhirnya, takdir mulai berpihak. Sebuah klub kecil datang menawarkan kesempatan, dan ibunya pun perlahan luluh melihat kegigihan sang anak. Dari sinilah, langkah pertama Ivan menuju mimpi besarnya dimulai...

Namun, bisakah Ivan bertahan di dunia sepak bola yang kejam, penuh tekanan dan kompetisi? Akankah mimpinya tetap menyala ketika badai cobaan datang silih berganti?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MR. IRA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3: Hari Pertama di Sekolah

  Mentari belum masuk ke kamar Ivan, tapi Ivan sudah bangun karena hari ini adalah hari pertamanya bersekolah di kelas 11 ini.

"Kukuruyuk!!" suara ayam berkokok.

"Huah," aku menguap.

"Ivan, cepet sarapan lalu mandi!!" teriak ibu dari dapur.

"Iya!!" sahutku dari dalam kamar.

  Aku beranjak dari kasurku dan berjalan ke dapur, sesampainya di dapur aku lalu makan. Lauknya sederhana, hanya tempe dan tahu.

"Ivan, setelah makan langsung mandi ya," ujar ibu sambil meletakkan piring.

"Iya," jawabku pelan.

  Aku lalu makan, setelah makan aku bergegas ke kamar mandi.

"Kenyang," batinku.

"Sekarang, tinggal mandi!!" ujarku.

"Tap... Tap... Tap..." suara langkah kakiku yang berjalan ke kamar mandi.

"Hari pertama jadi anak kelas 11, semoga nggak ada drama baru!!" batinku sambil mandi.

  Seusai mandi aku lalu bersiap-siap untuk berangkat sekolah.

"Ibu, aku berangkat!!" ujarku sebelum berangkat.

"Iya," jawab Ibu.

  Aku berangkat sekolah dengan berjalan kaki, jarak sekolahku dan rumah cukup dekat. Tapi ada aja sesuatu yang terjadi saat berangkat sekolah.

"Hmm... Masih pagi banget," gumamku sambil terus berjalan.

  Di tengah perjalanan aku berpapasan dengan Azzam tanpa sengaja.

"Eh... Itu Azzam. Zam!!" panggilku.

  Azzam berhenti lalu menoleh ke arahku.

"Van. Mau berangkat bareng?!" tanya Azzam.

"Boleh," jawabku ke Azzam.

  Aku lalu berangkat ke sekolah bersama Azzam, di tengah perjalanan terciptalah obrolan-obrolan yang random.

"Zam, kamu kelas 11 IPA atau IPS. Atau malah tata boga?!" tanyaku.

  Azzam sedikit tersenyum lalu tertawa pelan.

"IPS, Van. Kalau kamu?!" tanya Azzam balik.

"Hehe... Sudah jelas dong, IPA!!" jawabku.

"Widih, anak IPA nih!!" ejek Azzam.

"Ah, kamu Zam. Kita jalan aja," ujarku.

"Wah, ada yang marah nih!!" sahut Azzam.

  Aku hanya diam dan tetap berjalan. Sesampainya di sekolah aku langsung meletakkan tas di kelasku, lalu aku berjalan ke lapangan untuk melakukan upacara bendera.

"Oke, aku ke kelas dulu, Zam!!" ujarku sebelum pergi ke kelas.

"Iya," jawab singkat Azzam.

 "Huh... SMA Medika Jaya, sekolah menengah atas yang sebenarnya bagus, tapi guru matematikanya killer banget!!" gumamku sambil terus berjalan ke kelas.

  Setibanya di kelas, aku lalu meletakkan tasku.

"Tunggu, ini bukannya tasnya Nadia ya?!" batinku saat melihat tas merah muda dengan gantungan kunci berbentuk beruang cokelat yang imut di resleting tasnya.

"Pagi, Ivan!!" ujar Nadia yang menyapa.

"Nad, kamu duduk di sini?!" tanyaku.

"Iya, nggak papa kan?!" tanya Nadia.

"Nggak papa sih," jawabku sambil menggaruk kepala.

"Untuk semua murid, bisa segera berkumpul di lapangan depan. Karena akan segera diadakan upacara bendera," suara speaker sekolah.

"Eh... Ayo kita ke lapangan," ajak Nadia.

"Iya," jawabku pelan.

  Aku dan Nadia lalu berjalan bersama ke lapangan upacara.

  Sesampainya di sana, kami langsung diarahkan OSiS untuk berbaris rapi sesuai kelas.

"Van, kapan kamu jadi pengurus

OSIS?!" tanya Michel, teman OSISku.

"Yaelah, masih pagi udah ditanyain pengurus OSIS," jawabku ke Michel.

"Heheheh... Maaf deh, nanti setelah upacara kita ngobrol lagi," ujar Michel sebelum pergi.

  Upacara bendera lalu dimulai, aku berbaris rapi sampai upacara selesai. Tapi di tengah upacara tiba-tiba pembina mengumumkan sesuatu ke semua murid.

"Anak-anak, sekolah akan mengadakan seleksi tim sepak bola untuk bertanding di kecamatan. Bagi yang berminat bisa daftar di pengurus OSIS ya!!" ujar Pak Nur, selaku kepala sekolah.

"Wah... Kesempatan bagus nih, tapi apa ibu setuju?!" batinku yang agak bimbang.

"Van, ayo kita tunjukkan siapa kita disini!!" ujar Andika yang berada di belakangku.

"Iya, sama nanti kita ajak Azzam," ujarku pelan.

Singkat cerita. Setelah selesai upacara, aku lalu menemui Azzam dan Andika.

"Azzam sama Andika, di mana sih?!" gumamku sambil berjalan mencari mereka.

Aku terus berjalan mencari mereka. Akhirnya aku menemukan mereka sedang makan di kantin sekolah.

"Nah, itu mereka," batinku.

Aku lalu menghampiri mereka di tengah keramaian kantin.

"Zam, Dik!!" sapaku.

"Oy, Van. Sini makan!!" ujar Azzam.

"Kalian makan aja, aku mau bahas soal seleksi tadi," ujarku.

"Oke," sahut Andika.

Aku lalu duduk bersebelahan dengan Azzam dan Andika. Aku mulai membahas tentang seleksi tadi.

"Oke, kita buat tim untuk seleksi gimana?!" tanyaku yang memulai obrolan.

"Oke, tapi kita hanya 3 orang sedangkan 1 tim sepak bola perlu 11 orang. Kita cari 8 orang lainnya di mana?!" tanya Andika.

"Kipernya kamu, beknya Azzam. Kalau aku striker," ujarku.

"Jadi?!" tanya Andika yang tidak paham.

"Jadi... Kita harus cari 8 orang lainnya!!" sahut Azzam.

"Oke," jawab singkat Andika.

"Atau gini aja, kita gabung ke tim orang lain yang kekurangan anggota?!" usul Azzam.

"Boleh juga," sahutku.

"Oke... Kalau gitu, kita bakal cari tim yang kekurangan anggotanya," ujar Andika.

"Kepada semua murid-murid, waktu istirahat setelah upacara selesai. Silakan kembali ke kelas masing-masing!!" suara dari speaker sekolah.

"Yaudah, nanti kita ngobrol lagi," ujarku sebelum pergi ke kelas.

"Oke," jawab Andika dan Azzam secara bersama-sama.

Sesampainya di kelas, aku lalu duduk dan mengambil buku pelajaran hari ini.

"Ivan... Kamu bawa buku pelajaran kan?!" tanya Nadia ke arahku sambil memberikan ekspresi yang lucu.

"Bawa kok, Nad. Omong-omong pelajaran pertama apa?!" tanyaku.

"Matematika," jawab Nadia pelan.

"Glup..." aku menelan ludah.

"Matematika?!" seruku pelan sambil melihat pintu, untuk memastikan guru matematika belum datang.

"Iya, memang kenapa?!" tanya Nadia.

"N-nggak papa kok Nad," jawabku yang agak gugup.

Tiba-tiba dari arah pintu terdengar suara langkah kaki yang tidak asing, suaranya keras dan mengerikan.

"Itu pasti, Bu Tia. Guru matematika yang menakutkan," batinku yang sedikit panik.

"Tap... Tap... Tap..." suara langkah kaki seseorang dari luar kelas.

"Dug... Dug... Dug..." suara jantungku yang berdebar hebat.

Dan seseorang masuk, dia ternyata Pak Nur.

"Huh.... Kukira, Bu Tia!!" batinku yang lega.

"Pagi, Anak-anak!!" ujar Pak Nur di depan kelas.

"Pagi Pak!!" jawab serentak murid-murid di dalam kelas.

"Ada informasi soal seleksi, karena ada perubahan jadi tidak ada seleksi. Tapi sebagai gantinya, para pemain akan dipilih oleh saya," ujar Pak Nur sambil membaca sebuah surat.

"Aduh... Kalau aku nggak dipilih, aku nggak bakal bisa nunjukin skill-ku. Tapi kalau dipilih aku harus minta izin ibu!!" batinku sambil menggaruk kepala.

"Jadi, jika nama kalian disebut silakan ke kantor. 11 pemain pertama adalah, Azzam, Andika, Michel, Teo, Ardi, Egy, Yahya, Alfian, Reno, Tama, dan.... Ivan. Silakan ke kantor!!" ujar Pak Nur sembari membaca surat.

"Apa?! Namaku ada disana?! Yes!!!" batinku yang senang.

"Karena di kelas ini yang dipanggil hanya ada Ivan dan Andika, jadi kalian bisa ke sana dulu!!" suruh Pak Nur.

"Baik, Pak!!" ujarku dan Andika.

Aku dan Andika lalu berjalan ke kantor. Kami berbincang sambil berjalan karena senang bisa masuk daftar untuk bertanding di tingkat kecamatan mewakili sekolah.

Ivan sangat antusias untuk mengikuti pertandingan itu, tapi apakah Ivan diberikan izin oleh ibunya untuk bermain bola?!

Bersambung...

1
Khunaiv Mumtaz
Kasian Ivan, sampai pingsan. Pak Slamet tegas banget
IRAWAN
Sabtu
Protocetus
kapan min kejuaraannya?
aurel
hai Thor aku sudah mampir, yuk mampir juga di karya aku " istriku adalah kakak ipar ku"
Protocetus
min up spesial Agustus 😁
IRAWAN: Ehm... Iya, tamat chapter 1 di bab 20 nanti. Chapter 2 menunggu
total 5 replies
IRAWAN
Maaf bang, masih sibuk ngurusin proker
Protocetus
min up
Khunaiv Mumtaz
Ehem... Ternyata Ivan lahir di keluaga pesepak bola/Shy/
Khunaiv Mumtaz
Makin kesini, ceritanya makin bagus. Semangat Thor/Determined//Determined/
Protocetus
up lagi bang
IRAWAN: Sabar kak, bisanya perhari satu bab. Kalau lagi ada kegiatan mungkin dua-tiga hari baru up, Maaf ya kak/Pray/
total 1 replies
IRAWAN
/Smile//Sleep/
Crimson
Min walau aku gak terlalu suka bola tapi aku support hehe
IRAWAN: makasih dukungannya kak, tapi ini bukan cuma tentang bola
total 1 replies
Protocetus
Anda terlalu percaya diri 😂
IRAWAN: Ehem... Bisa aja kak, siapa tau Elena sama Nadia suka Ivan/Smile/
total 1 replies
Protocetus
No System2, Only Hard Work 🔥
Protocetus: Of Course Work Hard 👍
total 2 replies
Protocetus
udah ikutin aja karir 🔥
Protocetus
Aku kira idolanya Gareth Bale 😂
IRAWAN: Juara tiga, ya sama aja nggak juara. Soalnya nggak dapet piala, cuman dapet medali
total 5 replies
IRAWAN
Masih enjoy?
Jinki
bagus kak .. smgt .. mampir ya
IRAWAN: Siap kak
total 1 replies
iqbal nasution
oke
Protocetus
ini gak ada sistem kan?
Protocetus: sip 🔥
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!