NovelToon NovelToon
Dikhianati Suami, Dicintai Chef Eksekutif

Dikhianati Suami, Dicintai Chef Eksekutif

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Crazy Rich/Konglomerat / Penyesalan Suami
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: Tulisan_nic

"Luka ini masih menganga, kata maaf dan khilaf tidak bisa menguburkanya. Pengkhianatan ini terlalu pahit, hingga aku susah untuk lupa!"

Ini adalah kisah Isana, seorang wanita yang dikhianati Andreas dengan begitu pahit, saat sedang mengandung anaknya. Namun menemukan kisah manis dibalik Cupcake kegemarannya, bersama Althaf Rafardhan, seorang chef yang terkenal dingin dan tidak banyak bicara.
Andreas yang terpuruk karna menyadari, cintanya hanyalah untuk Isana, bukan Risa perempuan penggoda. Ingin kembali lagi, memperbaiki hubungan yang kandas. Mencoba membujuk Isana untuk rujuk, dengan dalih sebagai Ayah biologis anak laki-laki mereka.
Akankah Althaf membiarkan wanita yang ia cintai itu kembali pada pria yang sudah mengahancurkanya?
Dan apa keputusan Isana?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tulisan_nic, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bara Api!

*

*

*

Udara diluar rumah terasa panas. Matahari semakin meninggi, seolah teriknya mampu melelehkan jalanan aspal.

Andreas berjalan menuju rumah masa kecilnya yang tidak terlalu jauh dengan rumah yang ia tempati bersama Isana. Dari kejauhan, punggung Dewi sudah lebih dulu menghilang melewati pagar.

Ia mempercepat langkah.

Tin!

Suara klakson mobil membuyarkan lamunannya, langkah Andreas terhenti, reflek pria itu menoleh.

Sebuah sedan hitam berhenti di tepi jalan. Kaca dibagian pengemudinya perlahan turun, memperlihatkan sosok yang membuat tubuh Andreas membeku seketika.

Jantungnya seperti terhantam sesuatu. Tangannya yang semula berayun di sisi tubuh mendadak kaku.

Risa.

Perempuan itu menatapnya dari balik kemudi dengan senyum tipis yang begitu dikenalnya. Senyum yang selama kemarin-kemarin menghiasi malam-malamnya.

Untuk beberapa detik, dunia di sekitar Andreas seakan kehilangan suara.

"Pak Andreas!"

Seseorang dibelakang kemudi, melambaikan tangan dan tersenyum lebar padanya.

Angga.

Andreas menyipitkan mata, menatap bergantian. Antara Risa dan Angga yang duduk berdampingan dalam satu mobil sedan.

Dada Andreas bergemuruh, semburat merah merayap naik ke wajahnya.

"Kebetulan kami lewat sini, Pak"

Suara Angga terasa memekakkan telinga Andreas. Rahangnya terkatup rapat.

"Ini rumah Bapak kan?" Angga terus bertanya, tanpa menyadari tatapan Andreas yang mulai menyala.

Sudut bibir Andreas terangkat tipis, namun sorot matanya justru semakin tajam. Ia memalingkan wajah sejenak, lalu kembali menoleh ke arah Risa.

Risa mengenali perubahan sekecil apapun dari pria itu. Iya yakin sekali, bahwa gestur yang terlihat dari Andreas adalah kecemburuan yang terpendam.

"Hai An ..." Ucapan Risa terdengar ringan.

Tatapan mereka bertemu cukup lama. Membuat Angga disebelah Risa mendadak bingung dengan reaksi keduanya.

"Selamat menikmati waktu libur ya ..."

Risa sengaja berbasa basi, namun bagi Andreas kalimat itu ditujukan untuk mengejeknya.

Andreas tersenyum tipis, tapi sorot matanya tidak menunjukkan kehangatan.

"Kami permisi dulu Pak Andreas, kebetulan unit apartemen kami sama. Jadi sekalian pulang sama Bu Risa."

Angga yang tidak tahu apa-apa, bicara apa adanya.

"Oh ... Jadi pulang bersama?" Suara Andreas terdengar dingin. Bahunya menegang, sedang jemarinya perlahan mengepal. "Menyenangkan sekali kedengarannya." disertai tawa yang terdengar sumbang.

Risa menggigit bibir bawahnya, berdehem pelan. Jujur saja, hatinya begitu merasa menang setelah melihat reaksi Andreas.

Ia menyelipkan anak rambutnya ditelinga, melirik Andreas sekilas. Lantas dengan sengaja, menyentuh tangan Angga yang masih berada di atas perseneling.

"Jalan Ga, udah panas banget. Aku pengen cepet-cepet sampe."

Gemuruh dada Andreas tak dapat ia hindari. Ada sesuatu yang menyesak di balik tulang rusuknya saat melihat tangan itu menyentuh laki-laki lain. Rasa panas menjalar hingga ke pelipis, sementara rahangnya mengeras tanpa sadar.

Angga mengangguk, kemudian beralih menatap Andreas.

"Pak, kami permisi dulu ya. Maaf, kami tidak sempat mampir."

Bukannya menjawab, Andreas justru membuang muka. Dan membuat Angga mengernyitkan dahinya.

Namun tidak terlalu ia gubris, ia fokus pada setir dan pedal yang perlahan ia injak.

Andreas menghela nafas kasar. Tangannya masih mengepal, tatapannya masih tajam hingga lampu belakang mobil Angga berkedip kemudian hilang ditelan ujung jalan.

Pria itu melanjutkan jalannya tergesa-gesa.

Brak!

Pintu pagar bergetar keras setelah dibanting Andreas. Suara benturannya memecah keheningan siang yang panas. Napasnya memburu. Dada bidangnya naik turun dengan kasar, sementara urat di lehernya terlihat menegang. Bayangan tangan Risa yang menyentuh tangan Angga kembali berputar di kepalanya.

Langkahnya terus menghentak. Suara sandal kulitnya terdengar mengetap-ngetap paving begitu keras.

Sebelum memasuki pintu rumah, kaki Andreas dengan sengaja menendang pot bunga, yang terletak sembarang di ujung teras.

Pria itu mengusap wajahnya dengan kasar. "Brengsek!"

Ia meninju udara kosong.

Tanpa mengucap salam, Andreas masuk kedalam rumah. Beruntung pintunya sudah terbuka, kalau tidak pintu itu juga tidak akan selamat dari amukan Andreas.

"An?"

Suara Dewi, keluar dari arah dapur. Tangannya sibuk menaruh tempat makanan yang tadi ia bawa kerumah anaknya.

Andreas tidak menjawab, tangannya meraih botol air mineral yang tersedia di meja kecil, sudut ruangan tengah.

Ia membuka tutup botolnya dengan sentakan yang begitu keras hingga nyaris patah.

Di tenggaknya air mineral itu, rasa dingin mengalir ke tenggorokannya namun belum bisa memadamkan bara api yang terus menerus menyala dihatinya.

"An, kamu tuh kenapa?!"

Dewi begitu penasaran, melihat tingkah frustrasi anak laki-lakinya.

Andreas menggeleng cepat, "Nggak, apa-apa." Sahutnya datar. Membuat Dewi mengernyit, semakin bingung dengan sikap Andreas.

Pria itu beralih ke area taman belakang. Taman yang menyatu dengan ruang tengah. Ada Gazebo bernuansa rustic, dengan kolam ikan koi dibawahnya. Tempat yang dulu biasa ia pakai, jika sedang menenangkan pikiran.

Tangannya masih menggenggam botol air mineral, begitu erat hingga menimbulkan lengkungan di botol tersebut.

Ia buka lagi tutup botolnya, ia tenggak hingga bersisa setengah.

Ia taruh botol itu diatas meja kayu, suara gebrakkan terdengar keras, pertanda Andreas menaruhnya tanpa kelembutan.

"Unit yang sama?" Andreas tertawa getir, "Pulang bersama? Tertawa bersama?!" Suaranya tinggi di akhir kalimatnya.

"Kenapa nggak sekalian tinggal bersama?!" Andreas memejamkan mata. Berharap semuanya hilang. Namun yang terlihat justru semakin terang.

Yang terus ia lihat justru senyum Risa. Lalu Angga di sampingnya. Kemudian sentuhan kecil di atas perseneling itu. Semua mengolok-olok dirinya, seakan menuntut untuk terus tak terima.

Andreas mendadak melempar botol tadi ke dalam kotak sampah plastik yang tersedia di ujung Gazebo.

Prak!

Botol itu memantul lalu menggelinding.

Andreas menunduk. Duduk dikursi kayu. Kedua sikunya bertumpu di paha, sementara jemarinya saling mengunci kuat. Beberapa detik ia diam.

Lalu mengembuskan napas panjang.

Dewi mendekat, ia sentuh pundak anak sulungnya itu dengan kelembutan seorang Ibu.

"Isana lagi? Dia nyecar kamu lagi?"

Reflek Andreas menoleh. Pertanyaan Ibunya, justru bagai teguran keras. Bahwa, apa yang terjadi bukankah sesuatu yang ia inginkan?

Menjauhi Risa, dan tidak lagi memperdulikannya!

Tapi kenapa, rasa sesak didada saat melihat Risa bersama Angga begitu menyakiti hatinya? Meremas jantung dan membuat parunya tidak bebas bekerja.

Andreas mengusap wajah, kali ini tidak sekasar tadi.

"Isana itu, sepertinya memang harus lebih banyak di kasih tahu. Padahal, tadi Mama sudah bicara sama dia." Dewi menyilangkan tangan didepan dada.

Andreas terkesiap, dahinya mengernyit. "Mama bicara apa sama Isa?"

"Ya ... Mama bilang ..." bibir Dewi bergetar tipis, "Kalau dia itu sudah keterlaluan. Membiarkan kamu tidur di sofa. Mama nggak terima, kalau dia terlalu keras sama kamu."

"Ma ... Kenapa bilang begitu sama Isa?"

Dewi segera menoleh, bola matanya memanas, menaikkan sebelah alisnya. "Kok sekarang kamu malah membela Isana?!"

"Karna nggak seharusnya Mama campuri urusan Andreas sama Isa Ma."

"Jadi kamu mau nyalahin, Mama?!"

Andreas mengeraskan rahangnya, jemarinya mencengkram gagang kursi dengan keras hingga terlihat tonjolan di buku-buku jarinya.

"Bukan itu, Ma ... Tapi ..."

"Tapi apa?" Dewi cepat memotong ucapan Andreas. "An, kamu itu suami. Sudah seharusnya Isana itu menghormati dan menghargai kamu. Jangan mau seenaknya saja, ngambek sana sini. Cuma karna kamu nggak menemani dia melahirkan Ghazi."

Andreas tertegun, hatinya berkecamuk. Betapa dirinya sendiri merasa pantas mendapat perlakuan seperti itu, dari Isana. Bahkan, seharusnya lebih buruk, jika Isana mengetahui semuanya.

*

*

*

~Salam hangat dari Penulis🤍

1
Cheryl 🧚‍♀️
ini gila sih visualnya Althaf dapet banget... anak bos si Andreas lagi kalau nanti udah bisa sama-sama Isana. si Andreas bisa mampus karena menyesal dan aku menunggu momen itu sambil tertawa jahat. hahahaha
Cheryl 🧚‍♀️
ngeras bersalah pas ketahuan orang lain, giliran nggak ketahuan mainya dilanjutkan soalnya berbuat dosa itu enak ya Andreas. huh!! mendengus sebal aku.
Black Swan
Lo tau nggak, An. Punya dua istri tuh ribet, satu aja ribet apalagi dua.
Black Swan
Share lok Ris, tak gunduli rambutmu biar tambah keren😏😏😏
Black Swan
Mending pergi aja Isana, cari papa baru buat Ghazi dan suami baru🤭🤭🤭
Black Swan
😭😭😭😭Gue kecewa sama An
mawar merah
Wah manager.. ayo buka cctvnya Kahfi
mawar merah
Ayo kahfi bantu adik kamu mencari bukti perselingkuhannya
mawar merah
Hahahaaa kopi...kopi apaan tuch 🤭🤭
mawar merah
sekali berbohong akan selalu berbohong
neny
sudahlah,,tdk bs diperbaiki mereka,,smg ajh gendis dng cepat menemukan bukti perselingkuhan mereka,,se pandai2 nya tupai melompat,,pasti ada tiseureuleuna🤣🤣🤣
neny: ayo ath kak othor bantuin 🤣🤣
total 2 replies
Cheryl 🧚‍♀️
apa yang sudah dimulai tidak segampang itu kamu menghentikannya Andreas dan Risa juga nggak mungkin mau.
Cheryl 🧚‍♀️
Yaallah ini wanita terbuat dari apa😭
_Nic: Dari tanah kuburan apa ya?😭
total 1 replies
Cheryl 🧚‍♀️
Lelah habis bermanja-manja 🤭
Cheryl 🧚‍♀️
Berasa paling bener banget kamu Andreas
_Nic: playing victim mode on si Andreas
total 1 replies
Cheryl 🧚‍♀️
Laki-laki kalau udah sekali kaya gitu pasti nggak akan pernah berubah, aku harap kamu cukup bersabar Isana. Sumpahh berasa aku yang ada di posisi itu😭
_Nic: Ngga terima ya kak
total 1 replies
Cheryl 🧚‍♀️
Nyesek banget sampai kesini😭
_Nic: Aku puk puk kamu kak🥲
total 1 replies
mawar merah
sukur mampus
mawar merah
Dih punya otak kok gk dipakai
mawar merah
preeeettt
_Nic: sabar kak, sabar🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!