NovelToon NovelToon
PUTRA KE EMPATKU

PUTRA KE EMPATKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: ElQue ElQue

Sedih dan sakit hati di rasakan oleh Arista, hanya karena belum bisa memberikan anak perempuan pada suaminya. Pada kehamilan ke empat, Arista sengaja tidak mau USG untuk mengetahui jenis kelamin janin dalam kandungannya. Dia sudah pasrah, apa pun takdir dari Sang pencipta, dia akan menerimanya dengan ikhlas.

Hingga hari yang di tunggu pun tiba. Sore itu dengan di temani adik perempuannya, Anisa. Mereka ke klinik bersalin terdekat dari desa mereka.

Suaminya ke mana??

"Alhamdulillah, selamat ya, Bu Arista atas kelahiran putra ke empatnya"

Arista tersenyum gamang. Di depan pintu sorot mata penuh kekecewaan, seolah sedang menghakiminya.

" Mas...maaf " lirih suara Arista.

Sorot mata itu perlahan menjauh dan menghilang di telan kekecewaannya sendiri.

Arista tergugu, tak ada air mata...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ElQue ElQue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

20

Deretan jam tangan mewah berjajar rapi, menunggu di pinang pembeli. Pria itu mengamati satu per satu, bukan soal harganya, tapi dia ingin memilih model yang tidak terlalu mencolok.

Pandangannya tertuju pada satu jam tangan silver, modelnya sederhana, tapi terlihat elegan.

(Hmm...yang ini sepertinya cocok, kesannya tak terlalu mewah, tapi terlihat elegan. Sangat cocok dengan kepribadiannya yang pendiam)

"Mbak maaf, bisa minta tolong lihat yang ini." dengan sopan pria itu menunjuk jam yang dia taksir.

" Bisa pak." kata mbak SPG sambil tersenyum ramah.

" Apa di sini bisa langsung minta tolong di bungkus kado."

" Oh...bisa pak. Mau warna apa bungkus kadonya, pak."

" Hmm..warna apa yang cocok buat anak remaja yang beranjak dewasa ya, mbak." pria itu meminta saran.

"Warna biru luxury sepertinya cocok pak. Warnanya netral." usul SPG tersebut.

Pria itu tampak mengangguk setuju. Tak butuh waktu lama, kotak berwarna biru luxury sudah berpindah tangan. Pria itu tampak tersenyum puas.

" Terima kasih banyak, mbak. Sudah mau bantu saya." pria itu tersenyum sambil mengangguk sopan.

(Duh...pria matang ini bikin jantungku meleleh) kata hati SPG dengan muka gemas.

" Sama-sama, pak. Terima kasih sudah belanja di gerai kami. Semoga jadi langganan." Mbak SPG tersenyum sambil menangkupkan ke dua tangannya di depan dada.

Pria tadi tertawa sambil melambaikan tangan kanannya.

" Yaa...ampun boleh nggak sih, aku gemes. Orang kaya memang begitu, beli jam ratusan juta udah kayak beli seblak. Mana nggak nawar lagi. Tapi lumayan aku jadi dapat bonus dari, bos." Mbak SPG bicara sendiri.

         **********†*

Sebuah mobil sedan hitam memasuki halaman rumah berlantai dua. Tampak mobil berjejer rapi di sana, sepertinya sudah ada beberapa tamu yang sudah hadir.

Pria itu mengenakan jeans hitam dan kemeja dengan warna senada. Lengannya di gulung sampai siku. Penampilannya sederhana tapi elegan dan tetap berkelas. Di tangan kanannya tampak paperbag warna biru .

Aura kuat terpancar dari wajahnya yang berkharisma.

" Assalamualaikum." pria itu memberi salam.

" Waalaikumsalam." beberapa suara menyambut salamnya.

"Wahh...ada tamu istimewa. Om Anjas, ayo masuk , om." Dityan menyambut Anjas dengan wajah berseri.

Arista yang mendengar nama Anjas , bangkit dari duduknya dan ikut menyambut.

" Mas Anjas. Lho...sendiri aja, nih." tanya Arista pandangannya menelisik ke arah halaman rumah.

Anjas tersenyum kecut.

" Ini nyindir apa nyindir ." kata Anjas.

" Ayo.. masuk." Arista mengalihkan pembicaraan.

Ternyata di dalam sudah ada Anisa dan Restu yang tengah menggendong Hanif. Mereka saling bersalaman.

" Pak Anjas. Apa kabar, sudah lama kita nggak ketemu." kata Restu mengangguk hormat.

" Pak Restu bisa aja. Setiap saya ke kantor, pak Restu selalu ada meeting di luar , sepertinya semakin banyak klien aja pak Restu ini." kata Anjas sambil tersenyum smirk.

Restu yang sedang menggendong Hanif tampak salah tingkah. Mukanya sedikit memucat.

Tampak Hanif sedikit rewel, tangannya menggapai gapai seolah memanggil Anisa.

"Oh...adek Hanif mau sama bunda, ayo, sini." Anisa mengambil alih tubuh Hanif.

Tapi Hanif malah semakin rewel. Anisa mencoba mendiamkan dengan menepuk nepuk punggungnya.

Tangan Hanif masih terulur . Anjas yang melihat itu,dia pun berinisiatif mendekat dan mengulurkan tangannya. Tak di sangka Hanif pun menyambutnya dengan tersenyum senang.

Arista dan Anisa saling tatap. Mereka saling lempar senyum kecil.

Hanif tampak tenang dalam dekapan Anjas.

" Wahh..mas Anjas sepertinya udah cocok nih, di lihat dari cara gendong Hanif, udah lihai." kata Anisa tersenyum menggoda.

" Bisa aja kamu, Nis. Ngomong-ngomong yang punya gawe mana, nih. Dari tadi nggak kelihatan " Anjas mengedarkan pandangannya.

"Acaranya ada di halaman belakang, mas. Biar nggak berisik , ganggu tetangga." kata Arista sambil berjalan ke halaman belakang.

Anjas dan yang lainya mengikuti dari belakang. Di halaman belakang tampak ramai, anak-anak muda sedang bercengkrama.

" Om Anjas." Dirga yang melihat Anjas datang langsung menyambut dengan senang.

" Wahh...adek Hanif di gendong siapa ini. Kayak udah saling kenal aja." kata Dirga.

" Nyindir apa nyindir, nih. Maaf ya, baru bisa lihat Hanif. Tahu-tahu udah tiga bulan aja." kata Dirga.

" Santai om. Eh...apa ini, om." Dirga bingung ketika Anjas mengulurkan paperbag ke arahnya.

" Bukan apa-apa. Maaf, om nggak bisa kasih apa-apa." kata Anjas sambil menepuk pundak Dirga.

" Nggak terasa kamu udah dewasa sekarang."

"Udah bisa mimpin perusahaan dong, om." celetuk Dirga.

Uhuuk..uhuuk..uhuk..

Tiba-tiba dari arah belakang mereka ada yang batuk-batuk. Semua yang ada di sana serentak menoleh ke sumber suara.

Pramono berdiri dengan muka tegang. Anisa segera menghampiri Anjas dan mengambil Hanif dari gendongannya. Dan bergabung dengan ke dua kakaknya Dimas dan Dityan yang tengah asyik membakar sosis.

Dirga melirik ke arah Pram dan tersenyum sinis. " Om.. makasih bingkisannya ya, om." Dirga mengacungkan paperbag dan berlalu mengikuti langkah Anisa.

Anjas bingung dan heran, tapi dia berusaha bersikap senormal mungkin.

" Pak Anjas , sudah lama." tanya Pram basa basi.

" Belum pak Pramono. Baru sekitar 15 menitan." Anjas menyalami tuan rumah.

" Pasti Dirga yang mengundang pak Anjas ke sini. Terima kasih sudah hadir pak Anjas."

" Sama-sama, pak. Ngomong-ngomong keluarga pak Anjas dan pak Restu nggak ada yang datang, nih." Anjas mengedarkan pandangannya ke area halaman.

" Oh...itu. Tadi sebenarnya ibu dan adik saya mau datang, tapi tiba-tiba adik saya mengeluh perutnya sakit." kata Pram.

Anjas memandang ke arah Restu seolah minta penjelasan.

" Maklum pak Anjas, ke dua orang tua saya sudah sepuh, jadi mereka enggan datang ke acara-acara anak muda. Pusing katanya." kata Restu sambil tertawa kecil.

Anjas mengangguk tanda mengerti.

" Sayang sekali yaa..." Anjas menggantungkan kalimatnya.

" Kayaknya acara udah mau di mulai. Dirga pasti udah menunggu." Arista melangkah untuk bergabung dengan Dirga dan teman-temannya.

Benar saja. Dirga sudah berdiri sambil tersenyum. Arista dan Pram menghampiri dan mendampingi putra sulungnya.

" Assalamualaikum..semua. Terima kasih pada tamu yang sudah meluangkan waktu hadir di acara syukuran tanggal lahir putra sulung kami, Dirga Pratama yang ke 19 tahun. Semoga bertambahnya umur membuat Dirga lebih dewasa, sayang keluarga dan lebih bijaksana." Pram sebagai orang tua Dirga memberi sambutan.

" Aamiin." semua yang hadir di sana mengaminkan.

" Wahh...Dirga bentar lagi jadi CEO dong." celetuk salah satu temannya.

" Asyik...lah, biar nggak susah-susah keluar masuk nyari kerjaan." sahut yang lain.

" Woi...jangan jadi benalu. Minimal nilai matematika kalian 8 koma sekian." sambung yang lain.

Semua yang hadir tertawa , suasana pun jadi riuh, mereka saling melempar kalimat konyol.

Anjas ikut tertawa. Dan Arista pun ikut tersenyum mendengar kekonyolan anak-anak muda tadi.

Pram ikut tersenyum kecut, sedangkan Restu memilih melipir menjauh dari kerumunan. Tampaknya dia mendapat telepon dari seseorang.

Sikapnya tak luput dari perhatian Anisa dan juga Arista.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!