"Menikahlah dengan ku dan berikan aku keturunan. Aku akan memberikan semua yang kamu inginkan, termasuk kesejahteraan,"
Anjani tidak menyangka di usianya dua puluh tahun, harus menghadapi tawaran gila dari pria konyol yang dia bantu. Di sisi lain ia ingin memperbaiki hidup, sedangkan di sisi lain ia tidak ingin melakukan hal bodoh itu.
Namun melihat pengorbanannya Arya, keputusan besar akhirnya ia ambil untuk mereka berdua, bersiap menikah dan memberikan Arnold keturunan. Akankah mereka berdua berubah pikiran dan menjalin hubungan tanpa aliansi apapun?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putrichou, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
JATUH PINGSAN
SATU BULAN KEMUDIAN ....
Satu bulan satu berlalu, hubungan pernikahan Anjani dan Arnold masih sangat harmonis. terlepas dari masalah perusahaan yang menghabiskan waktu Arnold di lapangan, pria itu lebih sering di mansion dan menemani istrinya yang sudah mulai homeschooling.
"Sayang,"
Anjani yang tengah sibuk menyelesaikan tugasnya langsung menoleh sembari mengangkat bukunya, "iya?"
Arnold menatap jam dinding yang sudah menunjukkan larut malam, tapi Anjani belum berniat menyelesaikan tugas yang diberikan, bahkan pekerjaan Arnold sudah selesai semua. Arnold jadi khawatir dengan kesehatan istri kecilnya.
"Sudah larut,"
Anjani menatap jam dinding dan menghela napas, tugasnya baru setengah jalan dan ia tidak menyadari sudah larut malam. "Tapi tugas ku ...."
"Besok ya? Kamu belum beristirahat,"
Anjani hanya mengangguk pasrah dan membereskan semua bukunya. Arnold baru menyadari kalau istrinya seorang kutu buku. "Apa kamu biasa mengerjakan tugas mu sampai larut malam?"
Mendengar pertanyaan itu, Anjani tanpa ragu mengangguk mengiyakan. "Aku bisa tembus sampai pagi kalau kamu tidak menginginkan ku, Mas." jawabnya dengan senyuman tipis.
Arnold menjadi sedikit canggung karena kurang mengetahui tentang istrinya, bahkan Anjani seorang kutu buku saja ia tidak tahu. Setelah membereskan buku, Anjani melirik Arnold yang diam di ruang tamu.
"Mas, kenapa?"
Arnold terkesiap dan menggeleng, "Tidak ada, Sayang."
Arnold dan Anjani beriringan menuju kamar, tanpa sadar kalau Fero memperhatikan keduanya dari ruang kerjanya. Pria itu tersenyum tipis dan seperti melihat dirinya waktu muda. Dulu hubungannya dengan Jasmine jauh lebih buruk dan tidak akur, tapi sekarang saling menempel seperti lem.
"Aku tidak akan membiarkan siapapun menganggu hubungan kalian," gumam Fero dengan wajah serius. Pria itu masuk ke dalam ruang kerjanya dan menelpon seseorang.
"Selamat malam, Tuan."
"Bagaimana dengan Tiara?" tanya Fero dengan ketus. Ia tidak menyukai membahas Tiara atau orang yang pernah berurusan dengannya di masa lalu ataupun di masa sekarang.
"Untuk saat ini Mira dan Arthur belum ada tanda untuk membawa Tiara ke rumah sakit lagi, Tuan."
Fero terdiam cukup lama, Tiara berada di rumah sakit jiwa bukan dalam jangka waktu yang singkat. Fero dan Jasmine mencoba menyembuhkan Tiara, tapi wanita itu sangat keras kepala dan hanya menginginkan Arnold.
"Sepertinya mereka tidak ingin putri mereka pulih,"
Berta sedikit tertawa mendengarnya. "Saya mengerti tentang ketakutan Anda, Tuan."
Fero membalas tawa kecil, nyaris tanpa suara. "Sudah seharusnya, kamu harus cepat mengurus keluarga beracun itu."
"Baik, Tuan."
Fero memutuskan sambungan telepon dan masuk ke dalam ruangan, ia sudah sangat lama menantu gerak-gerik Tiara beserta kedua orang tuanya. Jasmine bahkan secara terang-terangan menunjukkan rasa tidak sukanya kepada kakak angkatnya, Arthur.
"Seharusnya tidak akan terulang lagi," gumam Fero seraya menyandarkan dirinya di kursi kerjanya.
Ia tahu apa yang jauh lebih di takutkan oleh Arnold, kehilangan lagi. Trauma yang di alami putranya bukan trauma yang langsung hilang sekali terapi, Fero dan Jasmine bahkan sudah lelah membujuk Arnold untuk terapi psikologis sedari dulu.
...****************...
Anjani terbangun di tengah malam lagi, gadis itu menatap jam dinding yang menunjukkan pukul tiga pagi. Melirik, Arnold tertidur pulas di sebelahnya. Pria itu sedikit lebih posesif dari sebelumnya tapi Anjani tak mempermasalahkan apapun.
Sudah dua hari, Anjani sering terbangun lebih awal dan tidur terlambat, bahkan untuk sekedar makan saja sudah tidak bernafsu sama sekali. Anjani sedikit memijat pelipisnya yang berdenyut, membuat Arnold sedikit terbangun karena gerakan tangan gadis itu.
"Anjani?" Anjani sedikit terkejut dan mengelus rambut suaminya, "Kenapa kamu sudah bangun?" tanya Arnold menyandarkan punggung di kepala ranjang.
"Kepalaku sakit," keluh Anjani dengan suara seraknya.
Mendengar Anjani mengeluh, Arnold langsung bangun dan mengisyaratkan Anjani untuk menidurkan kepalanya. "Aku akan memijat mu," Anjani tak menolak dan dengan senang hati tidur di pangkuan Arnold.
"Terima kasih,"
Arnold hanya diam tak menjawab, dengan telaten memijat pelipis Anjani dengan lembut, sesekali memijat leher serta lengan Anjani yang dingin. Alis pria itu mengerut saat bersentuhan dengan kulit dingin Anjani, pendingin ruangan tak sedingin itu.
"Di sebelah sini?" tanya Arnold memijat pelan membuat Anjani merasa nyaman, ia menepis semua pikiran negatifnya. Kalau Anjani selalu mengeluh lelah, maka Arya yang selalu sigap memijat Anjani dengan minyak hingga tertidur pulas.
"Aku merindukan Kakak," ucap Anjani secara tiba-tiba. pijatan itu mulai memelan, Arnold menghela napas. Dirinya tidak bermaksud menghalangi pertemuan Anjani dengan Arya, hanya saja Arya sedikit memohon kepadanya.
"Setelah ... Anjani?!"
Anjani berlari ke kamar mandi dengan gerakan cepat, Arnold bergegas menyusul dan memutar kenop pintu yang ternyata sudah di kunci dari dalam. "Sayang, buka! Kamu kenapa?"
Di dalam sana, Anjani memuntahkan isi perutnya. Wajah pucat terlihat di cermin wastafel, Anjani menarik napas dan mengelap peluhnya. Rasa mual yang melandanya sejak kemarin, akhirnya usai tapi alis Anjani mengerut.
"Apa aku masuk angin ya?" gumamnya setelah menyadari tidak mengeluarkan apapun selain lendir putih. Anjani membasuh wajahnya dan mengelus perutnya, sembari menahan rasa pusing.
Perasaannya mulai tidak enak, Anjani mendudukkan dirinya di atas bathtub dengan gelisah. Pusing di kepalanya kembali datang, kali ini jauh lebih pusing. Ia tidak pernah merasakan pusing dan mulai bersamaan dan mengalami gejala aneh ini.
TOK ...
"Anjani buka pintunya atau aku dobrak?!"
Langkah kaki Anjani mulai linglung, pandangannya kabur saat akan meraih kenop pintu kamar mandi. "Ke ... Kenapa pusing sekali,"
BRAK ....
Pintu kamar mandi jebol karena di dobrak paksa, bersamaan dengan Anjani yang pingsan di lantai dingin kamar mandi. Arnold membulat dan langsung mengangkat tubuh istrinya dengan panik.
"Anjani? Buka mata mu!"
Arnold sedikit menepuk-nepuk pipi istrinya agar tersadar. Wajah Anjani memucat, perasaan Arnold mulai tidak karuan. Ia mengambil ponsel dan menghubungi Kelvin.
"Ha ...."
"Keluarkan mobil, kita harus ke rumah sakit sekarang,"
Kelvin langsung memutuskan telepon, dengan gesit mengambil jasnya dan keluar tergesa-gesa dari kamar, mengundang tatapan penuh tanda tanya dari Berta. Pria itu tak bertanya, dan membiarkan Putranya pergi begitu saja.
Arnold memakaikan Anjani jaket dan bergegas keluar dengan panik, ia takut kalau terjadi sesuatu kepada istrinya. Fero yang baru saja menyelesaikan pekerjaannya, langsung khawatir melihat Arnold menggendong Anjani yang dalam keadaan pingsan.
"Arnold, apa yang terjadi?"
"Pa, Anjani pingsan, aku akan membawanya ke rumah sakit." Arnold tak menghiraukan jawaban Ayahnya, ia hanya khawatir kepada istrinya. Fero menatap cemas dan bergegas membangunkan Jasmine.
Di luar sana, Kelvin sudah siap dengan mobil dan langsung melaju kencang menuju rumah sakit. Tangannya berkeringat dingin melihat wajah Anjani yang seperti mayat hidup dari pantulan spion, apa yang terjadi kepada gadis itu?
"Apa yang terjadi sebenarnya?" tanya Kelvin memberanikan diri.
"A ... Aku tidak tahu, dia pingsan, Vin!" tersirat rasa khawatir luar biasa dalam diri Arnold, Kevin dapat melihatnya. Kejadian bertahun-tahun lalu mulai terbayang-bayang lagi di ingatan Kelvin. Pria berkacamata itu melaju kencang menebus gelapnya malam, ia juga sama khawatirnya dengan Arnold.