NovelToon NovelToon
Membangun Kerajaan Yang Menentang Hukum Dunia

Membangun Kerajaan Yang Menentang Hukum Dunia

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Isekai / Action / Epik Petualangan
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Katsumi

Kelanjutan Dari Novel Pangeran Sampah Yang Menyembunyikan Kemampuannya.

Di dunia yang terpecah oleh kebencian antar ras, perdamaian hanyalah mimpi yang dianggap mustahil.

Ferisu—mantan pangeran yang diremehkan—kini bangkit sebagai Raja Kerajaan Asterism. Sebuah kerajaan baru yang berani menentang hukum dunia dengan satu gagasan gila: kesetaraan bagi semua ras.

Manusia, elf, beastmen, dwarf, dan ras lainnya hidup di bawah satu panji yang sama.

Namun dunia tidak tinggal diam. Ancaman datang dari segala arah. Pengkhianatan mengintai dari dalam. Dan perang besar yang pernah menghancurkan peradaban perlahan kembali menunjukkan tanda-tandanya.

Mampukah Ferisu mempertahankan mimpinya?
Ataukah Asterism akan menjadi percikan yang membakar dunia dalam perang yang lebih dahsyat?

Sebuah kisah tentang ambisi, persatuan, dan perjuangan melawan takdir dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Katsumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 19 : Seseorang Baru Saja Bergerak

Pagi di istana Asterism terasa jauh lebih tenang dibandingkan hari-hari sebelumnya.

Sinar matahari masuk perlahan melalui jendela besar kamar kerajaan, menimpa lantai marmer dengan cahaya hangat. Tirai tipis bergoyang pelan tertiup angin pagi.

Ferisu masih duduk bersandar di ranjang.

Tubuhnya sudah tidak sepucat dua hari lalu, namun jelas ia belum pulih sepenuhnya. Beberapa lingkar sihir pemulihan masih samar terlihat di lantai kamar.

Di dalam ruangan itu hanya ada dua orang.

Ferisu.

Dan Reliza.

Sejak pagi gadis itu hampir tidak pernah menjauh darinya.

Saat ini Reliza duduk sangat dekat di sampingnya. Terlalu dekat. Kepalanya bahkan bersandar santai di bahu Ferisu seolah itu tempat yang paling nyaman di dunia.

Tangannya memeluk lengan Ferisu dengan erat. Benar-benar erat. Seolah takut pria itu menghilang jika dilepas.

Ferisu menghela napas kecil. “Reliza.”

“Hmm?” Gadis itu menjawab dengan nada manja tanpa mengangkat kepalanya.

“Kau terlalu dekat.”

Reliza mengangkat wajahnya sedikit. Mata hitamnya menatap Ferisu dengan ekspresi polos.

“Tidak boleh?”

Ferisu terdiam sebentar.

Reliza langsung memperkuat pelukannya.

“Aku sudah menunggumu sangat lama,” gumamnya pelan. “Sedikit waktu seperti ini tidak apa-apa kan?”

Nada suaranya tidak terdengar bercanda.

Ferisu tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap ke luar jendela. Angin pagi masih bertiup lembut. Akhirnya ia menghela napas kecil lagi.

“Lakukan sesukamu.”

Reliza langsung tersenyum sangat puas.

Ia kembali menyandarkan kepalanya di bahu Ferisu.

“Suamiku baik sekali~”

“Jangan memanggilku seperti itu.”

“Sayang?”

Ferisu menatapnya datar.

Reliza tertawa kecil.

Beberapa saat ruangan itu kembali tenang.

Namun Ferisu sebenarnya sedang memikirkan sesuatu. Ia bisa merasakan aliran energi di dalam tubuhnya. Tidak banyak. Namun cukup jelas. Kekuatan yang sempat retak kini terasa sedikit lebih stabil. Sebagian segel kekuatannya memang terbuka. Dan itu terjadi setelah kejadian kemarin.

Ferisu akhirnya berbicara.

“Reliza.”

“Hmm?”

Kali ini gadis itu tidak mengangkat kepala sama sekali.

“Jadi…”

Ferisu menoleh sedikit ke arahnya.

“Kenapa kau tahu soal cara memperbaiki jiwaku dan membuka segel kekuatanku?”

Reliza berhenti bergerak. Beberapa detik ia hanya diam. Lalu ia tertawa kecil.

“Ah… itu.”

Ia mengangkat wajahnya perlahan.

Matanya menatap Ferisu dengan ekspresi yang sulit dijelaskan. Sedikit nakal. Sedikit misterius.

“Kalau soal syarat konyol Dewi itu aku sudah tahu,” jawabnya santai.

Ferisu sedikit mengernyit.

“Kau tahu?”

Reliza mengangguk.

“Ya.”

Ia mengangkat tangan.

Jarinya menyentuh dada Ferisu dengan ringan.

“Lagipula… tidak seluruh jiwaku berada di tubuh ini.”

Ferisu langsung memperhatikan kata-katanya.

“Apa maksudmu?”

Reliza tersenyum lebar.

“Sebagian kecilnya…”

Ia menepuk pelan dada Ferisu. “Kutempelkan padamu, sayang~”

Ferisu terdiam.

Benang pikirannya langsung bergerak cepat.

“Potongan jiwa?” gumamnya.

Reliza mengangguk puas.

“Benar.”

Ia terlihat sangat senang melihat Ferisu langsung mengerti.

“Saat kita bertarung di akademi dulu.”

Reliza menyandarkan tubuhnya lagi dengan santai.

“Aku tahu aku akan kalah.”

Ia berbicara seolah itu hal biasa.

“Jadi sebelum kesadaranku tenggelam… aku menempelkan sedikit jiwaku padamu.”

Ferisu mengerutkan alis.

“Kenapa?”

Reliza menatapnya.

Untuk pertama kalinya sejak tadi ekspresinya terlihat benar-benar serius.

“Supaya aku tidak kehilanganmu lagi.”

Jawabannya terlalu sederhana.

Namun nada suaranya tidak terdengar bercanda sedikit pun. Ferisu tidak langsung merespon.

Reliza melanjutkan dengan santai.

“Potongan jiwa itu kecil sekali.”

“Cuma cukup untuk melihat… dan mendengar.”

Ia memiringkan kepala.

“Aku bisa merasakan kondisimu.”

Ia menatap langsung ke mata Ferisu.

“Rasa sakit jiwamu.”

“Kelelahanmu.”

“Kekuatan lamamu yang terus memakan tubuh barumu.”

Ferisu sedikit menegang. Itu bukan informasi yang bisa diketahui orang lain selain dirinya.

Reliza melanjutkan dengan nada ringan.

“Makanya saat kau hampir mati kemarin… aku ikut campur.”

Ia mengangkat bahu santai.

“Kalau kau mati, potongan jiwaku juga ikut lenyap.”

Ferisu menatapnya tajam.

“Jadi hanya itu alasannya?”

Reliza terdiam sebentar.

Lalu—

Ia tertawa kecil.

“Tentu tidak.”

Ia kembali memeluk lengan Ferisu dengan erat.

“Aku mencintaimu.”

Jawabannya keluar begitu saja. Tanpa ragu. Tanpa malu. Tanpa menahan apa pun.

Ferisu terdiam.

Reliza menatapnya dengan mata yang hampir bersinar.

“Dan aku tidak akan membiarkanmu mati sebelum aku mendapatkanmu.”

Ferisu menghela napas panjang.

“Kalimatmu terdengar seperti ancaman.”

Reliza tersenyum cerah.

“Memang.”

Ia mendekat sedikit lagi. Wajahnya hanya beberapa sentimeter dari wajah Ferisu.

“Tapi tenang saja.”

Ia berbisik pelan.

“Aku tidak akan membunuh siapa pun… selama mereka tidak mencoba merebutmu dariku.”

Ferisu menatapnya beberapa detik.

Lalu ia memalingkan wajah.

“Aku mulai mengerti kenapa mereka menyebutmu berbahaya.”

Reliza langsung tertawa kecil lagi.

Namun di saat yang sama—Tiba-tiba Ferisu merasakan sesuatu. Aliran energi kecil berdenyut di dalam jiwanya. Potongan jiwa Reliza. Ia bisa merasakannya. Benar-benar ada. Dan melalui potongan itu… Reliza juga bisa merasakannya.

Reliza tiba-tiba memiringkan kepala.

“Oh?”

Ferisu menatapnya.

“Ada apa?”

Reliza tersenyum aneh.

“Sepertinya…”

Ia menatap dada Ferisu.

“Jiwamu baru saja bereaksi.”

Ferisu langsung menyadarinya. Segel kekuatan. Salah satunya benar-benar mulai terbuka.

Reliza menyeringai puas.

“Sepertinya Dewi itu tidak bohong.”

Ia menatap Ferisu dengan mata berbinar.

“Ciuman kemarin benar-benar membuka sedikit segelnya.”

Ferisu menutup wajahnya dengan tangan.

“Aku mulai menyesal bertemu Dewi itu lagi.”

Reliza tertawa keras.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

...----------------...

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Siang hari di istana Asterism terasa lebih sibuk dari biasanya.

Langit cerah, namun di dalam ruang administrasi, suasananya justru dipenuhi ketegangan yang sunyi. Tumpukan dokumen menutupi hampir seluruh meja panjang di tengah ruangan.

Noa duduk di sana sendirian.

Rambutnya yang rapi sedikit berantakan, beberapa helai jatuh ke depan wajahnya. Di tangannya ada pena bulu yang terus bergerak di atas kertas.

Suara gesekan tinta dan kertas terdengar berulang.

Satu laporan selesai.

Ia langsung mengambil yang berikutnya.

Di sebelah kirinya ada beberapa peta wilayah timur yang penuh dengan catatan kecil.

Distribusi makanan. Jalur pengiriman. Jumlah warga. Persediaan gandum.

Semuanya ditulis dengan rapi.

Noa menarik napas panjang.

Matanya terasa sedikit lelah, namun ia tidak berhenti.

“Gudang timur… distribusi sudah selesai…” gumamnya pelan sambil membaca laporan.

Ia membalik halaman berikutnya.

“Distrik perbatasan… pengiriman terlambat setengah jam.”

Ia menuliskan catatan kecil di samping laporan itu.

Meski terlihat sederhana, semua hal kecil itu sangat penting. Karena situasi di wilayah timur masih rapuh. Manusia dan beastman baru mulai akrab. Baru mulai percaya satu sama lain.bDan kepercayaan seperti itu… sangat mudah hancur.

Noa menatap daftar pengiriman berikutnya. Di sana tertulis jelas. Pengiriman makanan untuk besok. Namun kolom statusnya masih kosong.

Noa mengernyit.

“Belum sampai…?”

Ia mengambil laporan lain.

Masih sama. Belum ada tanda pengiriman selesai.bIa menatap jam pasir kecil di sudut meja. Waktu sudah lewat dari jadwal normal.

Noa bersandar di kursinya sebentar. Ia menutup matanya beberapa detik.

“Tenang… mungkin hanya terlambat sedikit,” gumamnya mencoba menenangkan diri.

Namun pikirannya tetap berputar. Selama dua hari terakhir semuanya berjalan sangat baik. Phino dan timnya benar-benar bekerja luar biasa. Distribusi makanan selalu tepat waktu.

Tidak ada keributan.

Tidak ada kerusuhan.

Bahkan laporan dari para kesatria mengatakan sesuatu yang cukup mengejutkan. Manusia dan beastman mulai makan bersama. Beberapa anak bahkan bermain bersama di jalan.

Hal kecil seperti itu mungkin terlihat biasa. Namun bagi wilayah yang sebelumnya penuh kecurigaan… itu adalah perubahan besar.

Noa menatap dokumen di depannya.

“Kalau makanan terlambat…”

Ia menggigit ujung pena pelan.

“Situasinya bisa berubah.”

Perut lapar seringkali lebih cepat memicu kemarahan daripada provokasi politik. Dan jika satu orang mulai berteriak—yang lain bisa ikut tersulut.

Terlebih lagi…

Duke Albrecht masih berada di sana.

Noa mengepalkan tangannya sedikit.

“Dia pasti menunggu kesempatan…”

Ia membuka laporan baru.

Ini laporan dari tim Phino di lapangan pagi tadi.

Tulisan tangan Phino terlihat santai, bahkan ada beberapa catatan kecil yang terdengar seperti candaan.

Noa membaca sambil menghela napas.

“Distribusi lancar. Beastman dan manusia sekarang malah saling bantu angkat karung gandum.”

Ia berhenti membaca sebentar.

Ekspresi kecil muncul di wajahnya.

“…Itu bagus.”

Ia melanjutkan membaca.

“Ada anak beastman yang minta belajar menanam padi.”

Noa hampir tersenyum kecil.

Memang sangat khas Phino menulis laporan seperti itu.

Namun di bagian akhir laporan itu ada catatan tambahan.

Tulisan tangan Phino terlihat lebih serius.

“Persediaan untuk besok sedang disiapkan. Tapi jalur utara agak lambat karena kereta gandum dari desa belum tiba.”

Noa langsung menegakkan punggungnya.

“Kereta gandum belum tiba?”

Ia segera membuka peta di meja. Desa pengirim berada cukup jauh dari wilayah timur. Namun jalurnya biasanya aman.

Ia mengetuk meja pelan dengan ujung pena.

Jika kereta itu terlambat terlalu lama…

Distribusi makanan untuk besok bisa kacau.

Noa menatap daftar kebutuhan warga. Jumlahnya tidak sedikit. Wilayah timur sekarang dipenuhi orang. Manusia. Beastman. Pengungsi kecil dari desa sekitar. Semua bergantung pada distribusi makanan itu.

Ia menutup dokumen perlahan. Tatapannya mengarah ke jendela. Langit masih cerah. Namun perasaannya tidak setenang itu.

“Jika makanan untuk besok belum siap…”

Ia berbisik pelan.

“Semua yang sudah dibangun bisa runtuh.”

Kepercayaan rakyat. Hubungan manusia dan beastman. Semua masih rapuh. Sangat rapuh.

Noa berdiri dari kursinya.

Ia mengambil satu laporan lagi. Ini laporan patroli jalan utama. Ia membacanya dengan cepat.

Tidak ada gangguan. Tidak ada bandit. Tidak ada serangan. Semuanya terlihat normal. Namun justru itu yang membuatnya semakin gelisah.

“Kenapa kereta gandum belum sampai…” gumamnya pelan.

Ia berjalan ke jendela dan melihat ke arah timur. Wilayah yang beberapa hari lalu hampir terbakar oleh konflik.

Sekarang tampak tenang. Terlalu tenang.

Noa menutup matanya sebentar.

Ia tahu sesuatu. Sesuatu yang tidak terlihat di laporan. Duke Albrecht tidak mungkin hanya diam. Ia pasti merencanakan sesuatu. Dan jika distribusi makanan gagal… Itu bisa menjadi percikan yang sangat sempurna untuk menyalakan api lagi.

Noa mengepalkan tangannya.

“Ferisu…”

Ia berbisik pelan. Namun ia langsung menggelengkan kepala.

Tidak.

Ferisu masih dalam masa pemulihan.

Ia tidak boleh membebani Ferisu sekarang.

Noa menarik napas dalam.

“Baiklah.”

Matanya kembali tajam.

“Kalau kereta gandum belum datang… aku harus mencari tahu kenapa.”

Ia mengambil mantel tipis dari kursi.

Namun sebelum ia melangkah keluar ruangan—seorang kesatria penjaga tiba-tiba muncul di depan pintu.

“Noa-sama!”

Noa berhenti.

“Ada apa?”

Kesatria itu terlihat sedikit ragu.

“Laporan dari tim pengintai di jalur utara.”

Jantung Noa berdetak sedikit lebih cepat.

“Apa yang terjadi?”

Kesatria itu menelan ludah sebelum menjawab.

“Kereta gandum dari desa… ditemukan berhenti di tengah jalan.”

Noa langsung menatapnya tajam.

“Berhenti?”

Kesatria itu mengangguk.

Ruangan itu langsung terasa lebih dingin.

Noa menatap kesatria itu tanpa berkedip.

“Semua… mati?”

Kesatria itu menggeleng perlahan.

“Kami tidak menemukan tubuh mereka.”

Keheningan jatuh di ruangan itu.

Noa perlahan mengepalkan tangannya. Perasaan tidak enak yang tadi hanya samar… Kini menjadi jauh lebih jelas.

Seseorang—baru saja mulai bergerak.

1
Frando Wijaya
next Thor 😃😆🤩
Frando Wijaya
Scorpio bs evolusi? hmm...gw gk Tau apapun ttg evolusi scorpio
Frando Wijaya
next Thor 😃😆🤩
Frando Wijaya
ah! jd kekuatan kna segel...tpi reliza sebut serangga... pasti dewa dewi ya? yare2 🙄
Frando Wijaya
btw next Thor 😃😆🤩
Frando Wijaya
kli ini kalajengki ya? bner2 deh...
Frando Wijaya
next Thor 😃😆🤩
Frando Wijaya
hmph 🙄....elf jg sama ternyata
Frando Wijaya
btw next Thor 😃😆🤩
Frando Wijaya: iya Thor
total 2 replies
Frando Wijaya
elf td....blg manusia pembawa mslh...tpi kenyataan elf jg sama aja
Frando Wijaya
ekhem! next Thor 😃😆🤩
Frando Wijaya
awal Dr konflik? gw punya firasat yg sgt buruk
Luthfi Afifzaidan
lanjutkan
Luthfi Afifzaidan
up
Luthfi Afifzaidan
lg
Frando Wijaya
btw next Thor 😃😆🤩
Frando Wijaya
boneka Bru? atau robot Bru??
Frando Wijaya
mata 1 raksasa itu apa sih???
K_P
😓
angin kelana
visual keren👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!