Follow IG @Lala_Syalala13
Subscribe YT @NovelLalaaa
Tiga tahun lalu, Safira Angela memilih berpisah dari Gavin Alvaro Abraham dengan alasan palsu yaitu dia mengaku telah berselingkuh. Padahal, itu hanyalah kebohongan yang terpaksa dibuatnya agar Gavin dan keluarga besar Abraham tidak terseret dalam masalah pelik yang sedang menimpa keluarganya.
Setelah resmi bercerai, Safira pun memilih menghilang demi melindungi pria yang sangat-sangat dia cintai.
Namun, takdir berkata lain. Tiga tahun kemudian, perusahaan tempat Safira bekerja diakuisisi oleh Abraham Group.
Mengetahui keberadaan sang mantan istri, Gavin langsung memerintahkan agar Safira dimutasi ke kantor pusat.
Di sana, Safira terpaksa bekerja di bawah pengawasan langsung mantan suaminya yang kini telah berubah menjadi CEO dingin, penuh kebencian, dan menyimpan dendam mendalam akibat masa lalu.
BAGAIMANA KELANJUTAN CERITANYA????
JANGAN LUPA DI BACA YAAAAAA
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lala_syalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Selamat Bekerja
Begitu dia melewati pintu kaca otomatis lobi utama, kemewahan yang dingin kembali menyergap indra penciumannya. Aroma khas cedarwood langsung tercium. Safira tidak lagi terkejut atau goyah seperti kemarin. Dia berjalan lurus menuju meja resepsionis dengan ketenangan yang mengagumkan.
"Selamat pagi. Saya Safira Angela, staf mutasi dari PT Sinar Abadi Mandiri yang dijadwalkan mulai bertugas hari ini di lantai dua puluh sembilan." ucap Safira lembut dan sopan kepada petugas administrasi lobi atau Resepsionis.
Petugas wanita berblazer rapi itu memeriksa sistem komputernya sejenak, lalu wajahnya langsung berubah menjadi sangat ramah, bahkan terkesan sedikit segan.
"Ah, benar. Nona Safira Angela. Kartu akses khusus eksekutif Anda sudah disiapkan langsung oleh kantor asisten utama. Ini kartunya, Ibu. Anda bisa langsung menggunakan lift koridor B untuk menuju lantai dua puluh sembilan." ucap sang resepsionis.
"Terima kasih banyak," jawab Safira dengan senyuman manis yang menenangkan.
Safira mengambil kartu akses berwarna hitam perak itu, menempelkannya pada palang pintu otomatis, lalu berjalan menuju lift koridor B.
Di dalam kabin lift yang berdinding cermin mengkilap itu, hanya ada dia dan dua orang pria paruh baya mengenakan jas direksi yang tampak sedang sibuk berdiskusi. Safira memilih berdiri di sudut belakang, melipat kedua tangannya di depan perut dengan sikap yang sangat tahu tata krama.
Ting.
Pintu lift terbuka di lantai dua puluh sembilan. Begitu Safira melangkah keluar, dia disambut oleh pemandangan sebuah lantai kantor yang sangat luas, modern, dan bernuansa minimalis industrial dengan sekat-sekat kaca transparan.
Berbeda dengan lantai tiga puluh yang merupakan area privat CEO yang sunyi dan mencekam, lantai dua puluh sembilan ini adalah urat nadi operasional dimana puluhan karyawan tampak bergerak cepat membawa dokumen, suara gemercik ketukan papan tik komputer bersahutan, dan grafik logistik raksasa terpampang di beberapa layar monitor dinding.
"Selamat pagi, Nona Safira Angela." sebuah suara bariton yang familiar menyapa kedatangannya.
Safira menoleh dan mendapati Dimas, asisten pribadi Gavin, sedang berdiri menantinya di dekat pilar kaca. Dimas mengenakan setelan jas abu-abu tanpa dasi, wajahnya tampak formal namun tidak menunjukkan permusuhan.
"Selamat pagi, Bapak Dimas," Safira membungkukkan badannya sedikit dengan sopan.
"Panggil Dimas saja jika di area operasional lantai ini, Nona Safira." ujar Dimas dengan nada datar namun profesional.
"Mari ikut saya. Saya akan menunjukkan kubikel kerja Anda dan menjelaskan alokasi tugas sinkronisasi awal yang harus Anda selesaikan minggu ini." ucap Dimas.
Safira berjalan mengikuti langkah Dimas menyusuri koridor karpet kelabu. Di sepanjang jalan, beberapa karyawan sempat menoleh menatap Safira, penasaran dengan sosok staf baru yang diantar langsung oleh tangan kanan sang CEO utama.
Namun, pembawaan Safira yang tenang, tidak pecicilan, dan berjalan dengan pandangan lurus ke depan membuat para staf lain langsung segan untuk bergosip.
Dimas berhenti di sebuah ruang kerja semi-privat yang terletak di sudut lantai, dibatasi oleh dinding kaca es setinggi dada. Di dalamnya terdapat sebuah meja kerja kayu ek yang luas, sebuah kursi ergonomis mewah, satu unit komputer berspesifikasi tinggi dengan dua monitor layar lebar, serta sebuah lemari arsip baja kecil di sudutnya. Ruangan ini jauh lebih mewah dan nyaman daripada kubikel bisingnya di pinggiran kota dulu.
"Ini area kerja Anda, Nona Safira," Dimas menunjuk meja tersebut.
"Sesuai perintah dari manajemen tingkat atas, tugas utama Anda selama sebulan ke depan adalah melakukan audit integrasi dan pembersihan data parsial atas seluruh mutasi barang retail dari lima gudang cabang lama perusahaan Anda. Semua draf fisik arsip asli sudah dipindahkan ke lemari besi di belakang Anda." ucap Dimas dengan begitu profesional.
Safira meletakkan tas kainnya di atas meja, lalu menatap Dimas dengan pandangan profesional.
"Baik, Bapak Dimas. Apakah sistem perangkat lunak yang digunakan di sini sudah terintegrasi dengan data enkripsi lama yang saya susun?" tanya Safira dengan sopan.
Dimas tampak sedikit terkejut mendengar pertanyaan Safira yang langsung menyasar pada inti teknis sistem komputer.
"Belum sepenuhnya. Tim IT pusat masih mengalami kendala membaca enkripsi manual yang Anda buat di sistem lama. Itu sebabnya Anda dipindahkan ke sini. Kami butuh Anda untuk menjembatani konversi data tersebut ke dalam sistem utama Abraham Group." sahut Dimas.
"Saya mengerti. Saya akan segera memulai pengerjaannya setelah melakukan uji masuk (login) akun sistem kerja saya." jawab Safira tenang.
Dimas mengangguk puas. "Akses masuk dan kata sandi awal sudah dikirimkan ke surel internal Anda. Oh, satu hal lagi, Nona Safira..." Dimas menggantung kalimatnya sejenak, melirik ke arah langit-langit lantai atas dimana mau kau bukan lantai tiga puluh.
"Setiap akhir sif kerja, tepat pukul lima sore, Anda diwajibkan membawa laporan progres harian dalam bentuk cetak fisik langsung ke lantai atas untuk diserahkan ke meja sekretariat CEO. Tuan Gavin ingin memantau efisiensi integrasi ini secara pribadi." serunya dengan serius.
Mendengar instruksi terakhir itu, jantung Safira sempat berdesir tajam. Menyerahkan langsung ke lantai atas artinya dia harus siap masuk ke dalam wilayah teritorial Gavin setiap sore. Namun, Safira menekan rasa gugupnya dengan cepat, mempertahankan ekspresi wajahnya agar tetap datar.
"Baik, dimengerti. Saya akan memastikan laporan tercetak tepat waktu setiap sore," jawab Safira tegas.
"Bagus. Selamat bekerja, Nona Safira." ucap Dimas sebelum berbalik dan melangkah meninggalkan area kubikel tersebut.
Setelah Dimas pergi, Safira menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan. Dia duduk di kursi kerja barunya yang empuk, menyalakan komputer jinjing besar di depannya, dan mulai mengetikkan kode akses masuk akunnya. Begitu layar monitor menampilkan ribuan deretan angka logistik yang rumit, fokus Safira langsung tersedot sepenuhnya ke dalam pekerjaan.
Jemarinya yang lentik bergerak dengan kecepatan yang luar biasa di atas papan tik. Otak pintarnya mulai memilah kode barang, menyusun algoritma konversi data, dan mengabaikan bisingnya lingkungan sekitar.
Di dalam dunia angka dan data ini, Safira menemukan kedamaian sementaranya. Di sini, dia bukan lagi wanita terluka yang meratapi nasib tetapi dia adalah seorang pekerja keras yang siap menunaikan kewajibannya demi melindungi rahasia besar dan kelangsungan hidup orang-orang yang ia sayangi.
Pelariannya di bawah atap sang mantan suami resmi dimulai hari ini, dengan ketenangan jiwa yang ia pasang sebagai benteng pertahanan terkuatnya.
Di lantai tiga puluh Abraham Tower, keheningan yang absolut menyelimuti Ruang Kerja Utama CEO. Ruangan serba luas itu didesain dengan estetika modern yang maskulin dimana dinding-dindingnya dilapisi panel kayu ek gelap bertekstur mahal, lantai marmernya tertutup sebagian oleh karpet beludru abu-abu arang, dan dinding sisi barat sepenuhnya berupa kaca tempered setinggi langit-langit yang menyajikan panorama cakrawala metropolitan Jakarta yang angkuh.
.
.
Cerita Belum Selesai.....
kasian ny safira😭😭😭😭