Menjadi editor sebatang kara itu membosankan, tapi dirampok sampai pingsan dan pindah ke dunia novel? Itu diluar nalar!
Lin Xia Yi bertransmigrasi menjadi Lin Xia Mei, wanita yang akan tewas karena cinta buta suaminya, Wei Zhu Chen. Untuk bertahan hidup, ia harus menurunkan tingkat rasa suka Wei Zhu Chen dari 99% ke 20%.
Bersama sistem berwujud kucing imut bersayap bernama Bao, Lin Xia Yi akan memulai misi demi kembali ke dunianya serta membawa pulang hadiah yang menggiurkan.
Hadiah menggiurkan menanti, tapi nyawa taruhannya. Siapkan camilan favoritmu dan temanilah Lin Xia Yi sampai akhir!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Digital, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
019~ Turun lagi
Malam harinya, usai berkumpul sesuai panduan Guru pemandu, masing-masing orang sibuk dengan kegiatannya masing-masing.
Di kamar Wei Zhu Chen..
Wei Zhu Chen dan Wei Ji Xiang sedang menonton televisi, sedangkan Lin Xia Mei ada di kamar mandi, ia duduk diatas kloset duduk.
Bip! Bao muncul.
"Inang, kau bilang mau mencari poin? Kenapa hari ini belum ada pemasukan poin?" tanya Bao.
Lin Xia Mei menghela napas.
"Aku masih bingung, Bao. Aku harus jahat pada siapa."
"Inang, kau hina-hina saja mereka."
Lin Xia Mei menatap Bao dengan malas.
"Bao, berbuat jahat juga harus ada alasannya. Aku juga masih ingin pulang dari sini dengan baik-baik saja."
"Baiklah-baiklah, mengingat kemampuan jahatmu sudah meningkat, Bao yakin poin-poin itu bisa segera dikumpulkan dan misi cepat selesai."
Lin Xia Mei mengangguk.
"Bao, tidak bisakah aku berhutang poin padamu?" tanya Lin Xia Mei.
"Bao tidak menerima Bon, inang."
"Ck, sepertinya aku akan menjadi karakter jahat secara total."
"Benar sekali inang, lebih baik seperti itu. Bukannya inang juga ingin cepat kembali ke dunia asli?"
Lin Xia Mei memangku wajah, kepalanya pusing memikirkan ide-ide jahat.
"Inang, sebenarnya Bao mendeteksi adanya gelombang lain di hati Inang."
"Tidak usah dihiraukan, Bao. Aku hanya tersentuh sedikit dan itu wajar sebagai manusia."
"Inang, jangan biarkan hatimu memiliki rasa cinta pada tokoh utama, ini akan menghambat misimu."
"Yang benar saja, Bao. Aku, Lin Xia Yi, meskipun berada di tubuh Lin Xia Mei tidak akan mudah jatuh cinta pada laki-laki itu! Siapa juga yang mau mati tragis! Sudahlah, aku mau istirahat."
Lin Xia Mei berdiri dan menyentuh handle pintu.
"Inang, hati-hati menjilat ludah sendiri."
"Tidak akan pernah, Bao!"
Saat keluar dari kamar mandi, Lin Xia Mei sudah memasang wajah datar dan ogah melihat ke arah Wei Ji Xiang dan Wei Zhu Chen, ia lewat di depan mereka begitu saja dan langsung merebahkan diri di sofa.
Wei Ji Xiang dan Wei Zhu Chen saling memandang.
"Ayah, apakah ini akan berhasil?" bisik Wei Ji Xiang.
"Tentu,"
Malam semakin larut, Wei Ji Xiang sudah terlelap begitupun dengan Lin Xia Mei. Hanya tersisa Wei Zhu Chen dengan televisi yang masih menyala.
Ia bangkit dari tempat tidur dan menekan saklar lampu, ruangan menjadi gelap dan tersisa cahaya dari lampu tidur yang tidak terlalu terang. Kemudian ia menggeser Wei Ji Xiang agak ke tepi ranjang dan diberi pengaman guling.
Wei Zhu Chen berjalan mendekati Lin Xia Mei di sofa, wanita di depannya sudah terlelap. Ia tersenyum melihat wajah teduh Lin Xia Mei dalam keadaan tidur. Ia berjongkok dengan mata yang masih fokus menatap istrinya.
"Aku sering merasa kau bukanlah Lin Xia Mei-ku, tapi ketika tidur..."
"Kau masih tetap terlihat seperti istriku." ucapnya dalam hati.
Wei Zhu Chen menatap sendu istrinya, kemudian ia berdiri dan dengan pelan mengangkat tubuh Istrinya untuk dipindahkan ke ranjang yang sama dengan Wei Ji Xiang.
"Engggghhh." Lin Xia Mei bergerak namun matanya tetap terpejam.
"Sstttt."
Dengan hati-hati Wei Zhu Chen menurunkan Lin Xia Mei di atas tempat tidur disebelah Wei Ji Xiang. Lampu tidur dimatikan, lalu Wei Zhu Chen ikut berbaring disebelah Lin Xia Mei. Jadilah Lin Xia Mei berada di tengah Ayah dan anak itu.
Bao muncul dan melayang di atas televisi, ia memangku wajah sambil melihat Tuannya sedang tidur di tengah Wei Zhu Chen dan Wei Ji Xiang.
"Sepertinya alur ini tidak akan cepat selesai." gumam Bao.
Keesokan paginya, Lin Xia Mei membuka mata dan merasakan ada beban di pinggangnya.
"Eh!!!!!"
Lin Xia Mei terbelalak melihat tangan Wei Zhi Chen melingkar di pinggangnya dan Wei Ji Xiang menggenakan tangan Lin Xia Mei sebagai bantal.
"Apa-apaan ini?!"
Wei Zhu Chen terbangun, saat membuka mata ia melihat Istrinya sudah bangun dengan wajah memerah.
"Selamat pagi." ucap Wei Zhu Chen.
"Minggir!" usir Lin Xia Mei.
Masih dengan nyawa yang belum terkumpul sempurna, Wei Zhu Chen masih belum bereaksi.
"Hih!"
Lin Xia Mei menarik lengannya dari Wei Ji Xiang kemudian mendorong Wei Zhu Chen sampai jatuh dari ranjang.
"Zhu Chen! Kau sungguh lancang."
Lin Xia Mei langsung melompat dari ranjang dan memeluk dirinya sendiri, Wei Ji Xiang membuka matanya karena suara berisik.
"Lin Xia Mei, kita suami istri. Tidak akan ada hal buruk kalau kita tidur 1 ranjang yang sama." kata Wei Zhu Chen sambil berdiri.
"Buruk bagiku!!! Zhu Chen, sekali lagi kau seperti ini, aku akan menceraikanmu!"
Mata Wei Zhu Chen langsung menatap tajam pada Lin Xia Mei.
"Gawat! Rasa sukanya masih 60%, kalau dia marah bisa-bisa nyawaku dalam bahaya!" batin Lin Xia Mei.
"Kau berani menceraikanku, Xia Mei?" Suara Wei Zhu Chen penuh dengan penekanan.
Lin Xia Mei menelan ludah.
"Kau berencana menceraikanku lalu menikahi teman masa kecilmu di desa itu?"
Lin Xia Mei berkacak pinggang.
"Sembarangan!" bantan Lin Xia Mei.
Wei Zhu Chen berjalan mendekat, tatapan tajam dan aura cemburu bercampur amarah dapat Lin Xia Mei rasakan.
"Jika itu rencanamu, maka jangan berharap kau bisa menginjak tanah lagi."
"Baooo, tolong!"
Bip. Bao muncul.
"Inang, jangan memasang wajah takut!"
"Huwaaa aku takut mati, Bao!"
"Inang, tetap tenang!"
"Bagaimana aku bisa tenang?! Dia semakin dekat!"
Lin Xia Mei terus mundur perlahan hingga tubuhnya sudah menempel di tembok.
"Kalau aku melemah dan memelas, rasa sukanya pasti naik lagi kan?"
"Benar, Inang. Tetap tenang dan katakan kau tidak mencintai teman lamamu itu, inang."
Lin Xia Mei terkejut saat tiba-tiba Wei Ji Xiang melompat dari tempat tidur dan berdiri di depan Lin Xia Mei sebagai tameng.
"Ayah, jangan sakiti Ibu!"
Hati Lin Xia Mei berdesir hebat melihat punggung kecil Wei Ji Xiang yang sedang mencoba melindunginya.
Wei Zhu Chen menghentikan langkahnya, perlahan raut wajahnya melunak kembali. Wajah garang Wei Ji Xiang melunakkan hati Wei Zhu Chen, ia tahu anaknya begitu menyayangi Lin Xia Mei layaknya Ibu kandung, ia tidak ingin anaknya kembali merasakan kehilangan sosok ibu.
Mata Wei Zhu Chen beralih melihat mata Lin Xia Mei yang sedang terkejut bercampur sedih, ia seolah menemukan hal janggal.
Wei Zhu Chen berlutut lalu memeluk Wei Ji Xiang.
"Maaf, Ayah terbawa emosi." ucap Wei Zhu Chen.
"Inang, ini kesempatanmu menurunkan rasa sukanya lagi!" ucap Bao.
Tatapan Lin Xia Mei kembali berubah, ia menatap datar Wei Ji Xiang dan Wei Zhu Chen.
"Aku tidak butuh perlindungan bocah,"
Ucapan itu sungguh menusuk hati Wei Ji Xiang, akhirnya ia menangis dalam pelukan Ayahnya.
"Lin Xia Mei!!"
"Selamat inang, rasa suka tokoh utama turun 2%, sekarang rasa suka tokoh utama 58%!" ucap Bao.