Bos mafia yang konon kejam dan tanpa ampun ternyata bisa memiliki sisi lembut dan perhatian. Atau, protagonis wanita selalu dianiaya oleh bos mafia, namun dalam perlawanannya ia secara bertahap dihargai, dan akhirnya meraih kebebasan serta cinta sejati. Bagaimana rasanya dipaksa menggantikan kakak atau adiknya untuk menikahi bos mafia yang ditakuti? Cerita seperti apa yang akan terjalin dalam prosesnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dunia Seleb, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gema dari Masa Lalu
Kehidupan di Manhattan berjalan dalam ritme yang sempurna selama beberapa bulan berikutnya. Musim gugur telah tiba, menghiasi jalanan dengan guguran daun-daun kering berwarna keemasan dan merah bata.
Bagi Elena, ini adalah musim favoritnya. Udara yang sejuk memberinya energi lebih untuk mengelola ekspansi Barrett Grand Gallery yang kini resmi membuka cabang keduanya di wilayah Brooklyn.
Sore itu, Elena baru saja menyelesaikan pertemuan dengan beberapa kurator lokal ketika dia kembali ke mansion utama. Dia mengenakan sweater rajut oversized berwarna merah muda pastel yang lembut, dipadukan dengan celana panjang hitam yang nyaman. Penampilannya kasual, namun aura keanggunan seorang Nyonya besar tetap melekat kuat pada dirinya.
Saat dia melangkah masuk melalui pintu utama, dia mendapati atmosfer rumah sedikit berbeda. Thomas tidak menyambutnya di lobi seperti biasa. Alih-alih, kepala pelayan tua itu berdiri kaku di depan pintu ruang kerja pribadi Nicholas di lantai satu.
Elena berjalan mendekat, menyadari ada ketegangan yang tertahan di udara. "Ada apa, Thomas? Apakah Nicholas sedang mengadakan rapat penting dengan Christian?"
Thomas menundukkan kepalanya dalam-dalam, ekspresinya tampak serba salah. "Nyonya Barrett... Mr. Barrett sedang berada di dalam bersama seorang tamu. Seseorang dari masa lalu keluarga Vance yang berhasil menembus barisan pengamanan luar dengan membawa dokumen hukum lama."
Jantung Elena berdegup sedikit lebih kencang. Masa lalu keluarga Vance? Bukankah paman dan ayahnya sudah dibersihkan dari New York?
Tanpa ragu, Elena melangkah maju. Dia tidak lagi membiarkan rasa takut mengendalikan dirinya. Sebagai seorang Barrett, dia memiliki hak mutlak untuk mengetahui setiap hal yang terjadi di dalam rumahnya. Dia mendorong pintu kayu hitam ruang kerja Nicholas dengan perlahan namun tegas.
Di dalam ruangan beraroma kayu cedar dan tembakau mahal itu, Nicholas sedang berdiri membelakangi meja kerjanya, menatap keluar jendela besar ke arah taman yang mulai meranggas. Kemeja hitamnya digulung hingga siku, memperlihatkan guratan otot lengannya yang mengencang.
Di sofa kulit di seberang meja, duduk seorang wanita paruh baya dengan pakaian formal yang rapi namun tampak sangat tegang. Rambutnya disanggul rendah, dan tangannya yang keriput meremas sebuah tas tangan tua. Begitu pintu terbuka dan Elena melangkah masuk, wanita itu seketika menoleh.
Mata wanita itu membelalak, dan dia langsung bangkit berdiri dengan tubuh gemetar. "Alana...?" bisiknya dengan suara serak yang sarat akan rasa tidak percaya.
Elena menghentikan langkahnya. Dia mengenali wajah itu. Dia adalah Catherine, pengacara pribadi almarhumah ibunya satu-satunya orang di luar kediaman Vance yang pernah memperlakukannya dengan kebaikan tulus saat dia masih kecil, sebelum ibunya meninggal dan Arthur mengisolasi Elena di lantai bawah tanah.
Nicholas memutar tubuhnya begitu mendengar langkah kaki Elena. Sepasang mata abu-abunya yang sedingin es seketika melembut saat menatap istrinya. Dia melangkah cepat, merangkul pinggang Elena dengan lengan kirinya yang kokoh, menarik tubuh kecil istrinya ke dalam perlindungan mutlaknya.
"Dia bukan Alana, Catherine," ucap Nicholas, suaranya berat, dalam, dan dipenuhi otoritas yang tidak bisa dibantah.
"Wanita yang berdiri di depanmu adalah Elena Barrett. Istriku."
Catherine menutup mulutnya dengan tangan, air mata seketika menggenang di sudut matanya yang mulai berkerut. "Elena... Oh Tuhan, kau benar-benar Elena? Anak kecil yang selalu menyembunyikan lukisannya di balik lemari?"
Elena merasakan matanya memanas. Dia mengangguk pelan. "Ya, Bibi Catherine. Ini aku. Elena."
Catherine melangkah maju satu langkah, namun Christian yang berdiri di sudut ruangan dengan sigap memberikan tatapan peringatan, membuat pengacara tua itu sadar diri dan kembali menahan langkahnya.
"Mr. Barrett," Catherine menatap Nicholas dengan pandangan memohon yang amat sangat.
"Saya datang ke sini bukan untuk mengusik pernikahan Anda, demi Tuhan. Saya datang karena seminggu yang lalu saya mendengar kabar dari Eropa Timur bahwa Arthur Vance telah jatuh miskin dan dideportasi. Saat itulah saya tahu... sandiwara yang dibuat Arthur telah runtuh."
Catherine mengambil sebuah amplop besar berwarna cokelat yang tersegel lilin merah dari dalam tasnya, lalu meletakkannya di atas meja kerja marmer Nicholas dengan tangan yang bergetar.
"Ini adalah wasiat asli dari mendiang Ibu Elena, Sofia Vance," kata Catherine dengan nada suara yang bergetar penuh emosi.
"Dua puluh tahun lalu, sebelum Sofia meninggal karena sakit, dia tahu bahwa Arthur adalah pria yang serakah dan gila judi yang akan menghancurkan anak-anaknya. Sofia secara rahasia mempercayakan seluruh hak waris sah atas tanah leluhur keluarga Vance di wilayah utara yang kini menjadi area kilang minyak legal terbesar di perbatasan bukan kepada Arthur, dan bukan kepada Alana. Melainkan hanya kepada anak perempuannya yang paling murni. Elena."
Elena tertegun, tangannya secara refleks meremas kemeja hitam Nicholas di bagian dada. "Ibu... meninggalkan itu untukku?"
"Ya, Elena," Catherine menangis haru.
"Arthur tahu tentang wasiat ini, itu sebabnya dia mengisolasimu dan memperlakukanmu seperti pelayan, agar dia bisa memalsukan tanda tanganmu saat kau dewasa untuk mencairkan dana tersebut. Alana juga ikut membantu ayahnya karena dia ingin menguasai seluruh kekayaan itu untuk dirinya sendiri di London. Arthur melunasi utang darahnya kepada Mr. Barrett dengan menggunakanmu sebagai tumbal pernikahan, karena dia mengira Mr. Barrett akan membunuhmu dalam waktu satu bulan, dan dengan begitu, hak waris itu akan otomatis jatuh ke tangan Arthur sebagai satu-satunya wali sah yang tersisa."
Mendengar konspirasi busuk yang menjijikkan itu, aura kejam Nicholas seketika bangkit kembali. Kamar kerja itu mendadak dilingkupi oleh tekanan atmosfer yang mencekik. Sepasang mata abu-abunya berkilat menakutkan, memancarkan kebencian yang mendalam pada fakta bahwa keluarga Vance telah merencanakan kematian istrinya sejak awal.
"Sungguh tikus-tikus yang menjijikkan," bisik Nicholas, suaranya sangat rendah namun sanggup membekukan darah siapa pun yang mendengarnya.
Nicholas melirik berkas cokelat di atas meja, lalu menatap Christian. "Christian, bawa dokumen ini ke tim hukum kita. Pastikan seluruh kepemilikan kilang minyak utara dipindahkan ke atas nama Elena Barrett dalam waktu dua puluh empat jam. Dan Catherine..." Nicholas menatap pengacara tua itu dengan pandangan tajam.
"...kau telah melakukan tugasmu dengan baik untuk melindungi apa yang menjadi milik istriku. Christian akan menyiapkan cek kompensasi atas kesetiaanmu selama dua puluh tahun ini. Kau aman di bawah perlindungan kekaisaranku."
"Terima kasih, Mr. Barrett. Terima kasih," Catherine membungkuk dalam-dalam dengan kelegaan yang luar biasa, sebelum akhirnya dipandu keluar dari ruangan oleh Christian.
Pintu kembali tertutup, menyisakan keheningan yang tebal di antara Nicholas dan Elena.
Elena menundukkan kepalanya, setitik air mata akhirnya menetes membasahi kemeja hitam Nicholas. Rasa haru karena mengetahui bahwa ibunya ternyata sangat mencintainya dan mencoba melindunginya dari balik kubur, bercampur dengan rasa tidak percaya pada kekejaman ayah kandungnya sendiri.
Nicholas tidak membiarkan Elena tenggelam dalam kesedihan. Dia menundukkan tubuhnya, mengangkat tubuh kecil Elena dengan mudah ke dalam dekapannya, lalu membawanya duduk di kursi kerja kulitnya yang besar. Nicholas mendudukkan Elena di atas pangkuannya, mengurung tubuh istrinya dengan lengan kekarnya yang hangat dan posesif.
"Jangan menangis karena orang-orang mati itu, Elena," bisik Nicholas, jemarinya yang besar dan kasar dengan sangat lembut menghapus sisa air mata di pipi halus Elena.
"Mereka mencoba menumbalkanmu untuk kehancuran, tapi takdir justru membawamu ke tempat yang tepat. Ke dalam pelukanku."
Nicholas menyatukan kening mereka, membiarkan embusan napas mereka yang hangat saling beradu dalam keintiman yang mendalam. "Kekayaan utara itu adalah milikmu. Tapi kau harus tahu satu hal, elena... bahkan tanpa sepeser pun harta dari ibumu, kau sudah memiliki seluruh kekaisaran Barrett, seluruh hidupku, dan setiap tetes darah di tubuhku. Kau adalah ratu tunggal di sini."
Elena menatap mata abu-abu Nicholas, melihat refleksi dirinya sendiri yang begitu dicintai dan dihargai di dalam manik mata penguasa kegelapan itu. Dia tersenyum, melingkarkan lengannya di leher kokoh Nicholas, dan membiarkan suaminya mengunci bibirnya dalam sebuah ciuman yang mendalam, lambat, dan penuh dengan janji masa depan yang tidak akan pernah lagi terusik oleh bayang-bayang masa lalu. Keadilan telah ditegakkan, dan posisi Elena kini benar-benar tak tergoyahkan.