Ketika efisiensi bertemu dengan kekacauan, siapa yang akan benar-benar menaklukkan siapa?
"Cinta bukan soal efisiensi, tapi tentang bagaimana ia membuatmu kehilangan kendali."
Kisah tentang Ben Arganza, asisten dingin dan merupakan bayangan Baron Frederick yang sedang menjadi target penaklukan seorang gadis ceroboh bernama Lala Narayan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bhebz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 Kehilangan Kesempatan
Gita menempelkan keningnya di dada bidang Baron, merasakan detak jantung pria itu yang berdegup kencang—bukan karena ancaman luar, tapi karena kecemasan melihat kehancuran istrinya.
"Dia bilang... dia bilang aku hanyalah ibu susu bagi Alba," bisik Gita dengan suara bergetar. "Dia bilang aku hanya akan dibuang ke tempat sampah setelah Alba cukup besar dan kau merasa bosan. Dia juga bilang... Ben-lah yang merencanakan semuanya. Bahwa Ben adalah orang yang sengaja mencariku karena aku punya kemiripan itu, hanya untuk memastikan kau tetap stabil."
Mendengar nama Ben disebut, Baron terdiam. Rahangnya mengeras. Ia tahu loyalitas Ben, namun ia juga tahu sejauh mana Ben akan bertindak demi "stabilitas" Frederick Group.
Baron menjauhkan tubuhnya sedikit agar bisa menatap mata Gita lagi. "Ben melakukan pekerjaannya sebagai kepala keamanan. Dia mencari seseorang yang bisa dipercaya untuk menjaga Alba, itu benar. Tapi dia tidak menentukan siapa yang aku cintai. Dan dia pasti tidak tahu bahwa aku akan jatuh sedalam ini padamu."
Baron membelai rambut Gita dengan lembut. "Ben sekarang sedang di kantor. Dia baru saja menangani Nadya. Jika kau ingin kebenaran, jika kau ingin tahu apakah Ben hanya menganggapmu sebagai aset, aku akan memanggilnya ke sini sekarang. Biarkan dia bicara di depanmu. Biarkan dia menjelaskan perannya dalam hidup kita."
Namun, di dalam hati Baron sendiri, ada sebuah kekhawatiran kecil yang mulai tumbuh. Ia baru saja mendapatkan laporan dari tim keamanannya bahwa Ben bertindak di luar prosedur—melepaskan seorang desainer yang jelas-jelas terlibat dengan informan Nadya.
Ada apa denganmu, Ben? batin Baron. Kenapa kau mulai melanggar protokol yang kau buat sendiri?
"Gita," Baron kembali bersuara, kali ini lebih tegas. "Ben, sudah aku anggap seperti adik sendiri. Ayahnya om Arganza adalah kepala keamanan Frederick grup. Ia rela mati demi menjaga agar keluarga ini tetap aman dan baik-baik saja. Ben pun sama, sejak kepergian ayahnya ia tetap setia di sini. Mengorbankan kepentingan pribadinya untuk menjaga kita. Jadi jangan pernah meragukannya."
Gita terdiam, mencerna kata-kata Baron. Ia memandang ke arah pintu yang baru saja diketuk, lalu beralih menatap Baron yang tampak begitu yakin dengan loyalitas pria di balik pintu itu.
"Masuk," perintah Baron dengan suara lantang.
Pintu terbuka, dan Ben Arganza melangkah masuk. Penampilannya—sesuatu yang tidak pernah terjadi dalam sepuluh tahun terakhir—tampak sangat berantakan. Kemejanya kusut, dasinya yang biasanya terikat sempurna kini longgar, dan tatapan matanya... matanya tampak kosong, seolah ia baru saja memadamkan api besar di dalam dirinya sendiri.
Ben berhenti di tengah ruangan, menunduk dalam, tidak berani menatap Baron atau Gita secara langsung.
"Tuan," suara Ben serak, jauh dari nada otoritatif yang biasanya ia gunakan. "Nadya sudah diamankan di sel bawah tanah. Dia tidak akan bisa lagi menyebarkan racun pada siapa pun. Mengenai informan lainnya, laporan tertulis akan saya serahkan dalam satu jam."
Baron melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka. Ia tidak peduli pada laporan, ia peduli pada kondisi pria yang sudah dianggapnya adik sendiri itu. "Kau terlihat hancur, Ben. Apa yang terjadi di lapangan? Dan kenapa aku mendengar kabar bahwa kau membiarkan seorang target lepas?"
Ben menegang. Bahunya yang tegap sedikit merosot, beban berat seolah menghimpit pundaknya. Ia melirik Gita yang masih memerah matanya, lalu menatap lantai marmer dengan rahang yang mengeras.
"Saya melakukan kesalahan prosedur, Tuan," jawab Ben jujur, tanpa membela diri. "Saya membiarkan... ancaman itu pergi karena saya sempat meragukan penilaian saya sendiri. Tapi saya menjamin, dia tidak akan pernah lagi menginjakkan kaki di properti Frederick Group atau mendekati Nyonya."
Gita melangkah maju, suaranya kini lebih tenang meski masih menyimpan sisa kegelisahan. "Ben, Nadya mengatakan bahwa kau yang merencanakan segalanya. Bahwa aku hanyalah bidak yang kau tempatkan di sini untuk menenangkan Tuan Baron. Katakan padaku... apakah itu benar? Apakah kau pernah menganggapku sebagai manusia, atau hanya sebagai 'aset' untuk menjaga stabilitas perusahaan?"
Pertanyaan itu menggantung di udara, berat dan menyakitkan.
Ben mendongak. Untuk pertama kalinya, ia menatap mata Gita. Bukan tatapan seorang kepala keamanan yang menjaga properti, melainkan tatapan seorang pria yang lelah karena terus-menerus harus menjadi mesin.
"Nyonya," suara Ben pelan, namun getarannya terdengar jelas. "Sepuluh tahun saya mengabdi di sini, saya diajarkan untuk melihat segalanya sebagai risiko atau aset. Tapi jika saya hanya melihat Anda sebagai aset, saya tidak akan menghabiskan ribuan jam memastikan Anda aman, menjaga agar Anda tidak menangis di balik punggung Tuan, atau memastikan Anda merasa cukup berharga di rumah ini."
Ia terdiam sejenak, lalu menundukkan kepala kembali, suaranya nyaris berbisik.
"Jika Anda adalah sekadar bidak, maka saya sudah gagal dalam tugas saya. Karena sejak lama... saya tidak lagi hanya menjaga Anda sebagai istri dari Tuan saya, tapi saya menjaga Anda karena saya tahu betapa pentingnya Anda bagi kebahagiaan keluarga ini. Saya tidak pernah merencanakan cinta Tuan, Nyonya. Saya hanya menyiapkan tempat agar cinta itu bisa tumbuh tanpa gangguan."
Baron menepuk bahu Ben dengan keras, memberikan tekanan yang berarti sebuah kepercayaan. "Dengar itu, Gita? Ben mungkin terlihat seperti robot, tapi hatinya selalu berada di tempat yang tepat. Dia mungkin melakukan kesalahan hari ini, tapi pengabdiannya tidak perlu diragukan."
Ben membungkuk dalam, namun di balik gestur hormat itu, ada kesedihan mendalam yang hanya ia sendiri yang tahu. Ia baru saja melepaskan satu-satunya hal yang membuatnya merasa manusia, dan sekarang, ia harus berdiri di sini, mengakui bahwa ia telah gagal menjaga protokol—bukan karena kelemahan fisik, tapi karena hatinya yang sempat mencuri kesempatan untuk merasakan sesuatu yang nyata.
"Saya mohon izin untuk mengundurkan diri sementara dari tugas jaga malam ini, Tuan," ujar Ben lirih. "Saya perlu... menenangkan sistem saya."
Baron mengangguk. "Pergilah. Istirahatlah, Ben. Kau sudah melakukan lebih dari cukup."
Ben berbalik dan melangkah keluar.
Saat pintu tertutup di belakangnya, ia bersandar sejenak pada dinding lorong, memejamkan mata. Di dalam sana, ia baru saja menyelamatkan posisinya, namun di luar sini, ia tahu bahwa ia baru saja kehilangan kesempatan untuk menjadi manusia seutuhnya.
***
Poor you Ben🥰.
jadi nikmati aja alurnya