Novel ini menceritakan kisah perjalanan cinta seorang perempuan yang bernama Syajia, nama panggilanya Jia.
Seorang perempuan yang sangat sederhana ini mampu menarik perhatian seorang laki-laki dari anak ketua yayasan di kampusnya dan seorang pemilik kafe tempat ia bekerja.
Tentu keduanya mempunyai cara tersendiri untuk bisa mendapatkan Jia. Namun Jia sudah terlanjur menaruh hatinya pada anak ketua yayasan itu.
Sayangnya perjalanan cinta tidak selalu lurus dan mulus. Banyak sekali lika-liku bahkan jalan yang sangat curam dalam kisah cinta Jia.
Apakah Jia mampu melewati Kisah Perjalanan Cinta nya? Dan siapakah yang akan mendapatkan Jia seutuhnya? Ikuti terus kisahnya di dalam novel ini yang mampu membawamu terjun kedalam Kisah Perjalanan Cinta Syajia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Geamul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keadaan Tak Terduga
Jia sedang menunggu Bima di gerbang kampus. Dari kejauhan, Al berjalan ke arah Jia lalu mendekatinya. Jia pun merasa senang, akhirnya Al masih mau menemuinya. Namun, dari raut wajah Al, laki-laku itu terlihat sangat sedih. Jia pun langsung menanyakannya.
“Al, kamu kenapa?”
“Hmm ..." Al berdiam sejenak.
“Mulai sekarang, setiap hari minggu lo gak usah datang lagi ke rumah gue ya! gue udah bisa sendiri kok,” sambung Al.
“Tapi Al, aku udah janji sama Pak Wijaya."
“Lo bilang aja kalau lagi sibuk, dia gak akan marah kok sama lo.”
Jia terpaku mendengar apa yang dikatakan Al. Al sangat begitu berusaha menjahui Jia demi Bima, dan Al merelakan semua itu.
Jia pun tak bisa berbuat apa-apa, ia hanya bisa berdoa semoga semuanya bisa berjalan dengan apa yang ia inginkan.
“Gue kesini, cuma mau bilang itu aja. Gue pergi,” sambung Al kemudian berlalu meninggalkan Jia.
Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut Jia, dirinya seperti membeku saat mendengar semua yang dikatakan Al. Ia pun melamun sembari melihat kepergian Al, hingga suara Bima menyadarkan lamunannya.
“Ayo Ji, kita berangkat sekarang!?"
Jia pun menaiki motor Bima, namun pandangannya tetap melihat ke arah Al. Matanya tak berkedip, sampai motor Bima menyeretnya dan semakin menjauh dari pandangan Al.
Sesampainya di kafe, Jia langsung masuk dan tak mengatakan apapun pada Bima. Bima pun merasa seperti aneh dengan sikap Jia akhir-akhir ini. Namun begitu, Bima tidak akan pernah menyerah membuat Jia untuk bisa menerima perasaannya.
Saat masuk kafe, Jia berpas-pasan dengan Surya yang kebetulan akan keluar kafe.
Mereka pun saling menyapa satu sama lain.
“Gimana keadaan Ayah kamu?” tanya Surya.
“Alhamdulillah baik-baik saja Pak."
“Syukurlah, insya Allah besok saya ke rumah ya. kalau gitu saya pergi dulu.” ucap Surya bergegas pergi ke luar.
Jia sedikit kebingungan dengan ucapan Surya, sepertinya Jia melupakan rencana Surya yang akan mengajak Ayahnya ke rumah sakit. Jia pun mengingat-ingat kembali.
‘*Kenapa besok mas Surya mau ke rumah ya*? ' batinnya heran.
‘*Oh iya aku lupa, besok kan hari minggu. Jadi, Mas Surya beneran mau ajak Ayah ke rumah sakit? Kalau emang bener, semoga aja Ayah mau*.’ sambungnya.
Jia pun bergegas untuk langsung bekerja. Hari ini, dirinya merasa tidak bersemangat. Rasanya, ia ingin pergi sejauh mungkin untuk melepaskan semua beban masalahnya. Menjauh dari orang-orang yang membuat dirinnya pusing.
Ia berusaha untuk mengenyahkan dan melupakan sejenak masalah yang mungkin dapat membuatnya tidak fokus dalam pekerjaannya dan jangan sampai melakukan sebuah kesalahan karena melamun memikirkan masalahnya.
***
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali terdengar deru mesin mobil di depan rumah Jia. Jia pun langsung membukakan pintu rumahnya dan di dapati Suraya yang sedang berdiri.
“Masuk dulu Mas!” Jia menyuruh Surya untuk duduk di ruang tamu.
“Mas mau minum apa?” sambung Jia.
“Gak usah Ji. Kita langung berangkat sekarang aja ya, Ayahmu sudah siap kan?”
“Oh iya Mas udah siap kok, bentar ya aku panggil Ayah sama Ibu dulu.”
Akhirnya setelah memikirkan semuanya, Pak yanto pun mau di rawat di rumah sakit. Karena Pak Yanto tak mau menolak tawaran Surya. ‘Dia orang yang sangat baik, Ayah belum pernah menemui orang sepeti Surya,’ ucap Pak Yanto.
Meskipun ia terus memikirkan tentang biaya, Pak Yanto pun tak putus-putus untuk berdoa.
Setelah Jia, Pak Yanto dan Bu Tiara sudah siap, mereka pun langung menaiki mobil Surya dan berangkat menuju rumah sakit umum yang tak terlalu jauh dari rumah Jia, hanya butuh waktu 10 menit untuk sampai di rumah sakit. Yoga dan Yogi tidak ikut dengan mereka karena harus menjaga rumah.
Namun, jalanan hari ini sedikit ramai karena sedang ada acara bazar di taman kota sehingga membuat jalanan menjadi macet. Perjalanan menuju rumah sakit pun terlambat 5 menit dari hari-hari biasa.
Di perjalan yang macet, Pak Yanto nampak sangat senang dan terus melihat-lihat suasana di luar mobil.
“Maaf ya Om, saya gak tahu jalan cepat menuju rumah sakit,” ucap Surya merasa tidak enak dengan keadaan jalanan yang macet.
“Tidak apa-apa, Om senang kok bisa lihat lagi jalanan yang macet. Soalnya, Om udah lama gak keluar rumah." pak Yanto terus memandangi keadaan jalanan dengan tersenyum.
Surya pun ikut tersenyum saat melihat Pak Yanto yang berada di sampingnya. Selama di perjalanan, Surya pun senantiasa mendengarkan cerita-cerita yang dikatakan Pak Yanto. Sesekali terdengar suara tawa dalam mobil itu.
Saat melihat suasana itu, Jia merasa sangat senang. Sudah cukup lama ia tak melihat Ayahnya tertawa lepas seperti itu. Ia pun merasa sangat bersykur bisa bertemu orang sebaik Surya yang selalu membantu dirinya dan keluarganya.
Sesampainya di rumah sakit, Pak Yanto pun langsung di bawa ke kamar rawat untuk di rawat intensif beberapa hari ke depan sampai keadaannya benar-benar sudah membaik. Mereka pun menemui Pak Yanto di ruangannya.
“Om istirahat yang cukup ya. Soal biaya, Om jangan terlalu memikirkannya. Dan Surya akan mengurus semuanya. Jadi, Om cukup memikirkan tentang kesehatan Om aja ya!" ucap Surya dengan tulus.
Mata Pak Yanto pun berkaca-kaca, ia meraih tangan Surya dan memegangnya erat.
“Terimakasih banyak ya Nak,” ucap Pak Yanto.
“Iya Nak, makasih banyak ya kamu mau membantu keluarga kami.” Bu Tiara pun menerima semua bantuan Surya dengan rasa bersyukur.
Surya pun mengangguk dengan pasti, “Kalau gitu, saya pamit dulu ya Om, Tante. Assalamu’alaikum,” Surya beranjak keluar dari raung kamar Pak Yanto. Dan Jia pun pamit untuk mengantarkan Surya ke luar rumah sakit.
Keduanya berjalan bersisian melewati lorong-lorong rumah sakit. Saat itupun, Jia memberanikan diri untuk menanyakan semua rasa penasarannya pada Surya.
“Mas, makasih banyak ya udah mau bujuk Ayah rumah sakit dan Mas juga udah banyak membantu keluarga saya.” Jia memulai percakapannya.
“Iya sama-sama, saya juga seneng banget bisa bujuk Ayah kamu untuk di rawat,” jawab Surya yang selalu memberikan senyuman tulusnya.
“Mas. Hmm ... saya mau tanya boleh?” ucap Jia yang sedikit merasa gugup.
“Boleh dong,” sahut Surya dengan ringan.
“Kenapa Mas mau banget Ayah saya di rawat di rumah sakit?” pertanyaa Jia mampu membuat Surya berpikir lebih lama untuk menjawabnya. Jia pun menjadi tak enak atas keterdiaman Surya.
“Maaf Mas kalau pertanyaan saya membuat Mas tersinggung,” sambung Jia karena Surya masih belum menjawabnya.
Surya masih terdiam, ia pun menduduki kursi tunggu di depan rumah sakit. Dan Jia mengikutinya dan duduk di samping Surya.
Surya menarik napasnya dalam-dalam, “Saya gak tersinggung kok.” Surya mulai membuka mulutnya.
“Hanya saja, saya teringat sama papa saya,” sambung Surya, lalu ia menundukkan kepalanya.
“Memangnya, papanya Mass kenapa?” tanya Jia dengan hati-hati.
“Dulu, dia sakit seperti Ayahmu. Dia juga, gak mau di rawat di rumah sakit. Dan dulu, saya jarang banget pulang ke rumah. Sampai akhirnya dia pergi untuk selamanya sebelum saya pulang." Surya menceritakan semuanya dengan mata berkaca-kaca. Jia pun senantiasa mendengarkannya.