Di bawah gemerlap penthouse mewah Chicago, Suzanne Klatten terjebak dalam neraka pernikahan tanpa cinta.
Enam bulan menyandang status istri sah Willem Daendels, dia hanya menerima penolakan, dihina, dan dikhianati demi wanita simpanan.
Namun, sebuah pelarian di koridor privat mengubah segalanya.
Dalam rapuhnya batin yang hancur, Suzanne menyerahkan kesuciannya kepada Aiden Luther Stone—bocah SMA berusia 18 tahun yang kehilangan kendali akibat pengaruh obat perangsang.
Saat fajar menyingsing, kepolosan runtuh dan takdir baru terajut.
Aiden yang didera rasa bersalah bersumpah akan bertanggung jawab dan menikahinya, tanpa tahu wanita misterius itu seorang istri Tetangga Apartemennya.
Di balik balutan hoodie kebesaran dan cincin pernikahan yang disembunyikan, Suzanne melangkah kembali ke neraka rumah tangganya dengan rahasia paling berdosa.
Sebuah romansa terlarang yang penuh manipulasi, dan ego yang siap membakar batas moralitas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#17
Jarum jam di dasbor SUV mewah itu perlahan berganti, menunjukkan waktu tepat pukul 10 malam.
Kegelapan distrik elite Chicago membungkus pelataran parkir apartemen dengan sunyi yang mencekam, hanya diselingi oleh desau angin malam yang menyelinap di antara celah gedung-gedung pencakar langit.
Sejak sepuluh menit yang lalu, keheningan yang pekat telah menguasai kabin mobil.
Baik Aiden maupun Suzanne tidak melakukan apa pun.
Mereka hanya diam, duduk saling berhadapan dalam jarak yang begitu dekat, membiarkan sepasang netra mereka saling mengunci dan menatap satu sama lain.
Di bawah temaram lampu dasbor, riak emosi dari pelarian seharian penuh di pantai dan bianglala tadi masih menyisakan kehangatan yang enggan menguap.
Namun, jarum jam seolah menjadi pengingat kejam bahwa realita kehidupan nyata telah menunggu di luar sana.
Aiden memecah kesunyian, suaranya terdengar berat dan rendah.
"Apa suamimu tidak akan marah karena kau seharian tidak ada di rumah, Anne?"
Suzanne tertegun sejenak mendengar pertanyaan itu.
Bayangan wajah Willem yang penuh keangkuhan dan penampakan leher kemerahan Lydia tadi pagi sempat melintas, namun dengan cepat ia mengusirnya.
Suzanne menggelengkan kepalanya perlahan, mencoba meyakinkan diri sendiri bahwa eksistensinya tidak lagi berarti bagi pria di seberang unitnya.
Ia memajukan tubuhnya sedikit, menatap lekat-lekat pada sepasang mata elang Aiden yang berkilat protektif.
"Terima kasih atas semuanya," ucap Suzanne, suaranya melembut, sarat akan ketulusan yang teramat dalam.
"Hari ini... aku benar-benar berterima kasih, Aiden. Kau memberiku napas yang seolah sudah direnggut dari hidupku."
Suzanne menarik napas panjang, bersiap menghadapi kenyataan di luar kabin. "Aku akan keluar sekarang," ucapnya sambil menyunggingkan seulas senyum manis yang tulus—sebuah senyuman yang kini murni ia berikan hanya untuk remaja di hadapannya.
Aiden mengangguk pelan, meskipun tangannya sempat menahan ujung jemari Suzanne selama beberapa detik sebelum akhirnya merenggang.
"Hati-hati," kata Aiden.
"Malam ini aku pulang ke mansion orang tuaku, aku tidak akan menginap di apartemen."
Suzanne mengangguk paham. "Ya, baiklah."
Namun, tepat sebelum tangannya mendorong tuas pintu mobil, insting kepedulian yang aneh mendadak menuntutnya untuk berbalik.
"Jangan lupa kabari aku kalau sudah sampai di mansion," kata Suzanne dengan tempo bicara yang sedikit cepat, menyiratkan kecemasan yang enggan ia sembunyikan lagi.
Mendengar perhatian spontan itu, binar jenaka kembali hinggap di wajah tampan Aiden.
Ia memajukan wajahnya, memberikan tatapan memuja yang intens. "Goodnight, Sayang," ucap Aiden dengan penekanan manja yang disengaja.
"Goodbye!" balas Suzanne dengan ketus yang dibuat-buat, pura-pura kesal demi menutupi semburat merah yang kembali membakar kedua pipinya.
Suzanne segera melangkah keluar dari mobil, menutup pintu dengan cepat, dan berjalan dengan langkah anggun menuju pintu kaca lobi utama apartemen.
Di belakangnya, deru mesin mobil sport mewah keluaran terbaru—yang baru saja dibeli oleh ayah Aiden pagi tadi sebagai Pengganti mobil sebelum nya—terdengar menderu halus sebelum akhirnya melesat membelah jalanan malam dan menghilang di balik tikungan jalan besar.
...o0o...
Suzanne mengembuskan napas perlahan, merapikan blus biru pucatnya, dan bersiap membalikkan tubuhnya menuju deretan lift privat setelah melewati meja resepsionis yang sepi.
Namun, belum sempat kakinya melangkah melewati batas koridor dalam, sebuah suara yang teramat familier, dingin, dan sarat akan racun mendadak menggema dari arah belakang tubuhnya, memutus seluruh sisa kedamaian yang ia bawa dari pantai.
"Kau benar-benar menjual dirimu pada pria kaya, huh? Mobilnya bahkan mobil sport mahal keluaran terbaru."
Deg.
Jantung Suzanne serasa berhenti berdetak.
Seluruh aliran darahnya mendadak membeku.
Ia membalikkan tubuhnya dengan sentakan cepat dan mendapati Willem Daendels sedang berdiri bersandar pada pilar marmer gelap lobi, mengenakan kemeja formal yang sudah kusut dengan rahang yang mengeras penuh amarah yang tertahan.
Pria itu tampaknya sudah menunggu kedatangannya sejak lama di lobi.
Sebelum Suzanne sempat mengeluarkan satu patah kata pun untuk membela diri, Willem sudah melangkah lebar ke arahnya.
Dengan gerakan yang sangat kasar, tangan kekar Willem mencengkeram pergelangan tangan Suzanne, menariknya secara paksa, dan menyeret tubuh ramping wanita itu masuk ke dalam salah satu lift privat yang kebetulan sedang terbuka kosong.
Brak!
Willem mengempaskan tubuh Suzanne ke dinding lift besi yang dingin setelah menekan tombol lantai penthouse.
Pintu lift menutup otomatis, mengurung mereka dalam ruang sempit yang mendadak dipenuhi oleh aura intimidasi yang mengerikan.
"Kau benar-benar jalang sialan, Suzanne!" desis Willem, matanya menyalang merah menatap istrinya sendiri dengan pandangan merendahkan.
"Kau pergi dari pagi hari, dan baru pulang jam sepuluh malam seperti ini?! Lydia mengidam ingin makan masakanmu sedari tadi siang, Bitch! Kenapa kau tidak mengangkat teleponku, hah?!" teriak Willem berang, suaranya menggema hebat di dalam ruang lift, meluapkan seluruh kekesalannya karena harus menghadapi rengekan Lydia seharian penuh di dalam apartemen mereka.
Rasa takut yang sempat menghinggapi Suzanne seketika menguap, digantikan oleh gelombang muak dan amarah yang tidak kalah membakar.
Pertahanan batinnya yang telah dikuatkan oleh pelariannya bersama Aiden membuat Suzanne berani mendongakkan kepalanya, menatap lurus ke dalam manik mata suaminya tanpa ada rasa gentar sedikit pun.
"Aku bukan pelayan jalangmu, Brengsek!" teriak Suzanne balik, suaranya melengking tajam, memotong keangkuhan Willem.
"Jika dia ingin makan, suruh dia memesan atau memasak sendiri! Jangan pernah berpikir untuk menjadikanku budak di bawah kaki kekasih gelapmu!"
"Sudah kukatakan dia bukan jalang! Dia kekasihku, Lydia kekasihku! Dia hidupku!" bentak Willem kembali dengan urat-urat leher yang menonjol tegang, wajahnya memerah karena egonya dipukul telak oleh perlawanan Suzanne.
"Tidak seperti dirimu yang menjijikkan, pergi seharian demi menggoda pria kaya antah berantah yang bisa memuaskan hasrat rendahanmu itu!" teriak Willem lagi, melayangkan tuduhan keji tanpa dasar.
Suzanne tertawa sinis, sebuah tawa hambar yang sarat akan penghinaan terhadap logika suaminya.
"Lalu?! Kau ingin apa, Willem?! Itu anakmu, darah dagingmu, 'kan? Dari mana ceritanya kalau aku yang harus menyelesaikan urusan mengidam jalangmu itu?! Suruh dia masak sendiri, tidak usah berkedok mengidam sampah jika hanya ingin memperlihatkan kekuasaannya atas dirimu di rumah ini!"
Bugh!
Willem memukul dinding lift di samping kepala Suzanne dengan kepalan tangannya, mencoba mengintimidasi fisik istrinya yang kini dianggap sudah terlalu berani melampaui batas.
"Kau sudah lancang rupanya, Suzanne!" desis Willem dengan suara yang bergetar karena frustrasi.
Pandangan matanya menyapu penampilan Suzanne yang tampak berantakan namun memancarkan aura kepuasan yang aneh—sesuatu yang tidak pernah ia lihat selama Enam bulan ini.
"Apakah pria kayamu itu benar-benar perkasa, hm?" tanya Willem mulai frustrasi, nadanya bergeser menjadi hinaan seksual yang teramat kotor.
Pria itu mendekatkan wajahnya, menatap bibir Suzanne dengan pandangan muak bercampur cemburu yang egois.
"Sampai mulutmu ikut menjadi sekasar dan selancang ini? Kau gunakan mulutmu ini untuk memuaskan hasratnya seharian di dalam mobil sport itu? Begitu?! Katakan padaku, Suzanne!"
"Tidak, Brengsek!" potong Suzanne dengan teriakan lantang tepat di depan wajah Willem, matanya berkilat penuh kemenangan yang mematikan.
"Seperti dirimu dan jalangmu di dalam kamar utama kita semalaman... seperti itu pula aku dengan kekasihku di luar sana! Kita impas, Willem Daendels! Kita sama-sama mengkhianati pernikahan sampah ini!"
Deg.
Kata 'kekasih' yang keluar dengan begitu lugas dan penuh keyakinan dari bibir Suzanne seketika menghantam kesadaran Willem laksana godam berat.
Rahang pria itu mendadak kaku, tatapan matanya yang semula penuh amarah kini berubah menjadi riak keterkejutan yang amat sangat.
"Kekasih...?" tanya Willem dengan suara yang mendadak memelan, seolah tidak percaya dengan pendengarannya sendiri.
Selama enam bulan ini, dia tahu dari Lydia, Suzanne hanya wanita mandul yang tidak memiliki siapa pun setelah keluarganya bangkrut, seorang parasit yang hanya bisa menangis di sudut kamar.
"Apa pria di dalam mobil sport tadi... dia kekasihmu?!"
"Ya! Dia kekasihku!" jawab Suzanne dengan suara yang menggelegar penuh kepastian, memamerkan senyum kemenangan paling tajam ke arah suaminya yang kini tampak linglung.
Willem terdiam seribu bahasa, napasnya memburu tak beraturan di dalam lift yang perlahan berdenting menandakan mereka telah sampai di lantai penthouse.
Pria itu benar-benar tidak melihat siapa sosok pria di balik kemudi mobil sport mewah tadi karena kaca film yang teramat gelap.
Ditambah lagi, karena mobil sport itu adalah unit baru yang dibeli oleh ayah Aiden pagi tadi, Willem sama sekali tidak mengenali plat nomor atau jenis kendaraan tersebut.
Willem Daendels, dengan segala keangkuhan bisnisnya, sama sekali tidak tahu... bahwa pria yang baru saja ia labeli sebagai "pria kaya simpanan" istrinya adalah Aiden Luther Stone, pewaris tunggal dinasti raksasa terkaya di kota ini, yang ironisnya juga tinggal di unit penthouse megah yang sama di lantai atas mereka.
Pertaruhan berdarah ini baru saja dimulai, dan Willem telah melangkah masuk ke dalam jebakan tanpa ia sadari.
😌
sukaaak thor sama tokoh pria yg begini👍