NovelToon NovelToon
SETAHUN MENIKAH TANPA CINTA

SETAHUN MENIKAH TANPA CINTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: SenandikaMaret

Dijodohkan karena darah keraton yang mengalir dalam tubuh mereka, Raden Danendra Adipati dan Raden Ayu Kirana Ayodya menerima pernikahan tanpa protes. Satu tahun berlalu dalam ketenangan yang nyaris membosankan. Tidak ada pertengkaran, tidak ada pengkhianatan, bahkan tidak ada cinta. Mereka hidup layaknya dua orang asing yang kebetulan berbagi rumah dan nama belakang yang sama. Namun ketika keadaan memaksa mereka untuk saling mengenal lebih dekat, Kirana mulai menyadari bahwa di balik sikap dingin Danendra tersimpan perhatian yang tak pernah ia tunjukkan. Sementara Danendra perlahan memahami bahwa perempuan yang selama ini selalu berada di sisinya telah menjadi bagian paling penting dalam hidupnya. Di antara tradisi keluarga, tuntutan sebagai keturunan keraton, dan perasaan yang tumbuh terlambat, keduanya harus belajar bahwa cinta tidak selalu hadir sebelum pernikahan. Terkadang cinta justru datang setelah dua hati yang asing memilih untuk saling tinggal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SenandikaMaret, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

HOBI YANG TIDAK TERDUGA

Pagi di area Festival Warisan Nusantara tidak lagi terasa asing bagi Kirana. Suara konstruksi, langkah pekerja, dan instruksi dari berbagai divisi sudah menjadi bagian dari ritme hari-harinya. Bahkan tanpa sadar, ia mulai bisa menebak jam-jam tertentu hanya dari intensitas suara di aula utama.

Hari ini, jadwalnya sedikit lebih longgar dibanding kemarin. Tidak ada sesi pemanduan besar, hanya pengecekan ulang materi edukasi untuk zona interaktif dan koordinasi kecil dengan tim konten budaya. Namun, ada satu hal yang diam-diam membuatnya lebih waspada sejak pagi.

Danendra.

Sejak makan siang berdua kemarin, ada sesuatu yang berubah tidak besar, tidak dramatis, tapi cukup terasa. Cara Danendra menatapnya sekarang sedikit lebih lama dari biasanya. Bukan mengganggu, hanya… memperhatikan. Dan itu membuat Kirana jadi lebih sadar akan dirinya sendiri tanpa alasan jelas.

“Mbak Kirana, file materi narasi audio sudah saya kirim ke email,” ujar salah satu staf IT sambil menyerahkan tablet kerja.

Kirana yang sedang melamun sedikit tersentak. Tangannya agak canggung saat meraih gawai tersebut hingga tablet itu hampir saja slip dan jatuh dari genggamannya jika ia tidak buru-buru menahannya dengan paha. Pipi Kirana mendadak memanas karena malu di depan staf IT.

“Oh, iya. Ter-terima kasih ya,” jawab Kirana agak gagap.

Staf itu mengangguk memaklumi lalu pergi. Kirana menghela napas kecil, lalu duduk di salah satu kursi lipat di sisi ruangan. Ia membuka tablet, berusaha fokus mengecek isi file untuk menutupi rasa salah tingkahnya sendiri. Namun belum sampai lima menit, suara langkah yang sudah ia kenal langsung membuatnya kembali mengangkat kepala. Langkah itu terdengar tegas, stabil, dan tidak tergesa.

Danendra.

Pria itu berhenti tidak jauh darinya, memegang beberapa lembar dokumen dan satu tablet kerja. “Zona interaktif sudah final untuk uji coba sore ini,” ucapnya langsung.

Kirana mengangguk cepat, tangannya bergerak merapikan letak duduknya yang agak miring. “Oke. Berarti aku bisa ikut lihat?”

Danendra menatapnya sekilas, ada jeda dua detik sebelum ia menyahut pendek. “Bisa.”

Lalu diam. Tidak ada lanjutan kalimat dari suaminya. Kirana sempat membuka mulut hendak menanyakan hal lain, namun ia urungkan karena mendadak lupa ingin bicara apa. Tapi kali ini Kirana tidak merasa canggung seperti dulu. Ia malah merasa… mulai terbiasa dengan ritme kaku itu.

Danendra sebenarnya sudah bersiap untuk membalikkan tubuh dan pergi, namun langkahnya mendadak tertahan ketika matanya jatuh pada sesuatu di meja lipat Kirana. Sebuah buku kecil berwarna cokelat tua. Tidak mewah, tidak mencolok. Hanya terlihat seperti buku catatan biasa.

“Buku itu untuk apa?” tanya Danendra, suaranya terdengar bariton memecah kesunyian koridor.

Kirana menoleh, lalu mengikuti arah pandang suaminya. “Oh ini?” ia mengambil buku itu dengan gerakan yang sengaja dibuat sesantai mungkin. “Catatan pribadi.”

Danendra tidak langsung merespons, hanya menatap lekat buku tersebut.

Kirana sedikit mengangkat buku itu di udara, mencoba memancing reaksi. “Kenapa, Mas? Kamu penasaran?”

“Tidak,” jawab Danendra cepat. Terlalu cepat, seolah ia sedang tertangkap basah melakukan kesalahan. Pria itu bahkan sempat memalingkan wajahnya sekilas ke arah stan sebelum kembali menatap Kirana.

Meskipun lisannya menolak, tetapi sepasang mata Danendra tidak benar-benar pergi dari sana. Kirana menyunggingkan senyum kecil yang jenaka. “Ini bukan hal penting kok, Mas. Cuma… jurnal.”

Danendra mengerutkan sedikit alis tebalnya, tampak asing dengan istilah tersebut. “Jurnal?”

“Iya. Aku nulis hal-hal kecil di sini. Perasaan, kejadian yang kulihat, kadang kalau ada ide yang lewat di kepala juga langsung kutulis.”

Danendra diam beberapa detik, jemarinya yang memegang dokumen tampak bergerak gelisah. Lalu, “Setiap hari?”

Kirana berpikir sebentar, ujung pulpennya diketukkan ke dagu. “Tidak harus setiap hari juga, sih. Kalau kebetulan ingat atau lagi ingin menulis saja.”

Danendra memberikan anggukan pelan sekali, seolah sedang menyimpan detail informasi baru tersebut di dalam kepalanya. “Menarik,” ucapnya singkat.

Kirana hampir tertawa melihat ekspresi suaminya yang terlampau lempeng. “Kalau kalimat itu datang dari kamu, kata ‘menarik’ itu rasanya sudah setara seperti sebuah pujian panjang ya, Mas.”

Danendra menatapnya datar tanpa riak emosi. “Itu bukan pujian.”

“Tapi tetap berarti kamu memperhatikan detail tentangku, kan?” balas Kirana ringan.

Danendra tidak menjawab. Pria itu tampak kehilangan kosakata untuk mendebat kalimat istrinya, tetapi kali ini, ia tidak memilih untuk langsung melangkah pergi begitu saja. Ada jeda kaku yang manis di antara mereka.

Sore hari, Kirana mengikuti Danendra ke area evaluasi teknis di sisi Aula Barat. Tempat itu sedikit lebih sepi dan lengang dibanding area utama karena beberapa struktur instalasi raksasa masih dalam tahap penyempurnaan akhir oleh para pekerja. Danendra berjalan di depan dengan postur tegapnya yang formal, sementara Kirana mengikuti dari belakang dengan memeluk jurnal cokelatnya.

Pria itu berhenti di salah satu sudut ruangan yang menghadap ke arah panel dekorasi. “Cek ulang sudut pencahayaan di sini,” ucapnya pada dua orang tim teknis yang berjaga.

“Siap, Pak Danendra.”

Kirana berdiri agak jauh di dekat pilar beton, mengamati jalannya pengerjaan. Lalu, sepasang matanya menangkap sesuatu yang tidak biasa. Danendra tidak sedang berdiri diam memberi instruksi atau memeriksa layar gawai kerjanya. Tangan kanan pria itu memegang sebuah pensil mekanik tebal, dan ia sedang menggambar sesuatu di atas lembar dokumen yang dijepit papan kerja.

Kirana mengernyitkan alisnya samar. Awalnya ia mengira suaminya hanya sedang membuat coretan-coretan kecil yang acak untuk mengusir jenuh rapat. Tapi saat ia melangkah mendekat beberapa langkah di belakang punggung Danendra, ia langsung menyadari bahwa dugaannya keliru.

Itu bukan sekadar coretan asal. Itu sketsa arsitektur yang sangat matang. Ada struktur bangunan yang digambar lurus, garis perspektif yang presisi, sudut ruang yang tepat, hingga detail ornamen tradisional pada tiang yang tampak hidup.

Kirana terdiam di tempatnya berdiri, napasnya sempat tercekat karena terkejut. Danendra… bisa menggambar seindah ini?

“Mas,” panggil Kirana pelan, suaranya sedikit bergetar karena ragu.

Danendra menolehkan kepalanya sedikit, agak terkejut dengan kehadiran Kirana yang tiba-tiba di belakangnya. “Hm? Ada apa?”

“Kamu... lagi melakukan apa?”

Danendra melirik ke arah kertasnya, lalu berdeham kaku sekali untuk menetralkan suaranya. “Evaluasi visual untuk tim dekorasi.”

Kirana mengulurkan telunjuknya, menunjuk pelan pada arsiran bayangan di kertas. “Itu… kamu sendiri yang gambar dari nol, Mas?”

Danendra memberikan anggukan singkat satu kali. “Iya.”

Kirana terdiam lagi. Bukan karena tidak percaya pada apa yang dilihat matanya, melainkan karena ia murni sama sekali tidak menyangka bahwa di balik balutan jas kaku suaminya, ada bakat seni yang luar biasa indah tersimpan selama ini.

“Sejak kapan kamu bisa gambar struktur se-detail itu?” tanyanya akhirnya.

Danendra kembali menatap kertas, meniup sisa serutan pensil dengan gerakan kasual. “Dari dulu. Sejak masih sekolah.”

Kirana menaikkan sebelah alisnya samar, melangkah satu langkah lebih dekat hingga pundak mereka hampir bersentuhan. “Dari dulu? Serius, Mas?”

“Iya,” sahut Danendra pelan.

Kirana memperhatikan sketsa itu dengan saksama. Gambar itu benar-benar proporsional, setiap tarikan garisnya memiliki kekuatan perspektif yang matang, bukan seperti gambar amatir yang dibuat secara instan. Ini terlihat seperti sebuah cetak biru yang hidup.

“Kamu... jangan-jangan dulu sebenarnya seorang arsitek ya, Mas?” tanya Kirana setengah bercanda untuk mengusir rasa gugup fisiknya yang mendadak berdegup kencang karena mengagumi sisi lain suaminya.

Danendra menggelengkan kepalanya pelan. “Bukan. Jurusan kuliahku murni manajemen bisnis.”

“Terus? Bagaimana bisa gambarmu serapi ini?”

“Aku hanya terbiasa memvisualisasikan seluruh konsep ruang di dalam kepala sebelum akhirnya mengeksekusinya di lapangan,” jawab Danendra dengan nada suara yang teramat lempeng, seolah kemampuan itu adalah hal yang paling normal di dunia.

Kirana menatap wajah suaminya dari samping dalam durasi yang cukup lama. “Kamu ngomong itu kayak hal paling biasa saja di dunia ini, ya, Mas.”

Danendra meliriknya sekilas melalui sudut mata. “Memang normal, bukan?”

Kirana tertawa kecil, sebuah tawa pendek untuk mengusir getaran gugup di dadanya. “Mas, kamu itu... makin lama makin banyak hal aneh dan mengejutkan yang baru aku tahu selama setahun ini.”

Danendra tidak membantah kalimat istrinya. Tapi ada sesuatu di wajah tegasnya yang sedikit berubah melunak. Pria itu murni tidak merasa keberatan atau terganggu jika Kirana mulai masuk dan mengetahui rahasia kecil di dalam dunianya.

Beberapa jam kemudian, mereka duduk di sebuah area istirahat kecil yang terletak di balik sekat tripleks aula. Danendra tampak sibuk menatap layar tablet kerja membalas surel kantor, sedangkan Kirana membuka lembaran jurnal cokelat tuanya di atas pangkuan, bersiap untuk menulis catatan harian.

Sunyi kembali menyelimuti mereka berdua di sudut ruangan itu. Namun kali ini, Danendra tidak sepenuhnya fokus pada pekerjaannya. Sepasang mata hitam pria itu diam-diam bergerak melirik ke arah gerakan pulpen Kirana di atas kertas.

“Mas,” kata Kirana tiba-tiba tanpa mengangkat kepalanya dari halaman jurnal.

“Hm.”

“Kamu... selama hidupmu pernah mencoba untuk menulis sesuatu yang personal tidak? Seperti catatan harian?”

Danendra langsung menjawab tanpa ada keraguan di wajahnya. “Tidak pernah.”

Kirana menghentikan goresan pulpennya, menolehkan kepalanya menatap suaminya dengan dahi berkerut halus. “Sama sekali tidak pernah, Mas?”

“Iya.”

“Kenapa?”

Danendra terdiam selama beberapa detik, tampak memikirkan alasan logisnya sebelum akhirnya menjawab lempeng. “Tidak perlu. Semua memoriku sudah tersimpan rapi di dalam kepala tanpa perlu ditulis ulang.”

Kirana menyunggingkan senyum tipis yang manis mendengar jawaban super praktis itu. “Jawaban kamu selalu simpel dan kaku ya, Mas.”

Danendra menatap mata Kirana dengan pandangan tenangnya yang intens. “Efisien.”

Kirana tertawa pelan, sebuah tawa renyah yang terdengar begitu hangat di telinga Danendra. Ia kemudian membalik halaman jurnalnya yang baru ditulis setengah, namun gerakan tangannya yang terlalu bersemangat membuat pulpen di jemarinya tidak sengaja tergelincir jatuh dan bergulir di atas meja kayu. Danendra dengan cekatan menangkap pulpen tersebut sebelum jatuh ke lantai, lalu menyerahkannya kembali kepada Kirana.

Saat jemari mereka bersentuhan di gagang pulpen, Kirana merasakan ada getaran halus yang mendadak menyengat nadinya, memicu detak jantungnya bertalu-talu. Ia buru-buru menarik tangannya setelah menerima pulpen tersebut, sementara Danendra tanpa sadar melirik ke arah barisan tulisan tangan yang rapi di halaman buku yang terbuka.

“Boleh aku lihat?” tanya Danendra tiba-tiba, suaranya terdengar datar namun ada nada keseriusan yang murni di dalamnya.

Kirana langsung menghentikan gerakannya, menatap wajah suaminya dengan mata sedikit melebar karena terkejut. “Apa, Mas?”

“Jurnal milikmu,” ucap Danendra lurus, sepasang matanya menatap tepat ke arah buku cokelat tua di hadapan mereka.

Kirana sempat didera kepanikan kecil di dalam dadanya, jemarinya menegang memegang pulpen karena khawatir ada tulisan pribadinya tentang Danendra di lembar belakang yang terbaca. Namun, melihat sorot mata Danendra yang tampak begitu tulus, Kirana akhirnya menambahkan kalimat dengan cepat untuk menutupi kegugupannya. “Boleh... kalau kamu memang murni mau membacanya, Mas. Tapi jangan halaman yang paling belakang, ya.”

Danendra tampak menunjukkan ekspresi sedikit ragu selama satu detik sebuah jeda manusiawi yang teramat jarang terjadi pada sosoknya yang biasanya selalu tampil penuh percaya diri. Namun akhirnya, pria itu memberikan anggukan pelan sekali. “Boleh.”

Kirana menyodorkan buku jurnal cokelat tuanya ke hadapan Danendra. Danendra menerima buku tersebut dengan gerakan yang hati-hati, lalu mulai membuka halaman pertamanya dengan perlahan.

Halaman pertama yang ia baca berbunyi: “Hari ini aku merasa kecil di tengah semua orang yang terlihat tahu apa yang mereka lakukan.” Danendra membaca tulisan itu dalam diam yang penuh perhatian. Kemudian di halaman kedua tertera: “Aku mulai belajar bahwa tidak semua orang menunjukkan perhatian dengan cara yang sama.” Matanya berhenti beberapa detik pada kalimat itu, tampak merenungkan maknanya, lalu kembali lanjut membaca halaman berikutnya.

Kirana mengamati setiap perubahan ekspresi wajah suaminya diam-diam dengan dada yang berdegup kencang karena salah tingkah. “Tulisan tanganku... agak aneh ya, Mas, kalau dibaca orang lain?” tanya Kirana pelan, mencoba memutus kesunyi-mudaan forum.

Danendra tidak langsung menutup buku jurnal tersebut. Ia menatap lembar kertas itu sekali lagi sebelum akhirnya menggelengkan kepala pelan. “Tidak,” ucapnya akhirnya dengan nada suara yang melembut. “Ini… jujur.”

Kirana mengangkat kedua bahunya sedikit, menyembunyikan senyuman manisnya yang terbit di bibir. “Aku cuma menulis apa yang aku pikirkan.”

Danendra menutup jurnal itu perlahan. “Kenapa kamu menulis?”

Kirana berpikir sebentar, jemarinya memilin ujung jilbab atau rambutnya dengan gerakan refleks. “Karena kalau tidak ditulis, kadang aku lupa sama perasaanku sendiri terhadap momen yang sudah lewat.”

Danendra mengangguk pelan, seolah ia baru saja berhasil memahami sebuah sudut pandang baru yang teramat berharga mengenai cara kerja hati seorang wanita.

Beberapa menit mereka tidak berbicara. Tapi kali ini diamnya berbeda. Tidak canggung, tidak kosong, hanya… tenang. Danendra kembali membuka tablet kerjanya, sedangkan Kirana kembali ke jurnalnya. Namun sesekali, tanpa pernah mereka rencanakan, sepasang mata mereka sering kali tidak sengaja saling melirik satu sama lain, memicu debar halus yang ganjil.

Danendra tiba-tiba menghentikan ketukan jemarinya di atas layar gawai, lalu berkata tanpa mengalihkan pandangan sepenuhnya, “Kamu lebih rapi kalau menulis daripada berbicara.”

Kirana menolehkan tubuhnya spontan, sepasang matanya mengerjap panik karena tidak siap mendapat kesimpulan taktis sekaku itu. “Maksudnya bagaimana, Mas?”

“Kalimatmu di dalam jurnal tadi terasa lebih terstruktur dan mudah dipahami,” jelas Danendra lempeng.

Kirana tertawa kecil, sebuah tawa pendek untuk meredam rasa salah tingkah fisiknya yang mulai membuat kulit pipinya memanas. “Mas Danendra... kalimat barusan itu maksudnya sebuah bentuk pujian baru atau malah sebenarnya sebuah kritik kerja untukku?”

Danendra menatap mata Kirana dengan pandangan tenangnya yang intens. “Itu murni sebuah observasi dari apa yang kubaca.”

Kirana menggeleng-gelengkan kepalanya pasrah sembari tersenyum geli menatap suaminya. “Kamu ini… memang terbukti sangat susah ya Mas kalau sekali-kali diajak untuk bersikap romantis sedikit saja.”

Danendra mengerutkan dahi tebalnya sedikit, menatap wajah Kirana dengan ekspresi yang murni bingung. “Aku memang tidak sedang mencoba untuk bersikap romantis kepadamu.”

Kirana langsung tertawa lebih lepas mendengar kepolosan kalimat suaminya yang terlampau jujur tanpa filter. “Ya… justru di situ letak masalah terbesarmu, Mas,” kekeh Kirana pelan.

Namun di balik tawa renyah yang mengalun di sudut ruangan sore itu, ada sesuatu yang perlahan-lahan terasa semakin menghangat di dalam lubuk hati Kirana. Ia menyadari satu kebenaran yang berharga tentang suaminya hari ini; bahwa seorang Danendra tidak hanya murni bekerja keras dengan barisan angka nominal keuangan dan perintah kaku. Pria itu adalah sosok pria yang juga memikirkan keselarasan bentuk, struktur detail, dan bayangan estetika di dalam kepalanya sama persis seperti cara indahnya saat menggambar sketsa arsitektur tadi.

Danendra menatap sisa binar tawa di mata Kirana selama beberapa detik dalam keheningan yang meneduhkan. “Jurnalmu,” katanya tiba-tiba, memecah kesunyi-pendekan mereka.

“Hm? Kenapa dengan jurnalku, Mas?” Kirana menghentikan gerakan tangannya.

“Boleh aku membaca lembar halaman lainnya lagi nanti saat kita sudah berada di rumah?” tanya Danendra dengan nada suara yang merendah, menuntut sebuah persetujuan yang jujur dari istrinya.

Kirana sempat menunjukkan ekspresi sedikit terkejut mendengar permintaan susulan yang teramat tidak biasa dari seorang Danendra yang super cuek. Namun sedetik kemudian, seulas senyum manis yang teramat tulus mengembang sempurna di bibirnya, membuat pipinya merona merah karena senang. “Boleh, Mas. Nanti kuperlihatkan bagian catatan yang lain.”

Danendra memberikan anggukan pelan sekali sebagai respons penutup. “Baik.”

Sore itu, saat matahari Jakarta mulai bergerak turun ke ufuk barat dan memancarkan bias cahaya jingga keunguan di langit, mereka berdua berjalan beriringan melangkah kembali menuju area meja panitia pusat di depan aula. Tidak ada banyak untaian kalimat puitis yang meluncur dari bibir mereka sepanjang jalan itu, namun atmosfer di sekitar langkah mereka telah berubah sepenuhnya menjadi ruang nyaman yang hangat.

Dua dunia yang selama ini tersembunyi, kini perlahan mulai saling terbuka di antara mereka. Kirana sekarang tahu bahwa suaminya tidak hanya bekerja dengan angka dan perintah, melainkan juga bekerja dengan gambar, bentuk, dan bayangan estetika di kepalanya. Sementara Danendra kini tahu bahwa di balik sikap tenang, penurut, dan diamnya Kirana selama satu tahun ini di rumah, istrinya menyimpan sebuah dunia kecil yang ia tulis sendiri setiap hari dengan segenap kejujuran rasanya. Sesuatu yang sederhana seperti membuka hobi rahasia dan kebiasaan menulis jurnal ternyata telah resmi menjadi jembatan emosional baru yang meruntuhkan dinding perjodohan mereka.

Di tengah langkah mereka membelah aula yang mulai sepi, Danendra sempat melirik Kirana sekilas dari sudut matanya, melihat helai anak rambut istrinya yang bergerak ditiup angin sore, sebelum akhirnya kembali menatap lurus ke depan.

Lalu ia berkata pelan, dengan nada suara yang teramat lempeng, hampir seperti tidak sengaja terucap dari bibirnya, “Kamu ternyata lebih kompleks dari yang aku kira selama ini, Kirana.”

Kirana menolehkan kepalanya spontan, menatap profil samping wajah tegas suaminya dengan mata sedikit melebar karena terkejut mendengar pengakuan jujur tersebut. Namun sedetik kemudian, seulas senyum manis yang teramat tulus terbit di bibirnya. “Kamu juga, Mas.”

Dan untuk pertama kalinya sejak hari pernikahan mereka setahun yang lalu, kedua orang asing ini tidak lagi merasakan keheningan di antara mereka sebagai sebuah jarak pemisah yang kejam. Melainkan, mereka merasakannya sebagai sebuah awal yang meneduhkan untuk mulai saling mengenal, menghargai, dan memahami satu sama lain dengan jauh lebih dalam lagi.

1
Wawan
Satu kembang buatmu Thor 💪✍️
Wawan
Wow... Why? 😍💪✍️
SenandikaMaret: kinapa yaa kira-kiraa yuk terus pantengin kisah kirana 🤭🥰
total 1 replies
Wawan
Nah lo 😍
SenandikaMaret: hayolooo 🤣
total 1 replies
Wawan
kembang mawar buatmu Kirana ✍️
SenandikaMaret: 🌹🌹 mawar juga untukmu kak, dari kirana 🤭
total 1 replies
Wawan
🤭🤭🤭 .... ngapain aja selama ini?
SenandikaMaret: hanya kirana dan tuhan lah yang tau 🤣
total 1 replies
Wawan
Naaaah.... 🤭
SenandikaMaret: nah loh 🤭
total 1 replies
Wawan
mawar buatmu thor 💪✍️
SenandikaMaret: 🌹 makasih
total 1 replies
Wawan
Wow bahaya clue-nya sangat ✍️🤭
SenandikaMaret: bikin penasaran kan 🤭
total 1 replies
Wawan
Salam kenal untuk Kirana
SenandikaMaret: haloo salam kenal juga 😇 dan selamat berkelana di dunia kirana💫
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!