NovelToon NovelToon
Sekretaris Kaku VS CEO Random

Sekretaris Kaku VS CEO Random

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Rara_R

Raditya Baskara tahu cara mengelola bisnis mode bernilai miliaran, tapi dia sama sekali tidak tahu cara bersikap "normal". Dia adalah tipe bos yang bisa mendadak mengadakan lomba balap kursi roda di koridor kantor saat jam kerja hampir di mulai. Satu-satunya rem darurat dalam hidup Radit adalah Kirana, sekretarisnya yang super kaku dan selalu memandangnya dengan tatapan menghakimi.

​Namun, sebuah kesalahpahaman di hadapan media membuat mereka terjebak dalam rumor asmara. Demi reputasi saham perusahaan, mereka terpaksa mempertahankan sandiwara tersebut di luar jam kantor. Masalahnya, bagaimana cara menjalani hubungan pura-pura jika sang CEO selalu bertingkah ajaib, sementara sang sekretaris menanggapi gombalan romantis dengan analisis SWOT? Ini adalah kisah tentang lembur paling melelahkan, sekaligus paling membahagiakan dalam hidup Kirana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rara_R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17

Malam berangsur larut, namun lampu di ruang kerja CEO Baskara Group masih menyala terang. Barang-barang di atas meja mahoni yang besar itu biasanya tertata rapi. Tapi kini berserakan, ada papan tulis kecil, beberapa lembar analisis keuangan, dan dua cangkir kopi hitam yang sudah mendingin. Aturan Baru Pasal 1 telah melebur sepenuhnya sejak jarum jam melewati angka lima sore, menyisakan dua kepala yang sedang berputar keras menyusun taktik perang.

"Lima miliar itu terlalu spesifik untuk ukuran Paman Hendra," Kirana membuka suara, memecah kesunyian ruangan sambil menggoreskan spidol hitam di atas papan tulis. "Dia baru keluar dari persembunyiannya setelah beberapa tahun. Uang tunai sebanyak itu dalam bentuk rupiah akan sangat mencolok jika ditransfer atau dibawa dalam koper. Pak Baskoro pasti sudah menyiapkan skenario pelarian untuknya setelah media meledakkan berita ini".

Radit yang sedang duduk di tepi meja dengan kemeja yang kancing atasnya sudah terbuka, mengangguk setuju.

"Benar. Pak Baskoro tidak akan membiarkan Hendrawan tertangkap di sini dan bersuara tentang keterlibatannya. Rencana mereka kemungkinan besar adalah membiarkan Hendrawan memeras kita, menerima uangnya, lalu kabur ke luar negeri. Begitu Hendrawan aman di luar negeri, Pak Baskoro akan melepas draf kontrak itu ke media menggunakan akun anonim".

"Artinya, kita harus memotong jalur mereka sebelum uang itu berpindah tangan," Kirana menatap Radit lurus-urus. "Kita tidak boleh memberikan uang tunai. Kita harus memancing Paman Hendra untuk menerima transaksi yang meninggalkan jejak digital yang tidak bisa dihapus oleh kekuasaan Pak Baskoro".

Radit menegakkan tubuhnya, sebuah seringai licik yang sangat familier bagi Kirana perlahan terukir di wajahnya.

"Dan aku tahu persis umpan apa yang tidak akan bisa ditolak oleh orang yang tamak seperti Hendrawan Hartono".

Radit berjalan menuju brankas kecil tersembunyi di balik lukisan dinding ruangannya. Setelah menekan beberapa digit angka sandi, dia mengeluarkan sebuah sertifikat obligasi korporat internasional bernilai komersial tinggi atas nama Baskara Holding.

"Obligasi atas unjuk bearer bond senilai tiga ratus ribu dolar Amerika," Radit menggoyangkan lembaran kertas tebal berlogo emas itu di depan Kirana. "Sertifikat ini setara dengan hampir lima miliar rupiah. Kelebihannya? Ini bisa dicairkan di bank mana pun di Singapura tanpa perlu verifikasi identitas yang rumit. Hendrawan pasti akan langsung meneteskan air liur melihat ini, karena dia berpikir ini adalah tiket emasnya untuk kabur lewat pelabuhan batam esok malam".

Kirana menaikkan sebelah alisnya, dia langsung menangkap arah pemikiran bosnya.

"Dan kelemahannya untuk Hendrawan?".

"Obligasi ini memiliki nomor seri unik yang sudah terdaftar di sistem pengawasan pencucian uang internasional (AMLA)," jawab Radit dengan binar mata yang berbahaya. "Begitu sertifikat ini berpindah tangan atau coba divalidasi di bandara atau pelabuhan, sistem akan otomatis mengirimkan sinyal darurat ke kepolisian siber. Kita hanya perlu memastikan Hendrawan menerima umpan ini di tempat di mana kita bisa merekam seluruh pembicaraannya tentang Pak Baskoro".

___

Kamis, pukul empat sore. Kurang dari empat jam menuju waktu yang diberikan oleh Hendrawan.

Sesuai instruksi yang dikirimkan Kirana melalui pesan teks, pertemuan darurat diatur di sebuah ruang VIP restoran Jepang yang remang-remang di kawasan SCBD. Tempat ini dipilih karena memiliki privasi tinggi, namun yang tidak diketahui oleh Hendrawan adalah Radit telah menyewa seluruh ruangan di kanan dan kirinya untuk menempatkan tim hukum khusus serta dua orang mantan penyidik yang direkomendasikan secara rahasia oleh Ibu Sofia.

Hendrawan Hartono masuk ke dalam ruangan dengan langkah angkuh, dia masih mengenakan setelan safari abu-abu andalannya. Dia tersenyum puas saat melihat Radit dan Kirana sudah duduk berdampingan di balik meja.

"Tepat waktu. Saya suka anak muda yang menghargai waktu," ujar Hendrawan sambil mendudukkan diri di lantai berlapisi tatami. "Jadi, di mana lima miliar saya, Kirana? Paman tidak punya banyak waktu untuk mengobrol dengan kalian".

Kirana tidak menunjukkan emosi, dia menggeser sebuah kotak beludru hitam kecil di atas meja ke hadapan pamannya.

Hendrawan membuka kotak tersebut dengan tidak sabar. Alisnya mengernyit saat mendapati selembar sertifikat obligasi tebal, bukan tumpukan uang tunai atau cek bank lokal.

"Apa ini? Saya minta uang tunai, bukan kertas mainan!".

"Itu obligasi internasional Baskara Holding senilai tiga ratus ribu dolar, Paman," sela Radit dengan nada suara yang sengaja dibuat terdengar panik dan tertekan, sebuah akting yang luar biasa rapi. "Mengeluarkan uang tunai lima miliar secara mendadak dari rekening perusahaan akan memicu kecurigaan dewan komisaris, terutama Pak Baskoro. Kertas itu jauh lebih berharga. Paman bisa langsung mencairkannya begitu mendarat di Singapura malam ini. Pak Baskoro pasti tahu tentang validitas obligasi jenis ini jika Paman tidak percaya".

Mendengar nama Baskoro disebut dengan nada frustrasi oleh Radit, Hendrawan langsung terkekeh geli. Umpannya termakan bulat-bulat. Ego pria paruh baya itu naik seketika karena merasa berada di atas angin.

"Hahaha! Jadi kamu sudah tahu kalau Baskoro yang memberi tahu saya?" Hendrawan mengambil sertifikat itu, meraba cetakan timbulnya dengan rakus. "Baskoro memang pintar, tapi dia terlalu lambat. Dia ingin saya menunggu sampai media menghancurkan kalian baru saya dibayar. Mana bisa begitu? Saya butuh uangnya sekarang! Biar si tua bangka Baskoro itu menggunakan draf kontrak kalian besok, yang penting saya sudah aman di Singapura dengan uang ini".

Hendrawan tidak menyadari bahwa di bawah meja kayu tersebut, sebuah mikrofon kecil yang terhubung langsung ke sistem perekaman digital tim hukum Radit, alat itu langsung menangkap setiap kata dari pengakuannya dengan sangat jernih. Pengakuan verbal tentang keterlibatan Komisaris Senior dalam konspirasi pemerasan dan pembocoran rahasia korporasi.

"Jadi... semua ini memang ide Pak Baskoro?" Kirana memastikan, suaranya terdengar bergetar di telinga Hendrawan, memancing informasi lebih dalam.

"Tentu saja! Dialah yang mengambil foto draf kontrak sialan itu dari laci mejamu, Raditya. Dia yang mendatangi saya ke kampung, membiayai akomodasi saya ke Jakarta, dan menyuruh saya mengancam Kirana," Hendrawan memasukkan kotak beludru itu ke dalam saku safarinya dengan senyum kemenangan. "Terima kasih atas kerja samanya, Pak CEO konyol dan Keponakanku sayang. Anggap saja ini uang warisan yang terlambat".

Hendrawan bangkit berdiri, berbalik dengan terburu-buru untuk menuju pintu keluar, membayangkan kehidupan mewahnya yang baru di Singapura. Namun, begitu dia menggeser pintu kayu ruangan VIP tersebut, senyumannya langsung membeku.

Empat orang pria berbadan tegap dengan setelan jas gelap dan lencana kepolisian siber sudah berdiri berjejer di koridor restoran, menutup seluruh jalur pelariannya. Di belakang mereka, berdiri Ibu Sofia Baskara dengan anggun, sambil memegang secangkir teh hangat dengan senyuman dingin seorang mantan detektif.

"Hendrawan Hartono," salah satu petugas melangkah maju, mengeluarkan borgol besi dari balik jasnya. "Anda ditahan atas tuduhan pemerasan, penipuan, dan konspirasi kejahatan korporasi berdasarkan bukti rekaman digital dan kepemilikan aset ilegal Baskara Group".

Hendrawan membalikkan tubuhnya dengan panik, menatap Radit dan Kirana dengan mata melotot.

"K-kalian... kalian menjebak saya?!".

Radit ikut berdiri, perlahan dia merapikan kerah kemeja putihnya yang sempat dia biarkan berantakan demi aktingnya tadi. Seringai percaya dirinya kini kembali muncul.

"Aturan Baru Pasal 2, Hendrawan," ucap Radit dingin, melangkah mendekati paman Kirana yang sudah gemetar di bawah cengkeraman petugas. "Jangan pernah bermain-main dengan masa lalu tunanganku, jika kamu belum siap menghadapi masa depan yang kuhancurkan dalam waktu dua puluh empat jam".

1
paijo londo
q salut sama keterusterangan Kirana tentang masa lalunya yg kelam tnpa kebohongan untuk mengatakan yg sebenarnya pada Radit itu yg membuat mereka kompak dan kerjasama mereka jadi sukses💪💪💪
paijo londo
🤔🤔q yakin pasti itu paman Radit yg pengen depak Radit dari posisi ceo
paijo londo
ternyata oh ternyata sifat random Radit menurun dari nyonya Sofia y🤭🤭
paijo londo
tuh kan Radit bos yg benar2 ajaib sifatnya🤭🤭🤭paling2 yang setress sekertarisnya karena hidupnya yg teratur jadi jungkir balik kenak mental karna Radit 🤣🤣
paijo londo
mampir thor biasanya kalo q baca novel lainnya yg bersifat ksku kayak kanebo kering tuhosnya ya🤔🤔laaa ini kebalik yg sifatnya ajaib tuh malah bosnya yg kyak kanebo kering sekertarisnya unik banget moga ceritanya seunik sifat bosnya y yang penuh keajaiban🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!