Tidak semua luka meninggalkan darah. Ada luka yang tersembunyi di balik senyum seorang perempuan, di balik suara lembut yang tetap terdengar tenang meski hatinya sedang runtuh perlahan. Pengkhianatan adalah salah satu luka terdalam yang mampu mengubah hidup seseorang dalam sekejap, terutama bagi perempuan yang selama ini menggantungkan cinta, kepercayaan, dan harapannya pada keluarga yang ia perjuangkan dengan sepenuh hati.
Novel ini menghadirkan kisah tentang ketegaran seorang perempuan menghadapi pahitnya pengkhianatan cinta, kekecewaan, serta perjuangan menemukan kembali harga dirinya. Kisah ini bukan hanya tentang air mata dan kehilangan, melainkan juga tentang keberanian untuk bangkit ketika dunia terasa runtuh. Tentang bagaimana seorang perempuan belajar memaafkan, bukan karena luka itu kecil, tetapi karena ia memilih untuk hidup lebih kuat daripada rasa sakitnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mamah AllRey.., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Badai yang Mulai Mendekat
Sementara itu, di tempat lain, Joyce sama sekali tidak mengetahui bahwa namanya mulai menjadi bahan pembicaraan di kalangan yang jauh lebih berbahaya daripada yang pernah ia bayangkan. Ia hanya sibuk mempersiapkan sebuah acara besar yang akan menjadi titik penting dalam kariernya.
Tanpa menyadari bahwa seseorang sedang menunggu kesempatan untuk membuat semuanya berantakan. Inilah Jakarta.. kota metropolitan, kota yang tidak pernah diam.
*************
Senin pagi. Joyce berjalan tergesa dari lobby. Ia baru saja tiba di kantor EO Stellar Event ketika ponselnya terus berdering tanpa henti. Tiga panggilan tak terjawab. Bahkan lima pesan WhatsApp. Dan satu pesan dari Tania yang membuat dahinya berkerut.
“Joy, kamu sudah lihat email dari Grand Imperial Hotel?”
Joyce langsung berhenti melangkah. Dahinya mendadak mengerenyit.. Dan jantungnya juga mendadak tidak nyaman. Dia tidak tahu ada perkembangan apa, karena terakhir sudah ada kesepakatan kontrak, akan menggunakannya sebagai MC di hotel tersebut.
Grand Imperial Hotel sendiri adalah klien terbesar yang sedang ia tangani. Acara gala dinner mereka bernilai hampir setengah miliar rupiah dan menjadi proyek paling prestisius tahun ini bagi Stellar Event. Dia harus berhati-hati menjaga brand image EO Stellar yang terlibat konsinyasi dengannya saat ini.
Dengan cepat ia membuka email. Beberapa detik kemudian wajahnya berubah pucat. Dengan mempertimbangkan beberapa informasi yang kami terima terkait profesionalisme tim event, kami memutuskan untuk meninjau ulang kerja sama yang sedang berjalan.
Joyce membaca ulang kalimat itu. Dia seakan tidak percaya. Namun setelah beberapa kali membaca isi yang tertulis di dalam email, kepalanya terasa berputar sesaat. Lalu sekali lagi. Dadanya mulai sesak.
"Apa maksudnya ini semua Tuhan?"
Untuk mencari tahu kasus apa yang menimpa EO Stellar, Joyce bergegas masuk ke ruang manajer.
****************
Dua jam kemudian.
Ruang meeting Stellar Event dipenuhi suasana tegang. Pemilik perusahaan, Pak Damar, duduk dengan wajah serius. Di hadapannya terdapat beberapa lembar dokumen.
"Joyce. Yang sabar ya.., yakinlah kami tidak menuduh ataupun terprovokasi, Namun citra perusahaan juga penting untuk kita jaga."
Nada suaranya jauh lebih formal dari biasanya. Joyce melihat dengan antusias, namun tidak menyela. Memberi kesempatan pada koleganya itu untuk membuat penjelasan lebih detail.
"Ada seseorang yang mengirimkan laporan anonim ke pihak hotel."
"Tentang apa, dan apakah ada kaitannya dengan saya?"
"Hempphh.. Iya Joy… dan mereka mempertanyakan profesionalitasmu."
Joyce langsung menggeleng. Satu sudut bibirnya tertarik ke atas, dia tersenyum smirk
"Itu tidak masuk akal. Bagaimana mereka membuat persepsi buruk tentangku. Dimana aku selalu berusaha untuk menjaga diri tampil profesional"
Pak Damar mendorong salah satu dokumen ke arahnya. Sepertinya laki-laki itu tidak tega untuk menyampaikan berita buruk tersebut.
“Baca sendiri Joy.. Setelah itu bagaimana aku harus bertindak, aku minta masukanmu..”
Joyce meraih dokumen itu, kemudian membacanya perlahan. Dan darahnya seperti berhenti mengalir.
Di dalam dokumen itu terdapat beberapa foto. Foto dirinya dan Ardian saat berada di acara launching Aethera. Foto dirinya keluar dari kafe bersama Ardian. Bahkan ada narasi yang menyebut bahwa Joyce menggunakan kedekatan pribadi dengan klien dan kalangan bisnis untuk memperoleh proyek-proyek tertentu.
"Ini fitnah pak. Dan Tania tahu persis pak.. Karena aku bersama Tania ketika berada di cafe itu"
Suara Joyce bergetar. Pak Damar mengangguk.
"Saya tahu."
"Tidak ada satu pun yang benar."
"Saya juga tahu itu. Dan Tania juga sudah memberikan penjelasan padaku. Anggap saja ini sedang menjadi ujian bagimu, harimu sedang apes"
Namun masalahnya bukan soal benar atau salah. Masalahnya adalah persepsi buruk pada setiap orang, bahkan collega. Dan dalam dunia event premium... reputasi adalah segalanya. Joyce terduduk lemas, dan dia tidak menyalahkan siapapun. Dia hanya berpikir, nasib buruk sedang mengintainya.
********************
Sore harinya.
Joyce duduk sendirian di balkon apartemen. Untuk pertama kalinya setelah berusaha bangkit dari pengkhianatan Arka, ia kembali merasa dunia sedang mengujinya. Bukan karena kehilangan cinta. Melainkan karena pekerjaannya. Karier yang dibangunnya bertahun-tahun. Ibarat jatuh bangun untuk membangun reputasinya. Namun hanya karena beberapa lembar foto dari sumber yang tidak jelas, bad image menyertainya.
Beberapa kali Joyce mencoba berpikir, mengevaluasi dan refleksi diri apa yang telah dilakukannya selama ini. Namun dia tidak pernah menemukan cacat dari performance nya memberikan pelayanan kepada collega. Tiba-tiba ponselnya berbunyi.
Ardian... Joyce menatap nama itu cukup lama, dan akhirnya dia mengabaikan panggilan itu.
“Kesalahan aku mengenalmu Ardian Mahendra..” ucapnya sedih dalam hati.
Dia tersenyum miris, dan bingung mau menyampaikan pada siapa isi hatinya. Ponselnya kembali berdering, dan dia kembali mengabaikannya. Namun karena beberapa kali panggilan itu terjadi, dia kembali terdiam sebelum akhirnya menjawab.
"Halo."
Namun begitu suara Ardian terdengar dari seberang, pertahanan yang selama ini ia bangun perlahan runtuh. Dia juga tidak tahu.., kenapa mendengar suara laki-laki itu, dirinya merasa rapuh.
"Ada apa Joy.. What happend?"
Joyce tidak mampu bersuara, dia kembali terdiam. Ardian langsung menangkap sesuatu dari suaranya.
"Kamu menangis?"
Joyce masih terdiam, dia tidak mampu bicara karena bibirnya merasa kelu. Dia tidak tahu, kalimat atau kata apa untuk menjawab pertanyaan Adrian. Dia tahu.., Adrian menjadi salah satu penyebab dari masalah yang sedang dia alami saat ini.
“Okay menangislah Joy.., mungkin bisa meredakan rasa sakitmu.”
Dan diamnya adalah jawaban untuk Ardian. Laki-laki itu tiba-tiba mengakhiri panggilan telponnya.
******************
Empat puluh menit kemudian.
Ardian sudah berdiri di depan pintu apartemen Joyce. Tangannya memencet bel dengan tidak sabar. Tidak lama kemudian, terdengar langkah kaki menuju ke arah pintu. Begitu pintu terbuka, rahangnya langsung mengeras.
Wajah Joyce terlihat lelah. Matanya sembab. Dan gadis itu terkejut dengan kedatangan CEO Aethera Corporation di apartemennya.
“Bagaimana anda tahu tempat tinggalku Ardian..”
Dengan lirih, Joyce bertanya. Tidak menjawab pertanyaan Joyce, Ardian menyeruak masuk ke dalam. Dia kemudian duduk di sofa, dan Joyce mengikutinya.
Tatapan mata laki-laki itu tidak beralih dari wajah Joyce. Dan untuk alasan yang tidak bisa dijelaskan, melihat perempuan itu terluka membuatnya jauh lebih marah dibanding ketika dirinya sendiri diserang media atau kompetitor bisnis.
"Apa yang terjadi?"
Joyce menyerahkan dokumen di atas meja tanpa berkata apa-apa. Ardian langsung membaca halaman demi halaman. Semakin lama ekspresinya semakin dingin. Sangat dingin. Sampai Joyce sedikit merinding melihatnya.
"Siapa yang melakukan ini?"
"Aku tidak tahu. Tiba-tiba saja tadi pagi, pak Damar memberiku ini. Dan aku tidak menyalahkan pak Damar kalau meng cut pekerjaanku meski sudah kontrak"
„Menjaga reputasi perusahaan jauh lebih penting, daripada peduli padaku.”
"Aku sadar diri.." ucapnya lirih
Ardian mengangkat kedua tangan, dan meletakkan di kedua pundak Joyce.
“Apakah kamu tidak berpikir reputasimu Joy..” tanyanya lembut
"Kamu harus bangkit, buktikan dirimu."
Joyce terdiam. Hal itulah yang menjadi bebannya sejak tadi. Dia sendiri bingung, bagaimana harus bersikap, bagaimana mengurai masalah yang sedang dihadapinya.
“Sudahlah Joy.. Semua akan berlalu, karena waktu akan membuktikan siapa dirimu.”
Ardian menghembuskan nafas. Dia punya firasat. Sangat kuat. Dan firasat itu mengarah pada satu nama.
Jessica.