NovelToon NovelToon
Dari Perjodohan Yang Salah, Lahir Cinta Yang Benar

Dari Perjodohan Yang Salah, Lahir Cinta Yang Benar

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Perjodohan
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Uzumaki Amako

Sejak ibu kandungku meninggal, aku hidup sebagai orang asing di rumahku sendiri. Saat perjodohan datang, harapanku hancur ketika kakak tiriku merebut segalanya dan aku dipaksa menikah dengan pria lumpuh yang tak kukenal. Namun, dari perjodohan yang tidak adil itu, aku justru menemukan ketulusan dan cinta yang selama ini tak pernah kudapatkan. Ketika kebenaran terungkap dan masa laluku ingin mengklaimku kembali, aku harus memilih—kembali pada yang seharusnya, atau bertahan pada cinta yang telah menjadi rumahku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uzumaki Amako, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 31

Beberapa hari setelah itu, suasana rumah kembali berjalan seperti biasa.

Tenang. Teratur. Namun tidak lagi terasa kosong.

Aku mulai punya rutinitas baru—bukan karena kewajiban, tapi karena pilihan. Memasak pagi hari, membaca di siang hari, dan kadang menemani Adrian di ruang kerja, meski hanya duduk diam tanpa bicara.

Dan entah kenapa… itu cukup.

Sampai suatu sore—

Aku sedang menyiram tanaman kecil di taman belakang ketika Bibi Ratna datang menghampiri.

“Nyonya,” katanya pelan, “Tuan memanggil.”

Aku langsung menaruh penyiram air itu.

“Sekarang?”

“Iya.”

Aku mengangguk, lalu berjalan menuju dalam rumah.

Langkahku ringan, meski sedikit penasaran.

Jarang sekali Adrian memanggilku tanpa alasan jelas.

Aku mengetuk pintu ruang kerjanya.

“Masuk.”

Aku membuka pintu.

Adrian sudah berada di balik mejanya, beberapa dokumen terbuka di layar laptop.

Namun kali ini, ia tidak langsung bicara soal pekerjaan.

Ia justru menggeser sebuah amplop ke arahku.

“Apa ini?” tanyaku.

“Undangan.”

Aku mengambilnya.

Membuka perlahan.

Tulisan elegan tercetak di atas kertas tebal.

Acara lelang barang antik.

Aku sedikit terkejut.

“Kita akan datang?” tanyaku.

“Iya.”

Jawabannya singkat.

Aku menatap undangan itu lagi.

Tempatnya… cukup eksklusif.

Dan jelas—

Ini bukan sekadar acara biasa.

“Kenapa aku ikut?” tanyaku jujur.

Ia menatapku.

“Kamu istriku.”

Satu kalimat.

Namun kali ini… terasa berbeda.

Bukan sekadar status.

Lebih seperti… pengakuan.

Aku mengangguk pelan.

“Iya.”

Ia melanjutkan,

“Selain itu, acara ini… tidak sesederhana kelihatannya.”

Aku mengangkat alis sedikit.

“Maksudnya?”

“Banyak orang penting datang. Pebisnis. Kolektor. Dan…” ia berhenti sejenak, “orang-orang yang suka memainkan sesuatu di balik layar.”

Aku langsung mengerti.

Ini bukan hanya lelang.

Ini… arena.

“Aku harus bagaimana?” tanyaku pelan.

Ia menatapku beberapa detik.

“Jadi dirimu saja.”

Aku sedikit tersenyum.

Jawaban itu… sederhana.

Tapi sulit.

“Aku akan terlihat canggung.”

“Tidak masalah.”

Aku menatapnya.

“Selama kamu di sampingku.”

Kalimat itu membuatku diam sejenak.

Jantungku berdetak sedikit lebih cepat.

Namun aku hanya mengangguk.

“Iya.”

Malam acara tiba.

Aku berdiri di depan cermin, mengenakan gaun sederhana namun elegan. Tidak terlalu mencolok, tapi cukup untuk terlihat pantas di acara seperti ini.

Tanganku sedikit dingin.

Bukan karena takut.

Tapi karena… ini dunia yang belum sepenuhnya kukenal.

Aku menarik napas dalam.

Lalu keluar kamar.

Adrian sudah menungguku di bawah.

Setelan hitamnya rapi.

Tatapannya tenang seperti biasa.

Namun saat ia melihatku—

Ia diam sejenak.

Tidak lama.

Tapi cukup untuk membuatku sadar.

“Ada yang salah?” tanyaku pelan.

Ia menggeleng.

“Tidak.”

Lalu menambahkan—

“Bagus.”

Aku sedikit tersipu.

“Terima kasih…”

Perjalanan menuju lokasi berlangsung dalam diam.

Namun bukan diam yang canggung.

Lebih seperti… persiapan.

Aku menggenggam ujung gaunku pelan.

Adrian memperhatikan.

“Kamu tegang.”

Bukan pertanyaan.

Aku tersenyum kecil.

“Sedikit.”

Ia tidak berkata apa-apa.

Namun saat mobil berhenti—

Ia berkata pelan,

“Aku di sini.”

Aku menatapnya.

Dan hanya itu yang kubutuhkan.

Aku mengangguk.

Gedung tempat acara berlangsung terlihat megah.

Lampu terang.

Mobil mewah berjejer.

Orang-orang berpakaian elegan keluar masuk dengan percaya diri.

Aku turun dari mobil.

Udara malam terasa dingin.

Namun kali ini… aku tidak mundur.

Aku berjalan di samping Adrian.

Masuk ke dalam.

Ruang lelang itu luas.

Lampu gantung besar.

Kursi tersusun rapi.

Barang-barang antik dipajang di depan—lukisan, perhiasan, benda bersejarah.

Namun yang paling terasa…

Adalah suasana.

Tegang.

Tenang.

Tapi penuh perhitungan.

Aku duduk di samping Adrian.

Mataku memperhatikan sekitar.

Beberapa orang melirik kami.

Aku menahan napas sedikit.

Namun—

Adrian tetap tenang.

Dan itu… menenangkan.

Acara dimulai.

Satu per satu barang dilelang.

Harga naik.

Suara penawaran terdengar dari berbagai arah.

Aku hanya memperhatikan.

Sampai akhirnya—

Sebuah kotak kecil dibawa ke depan.

Aku sedikit mencondongkan badan.

“Apa itu?” tanyaku pelan.

Adrian menjawab tanpa mengalihkan pandangan,

“Benda lama. Tapi… nilainya bukan di barangnya.”

Aku mengernyit.

“Lalu?”

“Di siapa yang menginginkannya.”

Aku langsung mengerti.

Ini bukan soal barang.

Ini soal… kekuasaan.

Lelang dimulai.

Harga langsung melonjak.

Beberapa orang terlihat serius.

Adrian diam.

Namun matanya… fokus.

“Kamu mau itu?” tanyaku pelan.

Ia menjawab singkat,

“Mungkin.”

Aku menatapnya.

Lalu untuk pertama kalinya—

Ia mengangkat tangan.

“Angka baru.”

Suara penawarannya tenang.

Tapi langsung membuat ruangan sedikit hening.

Beberapa orang menoleh.

Termasuk…

Seseorang yang aku kenal.

Nathaniel.

Dan di sampingnya—

Celine.

Jantungku langsung berdegup.

Tatapan Celine bertemu denganku.

Dan senyumnya…

Tipis.

Namun penuh arti.

Nathaniel tersenyum sinis ke arah Adrian.

“Masih berani ikut main, ya?”

Aku menggenggam tanganku pelan.

Namun Adrian…

Tetap tenang.

“Selama aku masih bisa berpikir, aku masih bisa menang.”

Jawabannya datar.

Tapi tajam.

Lelang berlanjut.

Angka naik lagi.

Dan lagi.

Suasana semakin tegang.

Aku menahan napas.

Melihat mereka saling menaikkan harga.

Bukan lagi soal barang.

Tapi… ego.

Dan posisi.

Sampai akhirnya—

Adrian menyebut angka terakhir.

Sunyi.

Beberapa detik.

“Terjual.”

Palu diketuk.

Aku sedikit terkejut.

Dia menang.

Namun saat aku menoleh—

Ekspresi Adrian… tidak berubah.

Tenang.

Seolah ini hanya langkah kecil.

Nathaniel terlihat kesal.

Celine menatapku—

Dan kali ini…

Tatapannya berbeda.

Bukan meremehkan.

Tapi… waspada.

Aku menoleh ke Adrian.

“Kenapa kamu benar-benar beli itu?”

Ia menatap ke depan.

“Karena sekarang… semua orang tahu aku masih bermain.”

Aku terdiam.

Lalu tersenyum kecil.

“Aku mulai mengerti duniamu.”

Ia menoleh ke arahku.

Dan untuk pertama kalinya di tempat ramai itu—

Tatapannya… sedikit hangat.

“Dan kamu tidak mundur.”

Aku menggeleng pelan.

“Karena aku tidak sendiri.”

Sunyi sejenak.

Namun kali ini…

Bukan sunyi yang dingin.

Melainkan—

Awal dari sesuatu yang lebih besar.

Bukan hanya hubungan.

Tapi…

Perjalanan.

Yang baru saja dimulai.

Suasana ruangan belum sepenuhnya kembali tenang setelah kemenangan Adrian sebelumnya.

Beberapa orang masih berbisik pelan. Ada yang mengamati. Ada yang mulai berhitung ulang—siapa yang masih kuat bermain, dan siapa yang sebaiknya mundur.

Aku duduk di samping Adrian, berusaha tetap tenang, meski jantungku belum sepenuhnya stabil.

Namun belum sempat suasana benar-benar mereda—

“Item berikutnya.”

Suara pembawa acara kembali terdengar, menarik perhatian semua orang.

Lampu sedikit meredup.

Sorotan jatuh ke tengah panggung.

Seorang staf membawa kotak kaca kecil, lalu meletakkannya perlahan di atas meja display.

Kotak itu dibuka.

Dan di dalamnya—

Sebuah kalung.

Aku tanpa sadar menahan napas.

Kalung itu berbeda dari yang lain. Bukan hanya indah… tapi memiliki aura yang aneh. Batu di tengahnya berwarna gelap—hampir hitam—namun berkilau samar seperti menyimpan cahaya sendiri.

“Kalung ini,” suara pembawa acara terdengar jelas, “diperkirakan berasal dari peradaban kuno, lebih dari seribu tahun yang lalu. Ditemukan di situs arkeologi yang belum sepenuhnya terungkap.”

Beberapa orang langsung terlihat tertarik.

Aku menoleh sedikit ke Adrian.

Ia tidak bicara.

Tapi matanya… fokus.

“Nilai awal,” lanjut pembawa acara, “lima ratus juta.”

Belum sempat suasana bergerak—

“Ambil itu.”

Suara Celine terdengar jelas.

Aku langsung menoleh.

Celine duduk anggun di samping Nathaniel, matanya tidak lepas dari kalung itu.

“Aku mau itu,” katanya lagi, kali ini lebih tegas.

Nathaniel menyeringai tipis.

“Tentu saja.”

Ia langsung mengangkat tangan.

“Lima ratus lima puluh juta.”

Penawaran pertama.

Langsung.

Tanpa ragu.

Suasana kembali hidup.

Beberapa orang mulai ikut menaikkan.

“Enam ratus.”

“Tujuh ratus.”

“Delapan ratus.”

Angka naik cepat.

Aku menatap ke arah Celine.

Matanya berbinar.

Bukan sekadar ingin.

Lebih seperti… harus memiliki.

Aku menggenggam tanganku pelan.

Ada sesuatu yang tidak nyaman.

Aku menoleh ke Adrian.

Ia masih diam.

Namun kali ini… alisnya sedikit berkerut.

Seperti sedang berpikir.

“Tidak biasa,” gumamnya pelan.

“Apa?” tanyaku.

Ia tidak langsung menjawab.

“Harga naik terlalu cepat… untuk benda seperti itu.”

Aku kembali melihat ke depan.

Lelang terus berjalan.

“Satu miliar.”

Nathaniel kembali mengangkat angka.

Celine tersenyum puas.

Namun Adrian tiba-tiba berkata pelan—

“Kalung itu… bukan target utama mereka.”

Aku menoleh cepat.

“Maksudnya?”

Ia menatap lurus ke depan.

“Mereka ingin sesuatu yang lain.”

Aku tidak sepenuhnya mengerti.

Tapi perasaanku semakin tidak enak.

“Satu koma dua miliar!”

Suara lain ikut bersaing.

Suasana memanas.

Semua mata tertuju ke panggung.

Namun—

Nathaniel tidak mundur.

“Satu koma lima.”

Langsung.

Tanpa ragu.

Beberapa orang mulai berhenti.

Angka itu sudah tinggi.

Namun Celine—

Masih terlihat belum puas.

“Naikkan lagi,” bisiknya.

Aku bisa membaca dari gerak bibirnya.

Nathaniel tersenyum tipis.

Namun sebelum ia mengangkat tangan lagi—

Adrian bergerak.

Tangannya terangkat.

“Dua miliar.”

Suara itu tenang.

Tapi cukup untuk membuat seluruh ruangan diam.

Aku membeku.

Menoleh ke arahnya.

“Adrian…”

Ia tidak melihatku.

Tatapannya tetap ke depan.

Nathaniel langsung menoleh.

Matanya menyipit.

Celine juga.

Dan kali ini—

Tatapan Celine padaku… berubah.

Lebih tajam.

Lebih penuh emosi.

“Dia ikut?” gumamnya pelan.

Nathaniel tertawa kecil.

“Menarik.”

Aku menggenggam ujung gaunku.

Ini bukan lagi soal kalung.

Ini… pertarungan.

“Dua koma dua miliar.”

Nathaniel membalas.

Tanpa ragu.

Aku menahan napas.

Namun Adrian—

Tetap tenang.

“Dua koma lima.”

Langsung.

Ruangan kembali riuh.

Bisikan mulai terdengar.

Aku bisa merasakan tekanan di udara.

Celine terlihat tidak suka.

Ia mencondongkan tubuh ke Nathaniel.

“Jangan kalah.”

Nathaniel menyeringai.

“Tenang saja.”

Ia mengangkat tangan lagi—

“Tiga miliar.”

Beberapa orang langsung mundur.

Angka itu sudah terlalu tinggi untuk kebanyakan orang.

Aku menoleh ke Adrian.

Namun kali ini…

Ia diam.

Beberapa detik berlalu.

Pembawa acara mulai menghitung.

“Pertama…”

Jantungku berdegup.

“Adrian…” bisikku pelan.

Ia menatapku sebentar.

Dan untuk pertama kalinya—

Aku melihat sesuatu di matanya.

Bukan ambisi.

Bukan emosi.

Tapi… perhitungan.

“Tidak semua yang berkilau itu harus dimiliki,” katanya pelan.

Aku terdiam.

“Dan tidak semua permainan harus dimenangkan di sini.”

Aku mengerti.

Perlahan.

Ia… mundur.

“Ketiga—terjual!”

Palu diketuk.

Nathaniel menang.

Celine tersenyum lebar.

Puas.

Bangga.

Namun—

Adrian hanya bersandar santai.

Seolah tidak peduli.

Aku menatapnya.

“Kamu sengaja?”

Ia mengangguk kecil.

“Iya.”

“Kenapa?”

Ia menatap ke arah panggung.

“Karena mereka terlalu ingin itu.”

Aku mengernyit.

“Dan itu berarti?”

Ia tersenyum tipis.

“Biasanya… ada sesuatu yang mereka lewatkan.”

Aku terdiam.

Mencoba memahami.

Lalu tanpa sadar… aku tersenyum kecil.

“Jadi kamu biarkan mereka menang?”

Ia menoleh ke arahku.

“Kadang… kalah di depan lebih menguntungkan.”

Aku mengangguk pelan.

Mulai mengerti cara berpikirnya.

Di sisi lain—

Celine memamerkan kalung itu dengan bangga.

Namun entah kenapa…

Saat aku melihatnya—

Perasaan aneh muncul.

Bukan iri.

Bukan kalah.

Tapi…

Firasat.

Seolah permainan ini… belum selesai.

Dan aku tahu—

Adrian juga merasakannya.

Karena matanya—

Masih mengamati.

Tenang.

Tapi tidak lengah.

1
Siti Jubaedah
trima kasih karyanya semoga lebih semangat membacanya...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!