NovelToon NovelToon
The Predator’S Possession

The Predator’S Possession

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mafia / CEO
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Callalily

Benedict Franklin, pemilik Equinox Ventures dan pemimpin organisasi Veto, adalah pria yang hanya percaya pada angka dan kekuasaan. Baginya, emosi adalah kelemahan, dan tatapan matanya mampu meruntuhkan siapapun dalam hitungan detik. Namun, hidupnya yang penuh kendali berubah saat ia bertemu dengan Zara Clarance Harrison. Bagi Zara, hidupnya sudah cukup indah hanya dengan aroma tepung dan manisnya gula di toko kue kecil miliknya. Namun, dunianya yang tenang, hancur dalam semalam ketika ayahnya, David Harrison, menggunakan dirinya sebagai jaminan hutang kepada Benedict Franklin

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Callalily, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 17

Limosin akhirnya berhenti di pelataran depan Mansion. Begitu pintu mobil dibuka oleh pengawal, udara malam langsung menyergap. Zara yang hanya mengenakan gaun tipis tanpa lengan, tak kuasa menahan jinjit tubuhnya yang gemetar. Bahunya refleks menyempit menahan dingin.

Sesampainya di dalam, Benedict langsung menuju ruang kerjanya tanpa menoleh lagi. Sementara Zara melangkah pelan menuju kamarnya.

Saat ia berdiri di depan cermin kamar mandi untuk membersihkan riasan wajahnya, tangan Zara perlahan turun ke lehernya. Ia meringis pelan.

Kulit lehernya tampak memerah keunguan, bekas cengkeraman tangan Benedict yang penuh amarah di mobil tadi. Rasa perihnya baru benar-benar terasa sekarang.

Tok, tok.

Ketukan pelan di pintu kamar membuat Zara sedikit tersentak. Ia buru-buru menarik kerah jubah mandinya ke atas untuk menutupi lehernya sebelum membuka pintu.

“Selamat malam, Nona” ucap Anna lembut, membungkuk sopan. Ia membawa sebuah nampan di tangannya.

“Maaf mengganggu waktu istirahat anda, Tuan Benedict memintaku mengantarkan ini.”

Zara melirik nampam tersebut. Di atasnya terdapat segelas teh chamomile yang masih mengepul hangat dan sebotol kecil salep antiseptik.

“Teh hangat agar anda bisa tidur nyenyak,”

Anna melangkah masuk setelah Zara mempersilahkannya. Matanya yang jeli langsung menangkap gestur Zara yang tampak kaku memegangi lehernya. Anna meletakkan nampan di nakas lalu mendekati Zara.

“Dan tuan juga meminta saya memastikan leher anda diobati dengan benar, Nona.”

Zara tertegun. Jadi pria itu sadar dia telah melukainya? Dia yang mencengkeramnya hingga memar, tapi dia juga yang memerintahkan Anna untuk membawakan obatnya.

“Boleh saya bantu membalurkannya, Nona?” tanya Anna lembut, tangannya sudah membuka tutup botol salep.

Zara ragu sejenak, namun akhirnya ia menurunkan kerah jubah mandinya, membiarkan Anna melihat bekas luka memar berbentuk jari yang kontras di kulit lehernya. Anna menghela napas pendek, matanya memancarkan rasa iba.

Anna mulai mengoleskan salep dingin itu ke leher Zara dengan sangat hati-hati. Rasa dingin dari salep itu perlahan meredakan rasa perih yang membakar kulitnya.

“Tolong minumanlah teh nya selagi hangat,” ucap Anna begitu selesai mengoleskan salep.

“Terima kasih, Anna” ucap Zara, matanya menatap gelas teh yang mengepul.

Setelah Anna berpamitan dan menutup pintu kamar dengan rapat, Zara perlahan meminum tehnya, lalu pergi tidur.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Pukul enam pagi.

Zara sudah terbangun sejak setengah jam yang lalu. Memar di lehernya kini sudah tidak terlalu perih berkat salep dari Anna, ia membasuh wajahnya, mengikat rambutnya asal, dan mengenakan pakaian kasualnya.

Ia keluar dari kamar, langkah kakinya sengaja dibuat sepelan mungkin saat menuruni tangga, agar tidak menggema. Namun, begitu ia sampai di foyer utama dekat pintu keluar, langkahnya langsung terhenti.

Di sana, Benedict berdiri, bersandar pada pilar yang menopang langit-langit. Pria itu tidak mengenakan setelan jasnya. Pagi itu, ia memakai celana jeans gelap dan sweater rajut hitam dengan lengan yang digulung hingga siku, memberikan kesan kasual.

Zara mengerutkan kening, menatap pria itu dengan heran. “Tuan? Kau akan berangka kerja sepagi ini? ini bahkan baru pukul enam,” tanya Zara.

Benedict tidak langsung menjawab. Ia menegakkan tubuhnya, memasukkan tangannya ke dalam saku celana. Matanya yang tajam memindai penampilan Zara dari ujung kepala hingga ujung kaki.

“Aku tidak sedang bersiap untuk pergi ke kantor,” ucap Benedict.

“Lalu?”

Benedict melangkah mendekat, langkah kakinya berdentang pelan di atas lantai, mengikis jarak di antara mereka. Matanya sempat melirik sekilas ke arah leher Zara yang tertutup oleh kerah jaket.

“Aku hanya ingin memastikan satu hal,” jawab Benedict.

“Memastikan apa, Tuan?”

“Memastikan apakah bualanmu di dalam mobil semalam itu nyata,” ucap Benedict dengan dengan nada sinis.

“Kau bilang kau tidak akan pernah pergi dari sisiku. Jadi, aku disini untuk melihat apakah kau akan benar-benar membuktikan ucapanmu, atau kau justru memanfaatkan pagi buta ini untuk kabur dari mansion ku.”

Zara menatapnya tidak percaya, lalu sebuah senyuman tipis, hampir seperti senyum geli, terbit di bibirnya. Ia mengangkat tas kain berisi apron toko rotinya ke depan dada Benedict.

“Aku pergi untuk membuka toko rotiku, Tuan, bukan untuk memesan tiket penerbangan keluar dari New York,” balas Zara tenang.

“Seperti yang ku bilang semalam, aku tidak akan ingkar janji. Aku akan tetap disini” lanjut Zara.

“Bagus,” ucap Benedict akhirnya.

Pria itu berbalik dan melangkah menuju pintu, dimana sebuah mobil SUV hitam sudah terparkir di depan lobi teras.

“Masuk. Aku yang akan mengantarmu.”

“Tuan? Mengantarku?” Zara membelalak heran, langkahnya terhenti ambang pintu.

Seorang Benedict Franklin akan mengantarnya? Pria sesibuk dan seberkuasa Benedict rela menyetir sendiri di pagi buta yang dingin hanya untuk mengantarnya?

“Jangan membantah, cepat masuk.”

Meskipun kalimat pria itu terdengar seperti sebuah ancaman, Zara tahu jauh di dalam lubuk hatinya, ini adalah cara Benedict untuk mengujinya. Zara pun tersenyum tipis, merapatkan jaket, lalu melangkah menyusul pria itu masuk ke dalam mobil.

Benedict mengemudikan mobilnya membelah jalanan yang masih lenggang, sementara Zara hanya menatap keluar jendela, mengamati lampu-lampu jalan yang satu per satu padam digantikan semburat fajar.

Begitu mobil berhenti, Zara langsung melepaskan sabuk pengamannya, lalu menoleh ke arah Benedict.

“Terima kasih sudah mengantarku, Tuan” ucap Zara lembut.

Benedict tidak menyahut, namun matanya beralih menatap papan nama toko roti itu, lalu turun memperhatikan deretan kaca jendela toko yang masih gelap.

“Pukul berapa tokomu mulai buka?” tanya Benedict datar.

“Pukul tujuh, Tuan. Sekarang aku harus segera membuat adonan dan memanggang, agar rotinya hangat saat pelanggan datang,” jawab Zara lembut seraya bersiap membuka pintu mobil.

Namun, alih-alih membiarkan Zara turun sendirian, Benedict justru mematikan mobilnya. Pria itu membuka sabuk pengamannya, lalu membuka pintu mobil.

Zara tertegun. Ia buru-buru turun, mengejar Benedict yang sudah berdiri di depan pintu tokonya.

“Tuan, kau tidak langsung pulang?” tanya Zara bingung.

“Buka pintunya. Udara di luar sini terlalu dingin,” sahut Benedict datar.

Mau tidak mau, Zara memutar kunci dan mendorong pintu tokonya. Denting bel kecil di atas pintu menyambut kedatangan mereka.

Zara mengira Benedict hanya akan melihat isi toko rotinya lalu pergi. Namun, pria itu justru berjalan ke sudut ruangan, menarik sebuah kursi, dan duduk di sana dengan kaki yang disilangkan santai.

Zara menghela napas pelan, memilih untuk mulai bekerja karena waktu terus berjalan. Ia melangkah ke dapur belakang yang semi terbuka, mengenakan Apron, lalu mencuci tangannya hingga bersih.

Ia mulai menyentuh tepung, mentega, bersiap untuk membuat adonan. Namun, diawasi oleh sepasang mata elang Benedict yang tak lepas memperhatikannya membuat Zara lama-lama merasa canggung.

Pria itu hanya diam, sesekali memeriksa ponselnya, lalu kembali menatap Zara seolah sedang menonton sebuah pertunjukkan.

“Tuan,” panggil Zara. “Kau tidak ada rapat penting, atau…. pekerjaan apapun itu pagi ini?”

Benedict tidak mendongak dari ponselnya, hanya menyahut dengan gumaman datar.

“Jadwalku baru dimulai pukul satu siang, kenapa? Kau terganggu dengan kehadiranku?”

Zara tersenyum, sebuah ide gila tiba-tiba melintas di kepala Zara. Ia menepuk-nepuk sisa tepung ditangannya, lalu menatap langsung pria itu.

“Bukan begitu,” sahut Zara. “Karena kau sudah terlanjur disini, dan tidak ada pekerjaan untuk enam jam ke depan….. maukah kau membantuku membuat adonan?”

Benedict seketika menghentikan gerakan jemarinya di atas layar ponsel. Ia mendongak, manatap Zara dengan alis yang bertaut.

“Aku? Membuat adonan?” Ia menunjuk dadanya sendiri dengan ibu jarinya. “Aku?”

1
rurry Irianty
novel dark romance favorit kuuu
Bude Yanti
aku suka lajut kan
Nanda
novel ini bagus, cocok dibaca sama orang yang suka genre dark romance
Nanda
KAK SEMANGAT UP NYAAA
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!